Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 54. Kesalahpahaman Yang Terselesaikan


__ADS_3

Semua menjadi semakin canggung. Deheman juga kekehan membuat Ruve semakin salah tingkah.


"Ruve kau disini?" Gen mendekati. Ruve melihat Gen seperti melihat air di padang rumput. Menyegarkan, dalam hati Ruve berkata bawa aku dari sini.


Tangannya ingin menyambut Gen, namun ia urungkan saat ia melihat ada Elves beserta pasangan Elves, Araria.


Ya Medusa, kenapa jadi seperti ini??


"Ya, kalian juga akan makan?" Kemudian Ruve memukul pelan kepalanya, kenapa ia jadi sebodoh itu,


"Mau gabung?" Ruve menawarkan, melihat memang tak ada meja kosong.


"Boleh?" Gen duduk disebelah Lisica, membuat Ruve memelototinya, Gen pasti menyembunyikan sesuatu.


Kursi kayu kedai itu panjang dan muat untuk dua orang setiap kursi.


"Silahkan" Orso mengangguk dengan senyum yang mengembang. Orso menggeser tubuhnya untuk Elves, namun lelaki itu menuju kursi Ruve.


"Apa itu enak?" Tanya Elves, Ruve hanya mengangguk dan menyeruput mie yang ada di bibirnya.


"Kau selalu begini kalau makan mie, dasar bocah!" Elves mengelap cipratan kuah di pipi Ruve.


Sekali lagi Ya Medusa, ada apa hari ini!


"Ini kenapa?" Elves melihat robek di bibir Ruve juga lebam. Lelaki itu mengusapnya pelan. Ruve linglung. 


"Permisi boleh duduk disini" ijin Araria pada Berus, Macan hitam itu hanya melirik, 


Kesadaran menariknya saat suara Araria menghampiri kuping Ruve. Ia menjauhkan tangan Elves.


"Tak apa, hanya jatuh" lirih Ruve.


Araria bergeser duduk disebelah Orso, "Permisi"


"Silahkan" Orso ramah. Ia menyadari situasi menjadi lebih canggung dengan lelaki kuping runcing itu ingin memperlihatkan kedekatannya dengan Ruve.


"Aku melukaimu semalam?" Berus bersuara. Matanya menatap lurus pada Ruve. "Hah!" Ruve benar-benar terus dibuat mati kutu oleh Berus.


"Oh kau yang ditindih oleh Ruve semalam?" 


Suara menggelegar datang dari Gen. Ruve menatap lelaki ular itu dengan mata membola. Tawa Lisica juga Orso kembali menyembur. Ini sama saat mereka mempertanyakan ucapan absurd Berus.


Pesanan mereka datang, pelayan meletakkan mangkuk mie satu per satu mie sup kuah sapi.


Elves mengernyit dan menatap intens ke Ruve yang pipinya memerah.


"Tolong jangan lagi!" Gumanan Ruve membuat wanita disebelahnya terbahak kencang, dan Gen terpesona dengan Lisica.


"Kau cantik" Guman keras Gen yang membuat Lisica terdiam. Dan membuat Orsa berdeham.


"Wah sore yang membuatku ingin pulang dan bertemu dengan Kania juga anak-anakku" celetuk Orso dengan terkekeh.


"Kau memiliki anak?" Tanya Araria sambil menikmati makanannya.


"Iya kau mau lihat?" Araria bisa melihat binaran dari mata Orso yang sangat menyayangi anaknya.


Orso mengambil benda persegi panjang kecil, berwarna coklat dan memberikannya pada Araria.


"Ini harta karunku" Araria membuka nya dan benda itu jatuh, berguling dan memanjang.


Disana terlihat banyak gambar. Araria menariknya. Dan melihat gambar paling depan.


"Woah keluarga besar, pasti sangat menyenangkan, juga ramai" Beruang itu mengangguk, dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Istrimu sangat cantik"


"Ya dia wanita tercantik dalam hidupku," Melihat bagaimana Orso membanggakan Istri juga anak-anaknya membuat senyuman mengembang di bibir Araria.


Sore yang penuh dengan warna. Ada yang bercerita hangat, ada yang tersipu, ada yang cemburu, ada yang terpesona, ada yang merasa terganggu mereka tak menyadari ada mata yang mengawasi dari tempat yang berbeda.


***


"Dia dikelilingi oleh banyak orang." Findel duduk di balkon. Berusaha menahan gejolak membunuhnya.


Di bar ia mendengar banyak rumor tentang mereka. Membuat amarahnya membuncang, tangannya mengepal kuat dan hingga tiba di penginapan ia bisa menekan keinginannya untuk membunuh.

__ADS_1


"Cahaya ilusi ini akan ada pesta perjamuan teh, kita serang saat mereka lengah." Los mendengarkan dari beberapa orang dengan antusias menyambut pesta teh ini.


Walau Cahaya ilusi masih dirundung duka, tapi pesta teh merupakan cara rakyat bersyukur pada Moon Goddess.


"Siapa mereka?" Mateo memainkan bola-bola di tangannya dengan tak beraturan. Tatapannya berubah tajam. Tidak ada yang bisa memiliki Ruvera kecuali dirinya.


Mereka akan menjadi pasangan hebat. Pemimpin yang berkuasa atas semua hewan gurun. Mereka sempurna. Mateo melihat Ruve paling cocok mendampinginya.


Mereka akan menjadi pemimpin klan hebat di dunia bawah. Mateo sangat terobsesi oleh Ruve. Dan biang keladi dari racun yang menyebar di tubuh Ruve adalah dirinya. Agar Ruve bisa bergantung padanya.


Namun ia salah langkah. Ruvera malah pergi dari desa mereka untuk mencari batu kristalnya.


Dan hati ini melihat adanya dua lelaki yang tertarik dengan Ruveranya, dirinya mengamuk. Dan melampiaskan pada kamar penginapannya.


Ia pun sama seperti Findel menekan rasa ingin membunuh. Mereka harus lebih berhati-hati. Karena Phoenix Way tak akan melepaskannya kali ini setelah Mateo meremukan gagak hitam itu.


"Berus, si Macan hitam dari Phoenix Way, kau juga tahu dia, dan satu ini yang menarik, Elves, pangeran dari kerajaan elf, yang mencari adiknya yang diculik oleh Hudson" Los membaca catatan yang yang ia tulis. Ia mendapatkan dari informannya.


"Hudson?"


"Iya Hudson anak dari Damian, sahabat ayah anda, yang tewas karena pemberontakan yang ia lakukan pada kerajaan Efl." Jelas Los.


"Kita harus menemukan Hudson terlebih dahulu." Membuat Tarikan lebar di bibir Mateo. Kepala sudah tentu sibuk merancang rencana selanjutnya. Rencana cadangan jika rencana perjamuan teh tak berhasil.


***


Elves melipat tangannya di dada. Ia menatap nyalang wanita didepannya. Mereka berada di ruangan di Rumah Ceret teh.


Ia menyeret Ruve untuk ikut dengannya setelah mereka makan malam di kedai sup. Ruve tentu saja berontak. Ada Araria disana. Bukan, walaupun Araria tak ada pun Ruve akan menolak.


"Bertindihan?" Desis Elves. Tatapannya curiga dengan kesal didalamnya.


Ruve menghela nafasnya, ia merasa tidak ada alasan untuk menjelaskan pada Elves. Lagipula Elves tidak berhak.


"Kalau tak ada yang di perlukan aku pergi" Alasan Elves menyeret Ruve mengikutinya karena Elves ada perlu dengan Ruve.


Ruve beranjak dari tempatnya. Elves menahan tangan Ruve. "Ada apa lagi?"


"Ada apa lagi?" Ulang Elves. Ia tidak habis pikir, mengapa jadi Ruve yang marah dengannya.


Kan seharusnya dia, dengan tuduhan Ruve yang menyebut dirinya berselingkuh, dan sekarang Ruve yang merasa senang digoda lelaki lain.


"Araria? Apa hubungannya dengan wanita itu?"


"Ayolah Elves kau mau menjadi playboy? Menyebut kekasihmu dengan sebutan wanita itu." Kesal Ruve.


Ia tidak menyangka Elves bisa sekejam itu pada pasangannya.


"Tunggu, apa maksudmu kekasihku? Siapa? Kau tahu siapa kekasihku dan aku sendiri tidak tahu jika aku memiliki kekasih!" Elves merasa sangat aneh.


"Apa maksudmu, tolong bicara menggunakan bahasa yang kumengerti Elves!" Seruan kencang Ruve.


"Kau tahu siapa kekasihku?" Ruve mengangguk dengan malas. Apa harus Elves selalu mengingatkan dirinya jika Elves telah memiliki pasangan.


"Siapa?" Tanya Elves memercikkan api pada hati Ruve, amarahnya naik dengan cepat. 


"Kau sengajakan, untuk apa kau terus bertanya padaku, untuk menyadarkan aku jika kau tidak mencitaiku! Untuk membuatku mundur? Oke aku mun—"


"Tunggu!" Bentak keras Elves membuat tubuh Ruve terjengit.


"Maaf, aku bertanya siapa kekasihku, dna kau tahu dia sedang kan aku tidak merasa memiliki kekasih" 


Ruve merasa bodoh. Ini sebenarnya mereka sedang mendebatkan apa? Kenapa sedari tadi hanya berputar-putar saja.


"Kau dan Araria!" Akhirmya Ruve bisa menyebut nama itu.


"Aku dan Araria? Kenapa? ARARIA! KESINI KAU!" Dengan suara tinggi Elves memanggil Araria yang sedari tadi mendengar perdebatan kedua nya dari balik pintu bersama Gen.


"Ya guru?"


Ia tidak ingin masuk dalam perdebatan Elves dan Ruve. Ia sudah menggeleng takut tapi Gen malah mendorong wanita itu masuk lalu menahan pintu agar Araria tidak kabur.


"Guru" gumam lirih Ruve.


"Jelaskan padanya ada hubungan apa antara kau dan aku?" Araria yang ditembak pertanyaan, seketika otaknya kosong.

__ADS_1


Ia hanya menggelengkan kepala. Tanpa bersuara. Membuat Elves gemas.


"Menggeleng kenapa kau?" Elves kesal,


"Tidak ada hubungan" jawabnya pelan.


"Kau dengar!" Elves menatap Ruve.


"Bohong!" Ruve ingat percakapannya dengan Araria di Taman Jiwa. Disana Araria menceritakan tentang lelaki yang disukainya juga menginginkan Akar Bulkie.


"Kau suka kan dengannya?" Tanpa pikir Araria mengangguk.


"Lihat!" Ruve memperlihatkan Araria yang terus menganggukkan kepalanya. Membuat Elves mengerutkan keningnya.


"Aku memang menyukaimu guru, aku sangat mengidolakan dirimu, guru Gilberto selalu menyanjungmu, dan aku sangat senang kau menerimaku sebagai muridmu, aku sudah mengatakannya padamu bukan guru?" Jelas Araria bingung.


"Guru dan murid?" Ruve terbengong ia menunjuk keduanya bersamaan. Araria dan Elves mengangguk bersamaan.


"Terus apa yang aku lihat malam itu kalian berciuman"


"Aku sedang mengobati lukanya" Elves sangat lelah. Ia tak tahu jika kesalahpahaman begitu menguras seluruh tenaganya.


"Kau salah paham!" Ruve ingin menyangkal namun ia pun lelah, juga malu bercampur saat ini dalam dirinya.


"Awh!" Ia memegang pipinya yang nyeri. Kesalahpahaman yang membuatnya bodoh.


"Ini kenapa?" Kembali Elves menangkup kedua pipi Ruve. Araria peka dengan situasi pun keluar dari ruangan sang guru. Permasalahan keduanya sudah membaik.


Dan itu bagus untuknya, ia tak akan lagi melihat gurunya melamun dan melihat ke arah pintu ruangan dan menunggu kekasihnya datang.


"Bertemu bandit saat pulang dari Taman Jiwa." Ruve menikmati elusan dari Elves.


"Lalu kau apakan banditnya?" Mata Ruve bertemu dengan mata Elves.


"Aku ikat di pohon lalu aku tinggalkan"


"Kau tak membalas?" Kepala Ruve menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku ingin cepat bertemu denganmu dan memberimu Akar Bulkie untuk berbaikan, tapi aku malah menemukanmu dengan Araria, ia sangat senang saat itu, kau menerimanya, dan kau terlihat tak ingin bertemu denganku"


Sedih mengingat kejadian yang membuatnya salah paham. Entah mengapa sangat perih. Walau sekarang kesalahpahaman itu telah selesai.


Elusan jemari Elves pada pipi Ruve memelan, Wajah Elves semakin mendekati wajah Ruve yang semakin mendongak, Ruve menahan nafasnya.


Hidung mereka bersentuhan. Dengan perlahan Elves menggerakan hidungnya pada hidung Ruve. 


Jantung Ruve seakan ingin meledak.


"Kalian sudah berbaikan?" Gen menerobos masuk. Disana juga ada Araria yang memukul bahu Gen, Ruve dan Elves menengok ke arah pintu, tubuh mereka saling berangkulan.


"Ups maaf" Gen dan Araria pun keluar.


"Apa kubilang! Mereka tidak akan tewas karena kehabisan darah tapi kehabisan nafas!" Omel Araria pada Gen yang membuat lelaki itu terkekeh.


Ruve merasa pipinya panas. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada Elves.


"Dasar mereka!"


PLAK!


"AWH!" Ruve memukul bahu Elves. Pukulan yang menyakitkan. Perih.


"Harusnya kau kunci pintunya!" Ucap Ruve malu-malu. "Buat apa?" Ucap Elves dengan wajah datar.


"Ya biar kita tidak ketahuan dan mereka tidak melihatmu menciumku!"


"Jangan menghayal siapa yang mau menciummu!" Elak Elves. Ruve mengerutkan bibirnya.


"Jelas-jelas, siapa tadi yang mengeluskan hidungnya, tidak mau mengaku, ya sudah aku ketempat Berus saja!"


"JANGAN!" Larangan keras Elves.


"Kenapa huh! Cemburu kan, kan, kan, dasar tak mau mengaku! Huh! Menyebalkan" Ruve mendekatkan jari telunjuknya pada wajah Elves namun lelaki itu menghindar.

__ADS_1


Ruve menjauh dan kembali duduk di kursi  Elves, memainkannya dengan kesal. Ruve tak tahu jika wajah Elves juga semerah tomat hingga kupingnya.


Tbc.


__ADS_2