Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 63. Gen Menghilang


__ADS_3

Elves mengeluarkan butiran berwarna coklat dan memasukkannya pada mulut Ruve. Mengingat perkataan Agrabella. Akar Bulkie bisa menyelamatkan Ruve. Dan Elves memberikan ramuan Gilberto pada Ruve.


"Telan Ruve." Mohonnya. Tak mengapa ia yang menderita. Kembali ia meminumkan cairan ramuan pada Ruve.


Namun air itu terus keluar dari bibir Ruve. Ia tak menelannya.


Elves meminum dan memberikan lewat bibirnya. Terlihat Ruve menelan air yang Elves berikan lewat mulut ke mulut.


Kembali Elves merasakan temperatur Ruve yang masih dingin. Elves menggosokkan kedua tangannya dan meletakkan pada pipi Ruve.


"Bagaimana?" Araria melihat Ruve yang belum juga sadarkan diri. Elves menatap Ruve dalam. Sambil terus memberikan kehangatan dari kedua tangannya.


"Bagaimana dengan Gen?" Tak ada jawaban dari Araria, Elves mendongak, Araria menggelengkan kepalanya. "Mereka sedang berusaha mencari portal dimensi, namun—"


"Maaf Elves, kami tak dapat menemukan jejak portal itu" ucap Berus dan yang lainnya.


"Hmn … " gumam Ruve. Ia menatap mereka mengelilinginya. "Ken— aku mengacau kan?" Ruve dapat melihat dari ekspresi beberapa yang berada disana. Lelah dan marah.


"Sebenarnya ada alasan mengapa kami tidak mengajakmu!" Suara dingin terdengar dari Simba.


"Kau membuat temanmu menghilang, karena kekerasan kepalamu!" Simba paling tidak suka dengan orang seperti Ruve, tanpa memikirkan orang lain ia bertindak gegabah. Keras kepala, Ia pikir Elves yang akan membuat segalanya rumit.


"Simba!" Orso dan Lisica menegur timnya itu bersamaan.


"Harusnya kau tak disini!" Simba kemudian berlalu. Ia lebih baik tidak melihat wajah lemah Ruve yang semakin membuatnya kesal. Berus dan yang lainnya mengikuti Simba. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan disana.


Ruve tertunduk. Ia mengacau. Bahkan mereka harus kehilangan Gen. Tidak bisa! Ia harus menemukan Gen.

__ADS_1


Ruve berdiri. "Dimana portal itu muncul!" Araria menunjuk satu sisi Ruve sudah berlari ke arah tempat portal berada, dan mencari sesuatu.


Benda. Benda yang berbeda. Benda pembuka portal. Ruve mengais. Bebatuan dengan kasar. Tangannya menyentuh kayu tajam dan terkoyak.


Ruve tak peduli. Ia terus mengais puing dan bebatuan disana. Elves melihatnya darah menetes dari jemari Ruve, dengan kesal ia mendekati Ruve.


"Sudah kau tak bisa mencarinya disini" ucap Elves. Ia memegang lengan Ruve namun wanita itu menghempasnya kencang.


"Ada, pasti ada petunjuk!" Ruve dengan mata memerah dan bersalah terus mengais puing disana.


"Mereka saja tidak menemukan apapun disini," Elves mencoba sabar.


"PASTI ADA!" suara Ruve meninggi. Kembali ia menyentak tangan Elves.


"Pasti ada! Mereka kurang lama mencarinya! Mereka menyalahkan aku! Seenaknya saja!" Rancuan Ruve membuat wajah Elves berubah keruh.


"Benar kata mereka harusnya kau tak keras kepala" ucap lirih Elves. Ruve menghentikan tangannya mengais reruntuhan. Ia melihat Elves nyalang.


"KAU TAK MENGERTI!" Bentak tinggi Ruve di depan Wajah Elves.


"KAU YANG TAK MENGERTI! JIKA KAU TAK DATANG KAMI PASTI BISA MERINGKUSNYA!" kesabaran Elves habis.


"JIKA KAU TAK DATANG GEN TAK AKAN MENGHILANG!" Ia meneriakkan semua keluhannya.


"JIKA KAU TAK DATANG, GEN TAK AKAN MENOLONGMU YANG KEMBALI TERHIPNOTIS OLEH ULAR DERIK ITU!" Ruve mundur. Ia berjongkok dan menangis tersedu. Rasa frustasi menguar dalam dirinya.


"Ruve ayo kita kembali" Araria menatap Elves untuk pergi lebih dulu, lelaki itu menatap Ruve yang tetap saja menunduk dalam tangisnya.

__ADS_1


Araria mengangkat tubuh Ruve dan memapahnya. Mereka dengan perlahan kembali ke Deep Inside. Lisica menunggu mereka, bersama Elves.


Mereka akan tinggal di rumah milik Lisica untuk sementara waktu.


***


Ruve kembali ke tempat Gen menghilang, ia terus mencari petunjuk. Sudah dua hari Ruve selalu melakukan hal yang sama.


Ruve mendapat kabar Los dan Findel telah dikirim ke tempat Raja Marson. Untuk diadili di tempatnya.


Dan setelah semua, Ruve dan Elves masuk dan terdaftar menjadi prajurit Phoenix Way. Karena telah membantu. Begitupun Araria ia juga masuk menjadi prajurit Phoenix Way. Saat pengejaran ia mengobati para prajurit, ia masuk dalam daftar divisi prajurit pengobatan di Phoenix Way.


Elves mendapatkan armor keemasan, Ruve berarmor kehitaman dan Araria berarmor keperakan.


Senjata mereka pun meningkat level kekuatannya. Mereka tidak bisa menebak menjadi seberapa kuat. Tentu saja karena mereka belum mencoba. Ada rasa senang, namun kegelisahan dan kesedihan masih menggelayut di wajah Ruve.


Hubungannya dengan Elves pun merenggang. Bukan Elves yang menghindar melainkan Ruve.


Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi Elves. Karena apa yang lelaki itu katakan adalah kebenaran.


Ia telah mencoba melihat dari mata Mateo namun yang ia lihat hanya bayangan hitam. Tidak ada gambaran apapun. Kecuali Meteo mengeblok dirinya. 


Rahang Ruve mengeras. Tatapannya nyalang. Sekilas ia bisa melihat sedikit tentang Mateo yang mencekik leher Gen.


"Aku akan mendapatkanmu Mateo." Geram Ruve.


"Ruve," Elves memanggil wanita itu. Punggung Ruve menegang.

__ADS_1


 


Tbc.


__ADS_2