
Setelah menginap satu malam untuk mengistirahatkan tubuh. Mereka melanjutkan perjalanan menuju lembah Abadi.
Perbedaannya sangat terasa. Hutan yang mereka lewati memiliki beragam tumbuhan yang jarang mereka lihat.
Elves dibuat tercengang, dengan tanaman-tanaman yang baru pertama kali ia lihat itu. Ia lupa bagaimana ia hampir mati saat dibawa Ruve bergelantungan diatas sana.
Dengan alat yang ia dapat dari dunia atas, ia bisa mengambil gambar dengan mudah. Elves mengeluarkannya. Alat persegi dengan tombol diatasnya. Kamera model paling sederhana.
Ia mengambil contoh tanaman dan gambar. Elves sibuk dengan dunianya. Ruve dan Gen memberinya waktu. Ruve dan Gen ikut melihat-lihat.
Dari sisi lain, ada sosok yang mengintip mereka. Sosok hitam hanya terlihat matanya saja. Ia berjalan perlahan. Dan bersembunyi dengan mengkamuflase diri.
Tubuhnya kerdil, bulat dan berlumut.
Ia menggerakan telunjuk pada bibir. Dan dari arah belakangnya beberapa dari sosok itu mengintai. Ruve dan kawan-kawan.
Ia melambai pada kawanannya. Agar perlahan mendekat. Ia melihat kawanan nya sudah pada posisi. Ia mengeluarkan sesuatu yang panjang.
Dan meniupnya. Panah meluncur cepat ke arah Ruve. Ruve menangkis serangan itu dengan rantai yang keluar dari jemarinya.
Ruve, Gen dan Elves menjadi waspada. Mereka melingkar dan memunggungi satu sama lain. Ruve dan Gen, sedari tadi merasa ada yang mengawasi mereka.
TRANK!
TRANK!
TRANK!
Suara tubrukan besi dengan besi. Serangan kembali bertubi, dan semua ditangkis cepat oleh rantai-rantai hitam milik Ruve, meliuk melindungi yang lainnya.
Drrrttt! Drrrtt! Drrrttt!
Getaran rantai Ruve menyamai ekor derik nya. Melingkari ketiganya dan membuat barier untuk melindungi diri dari serangan yang yang sedari tadi menyerang mereka.
Srrak!
"Aark!" Salah satu rantainya menangkap sosok kerdil itu, menarik dan menggantungnya terbalik. Kakinya si kerdil itu terikat rantai Ruve.
Kumpulan sosok kerdil itu mulai menampakkan dengan pedang yang menyerang barier yang Ruve buat.
TRANK!
Panah Elves meluncur dan juga Pedang Gen menebas tubuh-tubuh kerdil yang teekena sabetan ataupun pedangnya berubah menjadi pasir.
Mereka menyerang seluruh makhluk kerdil itu dan menyisakan satu yang tergantung oleh rantai Ruve. Gen mendekat pada sosok kerdil itu. Setelah memastikan tidak ada lagi yang menyerang mereka.
__ADS_1
"Siapa kalian?" Gen mengintimidasi.
"Kalian yang siapa? Kami tidak menerima pendatang!" Kata si kerdil mencicit.
"Lalu dengan kalian tidak menerima pendatang, kalian berhak menyerang! Dasar!" Gen sebal. Baru saja ia membersihkan pedangnya dan sekarang kotor dengan pasir lengket.
"Bawa kami ke desa kalian, lembah Abadi" mendengar itu membuat alis si kerdil menajam.
"Ada perlu apa kalian kesana?" Tanya si kerdil. "Aku tidak akan memberitahu kalian." Ucap si kerdil.
"Oh kalau begitu kami akan menawanmu, dna menunggu temanmu menyelamatkanmu" Gen mengambil selembar kain kecil dan mulai membersihkan pedangnya. Gen suka dengan kilapan pedang yang terlihat tajam dan menakutkan.
"Tidak akan ada yang menyelamatkanku!" Tegas si kerdil namun Elves bisa melihat adanya kesedihan dalam katanya.
"Mengapa mereka tak menyelamatkanmu? Apa setiap misi gagal kalian akan merelakan teman yang tertangkap? Atau memang aturannya jika misi gagal kalian tidak bisa kembali? Atau memang mereka tidak ada yang mau menyelamatkan mu?" Gen dan Ruve terpaku pada pertanyaan yang Elves lemparkan pada si kerdil.
Pertanyaan terakhir, itu menyentil mereka yang terkucilkan, Ruve merasakannya, Elves pun begitu. Tidak ada yang menganggapnya ada. Dijauhi semua teman seumur.
Netra Elves menatap datar pada mata si kerdil yang melebar. Namun kemudian ia menormalkannya kembali.
"Mereka tidak akan kemari!"
"Tidak menyelamatkan dirimu?" Ruve memanasi. "Teman macam apa itu? Atau desa macam apa itu? Tidak memikirkan keselamatan penduduknya!"
"Ini demi keselamatan desa!" Lantang si kerdil.
"Keselamatan desa nomor satu!" Bentak si kerdil. Ia tak terima merasa tiga orang di depannya menghina desanya.
"Ini pengorbanan yang pantas!" Keras kepala. Si kerdil mengatakan dengan bangga.
"Kau punya keluarga? Apa mereka juga bangga?" Sentilan dari Gen.
"Pasti" ucapnya dengan percaya diri.
"Apa kau tidak kasihan dengan keluargamu? Yang kehilangan dirimu, hati mereka akan terluka, bukannya bangga, kau memiliki anak? Bagaimana jika ada yang mengejeknya nanti?" Si kerdil terdiam. Wajah percaya dirinya sedikit demi sedikit luntur.
Tangannya mengepal. "Itu tidak akan terjadi!" Desisnya pelan.
"Bawa kami ke desamu dan kau bisa bertemu keluargamu" desak Gen.
"TIDAK AKAN! AAARK!" si kerdil mengambil panah besi dan merobek lehernya sendiri.
Sssrrrrtttt …
Pasir meluruh dari rantai Ruve. Mereka menghela nafasnya. Ini adalah sihir debu kloning. Sihir tingkat tinggi.
__ADS_1
"Mereka keras kepala juga, aku baru tahu" ucap Ruve. "Yah mengikuti kloningan asli. Mungkin nanti kita akan bertemu tubuh aslinya" ucap Elves.
Mereka kembali melanjutkan langkahnya. Mereka yakin lembah Abadi telah dekat. Penjaga garda depan telah mereka temui.
Bangunan besar terlihat, mereka menapaki tangganya. Pintu kokoh terbuatndari kayu tebal seketika terbuka. Dua kerdil menyambut mereka.
Kebingungan melanda, Ruve melirik Gen agar tetap berhati-hati, takut jebakan.
"Selamat datang di Lembah Abadi" suara parau tua menyambut ketiganya.
Ia melihat penampakan lelaki tua mata sipit, dengan rambut sebahu yang dibelah tengah berwarna putih lurus, juga jenggot panjang yang juga berwarna putih. Dengan satu kerdil mengikutinya.
Ia berjalan mendekat dengan mengelus jenggotnya. "Semua orang memanggilku, Kenny, tetua yang ingin kalian temui" katanya ramah tapi juga misterius. Mereka masih terus waspada pada keadaan yang membingungkan ini.
Kenny? Kura-kura penjaga Lambah Abadi? Ruve dan Gen, sumringah, berbeda dengan Elves yang masih curiga. Begitu mudah mereka bertemu dengan Kenny-Kenny ini.
Semua pun tahu tentang rumor yang beredar, namun saat orang yang menceritakan tentang Lembah ini ditanya bagaimana rupa si penjaga secara detail tidak ada yang bisa menjawab, karena mereka tidak pernah melihat sosok aslinya.
Elves tidak boleh lengah. Adiknya masih menunggu dirinya. Juga Ruve yang belum menemukan kristal abadi, perjalanan mereka masih panjang.
"Apa tujuan kalian kemari?" Tanyanya.
"Cahaya ilusi, kami ingin kesana" Elves menjawab tanpa menutupi apapun ataupun basa-basi.
"Ikuti aku" Kenny membawa mereka masuk dalam sebuah lift. Gen, Ruve dan Elves, ikut memasuki kotak kecil itu. Mereka tak menyangka akan menemukan alat modern di desa ini.
Lift tanpa dinding penghalang, mereka dibawa turun. Disana terdapat banyak pemukiman dengan berbagai sosok sedang melakukan aktivitasnya masing-masing.
Dan lift terus turun, mereka mendapati pasar yang ramai. Suara bising, mereka tak menyangka desa itu berada di bawah tanah.
Lantai selanjutnya. Lantai dimana perpustakaan berada. Kenny mengajaknya keluar dari lift dan perpustakaan luas penuh dengan lemari kayu tinggi dengan banyak buku berjejeran menyambut mereka.
Ketiganya melihat dengan mata yang berbinar. Takjub tidak bisa menemukan kata. Banyak peri-peri yang berterbangan, si kerdil yang berada di sudut atas, layaknya petugas perpustakaan yang menata buku-buku di lemari.
Banyak buku-buku dibiarkan menumpuk dilantai menunggu giliran di rapikan. Ketiganya masih setia mengikuti Kenny.
Mereka melewati labirin lemari tinggi dan melihat pancaran sinar biru terang di ujung jalan. Saat mereka masuk, terdapat akuarium raksasa di depan mereka.
Dinding kaca memperlihatkan pemandangan bawah laut yang indah. Ada dua tangga untuk mencapai atas akuarium. Kenny mengajaknya naik keatas. Tanpa kata, Kenny melompat masuk ke dalam air.
Dan sosok Kenny berubah menjadi kura-kura berukuran besar. "Duduk di tempurungku" perintah Kenny. Gen yang lebih dulu duduk di atas tempurungnya. Lalu Ruve dan Elves terakhir.
Mereka menyusuri lautan dalam, dan anehnya mereka bisa bernafas dalam air. Wajah dengan senyum mengembang terlihat dari ketiganya. Mereka terbuai oleh pemandangan laut bawah yang memukau, mereka lengah.
Saat sadar mereka sudah berada dalam penjara bawah laut.
__ADS_1
Tbc.