Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 114. Kisah Yara Alejandro 21


__ADS_3

Yara duduk ditepian kolam yang berada di markar milik Hugo. Mereka menyebut tempat ini Kolam penenang. Tapi di mata Yara, tempat ini lebih ke hutan buatan. Bagaimana tidak. Rimbun pepohonan ditambah air terjun yang mengalir.


Memang menenangkan mendengar gemericik air yang mengalir dari sungai. Rasanya sangat menyegarkan.


Yara melepaskan pakaiannya. Yang tersisa hanya celana putih selutut dengan tanktop. Tanpa kata Yara melarikan dirinya pada tebing air terjun.


Langkah kaki lain berjalan perlahan. Matanya awas menatapi apapun yang dilakukan Yara. Ia bersandar di satu pohon. Menatapi Yara dari tempatnya berada. 


Sungai dibawah sangat jernih dan dalam. Yara melompat dari tebing setinggi tiga meter itu.


Sosok lain itu. Menggenggam sebuah apel, menatapi apel itu. Kuku bercat hitam. Lalu mengigitnya. Apel segar dengan banyak sari buah yang keluar dari mulutnya.


Tubrukan air dan tubuhnya berdentum keras. Tubuhnya ia biarkan masuk lebih dalam merasakan kesegaran air sungai melingkupinya.


Matanya terbuka. Yara mulai berenang ke dasar. Setelah menyentuh dasar ia dengan cepat mengayunkan kakinya menuju permukaan.


"Hhh aaaahhh … " mengambil oksigennya. Kakinya tetap mengayun agar ia bisa mengambang di permukaan air.


"YAHOOOO … " teriaknya senang. 


Sosok itu terus mengunyah apelnya.


"Sangat menyegarkan, aku tak sabar saat nanti kau menjadi milikku" 


Sosok itu menggerakkan kepalanya miring perlahan dengan seringaian lebar memperlihatkan deretan gigi tajamnya.


Lalu ia hilang bersama hembusan angin. Bertepatan dengan Yara yang mengalihkan tatapannya pada sudut dimana sosok itu menghilang.


Langkah tergesah terdengar mendekati Yara yang sibuk bermain air.


"Keluar!"


Yara menengok ke sumber suara. Ia melihat Ale dengan tampang garangnya. 


"Cepat keluar!"

__ADS_1


"Kau keluar sendiri dan kembali ke kamarmu atau aku yang turun tangan?"


Yara tak mendengar perkataan Ale. Lelaki itu terjun. Dan muncul di samping Yara. Tanpa kata ia menyeret tubuh Yara yang meronta ke pinggir sungai.


"Diam atau aku telan jangi dirimu disini!" Ucap Ale dengan nada tinggi. Siapa yang tak meradang melihat wanita yang ia kenal berenang dan tak tahu di sekelilingnya ada yang melihat atau tidak! Kelit Ale dalam hati.


Ingin sekali hatinya menyebut Yara dengan sebutan 'wanitanya' namun otaknya tak mengizinkan.


Bukan tidak mengizinkan, Ale hanya menepis perasaannya pada Yara. Yara terdiam Ale menutupi tubuhnya dengan mantel milik lelaki itu.


Sebenarnya mantel milik Yara saja cukup. Tapi seorang Ale yang posesif itu tak ingin seujung kuku pun lelaki lain melihat miliknya.


"Turunkan! Aku bisa berjalan sendiri!" Pekik Yara yang telah Ale panggul layaknya karung beras.


"Diam!"


"Atau aku kungkung kau disini!"


Ancaman! Kesal Yara. Ia tak mengerti dengan lelaki ini. Suka sekali mengancamnya.


"Kenapa kesini!!"


"Ganti pakaianmu disini!" Perintahnya. Ale melemparkan pakaian pada Yara. Pakaian milik wanita itu. Kebingungan tercetak jelas pada wajahnya.


Mengapa Ale memiliki pakaiannya? Dan pakaiannya yang seksi pula? Mata Yara menyipit pada Ale.


"Ganti cepat! Atau—"


"Iya! iya! Suka sekali mengancam!"


"Kau sendiri yang mau" ucap lelaki itu dingin.


"Suka mengancam dan menuduh, aku sangat menyesal menyukai lelaki sepertimu dulu!" Gerutu Yara yang akan masuk kekamar mandi.


"Ah, kau menyukaiku?" Mengukung tubuh Yara dipintu.

__ADS_1


"Dulu! DULU KAU DENGAR!" Pekik malu Yara. Ia mendorong tubuh Ale, sudut bibir lelaki itu terangkat, Yara merasa kesal.


C


"Awas minggir!" 


***


Yara memimpikan ia meraih sebuah tangan hitam, genggaman tangan itu mengerat. Warna hitam menjalari tangan hingga tubuhnya. Rasa terkejut ia melepaskan tangan hitam itu. Tapi warna hitam yang menjalari tubuhnya tidak ikut menghilang


"Tidak!" Yara tidur dengan tidak tenang. Ia menggeleng dalam tidurnya.


"Tidak!"


"JANGAN!" teriak Yara. Ia terbangun dalam tidurnya matanya nyalang menatap langit-langit kamar.


Detak jantungnya berlarian. Nafasnya hangat dan memburu. 


"Mimpi yang sama" gumam lirih.


Tangan hitam itu terlihat menyedihkan. Bayangan anak kecil perempuan yang kesepian, itu mengapa Yara tak menolak menggenggam tangannya pada bocah kecil itu.


Yara turun dari ranjangnya. Ia akan mengambil air minum. 


"Sss" desis Yara. Ia merasa kepalanya ingin pecah. Namun Yara memaksakan dirinya. Dengan menopangkan tangan pada nakas. Ia berdiri.


Yara berjalan perlahan menuju meja yang tak jauh dari ranjangnya. Susah payah menahan cubitan pada kepalanya.


Ia menyeret kakinya. Sampai di depan meja dengan tangan yang bergetar ia menuangkan air lalu meminumnya.


PRANK!


 


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2