
Elf Hitam telah masuk manejadinsatundalam dirinya. Yara mendapatkan kekuatan dari Elf Hitam itu.
Yara tak tahu kekuatan apa, kembali teringat pesan Gilda.
"Aku melebur bersamamu, dan membantu dengan kekautanku. Kau harus bisa menaklukan yang satunya. Karena ia lebih kuat dibanding diriku"
Setelah mengatakan itu tubuh Gilda berubah menjadi abu dan masuk kedalam tubuh Yara.
Yara menceritakan semua pada timnya. Lalu Hugo dan Mako menemukan jika Tanduk Hitam ada sangkut pautnya dengan naga berkepala ratusan dan berbadan kalajengking itu.
Dalam Tanduk Hitam ada rahasia yang hingga kini tidak boleh diketahui, hanya petinggi paling atas. Bahkan Hugo tidak diperbolehkan mencari tahu.
Namun entah bagaimana dipertemuan yang Hugo dan Mako ikuti. Mako juga merupakan anggota Tanduk Hitam.
Mereka melihat barisan wajah-wajah garang yang tidak mereka kenal muncul dengan tato kalajengking.
Barisan itu memancarkan aura berbahaya. Salah satunya berwajah mirip Dantau. Namun ia sedikit pendek dengan aura membunuh yang kental.
Ia sempat bertatapan dengan Hugo. Namun Hugo tak takut ia memandang balik lelaki itu. Walau ia merasakan bulu kuduk dan titik ketakutan di otaknya bereaksi hebat.
Hugo mengepalkan tangannya. Nafasnya semakin berat. Saat tatapan mereka terputus, oksigen seperti kembali mengelilingi Hugo.
"Itu tindakan ceroboh, Hugo! Ia menyerang mental"
"Kita harus lebih berhati-hati" ucap Mako. Hugo ingin memprovokasi. Dan ia kalah.
"Aku tak tahu mereka yang tanduk hitam sembunyikan."
***
Kembali Yara masuk ke Arena Urban Latan. Ia merasa tubuhnya tak apa namun Otis menyuruhnya untuk beristirahat 3 minggu tak diperbolehkan melakukan pekerjaan berat.
Bosan!
Dan ia kabur ke Arena memang paling cocok. Ale hanya memperbolehkan ia untuk menonton buka menjadi petarung. Namun emosinya tersulut melihat Razor yang meremehkah petarung uang berada di Arena Urban Latan.
__ADS_1
Yara sering ikut Arena Gerbang Kematian. Dulu tak terbesit untuk menjajal Arena ini. Dimana tidak ada aturan di dalamnya.
Yang bertahan hingga akhir yang menang. Tidak ada kata seri dalam Arena Gerbang Kematian ini.
Harus tewas salah satunya. Peserta boleh memilih melawan siapapun. Razor adalah terkuat saat ini.
Tapi sayang Yara tak menemukan lelaki itu.
Yara berhadapan dengan petarung lain. Penampakannya kepala botak depan dengan rambut kepang panjang hitam menjuntai hingga pantatnya.
Yara baru saja menginjakkan kaki di arena namun serang gesig dan tak terlihat menghantam tubuhnya. Yara mundur selangkah. Tak menduga dengan serangan itu.
Ia menjadi lebih waspada. Tak bisa asal dan remeh. Opal memberi Yara info jika petarung di Arena ini levelnya menjadi tinggi. Orang-orang barunya memiliki kualitas tinggi.
Dan baru Yara mengamini. Cara bertarung dengan kemampuan seperti ini tak harus masuk ke Arena Urban Lapan.
Yara mengamati lawannya. Ia berlompat-lompat. Yara menyerang. Ia telah berada di belakang lawannya. Namun dengan gesit pula lawannya itu. Berdiri dibelakang Yara.
"Boo"
Bisiknya Yara menjauh. Yara merasakan tarikan belakang pakaiannya, kejadiannya sangat cepat. Ia telah terbaring dengan tubuh yang membanting di tanah.
DEBOOM!
KRAK!
Wajah Yara masuk dalam lantai. Hantaman mengenai wajahnya. Suara renyah patah celery. Sorakan penonton. Membuat Yara sadar ia terlalu banyak bermain.
Tangan yang menghantamnya. Mengincar lehernya. Tangan si lawan mencengkram hebat leher Yara.
Yara menepis tapi kekuatannya tak sebesar itu. Udara seperti menjauhinya. Tercekat. Mata Yara memerah. Tapi entah bagaimana kekuatan Elf Hitam muncul pada dirinya.
Bola matanya memerah dna membola. Tangan Yara mendapatkan kekuatan. Ia mencengkram tangan lawan yang mencengkram lehernya.
Kembali suara celery patah terdengar.
__ADS_1
"Haargh!" Teriakan keras menggema.
Si lawan mundur gontai. Ia menatap nyalang. Yara berdiri. Tubuhnya berdiri tegak. Semua lukanya sembuh dengan sendirinya.
Yara tak menyadari itu. Ia fokus dengan lawan atau musuhnya. Yara hanya menggerakkan telunjuknya. Jeritan lawannya memekakkan telinga.
Ia mengendalikan darah dalam nadi lawannya. Asap hitam keluar dari telunjuk Yara. Dan masuk dalam tubuh lawan yang merengang kesakitan di lantai.
"Panas!"
"Panaaas!"
Dari tempatnya berdiri Yara bisa melihat pergerakan asap hitam masuk melalui nadi lawannya. Menjalar keseluruh tubuh.
Wajahnya membiru.
"Haaaargh!"
Otonya menyembul menahan sesuatu asing yang menjalari tubuhnya. Rontaan ketegangan. Tangan lawannya mengepal menahan rasa sakit.
SPLAAAASSAHH!
Pembuluh darah lawannya meledak. Cairan darah hitam menciprat kemana-mana. Lawan Yara tewas tak tersisa.
Layaknya balon air yang meletus. Lawannya hancur lebur. Yara mengusap wajahnya yang terkena cipratan darah hitam itu.
Ia turun dari arena masih dengan mata hitam merahnya. Yara berbalik dan kesadarannya kembali.
Ia sempat disorientasi. Tapi saat sadar ia menengok pada pemandangan mengerikan di belakangnya. Cairan hitam dan anyir berada dimana-mana. Ia dibuat ingat. Apa yang ia alami.
Ia memperhatikan jari telunjuknya yang melakukan semua hal ini. Kekuatan sihir Elf Hitam. Sungguh mengerikan.
"Yara?"
Opal menatap temannya itu ketakutan. Saat tadi Yara menghabisi lawan ia seperti bukan temannya. Tatapan Yara dengan mata hitam merahnya itu menatap murka lawan. Kerutan dahi ingin membalas dan memusnahkan itu menguar dahsyat.
__ADS_1
Aura berbahaya dan tak tersentuh mengelilingi Yara. Opal enggan mendekat. Tapi ia yakin Yara telah sadar saat ini.
tbc.