Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 79. Perang dengan Kelompok Pemberontak Haye 3


__ADS_3

Ramuan Elves bekerja dengan cepat. Luka Ruve telah mengering.


"Ruve jika kau pulih kau bisa menyusul kami" ucap Elves.


Dengan mendudukkan Ruve ditempat aman. Ia melihat sekilas Ruve dan berlari keluar. Ia akan mengejar si pengecut itu.


Ia menggunakan kekuatan dari armornya. Meradar. Dengan mengambil busur panah dan merapal mantra nya Elves membidik target.


Busur panah itu melesat bak singa mengamuk. Mencari sasarannya.


Jleb!


Jleb!


Trank!


Raungan terdengar sesaat busur menancap punggungnya. Walau ia bisa menepis satu busur kiriman Elves. Geram.


Tu uh Hudson dipenuhi aura merah kehitaman, dan berefek pada pedang abadi. Ia akan mengikuti tuannya. Digiring kemana kekuatan yang dimiliki pedang itu.


Kekuatan besar menjalar dari tangannya. Aura mencekam milik Hudson semakin terlihat. Asap keluar dari pori-pori tubuhnya yang membesar.


Giginya meruncing dengan tanduk hitam keluar dari kepalanya. Akhirnya ia bisa memiliki kekuatan pedang abadi. Tawa tergelak mengisi ruang aula.


Busur Elves yang menancap pada tubuhnya jatuh begitu juga luka yang menutup dengan sendirinya.


Elves bisa ia singkirkan nanti. Ia harus membunuh sang Raja untuk merebut singgasananya.


Hudson berlari dengan gesit, ia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan dan tangkas. Ia memutari kerajaan dengan tawa menggelegarnya.


Di tempat lain, Raja Mikael sudah berhadapan dengan Damian, ayah Hudson, si otak dari pemberontakan di Kerajaan elf.


"Aku tahu kau akan datang lagi, masih tidak juga jera kau Damian!"


"Hahaha … Jera? Tidak akan, sebelum kau magi ditamganku, Mikael" ia melihat disudut. Hera. Wanita yang ia cintai dan dan direbut oleh Mikael.


Blast!


"Hai Hera kau semakin cantik saja" Damian mengelus wajah Hera.

__ADS_1


"Lepaskan tangan busukmu dariku!" Hera menepis tangan Damian. Mata Damian menjadi dingin dan datar. Ia menarik kencang rambut Hera.


"Argh!" Pekikan keras. Desis sakit di kepalanya. Rambutnya dijambak keras oleh Demian.


"Rambutmu sangat wangi, dan indah Hera" Damian menciumi rambut Hera dengan kilatan sensual disana.


"Breng53k kau Damian, lepaskan Hera!" Pekik dari tempat Mikail. Lelaki itu berlari cepat mendekati keduannya.


BLAST!


Damian menghilang, ia membawa Hera dengan menjambaknya. Hera memberontak namun sekejap tubuhnya tak bisa bergerak. Bahkan bibirnya seolah terkunci.


Bahkan kekuatannya tak bisa membantu dirinya. "Aku akan mengambil semuanya darimu" ucap Damian.


"Dari kerajaan, singgahsana juga, Hera!" Ucapnya lirih, dengan wajah yang ia dekatkan ke kuping Hera. Damian mengecupnya.


"Bereng 53k, kau iblis! Jangan berani kau menyentuh milikku!" Tangan Damian mengarah pada Mikail, sejurus kemudian bola sinar berwarna keabuan menembus tubuh Mikail dan membuatnya beku seketika.


"BajinG4n! Lepaskan istriku!" Ucap Mikail. Tawa terkekeh dengan seringaian melihat Mikail yang ia kalahkan. Rasanya menyenangkan melihat Mikail yang selalu dielukan banyak orang tak berdaya oleh sihirnya.


"AHAHAHAHAH, Bagaimana kau rasanya di pecundangi huh, Mikail? Itu yang aku rasakan saat kau merebut Hera. Lihatlah sayang, lelaki yang kau pilih ia tak bisa menyelamatkanmu!" Bisik Damian di telinga Hera yang ia kecup.


"Ayah!" Suara berat menghampiri Damian, Hudson datang dengan wujud barunya,


"Ini saatnya kau membuktikan kekuatan barumu" ucap Damian pada Hudson.


Hudson mencengkram dagu Mikail. "Ayah lepaskan sihirmu darinya, jika tak ada perlawanan tak akan menyenangkan bagiku" Hudson menatap ayahnya yang tersenyum miring.


"Lagi pula pedang abadi ada bersama ku jadi ia tak akan sekuat dulu, aku tak mengira Raja kerajaan Elf sangat lemah jika tidak ada pedang abadi, pecundang tua!" Ejeknya. Yang ditimpali tawa kencang Damian.


"Kau benar aku akan melihat bagaimana pecundang ini melawanmu anakku" ia menyeret Hera dengan mata berkaca. Ke singgahsana Mikail. Mendudukan Hera dipangkuannya.


"Lihatlah sayang bagaimana suami tercintamu akan disiksa oleh anakku" ia mendorong dagu Hera untuk melihat kekejaman Hudson.


Ia telah menyiksa tubuh Mikail dengan sayatan demi sayatan, "Pemandangan yang aku tunggu" ucap Damian dengan mengecupi kepala Hera.


"Lihatlah!"


"Lihatlah!" Seruan dengan diiringi tawa kencang. Air mata Hera menetes pada bandul yang Damian kenakan.

__ADS_1


Sedangkan Elves masih mengejar keberadaan Hudson, ia masih tak sadar bahwa ia masuk dalam jebakan Hudson. Labirin waktu.


Dan seperti tersadar Elves menghentikan langkahnya. Ia menjilat telunjuknya dan merasakan tidak ada angin di sana. Ini buka ruang hampa udara, ia masih bisa bernafas seperti biasa.


Elves sadar ia masuk dalam labirin waktu. "Siaal!" Makinya, ia duduk bersila. Memfokuskan diri. Mencoba membentengi diri agar tak terganggu oleh labirin waktu.


Dalam barier yang ia ciptakan, akhirnya Elves mendapat kelemahan dari labirin waktu milik Kelompok Haye.


Dan ia mengambil tiga busur panah, memantrai dan busur itu melesat keluar barier dan menancap pada tiga titik.


KARK!


Pecah. Batu berwarna merah delima yang terpecah terlihat didalam sebuah bandul,


"Uhugh!" Batuk dan darah segar mengucur dari mulut si pemilik batu delima itu.


Tubuhnya kaku, matanya melirik lebar pada batu delima yang pecah. Ia menatap pada anaknya yang sedang bersenang-senang didepannya, ingin memperingatkan anaknya agar bersiap, namun suaranya tak keluar bahkan lidanya kelu.


Denting pedang terdengar.


"Bajing4n bi4dap!" Maki Hera yang telah lepas dari sihir Damian. Ia mengambil belatinya dan menancapkan pada leher Damian cepat dengan gesit pula ia melepaskan diri dari lelaki breng53k itu.


Dan Damian mengejang sesaat tak bernyawa kehabisan darah di singgahsana Mikail.


Hera menggunakan sihirnya untuk mencoba mengikat Hudson. Membuat perhatian Hudson terfokus pada dirinya yang berdiri dengan mengerahkan seluruh kekuatannya pada Hudson.


Sosok yang terduduk tak bernyawa itu tertangkap netranya, "KAU MEMBUNUH AYAHKU!" Amukan kemarahan, dengan mudah Hudson lepas dari ikatan yang dibuat Hera hingga wanita itu terpental.


Gerakan gesit membuat Hudson sudah berada didepan Hera dan mengangkat dagu Hera hingga tubuh kecil itu ikut menggantung.


"BERANINYA JAL4NG SEPERTIMU MEMBUNUH AYAHKU! JAL4NG SIAALAN!" umpatan dan makian tak lagi bisa Hera dengarkan, ia susah bernafas. Membuat pendengarannya dan kesadarannya menipis.


"BR3NGS3K! KAU APAKAN IBUKU!" Elves telah keluar dari labirin waktu dan menyerang Hudson dengan ribuan anak panah yang ia lepaskan. Namun dengan mudahnya Hudson singkirkan. Elves tak menyerah. Ia terus melancarkan serangan buaurnya tak terkendali. Amarah mengendalikan tubuhnya.


Amukan kemarahan Elves rasakan menyeruak hebat dan meningkatkan kekuatan tanpa sadar ia memilikinya.


Ia mengambil satu busur dan melepaskannya, busur itu berubah menjadi sebuah pedang dengan ujung runcing yang menembus tubuh Hudson.


"HAAARGH!"

__ADS_1


Hera ikut terpental dengan tubuh Hudson yang terpental keras ke belakang. Hera tak sadarkan diri.


Tbc.


__ADS_2