
"Dingiiiiinn" Ruve sudah berada di jembatan danau Sorrow. Ia mengeratkan mantelnya, dan mengenakan tudung kepalanya. Ia bersama Araria. "Dimana kudamu?" Kembali Ruve bertannya.
"Kita berpisah disini" Ruve sudah menceritakan banyak hal mengenai dirinya, hingga ia lupa bertanya mengenai Araria.
Yang Ruve tahu, Araria tidak berasal dari Cahaya Ilusi, ia sedang belajar ramuan. Wajahnya penuh lebam dan sudut bibirnya juga ada bekas robekkan.
Ia mendengar bagaimana Araria berjuang untuk bisa masuk dan meminta Akar Bulkie. Ia mengeluarkan semua kemampuan yang ia miliki,
Ruve bertanya mengenai ledakan, Araria menjawab ia menggunakan bom peledak, juga berbagai senjata yang ia punya.
Araria pun bertanya bagaimana cara Ruve masuk, ia menggunakan rayuan maut, saat itu juga kerikil jatuh diatas kepala Ruve.
Dan lagi-lagi Ruve mengomel panjang dan membuat Araria berpikir ada yang tidak beres dengan otak Ruve.
"Iya terima kasih Ruve berkat kamu aku jadi bisa memiliki Akar Bulkie."
"Tak masalah, sesama pejuang cinta harus saling mendukung" wajah Araria menjadi tak enak saat Ruve mengatakan pejuang cinta.
"Kalau gitu, hati-hati" Ruve memacu kudanya kencang, meninggalkan danau Sorrow, ia masuk dalam hutan yang gelap dan diterangi bulan purnama.
Ia tak sabar ingin bercerita pada Elves bagaimana ia mendapatkan Akar Bulkie, juga merasa beruntung melihat mekarnya akar bulkie.
Tiba-tiba kudanya mengikik, Ruve mengendalikan tali sang kuda. Ternyata didepan ada yang menghadang jalannya. Sosok bertudung.
"TENANG HORSI! IYA TAK APA! TENANG!" Kuda itu tidak tenang ia masih saja bergerak tak tentu arah.
Dengan gerakan yang lincah Ruve merasakan adanya serangan, ia mengeluarkan rantai dan membidik dan bergelantung di dahan pohon menghindari serangan bandit bertudung.
"Ternyata kau bandit! Hei bandit aku sedang buru-buru bisa nanti saja" Ruve ingin cepat kembali ke Cahaya ilusi, mengapa ia harus diserang oleh bandit. Kesalnya.
Geraman terdengar mengerikan, namun Ruve tak peduli, ia harus segera kembali, dan bertemu dengan Elves.
"Tuan bandit, jangan halangi jalanku oke, aku tak ingin bertemu dengannya dengan wajah yang lebam, atau bibir yang robek" mohon Ruve yang tidak seperti memohon itu.
"AARH BERISIK!" Bandit bertudung itu sudah muak dengan sebutan bandit yang Ruve ucapkan. Bandit itu tak lagi menunggu, ia menyerang Ruve dengan agresif.
"Kau sangat agresif Tuan Bandit." Ruve menghindar dengan tangannya berusaha membuka tudung kepala sang bandit bertudung, Ruve menepis serangan-serangan si bandit.
Dan merasa terpojok, Ruve, menepuk dan mendorong keras dada si bandit yang terus melawan maju. Dan akhirnya bandit itu mundur oleh serangan Ruve.
Amarahnya memuncak, Geramannya kian mengeras. Findel melancarkan tinjuannya, dan mengenai wajah Ruve, ia lengah.
Ruve meludah darah. "Siaal!" Makinya,
"Aku benar-benar tak ada waktu untuk bermain" lanjutnya,
Dengan gerakan lincah Ruve berhasil membuka tudung kepala si bandit.
"Ah ternyata kau lelaki tampan, tapi sayang aku telah menjadi milik Elves. Dan aku ingin bertemu dengannya sekarang, jadi kita akhiri disini"
Bandit itu adalah Findel, salah satu penyusup yang Cahaya ilusi cari, Ruve mengikat tubuh Hyena itu dengan rantai hitam miliknya.
Findel dibuat terkejut. Ia melihat rantai itu lagi, rantai yang mirip dengan milik Mateo. Ia lengah dan Ruve mengikatnya kuat pada batang pohon.
Ruve melepaskan rantainya. Findel sudah terlilit oleh dahan tanaman rambat yang kuat.
"Dah tampan semoga kita bertemu lagi, " Ruve menaiki kudanya, dan memacunya cepat, meninggalkan si bandit.
"HARGH!" Findel melepas dahan tanaman rambatnya dengan mudah. Ia melompat dari satu pohon-ke pohon lain. Mengejar Ruve. Wanita ini target yang selama ini mereka buru.
Findel mengikuti kemana Ruve pergi. Dan ia melihat Ruve masuk ke rumah ceret teh. Tempat Elves berada.
"Ya sampai ketemu lagi manis" seringaian mengerikan tercetak pada bibir Findel. Ia bergerak cepat meninggalkan tempat Ruve.
Ia tak sabar memberitahukannya pada Mateo, ia menemukan target mereka. Sangat berbeda sekali dari foto yang pernah dilihatnya.
Ia menaiki balkon, tempat penginapan mereka masih sama tapi untuk keluar mereka harus berpencar dan Findel masuk kedalam, Ia melihat Mateo masih dengan bola-bola di tangannya, dan Los sibuk membaca.
"Aku menemukan target kita, ia sangat berbeda dengan gambar yang kau beri ketua"
__ADS_1
"Ia lebih tomboy"
"Kau dari mana jika itu target kita?" Los bertanya tanpa melihat ke Findel.
"Aku bertarung dengannya, tapi karena aku terkejut ia mengeluarkan rantai mirip milikmu tapi berwarna hitam, aku meloloskan nya, Maaf ketua" saat Mateo berhenti memainkan bolanya dengan pandangan kosong menatap Findel.
"Rantai hitam?" Suara lirih dan berbahaya.
"Ya ketua."
"Kau benar! Itu wanita yang selama ini aku cari" Mateo menggerakkan bolanya perlahan, ia menyeringai miring.
"Ruvera" desisnya lirih.
TAK! TAK! TAK! tak! tak! tak! tak! tak!
TAK! TAK! TAK! tak! tak! tak! tak! tak!
Bola-bola yang Mateo genggam berjatuhan dan terpantul, Ia mengarahkan tangannya ke depan jendela, rantai melesat cepat keluar jendela memasuki hutan di antara rimbunan dedaunan.
Rantainya kembali dengan meliuk dan mendapatkan seekor burung gagak hitam, cctv hidup milik prajurit Phoenix Way.
***
"Hei Regulas, Elves?"
"Di Ruangannya" senyuman mengembang di wajah Ruve, ia masuk dalam ruangan Elves tanpa mengetuk pintunya. Namun Ruve tidak menemukan sosok lelaki pujaan hatinya.
"Ahs … Elves,"
"Kau tahan dulu,"
Suara lelaki itu dengan seorang wanita terdengar dari balik tempat dimana Elves beristirahat, perlahan Ruve berjalan mendekati dan mendorong pintu itu keras.
Gebrakan pintu membuat kedua orang yang berada di baliknya terkaget. Ruve melihat Elves dengan seorang wanita. Yang memunggungi Ruve. Elves dan wanita itu sedang berciuman terlihat dari pandangan Ruve.
"Elves, Apa yang kamu lakukan?" Suara tercekat milik Ruve.
"Elves aku menemukan apa yang kau inginkan, ini ak— "
"Ruve?" Ruve yang sedang mencari akar bulkie dalam tasnya, mendongak, ia menemukan wajah yang baru ia kenal.
"Araria" lirih Ruve dengan kerutan didahinya.
"Ada apa, kau kesini Ruve?" Araria mendekat pada Ruve.
"Hah, ak,aku ingin be—"
"Terima kasih Ruve berkat dirimu ia mau menerimaku" bisik Araria melirik sekilas pada Elves yang masih saja sibuk dengan ramuannya.
"Apa?"
"Iya akhirnya dia menerimaku, terima kasih Ruve." Ruve bisa melihat binaran kegembiraan di mata Araria. Tubuh Ruve melemas.
"Menerima?"
"Iya menerima jad—"
"Ini sudah malam bisikan kencang kalian akan mengganggu yang lain, terlalu berisik" Elves tak memandang Ruve sama sekali.
"Araria kemarilah kita belum selesai"
Ruve menatap Elves, pandangan matanya bersimborok dengan Elves. Lalu lelaki itu memandang Araria.
"Sebentar Ruve aku kesana dulu" pamit Araria. Ruve tidak ingin melihat, ia membalikkan tubuhnya dan pergi.
Di bawah Regulas menyapanya, namun Ruve tak menjawab. Ruve menaiki kudanya. Dan memacu nya kencang.
Rasanya sakit sekali hatinya.
__ADS_1
Menerimanya?
Sejak kapan?
Apa selama ia tidak sadarkan diri?
Tapi Gen berkata Elves selalu dengannya, apa itu hanya gurauan.
Ruve terus memacu kudanya tanpa ia sadari ia tak bisa lagi mengendalikan Horsi. Kuda itu mengikik keras, menaikan kaki depannya ke udara,
"AARGH!" Ruve terpental dari pelana kuda. Ruve memejamkan matanya, ia melamun.
BRUK!
"Awh" suara berat terdengar lirih di belakang kupingnya.
Awh? Itu bukan suaranya, Ruve mengintip, matanya menangkap sosok berarmor. Sosok macan hitam, lelaki, berada dibawahnya.
Matanya bertubrukan dengan mata yang segelap malam itu.
"Ehhmmm …" suara deheman terdengar. Dari samping, Ruve malihat satu lagi sosok berarmor, beruang. Memegang kendali kudanya.
"Hei wanita kau betah sekali diatasku" Sosok itu melihat Ruve datar.
"Maaf, aku, ah, Terima kasih" Ruve berdiri cepat, lalu menunduk, Ia merasa tidak enak, ia melirik Sosok satunya dan bergegas mengambil tali pengekang Horsi.
"Terima kasih Tuan Beruang" Ruve menarik tali pengekan kudanya. Lalu kabur, tempatnya saat ini dekat dengan penginapannya.
Ruve menaiki tangga penginapan, ia mengetuk kamar Gen, Ruve mengetuk dengan kencang.
Gen yang sudah lelap pun terbangun, dengan kesal. Ia menendang selimutnya. Ia berjalan gontai.
"Ruve! Kau tau ini jam berapa?" Ruve mendorong Gen masuk ke kamar lelaki itu.
"Gen kau dengarkan aku, kau tahu siapa lelaki dengan armor itu?" Ruve bertanya dengan memegang bahu Gen.
"Ah mereka para prajurit Phoenix Way, kenapa? Kau tertarik?" Ruve menggeleng kencang.
"Aku menindihnya" ucapnya lirih.
"Hah? Kau apa?" Gen yang masih setengah sadar itu merasa kupingnya terganggu, Ruve menindih? Aneh!
"Iya menindih" Ruve berkata didepan wajah Gen.
"Seperti ini?" Gen bergerak ke ranjangnya, membanting dirinya dan menindih bantalnya.
"Yes, seperti itu, sama persis" Ruve membelalak Gen sangat benar.
"SIAPA? DIMANA? Kau punya Elves!" Mata lelaki itu membola dengan pikiran kotornya berputar diotak. Jantungnya luruh ke perut.
Ia mendekat pada Ruve dan menggoyangkan tubuh wanita itu kencang. Wajahnya murka, Gen sudah menganggap Ruve seperti adiknya sendiri.
"Tak tahu siapa, dia macan hitam ber-armor, tadi saat Horsi sedang tak terkendali" wajah murka Gen, hilang dengan sendirinya. Ia tak lagi menggoyangkan tubuh Ruve.
"Kau jatuh dari kuda dan menindihnya?" Ruve hanya mengangguk, dengan wajah polosnya.
Hembusan kelegaan terdengar dari bibir Gen. Kakinya masih terasa lemas.
"Sudah tak apa, kau tinggal berterima kasih saja besok, sana kembali ke kamarmu" usir Gen pada Ruve dengan menggerutu.
"Aku sudah berterima kasih tadi" tapi ia menuruti Gen kembali ke kamarnya. Ia mengganti pakaiannya. Bersiap untuk tidur.
Tak sengaja Ruve menyentuh akar bulkie di kantongnya. Kembali ia teringat Elves dan Araria.
Rasa sendu dan sakit hati merebak dalam dirinya. Apa ini saatnya ia harus berhenti? Hah! Rasanya kesedian menekan hatinya, sesak ternyata.
Otaknya mengulang apa yang ia lihat di ruangan Elves. Ciuman mereka, binar kebahagiaan Araria dan tatapan Elves. Satu tetesan air mata meluncur di pipi Ruve.
__ADS_1
Sesak!
Tbc.