
"Tuan Hugo perkenalkan ini Juana, peracik ramuan yang akan aku kenalkan padamu"
Juan membuka penutup kepalanya, wajahnya tersenyum ia mengulurkan tangan. Terlihat mata Hugo melebar. Tatapannya berubah nyalang.
"Juana!" Desis Hugo.
"Apa kabar Hugo Green?" Yara menatapi bergantian antara Hugo dan Juan.
"MENGAPA ADA PEMBUNUH DI RUANGANKU!" Hardik Hugo.
"PENJAGA BAWA PEMBUNUH INI KELUAR DARI RUANGANKU!"
Hugo berteriak hingga urat lehernya menonjol keluar dengan wajah yang memerah murka. Matanya nyalang.
"Tuan Hugo kau yang mengundangku!"
"Omong kosong!"
"Tuan Ulat bisa keluar, aku ingin berbicara dengan bosmu ini" ucap Juan tenang.
Juan tak menyangka ia bisa setenang ini berhadapan lagi dengan Hugo Green. Walau agak terkejut dengan hardikan lelaki itu. Juan tak merasakan ketakutan yang dulu selalu ia rasakan saat bertemu dengan Juan.
Yara mengangguk, ini bukan rana untuk ikut campur, ia sudah tahu apa yang terjadi dengan ketiga orang yang ada disekelilingnya ini.
Derapan langkah penjaga mendekat. Yara menghentikan penjaga itu untuk masuk.
"Tidak ada yang boleh masuk!" Ucap Yara tegas.
Ia melirik ke arah pintu. Mereka harus menyelesaikan permasalahan mereka. Para penjaga saling melihat. Dan mundur. Mereka juga ikut berjaga di dekat Yara.
Di dalam ruangan Hugo.
Lelaki itu menatapnya tajam. Wanita di depannya ini yang merenggut nyawa wanita yang ia cintai. Dan saat itu juga Juana pergi meninggalkannya, Rasa sakit ditinggalkan masih ia rasakan hingga saat ini.
Ia pernah berhubungan dengan Juana. Ia mengusir wanita itu dengan melakukan apapun bahkan dengan kekerasan fisik tapi tetap saja seperti tak memiliki rasa malu. Wanita itu terus datang padanya.
Hingga ia bertemu dengan Fili, wanita anggun, baik dan lembut. Itu Fili yang ada diingatan Hugo. Namun itu hanya sifat Fili palsu.
Hugo tergila-gila pada Fili dan Hugo dengan obsesinya pada Fili. Hugo berubah lebih kejam pada Juana saat tahu Fili berhubungan dengan Opal. Lelaki rendahan.
Fili, Juan dan Hugo terlahir dari kalangan atas berbeda dengan Opal. Juan dijodohkan dengan Hugo. Hugo bertemu Fili di sebuah pesta. Fili sudah tertarik pada Opal saat lelaki itu menjadi pelayan di pestanya. Yang menyelamatkan dari bullyan anak perempuan lain.
Hingga kemelut diantara mereka berlanjut lama. Juan yang mengalihkan perasaan sakitnya pada kegiatan lain, meracik ramuan, entah mengapa begitu menyenangkan.
Saat tak sengaja ia bertemu Elves juga Gilberto. Mengajaknya mencari ramuan obat. Juan merasakan kebahagiaan disana. Saat ia ingin menjadi murid Gilberto. Semua terlambat. Ia mendapatkan kabar jika Gilberto tewas.
Juan tak mundur. Karena hanya meracik ramuan adalah pelariannya dari hubungan menyakitkannya dengan Hugo.
Juan hanya pengamat bagaimana Hugo membuat hubungan Fili dan Opal berantakan. Bukan Juan tak ingin menolong. Jika dirinya pun bertahan dengan puing-puing yang selaku Hugo hancurkan.
"Pembunuh macam dirimu tak pantas untuk berbicara padaku!" Ucapan Hugo setajam ujung pisau tidak lagi bisa menyakiti hatinya.
__ADS_1
Tawa terdengar keluar dari mulut Juan.
"Pembunuh?"
"Kau tak salah sebut?" Juan melangkah ke arah sofa. Ia melemparkan tubuhnya ke atas sofa.
"Benar! Kata-kata mu di awal, jika di sini ada pembunuh."
"Kau mengakui jika kau pembunuh Fili sekarang!" Dengus marah Hugo.
"Bukan aku tapi KAU!" ucap Juan menekan kata kau dengan menunjuk ringan ke tempat Hugo.
"Sialaan Bren gsek!" Hugo tak terima atas tuduhan Juan. Juan tersenyum miring. Ia mendekat pada Hugo.
"Kau lupa jika kau yang membuat wanita yang kau obsesikan itu menderita hingga memilih mati daripada hidup denganmu!" Desis Juan didepan wajah Hugo. Uluran tangan Juan mencengkram rahang Hugo.
"Kau! Kaulah yang membunuh Fili! Dengan egoisnya kau merusak hubungan Opal dan Fili" kenyataan yang menusuk hati Hugo.
"DIAM!"
"DIAM KAU J4 LANK!"
BRAK!
Dorongan penuh amarah Juan dapatkan. Keadaan berbalik. Juan mundur dan terjatuh diatas sebuah sofa. Saat ini Juan dikungkung oleh tubuh Hugo diatas sofa kulit panjang.
"Kau jika bukan ramuan yang kau buat Fili akan menjadi istriku! Jika bukan karena kau membunuhnya!" Desis dengan seringaian lalu tawa mengerikan terdengar.
Hugo terus mendekat. Menyeringai. Ia merasakan getaran dari tubuh Juan. Semakin membuatnya menang. Ia menatap tangan Juna yang berada di dada Hugo. Bergetar. Semakin menaikkan sudut bibir nya.
Untuk sesaat Juan seakan ditarik ke masa lalu. Tawa mengerikan Hugo, juga kelakuan kasarnya berkelibatan di mata wanita itu.
Wanita j4 lang dibawahnya ini sama saja dengan dulu. Lemah akan kuasanya.
"Sebegitunya kau ingin terus bersamaku!" Juan menatap keangkuhan Hugo. Ia mengepalkan tangannya. Mencari kekuatan dari kepalannya itu. Juan meronta.
"Aku hanya menguji seberapa tak berartinya kau dalam hidupku ini!"
"Ternyata aku berhasil! Kau tak lebih dari sampah yang tak bisa melihat orang yang kau cintai bahagia."
"Diam" lirih Hugo.
"Kau adalah orang egois yang lebih memilih menyakiti orang yang kau cintai daripada melepaskannya"
"Diam" gumamnya lirih. Tangannya telah mengepal. Urat pelipisnya menyebul menahan kemarahan.
"Dan membuat mereka lebih memilih mati daripada harus hidup denganmu"
"Lancang!" Ringisnya perih. Hatinya tercubit
"Kau menyalahkan aku, untuk pelarian dari penyesalanmu itu!" Ucap Juan menggebu. Matanya nyalang menatap mata Hugo bergetar memerah menahan amukannya.
__ADS_1
"Kau benar-benar sam—"
Hugo menyumpal bibir Juan dengan bibirnya ia tak tahan dengan kebenaran yang Juan ungkapkan. Dengan keras Hugo melu mat bibir wanita itu. Juan meronta, tapi ia tak bisa menjauhkan lelaki itu.
Hugo terus menjelajah bibir wanita itu hingga tak tersisa. Luma tan kasar bercampur dengan amarah ia muntahkan pada Juan yang tak berdaya di bawah kungkungannya.
Juan memukul-mukul dada Hugo. Tangan Hugo menangkap tangan Juan dan menghempaskan ke atas kepalanya. Hugo terus menekan Juan. Bibirnya sudah turun menjalari garis leher Juan.
"Berhenti!"
"Berh—!" Rintihan Juan.
"Ark!"
Juan mengigit keras bibir Hugo. Ia bisa merasakan rasa besi dimulutnya. Rasa anyir. Hugo berhenti, ia mengusap gigitan Juan. Pancaran aura dingin Hugo menyebar. Membuat Juan bergidik.
Kembali Hugo melu mat bibir wanita itu agar tidak lagi bersuara. Hugo dengan cepat beranjak, ia menjauh dan berdiri dari tubuh Juan yang berantakan.
Juan mendudukan dirinya ia merapikan pakaiannnya. Juga rambutnya. Untuk wajahnya nanti ia tutupi dengan penutup kepalanya.
"Ja l4ng tetap saja J4 lang!"
"Aku menerimamu! Dan kau akan merasakan apa itu pelarian dari si sampah ini!"
"Kau tak bisa kabur lagi dariku! Senang kan kau!" Setelah mengucapkan itu Hugo merapikan pakaiannya dan keluar dari ruangannya.
"Juan!"
Yara mendekati dengan wajah cemas. Ia melihat Hugo keluar dengan berantakan. Ia tak ingin Juan kenapa-kenapa. Ia melihat Juan terpekur di atas sofa tak kalah berantakan dari Hugo.
"Sialaan! Baji ngan tengik! Kemana lelaki itu!"
"Pulang" Juan menarik lengan Yara yang emosinya memuncak.
"Ayo pulang" ucap Juan dengan netra melas ke Yara. Wanita itu berdecak. Lalu membantu Juan berdiri.
"Aku tak apa"
Yara mengangguk melihat Juan yang menggunakan tudung kepalanya untuk menutupi wajahnya.
Suara langkah sepatu menghentikan mereka.
"Nona Juan! Kau sudah menjadi anggota kami, saya ingin hitam diatas putih, besok pagi mohon kembali, jika tidak kami akan bertindak."
Greya dengan elegan memberikan ancamannya. Yara akan maju. Namun Juan menarik Yara untuk segera pergi dari tempat itu.
"Bilang pada Hugo, aku tak kura ia seba jingan itu!" Yara melewati Greya.
"Baik Tuan Ulat, akan saya sampaikan" Greya menunduk patuh. Lalu melihat kepergian keduanya dengan tatapan datar.
Tbc
__ADS_1