
"Hhh … hhh … " nafas berat terdengar di sampingnya. Disana ia melihat ayahnya dengan darah yang membasahi pakaiananya.
"Ayah!" Elves mendudukkan tubuh ayahnya pada dinding. Ia meraih ramuan dan meminumkannya pada ayahnya.
"To,Tolong ibumu" ucapnya terbata. Elves mencari ibunya yang tergeletak tak sadar. "Ibu?" Ia mengambil sebutir pil. Dan mendorongnya masuk pada mulut sang ibu.
Ia meletakkan tubuh sang ibu didekat ayahnya. "Kalian istirahatlah, maaf aku terlambat" ucap Elves. Harusnya ia lebih cepat jadi ia tak melihat pemandangan menyakitkan ini.
"Tak apa Nak, ini juga tugasku sebagai Raja untuk melindungi kerajaan juga dunia tengah."
"HRGH!" Geraman yang keluar dari puing-puing. Hudson kembali sadar. Dan menyerang maju. Ia merentangkan tangan dengan pedang abadi siap menebas siapa saja yang menghalanginya.
TRANK!
SSRRKKK …
"Ruve!" Rantai hitam dengan sinar keemasan memancar. Mengikat tubuh Hudson. Tubuh besar itu memberontak.
Ruve mencoba menahan. Ia memusatkan fokusnya, matanya berkilat, ia bisa menerawang, ia mencoba kembali, melebarkan matanya dan menemukan fokusnya.
Dan ia bisa melihat, batu di punggung Hudson terselip di antara tulang punggungnya. Batu apa itu, terlihat kehitaman.
"ELVES BIDIK ANTARA LEHER JUGA PUNGGUNGNYA!" Ruve berteriak. Elves yang menahan pedang Hudson mengambil busur memantrainya dan melesatkan ke jauh ke langit. Hingga tak terlihat.
Tawa kencang Hudson mengejek Elves. "Kau membidik apa? Aku tahu kau despresi tak isa mengalahkanku tapi tak harus sampai begitu!" Tawa tergelak.
Lesatan busur menancap di antara leher dan punggung Hudson. Dan membuat ia terdorong dan terseret menghantam dinding kerajaan.
"HAAAAARGHHHH!!!!" Teriak memilukan. Uratnya Hudson menyembul ia bisa merasakan aliran darahnya mengalir deras melewati urat-uratnya. Panas. Tubuhnya bergetar hebat. Ia menahan dengan kaku.
Rasanya menyakitkan.
"AAAARGHHHH!!!" urat dipelipis itut menyembul mata Hudson melebar dan memedah. Peluh membasahi seluruh wajahnya. Asap perlahan keluar dari pori-porinya.
Tubuh besarnya mengerang dan mengejang lalu psssttt …
Layaknya balon yang perlahan mengempis. Tubuh Hudson seperti itu.
Klak!
Batu yang Ruve lihat terjatuh dari tubuh Hudson yang lemas. Untuk menggerakkan jarinya saja ia tak sanggup.
Ruve mengambilnya ia mengamati batu apa itu. Dan dengan cepat batu itu masuk kedalam tubuh Ruve seperti tersedot.
Ruve terkejut, batu apa itu. Ia panik. "Elves batu, batu, batunya masuk, tembus ke sini" ucap Ruve tergagap dengan menunjuk pada dadanya, berulang kali. Ia serasa di awang-awang saat ini. Antara sadar dan tidak sadar. Ia seperti mabuk.
Dan Elves masih waspada melihat Hudson yang tak berdaya. Elves meninggalkannya. Namun Hudson kembali bergerak, dengan kelemahannya ia memegang pedangnya akan menghunus ke arah Elves.
Ruve mengetahui serangan itu dan meluncurkan rantainya, lalu rantai milik Ruve melingkar pada lehernya.
Krak!
Ruve mematahkan leher Hudson dan lelaki itu tewas seketika.
__ADS_1
***
Suasana kerajaan Elf menjadi lebih kondusif dengan bantuan Araria, Elves dapat mengobati para prajurit yang terluka menjadi lebih cepat.
Tapi satu yang membuatnya kesal. Elves tak mendapati adiknya dan Gen dalam pasukan Hudson. Dan ia seperti gagal.
Raja dan Ratu sudah kembali sehat dan menjalani rutinitasnya kembali. "Elves" suara mendayu mendatangi Elves di goa tempatnya meramu obat.
Dia adalah Laluna, putri dari salah satu perdana menteri pertahanan. Martin, Yang digadang-gadang menjadi gadis tercantik dan memiliki kemampuan memanah dan bertarung yang luar biasa.
Beberapa kali Mikael mengundangnya makan malam bersama keluarganya. Dan Elves tidak buta maksud dan tujuan Mikael. Ingin menjodohkannya.
"Kau sedang apa Elves? Aku sangat tertarik dengan ilmu pengobatan, bisakah kau mengajariku?" Ia mencoba mengelus lengan Elves. Namun dengan cepat Elves menghindari.
"Kau bisa mencari guru medis jika ingin belajar pengobatan" ucapnya dingin. Arafia uang berada disana mendengus. Dengan penolakan Elves pada Laluna.
"Tapi kau bisa mengajarkan dia mengapa tidak dengan ku" ucapnya merajuk.
Elves merasa risih. Ia menjauh namun Laluna selalu mengikuti di belakangnya. "Bisakah kau tidak merecoki?" Laluna dengannwajahnyanyangbmemerahnkeluar dengan langkah kaki kesal.
"Guru kau terlalu jahat pada calon ratu masa depanmu" ledek Araria.
Dan Elves hanya berdecih.
Rumor beredar Laluna dan Elves sangat cocok, calon Raja dan Ratu Elf masa depan. Berita yang semakin hari semakin memanas itu sampai juga di telinga Ruve dan membuat wanita itu minder.
"Dimana Ruve?"
"Dasar wanita derik itu tidak pernah membantuku!" Kesal Elves.
"Aku akan mencarinya, semua selesaikan?"
"Iya tinggal memasukkan dalam botol-botol ini, aku bisa kau tinggalkan guru. Dan carilah si derik itu, sepertinya beberapa hari ini aku lihat ia bersedih."
Elves meletakkan perlengkapannya. Keluar mencari keberadaan Ruve. Ia menaiki kudanya dan menyusuri hutan dan perlahan ia bisa mendengar suara derik yang Elves kenali akhir-akhir ini.
Ia mendekati perlahan "Kau kenapa disini?" Dan tentu membuat Ruve terkejut. Mata Ruve sembab. Ia ingin kabur namun dengan gesit Elves menangkap dirinya. Dan memegang kepalanya.
"Lepas!" suara bergetar terdengar. Elves melonggarkan pegangannya. "Kau menangis?"
"Tidak!" Bentaknya.
"Bohong lalu ini apa?" Elves mengusap air mata disudut matanya.
"Tidak, sudah lepaskan aku ingin kembali berenang disungai. Lagi pula sana urusi calon Ratumu!" Kesal Ruve yang melengos.
Dan membuat Elves tersenyum mengerti. "Kau cemburu?" Serunya senang. Mendapati Ruve cemburu padanya.
"Ti,Tidak, Tidak!" Ruve gelagapan dengan pipinya yang memerah.
"Jangan mengelak" Elves mendekatkan wajahnya pada Ruve. Membuat mata si ular semakin lebar.
Dan cup, Elves mengecupnya.
__ADS_1
Membuat tubuh Ruve memanas. "Apa yang kau lalukan?" Desisnya lirih.
Elves menyatukan dahinya dengan Ruve. "Aku menyukaimu" ucap lirih Elves.
Tentu saja membuat Ruve tertegun. BLAST!
Ruve kembali pada sosok manusianya dan menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tak percaya. Air matanya menetes.
"Kenapa? Apa ada yang sakit?" Elves panik dan mengecek seluruh tubuh Elves. Ruve menggeleng.
"Aku terharu dan tak percaya kau menyukaiku" tangisan Ruve semakin kencang. Elves lega, melihat Ruve ia menjadi gemas. Lelaki itu menarik Ruve dalam dekapannya.
Ia mengelus punggung kecil Ruve yang pas dengan tubuhnya. Rengkuhannya mengerat. Elves merasakan kehangatan yang nyaman.
"Sejak kapan?" Pertanyaan Ruve setelah ia lebih tenang.
"Sejak kapan ya? Mungkin sudah lama tapi aku baru sadar saat Mateo membuatmu melupakanku, rasanya disini sakit sekali." Elves menunjukakannya.
"Lalu bagaimana dengan Ratu masa depanmu? Kau harus menjadi Raja dan tak mungkin menikahiku yang tidak se bangsa denganmu" Sendunya.
"Memangnya siapa yang mau menikahimu" ucap Elves yang membuat kesedihan Ruve kembali. Ruve akan beranjak. Dan Elves menariknya kembali dan Ruve duduk dipangkuan Elves.
"Jangan pergi, tak apa kau marah tapi jangan tinggalkan aku" Elves merengkuh pinggang Ruve. Kepalanya ia benamkan pada tubuh Ruve.
"Tapi kita tak bis—"
"Sssttt … sudah kau tenang saja semua sudah aku atur, kau tinggal diam berada disisiku, mengerti" Elves mencapit bibir Ruve hingga menyembik layaknya bebek.
Bertambah menyembik karena wanita itu kesal dengan Elves. Elves terkekeh mendekatkan wajahnya dan melum at bibir Ruve dalam.
Tangan Elves menahan tengkuk Ruve untuk memperdalam ciuman mereka. Ruve sudah membenamkan tangannya pada rambut Elves. Dan meremas rambut lelaki itu. Ia mengikuti alur yang telah Elves buat. Semakin dalam dan semakin dekat.
Ruve menjambak rambut Elves menjauh, mereka memerlukan udara. Masing-masing meraup udara banyak-banyak dengan tersengal.
"Kyaaa …"
Ruve melirik malu. Ia segera menutupi wajahnya. Tak menyangka ia akan mendapatkan ciuman dasyat itu. Rasanya enak dan menyenang kan.
Jari Elves menarik satu jari yang menutupi wajah Ruve. Ruve mempertahankan tangannya dengan menggeleng.
"Kenapa?" Suara serak Elves. Yang membuat Ruve mengintip dari sela-sela jarinya dan melipat bibirnya yang bengkak.
"Maluuu …"
"Aku mau lihat wajahmu, Ruve"
Kembali Ruve melipat bibirnya suara serak seksi milik Elves, juga tarikan jari lelaki itu menjauhkan tangan yang menjauh dari wajahnya.
Wajah Ruve semerah kepiting rebus. Lelaki itu terkekeh seksi. Ruve tak suka. Ia akan membalasnya. Ruve menangkup wajah Elves dan memberi lelaki itu kecupan-kecupan bertubi.
Membuat pemuda elf itu kembali menekan tengkuk Ruve memperdalam lagi ciuman yang membuat Ruve terpekik sesaat. Namun tetap memejamkan mata, menikmati belaian bibir Elves, sekali lagi.
Tbc.
__ADS_1