Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 127. Kisah Yara Alejandro 34


__ADS_3

Yara terbangun di ruangan gelap. Yang ia ingat ia kembali ke markas. Membersihkan tubuh dan beristirahat.


"Akhirnya kau datang, aku akan mengatakan kau berada di dunia mimpi Calon Ratu Mimpi"


Yara menatap sekitarnya. Ia mendernagr suara parau dari lelaki tua, Ia menemukan seekor gagak hitam bertengger di atas sebuah lampu gantung berwarna emas.


"Boleh aku meminta permohonan padamu Calon Ratu?"


Yara tak mengerti. Siapa gagak ini?


"Aku ingin kau menyelamatkannya"


"Tolong bantu dia, Selamatkan Dantau"


Dantau? Lelaki itu! Gumannya. Netranya membulat, Yara mundur, ia mulai waspada.


"Tenang aku tidak akan menyerang, aku disini ingin kau dengarkan"


"Ini adalah pertemuan pertama kita, dan benar yang kau duga aku memiliki hubungan dengan Dantau"


"Dan aku meminta maaf atas namanya"


"Kenapa aku harus menyelamatkannya?"


"Mengapa kalian menyerangku! Juga menyebutkan tentang Elf Hitam? Ratu Elf Hitam?"


"Dia selalu menyangkutkan ku dengan kekasih juga takdir dan Ratu Elf Hitam?"


Yara ingin mengorek semuannya. Mengapa lelaki yang gagak itu sebut Dantau, selalu saja merecoki dirinya dengan semua nya.


Apa hubungan dirinya dengan lelaki itu.


"Sebenarnya kami tidak terlalu peduli juga tida ada hubungan apapun dengan Ratu Elf Hitam"


"Tetapi Dantau tidak menyadari itu"


"Ia sama sepertimu, ia hanya dipergunakan sebagai alat,"


"Aku tidak layak memohon ini padamu, tetapi hanya kau yang bisa menyelamatkannya"


"Siapa kau?"


Yara menatap tajam.


"Perkenalkan aku Felix, aku yang merawatnya."


"Kalian harus berhati-hati. Kalian telah mereka tandai … "


"Dia seorang lelaki dengan rambut hitam, ia monster naga berkepala seratu—"


Percikan api keluar dari ekor gagak itu.


"HAAAAAAARH"


"AAAARGH!!!!"


"TERLAMBAT! … AK … KETAHU …"


"ADA APA INI!"


Kobaran api mulai membesar, membakar seluruh tubuh gagak hitam itu.


"FELIX!"


"Dia … monster … naga … seratus"


"Ka … hati …"


"TUNGGU FELIX!!"


Raut wajah Yara memucat, ia tak mengerti tentang situasinya yang saat ini terjadi.


"Yara!"


"YARA!"


"Ada apa?"


"Hhh … hhh …"


Yara membuka matanya. Keringat bercucuran, wajahnya memerah panas.


"Kau bermimpi buruk?"


"Ale?"


"Aku mendengar kau mengigau kencang, Ada apa?"

__ADS_1


"Burung … gagak … gagak hitam, dia-dia …"


"Ale mengapa kau dikamarku?"


Yara teralihkan melihat Ale yang mengusap keringatnya.


"Lupakan dulu! Ada apa dengan gagak hitam?" hardik Ale, masih saja wanita ini memikirkan hal lain.


"Hmm itu …"


***


"Itu yang terjadi di mimpi hmm … " Yara memakan sarapannya. Ia sangat lapar.


"Jadi "Felix" ini pengasuh Dantau?"


"Ya itu yang ia katakan sebelum terbakar" 


Yara menggigit rotinya. Nampan makannya masih penuh. Ia lapar mata. Tapi jangan risau Yara akan menghabiskan tumpukan makanan didepannya.


"Kau dapat menyelamatkan lelaki itu?"


Ya mengangguk.


"Ia mengatakan itu dengan resiko yang besar"


Yara menatap kosong nampan penuhnya. Ia mengingat bagaimana gagak hitam itu terbakar.


"Mako bagaimana menurutmu?"


Otis bertanya pada wanita yang sedang mengunyah rotinya dengan anggun. Sangat berbeda dengan Yara yang bar-bar.


"Jika benar yang aku tahu Peony mengatakan memang lelaki itu diasuh oleh seorang pria tua"


"Gagak hitam tua, Peony selalu menyebut itu"


"Tapi ini bukan jebakan kan?" Xelo menatap Otis. Mereka sarapan bersama di kantin markas Hugo.


"Ya tidak menutup kemungkinan, tapi melihat bagaimana resiko yang ia dapat … "


Otis kembali menyuapkan makanannya.


"Mungkin seseorang tak mau kita tahu, menilik dari mimpi yang Yara dapat, ia tak ingin sesuatu terjadi pada lelaki itu"


"Kita harus menyelesaikan semua dengan bersih, karena mereka menargetkan Yara" Mako berkata dengan wajah keruh. Wanita anggun itu terlihat kuatir.


"Tak apa Mako, ini juga termasuk melatihku Ratu Mimpi sesungguhnya."


Yara telah mengetahui adanya Elf Hitam dan Elf putih pada dirinya. Juga Otis menjelaskan tentang dirinya yang bisa menjadi Ratu Mimpi.


"Bagaimana keadaan lelaki itu"


Xelo meyesap minumannya.


"Ia belum sadarkan diri, keinginan untuk mengakhiri hidupnya yang terdahulu masih membekas. Juga luka baru sudah kuobati"


Otis seorang ahli ramuan. Ia banuak menciptakan ramuan yang sering Hugo gunakan, bahkan banyak yang mencari racun miliknya.


Dan Otis menjadi incaran para pembunuh bayaran. Mereka ingin memiliki racun racikan Otis.


"Jadi maksud kalian, Dantau terjebak dalam mimpi? Dan hanya Yara yang bisa membantu?"


Kesimpulan setelah mendengarkan semua penjelasan dan diskusi yang mereka lakukan.


"Ya kemungkinannya, kita lihat perkembangannya"


"Ini makan lah"


Otis memberikan potongan pir pada nampan Yara.


Wanita itu menyengir tak sungkan ia mengambil potongan pir dan mengunyahnya padahal dalam mulutnya telah penuh dengan makanan yang belum sempat ia kunyah.


"Uhuugh! Uhugh!"


"Pelan-pelan tidak ada yang akan mencuri makananmu!" Ale menepuk punggung Yara perlahan.


"Minum!" Juan meletakkan minuman di depan Yara. Yara menenggak cairan dalam cangkir pemberian Juan itu. Ia melirik Juan yang merengut.


Ia memandang Hugo yang bsrada disamping wanita itu. Mata mereka bertemu. Yara menaikkan alisnya bertanya melalui alis matanya.


Hugo menghela nafasnya.


"Juan kau masih marah karena tak ikut malam itu?" Wanita hamil itu membuang wajahnya jauh, ia tak ingin menanggapi pertanyaan Yara.


"Kau tahu kan kalau dirimu itu mengandung?"


"Kau akan mengajak anakmu dalam bahaya jika ikut"

__ADS_1


"Kau tak memikirkan anakmu?"


Berondongan pertanyaan yang menjurus ke pernyataan itu membuat Juan berpikir. Ia merasa tersisih. Hugo tidak mengajaknya kala itu.


"Ak-aku tentu saja keselamatan anakku nomor satu"


"Ya sudah buat apa kau masih saja marah?"


"Ak-aku ha-hanya … "


"Sudah lebih baik kau makan buah-buah ini" Yara mendorong semangkok tumpukan buah yang Hugo siapkan untuk Juan.


Juan masih saja merengut tapi tangannya mengulur untuk mengambil potongan buah itu. Ia memakannya perlahan.


"Dasar wanita hamil merepotkan!" Ucap Yara mendapatkan tatapan tajam dari Juan. Yara kembali menyantap makanannya.


Berita kembali heboh dengan kembalinya Yara yang diumumkan oleh Hugo. Juga memberantas segala rumor yang beredar.


***


"Kalian siap?"


Anggukan menjadi jawabannya.


Di depan mereka terdapat pintu portal menuju mimpi dari Dantau. Dimana Dantau disekap.


Otis, Mako, dan Xelo berdiri mengantarkan Yara juga Ale bersiap untuk membantu menyelamatkan Dantau.


"Terima kasih telah mengantarkan kami"


Yara dan Ale memasuki portal.


"Tugas kita selesai" Xelo menatap Mako yang berwajah cemas.


"Mako sudah, kau tak perlu terlalu kuatir, mereka bisa"


"Bukan itu"


"Apa yang membuatmu kuatir? Tapi kita tak bisa membantu banyak"


"Kau benar, ayo kita kembali, aku harap tidak terjadi apapun" Helaan nafas Mako, masih berat, semoga saja firasatnya salah.


***


Lorong dengan dinding batu, temaram, terdapat obor-obor. Ale dan Yara menyusuri lorong berbatu itu.


"Perhatikan langkahmu" Ale menatap Yara yang mengamati dinding itu.


"Mereka pasti menyiapkan jebakan untuk kita, diantara lantai batu ini"


"Okey" Yara mulai melangkah perlahan. 


"Tidak usah seperti itu juga, berhati-hati"


Ale menatap Yara dengan memicing. Melihat sikap Yara seperti sedang melawak.


JLEK!


Syuuuuttt …


Satu busur panah meluncur, kearah mereka. Dengan gesit Ale menarik tubuh Yara untuk menghindar dari panah itu.


"MINGGIR!"


"Oh!"


"Panah! Kau ke belakangku!"


Ale menggeser tubuhnya lebih kedepan untuk menjadi tameng.


"SIAPA KALIAN! TUNJUKAN DIRI KALIAN!!!" Bentak Ale. Menatap kegelapan yang berada di depan mereka. Suasana temaram. Membatasi pengelihatan mereka.


"Bola api!" Tangan Ale menjulur dan bola api keluar dari sana. Ale mengarahkan bola apinya ke depan. Dan bola apinya meluncur cepat.


Namun tak lama bola api milik Ale hilang tak tersisa. Ale dan Yara mulai lebih waspada. Ale siap menyerang siapapun yang menghampiri mereka.


"Ah kalian tak bisa diajak bermain!" Suara lelaki. Perlahan bayangan hitam muncul. Lama kelamaan wujudnya terlihat.


"Tak usah terlalu tegang begitu wajah kalian"


"Bagaimana keadaan kalian, hei kau penjaga dan calon ratu mimpi?"


"Selamat datang di tempatku!"


Bocah lelaki menampakkan wajahnya. Ia tersenyum menyeringai menatap kedua wajah di depannya. Rambutnya berwarna keemasan. Sosoknya mirip dengan Dantau namun sosok ini lebih kecil.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2