
Mereka menemukan tubuh Ale yang tak sadarkan diri. Dalam mimpi tubuh Ale terikat oleh tanaman merambat berduri.
"Bagaimana bisa calon Ratu Mimpi memiliki pelindung begitu lemah!"
"Kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri"
"Lalu melindungi rekan-rekanmu!"
"Kau terlalu lemah"
"Tak mengira sebegini mudah mempengaruhi pelindung calon ratu"
Tanaman rambat itu mengencang duri-durinya yang tajam mulai menembus kulit Ale.
Mulut Ale tertutup tanaman rambat itu. Terlihat matanya kosong. Ia merasa lemah. Dalam dirinya muncul keraguan besar.
Apa benar ia tak pantas.
"Benar kau tak pantas. Otakmu sepintar itu rupanya."
"Maka menjauhlah dan biarkan Yara menjadi milikku maka akan aku ja—"
Srrrak …
Ale mencabik tumbuhan rambat itu. Matanya menggelap. Mulutnya mengoyak kasar tanaman itu.
Srak sraak srak …
Pedang tajam miliknya mencincang habis tanaman rambat itu. Kekuatan dari mana Ale tak tahu. Ia hanya merasa tubuhnya dialiri sesuatu yang hangat. Dan ingin menyeruak keluar.
Sumber suara itu tak lagi bersuara.
"Kau tak akan bisa memilikinya. Karena Yara milik Yara sendiri. Ia bukan milik siapapun!"
"Siapa kau?!"
"Muncullah dan jangan jadi pengecut!"
Tubuhnya penuh bekas luka tusuk dari tanaman rambat itu.
Ale terbatuk. Ia kembali sadar. Dirinya terbaring dengan Yara sedang menghajar seseorang.
Yara melompat dan memberi tendangan pada dada seseorang dengan jubah. Orang itu mundur.
__ADS_1
Pertarungan semakin sengit. Hantaman demi hantaman Yara layangkan pada kepala si jubah. Si jubah lemas terkapar dengan babak belur.
"Siapa kau!"
Kembali tendangan menyasar rusuk si jubah yang tergeletak.
Yara kembali melayangkan serangannya. Saat Otis dan Hugo menyeretnya mundur. Walau pun mereka terlambat tapi masih bisa menyelamatkan si jubah.
"Ale bagaimana keadaanmu?"
Ale telah pulih. Ia hanya mengantuk dan masuk dalam mimpi. Karena itis erangan dalam mimpi tidak berpengaruh dengan tubuhnya di dunia nyata.
"Aku baik, tapi bagaimana dengannya?"
Ale melihat bagaimana si jubah dalam.keadaan sangat mengenaskan. Rusuknya patah. Wajahnya penuh perban, kakinya pun patah. Ya mendekati mumi.
Yara duduk bersimpuh. Ia kalap karena si jubah dengan beraninya menghajar Ale melalui mimpi dan menyeret namanya.
Ia tak bisa melihat Ale disiksa. Yara akan maju sama halnya saat Yara disiksa dan lemah. Ale akan maju dan membantunya.
Yara merasa bersalah. Ternyata si jubah masih anggota mereka. Jika Otis dan Hugo datang lebih terlambat maka jiwanya sudah di nirwana.
"Maaf"
Mungkin karena target si jubah adalah pelindungnya atau bisa dibilang orang yang ada dihati Yara.
Maka Yara mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Beberapa hari setelahnya. Si jubah terlihat lebih pulih. Mako ingin menyerang si jubah namun ditahan oleh Xelo.
"Lepaskan! Aku akan menghajarnya. Berani sekali ia datang dan membuat keributan!"
"Ka-kau salah paham, a-aku hanya ingin menguji seberapa pantas Ale menjadi pelindung Yara!"
"Siapa kau beraninya menilai pantas tidaknya dia?"
Mako terlihat sangat kesal dengan Xelo yang masih menahannya.
"Karena apa yang akan Yara hadapi kedepannya akan sangat berbahaya. Apa lagi jika si naga berkepala ratusan itu mulai serius"
"Mako tenang lah! Bisa kita duduk dulu?"
Otis mempersilahkan Mako yang nafasnya masih menderu. Namun Mako menurut. Xelo melepaskan Mako dan ikut duduk disebelahnya.
__ADS_1
Peony dan Gmala pun ada disana. Mereka datang dengan santai.
"Jadi maksudmu?"
"Mereka memiliki waktu untuk merampas semuanya. Jika waktu itu terjadi walau dalam mimpi pun kalian bisa saja tewas"
"Kita tidak butuh pelindung calon ratu yang lemah dan malah menyusahkan sang ratu!"
"Dan kita harus membuatnya lebih kuat lagi!"
"Dengan berlatih"
"Uhugh … hugh … sss …"
Ale terbatuk. Rasa nyeri pada dadanya. Ia sesekali masih merasakan, efek dari racun yang masuk dalam tubuhnya.
"Yara bawa Ale kembali ke kamarnya, Ale kau harus memulihkan dulu keadaanmu, minum ramuan yang aku berikan."
"Walaupun tak secepat itu, namun ramuan itu membantu kau membuang racun juga memulihkan tubuhmu dari racun." Lanjut Otis. Yara mengangguk dan memapah Ale keluar dari ruangan Si jubah.
Syyatt …
"Bros! Jika kau datang hanya untuk membuat semua semakin rumit, aku akan mengakhirinya disini!"
Yara telah pergi. Hugo dengan cepat menodongkan pedangnya pada Si Jubah.
"Aku minta maaf jika baru sekarang kami datang" ucap Bros.
"Aku tahu kemarahan kalian. Tapi pusat membutuhkan—"
"Omong kosong!" Bentak Hugo.
"Kalian tahu bagaimana ini semua bermula?" Tanya Hugo pada Bros yang hanya menatap dirinya.
"Kalian mengetahui tentang Yara sebelumnya. Dan menyuruhku untuk memasukkan pada markas khusus?"
"Kami telah mencari tahu, mengapa calon Ratu mimpi bersemayan dalam tubuhnya."
"Dan kalian tahu apa hubungannya dengan Naga kepala ratusan itu?"
Kembali Bros mengangguk.
"Karena Yara, anak mereka, keturunan langsung dari Ratu Mimpi sebelumnya dengan si naga kepala ratusan"
__ADS_1
Tbc.