Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 96. Kisah Yara Alejandro 3


__ADS_3

Ale melihat kereta kudanya sudah kosong, tak ada lagi peti-peti milik ya dan juga tak ada lagi Yara disana.


Decakan terdengar dari bibir Ale. "Cari bandit-bandit itu!"


"Siapa mereka?" Tanya Ale pada anak buahnya.


"Mereka bandit yang belakangan ini meresahkan Desa Selat. Menamai dirinya bandit tanduk hitam." Ale mendengarkan penjelasan anak buahnya.


"Mereka sudah mengincar kita saat di kedai" ucap anak buahnya.


"Jadi bandit-bandit pembuat masalah ini yang harus aku habisi" anak buah Ale menunduk, melihat wajah bengis Alejandro yang siap memangsa lawannya.


"Tuan mereka melapisi sekeliling hutan di dalam sana dengan barier" ucap salah satu anak buahnya. Ale mengeluarkan botol kecil berwarna coklat tua dan menuangkan cairan ke tanah.


Tak lama barier itu menghilang. Pasukan Ale memasuki hutan, mereka bergerak dengan waspada.


Dan benar saja, para bandit-bandit itu membuat banyak jebakan. Ale dapat menembus banyak jebakan. Didepan sana terdapat tumpukan jerami yang menyerupai bangunan.


Dan saat ia memasuki pintu dari bangunan mereka telah dikepung oleh para bandit.


"Hebat sekali kalian bisa menembus barierku!" Suara ponggah terdengar. Para bandit menodongkan senjatanya pada pasukan Ale. Tentu mereka kalah jumlah.


"Dimana dia?" Tanya Ale pelan.


"Kalian telah salah, bunuh diri ini namanya masuk ke dalam sarang musuh" lelaki botak dengan tanduk kecil dikepanya, dengan perut buncit itu mengejek Ale.


"DIMANA WANITAKU!" Bentak Ale. Ale menatap tajam lelaki botak itu.


Lelaki botak itu menyentak kepalanya, mengkode anak buahnya untuk membawa keluar Yara yang mabuk.


Wanita itu diseret untuk menemui Ale. Ia melihat Ale kembali ia akan melambai tapi tiba-tiba Alenya mendapat serangan dari si botak. Ale terpaku.


Bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Yata yang melihat itu tidak terima. Ia melepas pegangang anak buah si bandit.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA WAJAH PRIAKU!!!" teriakan Yara yang langsung berlari ke arah Ale dan ketua bandit tanduk hitam.


Ia menjegal kaki si botak, lalu menarik tangannya dan membanting tubuh bandit botak itu ke tanah.


Kembali ia menyerang tendangan pada anak buah si bandit, tendangan memutar dan mengenai beberapa anggota si bandit hingga terpental.

__ADS_1


Perkelahian kembali terjadi. Para anak buah Ale yang terlatih menunjukan kemampuannya.


Ake pun turun tangan. Yara kembali berlari ia menghentikan gerakan lawannya. Dan dengan menggunakan senjata lawan ia menghabisi lawannya.


Yara menarik tiga busur panah, membidik lawan dan ketiga busur itu ia lepaskan. Busur panah melesat cepat menuju target dan ketiga busur itu menembus kepala lawan. Ia mengulangi lagi, Yara meraih tempat busur yang telah habis.


Ia pun mengarah ke kepala anggota bandit yang dikendalikannya tadi. Dan memutar kepalanya. Suara seperti patahan batang seledri terdengar kering. Tubuh si bandit meluruh. Tewas.


Ale menatap Yara, langkahnya melebar. Yara melihat itu ia merentangkan tangannya. Menyambut kedatangan Ale dengan senyuman lebarnya. Ia masih keadaan mabuk. Pipinya masih memerah.


"Aw!" Jerit Yara memegangi dahinya yang sakit. Ale menjentik kepala Yara. Kencang.


"Mengapa kau bersembunyi di kereta kudaku?" Ucap Ale dengan nada tinggi. Yara masih mengelus dahinya yang masih nyeri.


"Sakit!"


"Jawab!" Paksa Ale.


"Aku ingin ikut denganmu!"


"Dengan cara bersembunyi seperti pencuri?!" Hardiknya. Ale tidak ingin terjadi sesuatu pada tamu kerajaan. Dan akan menyusahkan Ale.


"Tentu saja tidakkan?!" Kembali Yara bersungut. Dahinya masih nyeri. Ale menggunakan seluruh kekuatannya.


Ale mengusap wajahnya, ia menghela nafas kasar. Kemudian menarik tubuh Yara hingga duduk diatas kudanya, bersama Ale yang berada di belakangnya.


Ia duduk miring. Dengan sekali sentakan Yara duduk menghadap depan. Tanpa kata Ale memacu kudanya.


"Kalian biarkan saja peti-peti itu, kita lanjut ke desa selat."


"Baik Tuan" ucap anak buahnya. Mereka kembali menaiki kudanya dan menyusul jenderalnya.


"YAHOOOOO" teriak Yara, ia masih mabuk. Tapi angin dingin menyegarkan wajahnya yang terasa panas.


"Berisik!"


"Ale ini sangaaaattt menyegarkaaaannn, Yahooooo"


"Pegangan Yara!" Desis Ale disedat kuping Yara.

__ADS_1


Yara yang kegelian ia malah menutup telinganya dengan terkekeh.


"Berhenti bergerak!" Kembali Ale bersuara. Ia merengkuh pinggang Yara. Agar wanita itu tidak terjatuh.


Tak lama mereka tiba di desa Selat. Di sebuah pondok yang cukup besar. Dengan beberapa orang menyambut kedatangan sang tuan.


"Selamat datang Tuan Alejandro"


"Siapkan kamar"


"Sudah Tuan" Ale turun lebih dari kudanya. Kemudian tangannya terulur untuk membantu Yara untuk turun.


Kaki Yara lunglai. Ia tak bisa menahan tubuhnya, wanita itu oleng, dengan sigap Ale menyambar pinggang Yara.


Kembali Yara malah terkekeh, tangannya bertumpu pada dada bidang Ale. Yara menatap mata tajam Ale yang bak laser yang akan mencincang dirinya kecil-kecil.


Bukannya takut, kembali cengiran lebar Yara perlihatkan. Tangannya yang bebas terulur pada bibir Ale. Mengelus permukaan bibir merah dan tebal milik lelaki yang ia sukai.


"Kau kenapa ketus sekali! Bilang pada majikanmu, jangan terlalu membenciku! Repot kalau nanti ia merindukanku" Yara kembali tertawa renyah.


"Kau bermimpi!" Ucap Ale.


"Nah kan! Nah kan! Aku sudah bilang jangan ketus padaku!" Yara menjepit kedua bibir Ale.


"Rasakan! Hmm … " wajah Yara mendekat jepitan tangannya pada bibir Ale digantikan dengan giginya. Yara menggigit bibir Ale. Tubuh Ale mematung.


Para anak buah Ale, sadar diri. Mereka meninggalkan Tuannya itu dengan sang kekasih, mereka pikir.


Yara menggigit gemas bibir Ale. Gigitannya berubah menjadi kecupan-kecupan kecil.


"Bibir merah ini!" Kembali Yara mengecup bibir Ale yang masih terdiam.


"Sangat kejam namun juga sangat manis," bisiknya di sela kecupannya yang Yara akhiri dengan menggigit bibir bawah Ale dan menariknya.


"Dan sangat menggodaku, untuk aku maka—" Ale merengkuh tengkuk Yara dan memperdalam ciuman mereka. Mata lelaki itu berkabut dan kemudian menutup, merasai bibir manis penggoda ini. Ale tak lagi merasakan gerakan dari lawannya. Ia pun membuka mata.


"Siaall!!" Umpatnya dengan bibir membengkak. 


Dengan seenaknya wanita yang menggodanya itu tertidur dalam rengkuhan Ale. Decakan keras kembali terdengar. Dari bibir yang tadi Yara kecup, bukan hanya kecup, mereka saling *******.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2