Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 62. Mateo Kembali Kabur


__ADS_3

Ruve bisa melihat Los yang tak kalah babak belur dengan Filden. Ruve ingat ia pernah bertemu dengan Los. Saat masih di desanya. Ia bersama Yordal. Pantas ia merasa Los familiar.


Mereka telah memasukan keduannya dalam penjara yang ada di Deep Inside. Penjara bawah tanah.


"Bagaimana dengan Berus?" Lisica bertanya pada Orso.


"Sepertinya kita susul saja, Ruve kau tak usah ikut" Ruve yang telah bersiap, menatap Orso nyalang.


"Kenapa? Aku juga ingin membantu" Ruve masih keras kepala.


"Ruve kau disini saja bersamaku" Araria melangkah mendekat pada Ruve. Walau terlihat Ruve tak ingin berdiam dan menunggu, Ruve pun mengangguk.


"Kita pergi dulu" Orso dan Lisica juga Simba menyusul Berus. Leonard tidak ikut ia mengurusi dua bandit di tahanan. Mereka pergi dengan cepat. Ruve kembali mengenakan perlengkapannya.


"Ayo kita susul mereka" Araria menatap Ruve dengan pandangan horornya.


"Kau mau kemana? Ruve tolong, jangan katakan kau akan menyusul mereka diam-diam?!" Araria menatap tajam Ruve.


"Kau benar, tapi tak apa kau disini saja, aku bisa sendiri." Ruve mengemasi perbekalannya.


"Kau gila?!" Teriaknya.


"Aku ikut denganmu" Araria berkata ragu, ia ingin ikut namun ia juga takut. Merasa ia tak setangguh Ruve.


"Kau yakin?" Ruve menatap Araria lama, menunggu jawaban gadis siput itu. Ia bisa melihat keraguan dalam matanya.


"Aku tak apa, aku buru-buru," Ruve berjalan keluar tepat di depan kudanya. "Aku ikut" keputusan Araria. Gadis itu juga telah menaiki kudanya.


Ruve mengangguk. "Kau jangan jauh-jauh" Ruve dan Araria memacu kuda mereka kencang. Melesat diantara hutan-hutan gelap.


"Ruve kau tahu tempat Elves berada?" Araria menatap punggung Ruve.


"Aku tahu!" Bisiknya. Ia mencari jejak Mateo. Dari penglihatan lelaki itu. Ini termasuk kekuatan para ular derik.


Saat mereka saling mengenal, maka mereka akan tahu dimana satu dengan yang lainnya. Karena itulah Ruve tidak diperbolehkan ikut dalam kasus ini.Juga ada satu hal lagi. Yang tidak memperbolehkan Ruve terlibat.


"Hyaaahhh … " Derapan pacuan kuda menyusuri hutan yang semakin dalam. Persembunyian yang ular derik suka. Ruve melihat adanya reruntuhan di tengah hutan.


Sudah pasti ia berada disana. Ruve menarik tali kekang pada kudanya dan melambatkan jalan Horsi. Araria ikut dibelakangnya.


"Aku tak melihat Berus dan lainnya" bisik Araria. Ruve menangkap penampakan bahwa Mateo hanya sebentar bertemu dengan Berus dan Elves.

__ADS_1


"Pengecut!" Geram Ruve. Mateo kabur. Ia melarikan diri. Kembali ia berkonsentrasi, melihat sekelebat ia mengetahui dimana keberadaan Mateo. Lelaki itu sengaja memancing Ruve untuk datang kepadanya.


Dan ia akan kembali mengaktifkan ramuan penurut agar Ruve bisa kembali padanya. Mateo duduk menunggu datangnya Ruve. Ia memainkan kedua bola yang ada di tangannya.


Tangan yang memainkan kedua bola itu berhenti dengan sentakan kepalanya menuju ke arah kedatangan Ruve. Mateo berdiri, ia merentangkan tangan, menarik dalam-dalam udara dengan mata yang terpejam, ia bisa merasakan aroma Ruve lalu menghembuskannya.


"Selamat datang Ratuku" ucapan Ruve dapatkan saat dirinya menemukan sosok Mateo berdiri di tengah reruntuhan.


"Aku tak tahu bahwa kau sepengecut ini Mateo, kabur heh!" Hanya ada Ruve disana, Araria bersembunyi dibalik tembok reruntuhan mengawasi Ruve.


"Yang aku inginkan hanya bersamamu Ratuku, hanya kau tidak dengan perempuan dan lelaki dibelakangmu itu" Ruve melirik dimana Araria bersembunyi.


"Lelaki?" 


"Iya, dia mengikuti dirimu sedari tadi, keluarlah, kita berpesta bersama, mendekatlah Ruve jika kau ingin menangkapku" Mateo kembali merentangkan tangannya.


"Jangan! Jaga jarakmu Ruve. Kau tak boleh— uhugh!" Araria keluar dari persembunyiannya. Serangan cepat Araria dapatkan.


"ARARIA!" seruan Ruve.


"Bangsa siput kau terlalu berisik!" Ucap Mateo. Menarik rantai yang menyerang Araria. Araria terjatuh, ia memuntahkan racun yang ia dapatkan.


"Kemarilah Ruve kau ingin menangkapku kan?" Mateo kembali memainkan kedua bola pada tangannya. Setelah menarik masuk rantai-rantainya.


"Ya bagus kemarilah Ratuku" Tangan Ruve hampir menyentuh tangan Mateo. Senyuman mengembang di bibir lelaki itu.


BLAZZZZTTT …


"AARRGH!" Teriakan kencang terpantul pada tembok reruntuhan.


Tiga busur panah meluncur tepat ke arah Mateo, busur itu memutuskan tangannya.


Kucuran darah segar membanjiri bawah kaki Mateo. Mateo tersungkur, menahan sakit. Derapan kaki kuda mulai mendekat, disana terlihat Berus dan yang lainnya.


ZLENK!


Portal dimensi terbuka di samping kanan dan kiri Mateo. Lalu keluarlah banyak bandit dari dalam portal.


"Bos" sapa bandit a pada Mateo yang mencoba menahan kesakitannya. Ia berlari menyusul temannya, menghajar Gen.


"Hufhhh, hhh, argh!"

__ADS_1


"Bos aku akan membantumu" satu lagi anak buahnya. Bandit b.


"TAK USAH! KAU SERANG MEREKA!" Mateo tak suka dikasihani. Bandit B mengangkat tangannya, ia tak akan membantu.


"Kak, Kau ini bukan waktunya keras kepala, aku hanya membantu!" Yordal datang, ia dengan cepat merobek kain yang ada di tubuhnya menutup luka Mateo dengan kain itu.


"Begini dulu, kau bisa menahannya kan? Dan minumlah ini" Mateo menatap tajam Yordal. Yordal menatapi sengitnya peperangan di depannya. Ia tak mendapati Los dan Filden.


"Kemana mereka?"


"Tertangkap!" Ucap Mateo masih merasakan rasa sakit yang mulai tak terasa.


"Sial! Ayah mengirimku dan kalian tertangkap! Aku kembali," Yordal membuka kembali portal dimensi. Ia melarikan diri, tak mau mengorbankan diri yang tidak memberinya keuntungan.


Mereka menyerang Berus dan lainnya, Elves mengacungkan busur panahnya ke arah beberapa bandit.


Berus menggunakan pedangnya ia menusuk di jantung siapa saja yang menghalanginya untuk menangkap Mateo.


Begitupun dengan Lisica dan Simba, sedangkan Araria, menyeret kelompok mereka yang terluka dan meminumkannya ramuan.


"Ark!" Araria terkena sabetan pedang pada tangannya. Simba yang melihat itu langsung menusuk kepala si bandit tanpa ampun. Bandit di depan Araria terjatuh dilantai dengan kepala terbelah.


"Kau tak apa" Araria memegang lengan nya yang tersayat dan mengangguk, ia bisa mengobati dirinya. Simba mengangguk kemudian masuk dalam peperangan lagi.


Suara sautan pedang dengan teriakan menyayat terpantul tembok reruntuhan. Mereka tak menyadari Ruve yang hanya diam, Kesempatan itu digunakan Mateo untuk membawa Ruve pergi.


Mateo merubah dirinya menjadi sosok ular, ia menjalari tubuh Ruve. Dan berbisik dengan bahasa ular, ia akan masuk dalam portal dimensi yang Yordal buat.


Tatapan Ruve kosong, wanita itu melangkah, perlahan menuju Portal dimensi, dilehernya Mateo melilitkan diri.


Gen dan Elves sadar ada yang aneh pada Ruve yang seakan ingin masuk dalam portal dimensi.


"Ruve!"


"RUVE!" Elves melesatkan busurnya, dan Gen merubah diri menjadi ular, ia bergelut dengan Mateo, Busur Elves menancap pada pakain Ruve dan menyangkut ke tanah, hingga langkah wanita itu tertahan.


Gen dan Mateo melayang sambil melilit satu dengan yang lain, mereka masuk dalam portal dimensi.


"GEN!" Elves berteriak saat portal dimensi yang dimasuki Gan dan Mateo tertutup.


Gen menghilang bersama Mateo, entah kemana. Elves mencoba menyadarkan Ruve yang tatapannya masih kosong.

__ADS_1


"Ruve kau mendengarku?" Elves menepuk pipi Ruve. "Tolong jangan lagi" lirih Elves memohon.


Tbc.


__ADS_2