Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 74. Menyelinap


__ADS_3

Hudson membidikkan 3 busur panah berturut-turut.


Krak!


Krak!


DOOM!


Ledakan dari batu bening itu, ia bisa melihat sebuah pedang melayang, tapi terlihat lingkaran barier melindungi pedang itu.


Hudson melempar lempengan yang ia rampas dari Elves kearah pedang dann tangannya menjulur mengeluarkan kekuatannya yang ia dapat dari ramuan Gilberto yang ia ambil paksa.


Lempengan itu menyerap masuk barier disekeliling pedang. Tangan Hudson menengadah, seketika pedang abadi melayang ke atas tangannya.


Tawa menggelegar terdengar saat ia telah menggenggam pedang abadi, matanya terpancar kilatan merah, tajam dan bengis.


Pedang abadi akan mengikuti siapa Tuannya. Menjadikan Hudson berkali lebih kuat.


"AKU ABADIII … AHAHAHAHAAA …" Teriaknya nyaring.


"AKU AKAN MENGUASAI DUNIAAAAA … " 


Dengan mengacungkan pedang ke atas. Tanah yang ia pijak bergoyang dan luruh. Tubuh Hudson melayang, Muncul lubang dengan lahar panas, dengan tawa masih menggema di seluruh goa.


Lahar meletup, gemuruh mendenging, Hudson terbang meluncur cepat, semburan kencang lahar panas mengejar dirinya, dengan terkekeh ia melihat lahar yang akan menyusulnya, namun lahar itu menelan dirinya.


Semburan lahar keluar dari gunung dari seburan terlihat Hudson yang baik-baik saja. Wajahnya dingin, dengan mata nyalang menatap lurus.


"SINGGASANA ITU MILIKKU!"


***


Di toko Rolan, Yara membantu Rolan. Suara pintu terbuka. Senyum tersungging saat tahu Maria datang. Seminggu sudah, saat terakhir mereka bertemu.


"Apa kabar Madam?"


"Baik, aku akan memborong semua bahan makan disini" ucapnya sopan.


"Benarkah? Kebetulan kami baru saja menerima daging baru, masih sangat segar," ucap Yara.


"Boleh, berikan semua jenis yang kalian miliki,"


"Juga sayuran dan buah-buahan," lanjut Maria.


Ia memilih tomat yang merah dan segar. 


"Sepertinya Madam akan mengadakan pesta?"


Yara memperlihatkan buah apel yang baru ia buka dalam peti. Maria mengangguk.


"Hanya perayaan kecil saja, perpisahan dengan Tuan rumah," Maria berkata.


"Ah … mengerti, jeruk ini sangat menyegarkan, sangat bagus untuk pencuci mulut."


"Oke aku ambil, ini bisa diantar?" 


"Bisa Madam."

__ADS_1


"Aku akan memberikanmu alamatnya,"


"Kami sudah memiliki alamat Madam." ucap Yara.


"Ah buka ke alamat itu, ini alamat dimana aku bekerja. Ada alat tulis?"


"Sebentar," Yara bergegas ke arah kasir dan mengambil alat tulis.


"Ini Madam."


"Bisa datang tepat jam 2 siang?"


"Bisa Madam"


Maria menuliskan alamatnya dan memberikannya pada Yara.


***


Yara pulang kerumahnya, Ruve, Elves dan Araria, sudah berkumpul. ia memberitahukan informasi yang baru ia dapat.


"Perpisahan dengan Tuan Rumah?" Yara mengangguk.


"Hudson akan kembali ke Kerajaan Elf?" Araria menyimpulkan.


BRAK!


"Ia sudah mendapatkan pedang abadi, siaal!" Elves menggebrak meja. 


"Kita cari tahu, ayo bersiap, mereka menyuruh Rolan mengantarkan tepat jam dua siang" mereka bergegas ke tempat Rolan.


"Akhirnya kalian datang. Bantu aku menyusun ini dalam kereta" lelaki itu meletakkan tangannya dipinggang. Melihat kedatangan mereka berempat.


Mereka bekerja sama, jam menunjukan pukul setengah dua. Rolan memacu kereta kudanya. Araria dan Yara ikut dalam kereta kuda itu.


Sedangkan Elves dan Ruve mengikuti dari jauh. Mereka sampai di depan kastil. Ramai orang berlalu lalang.


Yara memasang goggles nya, ia tak menemukan barier yang mengelilingi kastil yang sebelumnya mereka temukan.


"Aman"


Rolan memacu kudanya, namun beberapa penjaga menghentikan kereta kudanya. Dan kesempatan itu digunakan Ruve untuk menyelinap, menyulap dirinya menjadi pegawai dapur. Elves juga menyulap dirinya menjadi penjaga.


Yara melepas goggles nya. Ia menyimpan saat penjaga menyibak kain penutup kereta. Memperhatikan dirinya.


"Siapa wanita itu?"


"Dia pegawai saya" Rolan mendekat, pada pengawas. 


"Masuklah!" Perintah penjaga yang kembali menutup kain kereta kuda Rolan.


Yara bernafas lega. Begitu dengan Rolan. Juga Araria. Yang duduk disebelah Rolan.


Mereka diarahkan untuk jalan di samping, menuju belakang kastil tempat penurunan barang. 


Araria memindai kastil cukup besar itu. Rolan membuka kain penutup keretanya. Dan menggulungnya. Yara turun dan mulai menurunkan peti-peti berisi bahan makanan dibantu oleh Araria.


Mereka berjalan dibelakang Rolan. "Bahan makanan dari toko Rolan" teriak Rolan pada pekerja dapur yang sibuk.

__ADS_1


"Ah kalian datang, bisa bawa dedagingan yang aku pesan dan letakkan diatas meja sana"


"Ben! Doglas! Kemari, bantu angkat peti ini" Seruan Maria, Araria menatap salah satu lelaki yang datang setelah dipanggil oleh Maria.


"Gen" lirih Araria. Mereka membantu menurunkan peti-peti dan membawanya masuk kedalam kastil.


"Namamu Ben?" Tanya Araria. Ia mendekati Gen. Mata lelaki itu kosong. Hanya mengangguk. Melirik sekilas Araria.


"Kau memiliki kekasih?" Araria mengikuti Ben yang masuk dan kembali kekereta mengambil peti. Gen tak menjawab.


"Kau tinggal di kastil ini?" Araria masih membuntuti Gen.


"Ben cepat!" Doglas menatap Araria tak suka.


"Ben apa aku boleh menjadi temanmu? Aku tertarik denganmu" Araria menarik lengan Ben.


"Tak bisa nona, kau mengganggu pekerjaan kami disini, bisa kau menyingkir!" Hardik Doglas.


"Maafkan teman saya tuan, Araria ayo" Yara menyeret Araria keluar dan menunggu di kereta saja.


"Ara … ria" Araria melihat Gen mengeja namanya. Ia berbalik dan ingin kembali ke tempat Gen, tapi Yara menahannya dengan gelengannya.


Ia hanya bisa melihat kearah Gen yang didorong masuk, Doglas keluar dengan lelaki lain.


Mereka selesai mengeluarkan peti-peti itu. Ketika Maria berbisik pada Doglas mereka memerlukan tenaga tambahan. Tiga orang lagi, dan Maria menyarankan untuk meminta bantuan Rolan beserta pekerjanya.


Doglas awalnya menolak keras dengan melirik curiga pada Araria. Namun terpaksa akhirnya. Doglas menyetujuinya.


"Kami memerlukan tenaga tambahan didapur, apa kalian bersedia jika aku meminta tolong pada kalian bertiga?" Maria menawarkan sesuatu yang tidak akan mereka tolak.


Kasak kusuk mereka bertiga berpura-pura diskusi. "Kami bersedia" Rolan menjawab.


"Tenang kalian akan mendapatkan bayaran yang sama dengan yang lain." Rolan mengangguk.


"Mari aku perkenalkan kalian dengan staf dapur." Maria masuk yang diikuti mereka bertiga. Yara mengamati keadaan kastil, ia menemukan Ruve diantara pekerja.


Araria menatap Doglas yang juga menatapnya tajam. Ia tak mengerti mengapa orang itu begitu tak suka dengannya. Tapi Araria tidak peduli. Ia mencari keberadaan Gen.


Rolan mengenalkan diri pada staf dapur. Mereka membantu mengambilkan apapun yang diperlukan dapur.


Kesibukan dapur membuatnya tidak bisa melipir mencari Gen. Tapi mereka mendapatkan informasi mengenai pesta perpisahan tuan rumah.


Yara menanyakannya pada beberapa staf dapur lain, mengenai pesta. Dan mendapatkan informasi jika sang tuan rumah akan kembali ke tempat asalnya.


Saat Yara akan menanyakan kemananya, ia mendapatkan hardikan. "Hei anak baru! Jangan malah mengobrol! Lakukan tugasmu!"


Wanita yang sedari tadi menyuruhnya ini, itu. Ia tak suka dengan Yara yang ia pikir genit mencari-cari perhatian dari staf dapur lelaki di tempat itu. "Maaf madam" Yara melipir menjauh. Nanti ia akan bertanya lagi pada yang lain.


Di satu sisi Rolan telah mendapatkan informasi dimana tempat asal tuan rumah mereka.


Sedangkan Elves tanpa bertanya ia bisa melihat Hudson dari jendela salah satu ruangan di kastil. Hudson akan kembali ke kerajaan Elf, berarti lelaki itu sudah memiliki pedang abadi.


Otot lehernya menyembul dengan rahang mengeras. Buku tangannya memutih, kepalan tangannya menerat.


Ia akan kembali ke kerajaan Elf. Membawa serta timnya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2