Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 36. Hutan Lumut


__ADS_3

"Bagaimana terjadi?" GranpaD mengepakkan sayapnya, ia melewati meja resepsionis.


"Gibo baru menemukannya tadi pagi, jika ada yang tak beres dengan barier di bagian utara." Regulas menerangkan apa yang garda laporkan padanya.


"Sayang aku ke garda depan" sebelumnya ia mengecup kening Argrabella. Dan meluncur cepat bersama Regulas yang hampir saja bertabrakan dengan Ruve yang akan masuk kedalam rumah Teapot itu.


"Ada apa?" Ruve bertanya pada Agrabella. 


"Ada yang membobol barier, sudahlah, biarkan mereka yang mengatasi. Aku akan membantu, namun ada satu bahan yang harus kau dapatkan." Agrabella kembali membahas tentang ramuan sempurna.


"Lumut 1000 tahun?" Agrabella mengangguk, karena di buku lumut itu dilingkari oleh Gilberto. "Bagaimana aku bisa mendapatkannya?" Ruve yang berada disamping Elves ikut menatap serius pada wanita tua itu.


"Namanya Golum ia penjaga lumut 1000 tahun dan kalian harus menyakinkannya, aku dengar kau bersahabat dengan peri Mery penjaga Ploppy di gunung Rosemary?" Ruve mengangguk,


"Sama seperti itu kau harus meyakinkan Golum untuk mempercayai kalian, dan hanya itu yang aku tahu" Agrabella menegaskan Golum tidak sebaik peri Mery. Ia bisa saja menyerang bahkan membunuh apapun yang mengancam dirinya.


"Golum berada di sudut utara dari Cahaya ilusi. Tempatnya di antara himpitan batu besar dan jarang terkena matahari. Dekat dengan aliran sungai, kalian susuri saja sungai yang berada dibelakang penginapan menuju ke utara."


Tak lama wanita itu membuka lemari yang penuh dengan berbagai botol kecil didalamnya. Mengambil beberapa dan mulai meracik.


Racikannya ia pindahkan ke satu botol. Dan memberikan nya pada Elves. 


"Ini minum jika terjadi sesuatu mendesak." Elves mengangguk.


***


Mereka bertiga menyusuri sungai sesuai arahan Agrabella. Ia telah menceritakan masalah buku juga ramuan yang Gilberto teliti dan menjadikan Elves sebagai bahan percobaannya.


Gen tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak Elves saat menawarkan diri menjadi kelinci percobaan. Jika ia telah berteman dengan Elves saat itu ia kan memukul pemuda elf itu hingga sadar.


Siapa yang mau dijadikan bahan percobaan. Ya tentu saja jawabannya si pangeran bodoh itu. Ia mengira dirinya yang paling bodoh di dalam grup ini. Ternyata semesta maha adil, terbukti bahkan sosok tampan pun memiliki kebodohannya sendiri.


"Dan kita akan menghadapi monster lumut?" 


Elves mencari semua hal mengenai lumut itu, bagaimana ia harus menyakinkan monster lumut itu, Elves mencari di buku milik Emma. Buku Emma sangat membantu Elves untuk belajar. Isinya lebih lengkap dari ensiklopedia yang ia punya.


"Aku sangat gugup, bagaimana rupanya," 


Gen mengarahkan kudannya, masalah kuda mereka. Tak mengerti mengapa kuda-kuda mereka bisa begitu saja ikut ke Cahaya Ilusi, Padahal mereka meninggalkan kuda mereka sebelum memasuki lembah abadi.


Ruve bahkan memaki Kenny, si kura-kura tua itu. Jika Kenny bisa mengirim kuda-kuda  tanpa basah. Atau melalui arus jalan raya penghuni laut, mengapa tidak mengirim mereka seperti mengirim kuda-kuda mereka.


Geram Ruve ketika mereka harus digulung dan dimuntahkan oleh gelombang arus jalan raya.


"Apa itu dua batu yang Agrabella katakan?" Ruve menunjuk dua batu yang saling berhimpitan melayang di udara. 


"Bagaimana cara kita kesana?" Ucapnya lagi.


"Pasti ada pintu masuk di daerah sini" Elves menatap ke atas. Meneliti sudut-sudut bebatuan itu. 


"Cari sesuatu yang mencurigakan atau tak biasa menurut kalian" ujar Elves yang meraih sebuah batu berbentuk koin.

__ADS_1


Gen dengan asal menekan-nekan batu yang berada di bawah dengan kaki.


ZLENK!


"AAAAARGH!" Gen masuk dalam lubang portal dan hilang.


"GEN!" teriak Ruve dan Elves bersamaan. 


"Kau melihat portal yang Gen menghilang?" Ruve mengangguk, wanita itu segera mengelilingi tempat Gen menghilany dan menginjak sisi-sisi Portal.


ZLENK!


Portal dimensi terbuka lebar. "Kau siap?" Tanya Ruve. "Ya, ayo!" Mereka pun terjun dalam portal dimensi yang terbuka itu.


Bruk!


Bruk! 


Tubuh Elves dan Ruve menggelinding di tanah miring.


SRAK! SRAK! SRAK!


KRAK!


"Aduh" Mereka membentur pohon rapuh yang ditumbuhi banyak lumut. Tubuh Ruve menindih punggung Elves. 


"Sampai kapan kau diatasku!" Bisik Elves yang menahan berat tubuh Ruve yang ternyata tidak ringan.


"Kita berada di tempatnya."


Elves dan Ruve memindai tempat Golum berada. "Gen" Ruve melihat sekelebatan sosok yang berlari. "GEN!" Teriaknya lalu berlari ke arah sosok itu. 


"Ruve!" 


Elves mengejar Ruve yang tiba-tiba berlari ke arah belantara gelap penuh dengan pohon-pohon yang batangnya ditumbuhi lumut.


"Ruve tunggu!"


Elves mengejarnya, Ruve semakin memacu kecepatan berlarinya. Melihat sosok Gen semakin menjauh. "GEN! HEY!"


Banyak ranting-ranting pohon yang menghalangi ia melangkah. Ruve harus berkonsentrasi. 


"Bre ngs ek!"


Ruve kesal pada ranting pohon yang seakan menghalanginya.


Ia mengeluarkan rantai pada jarinya dan menepis semua ranting. Ruve mencari keberadaan Gen yang sudah tak terlihat lagi. 


"Siaal!"


Ia melemparkan ujung rantainya kesembarangan arah.

__ADS_1


"Ruve! Hhh … "


Nafas Elves tersengal, mengejar Ruve yang berlari sambil memanggil Gen.


Namun Elves tidak melihat Gen didepan Ruve. 


"Uhuuk, kau meng- hhh, mengejar siapa?" Elves meraih bahu Ruve. 


Memegang kedua bahu wanita itu. Dan memfokuskan pandangannya pada mata Ruve.


"Gen!"


"Gen!"


"Ruve! Lihat aku!" Ucap Elves. Ia menepuk pipi wanita derik itu perlahan.


"Ruve!" Elves melambai di depan mata Ruve yang kosong.


PLAK!


Dan menepuk kencang kedua tangannya. Ruve mengedip beberapa kali. 


"Elves"


Nafas lelaki itu masih memburu. Namun ada kelegaan disana.


"Kita dimana?"


Pertanyaan Ruve linglung seingatnya ia menggelinding keluar dari portal dimensi. 


"Aku melihat Gen! Kemana dia?" Wanita itu mencari disekelilingnya namun tak mendapati sosok Gen disana.


"Kau tadi berlari kencang masuk kedalam hutan ini, tapi kau tidak mengejar siapa-siapa, aku tak melihat Gen, kau hanya berlari sendiri" jelas Elves ia mendengar suara gemerisik dari samping.


"Hutan ini, kita harus berhati-hati, aku rasa kau berhalusinasi, dan … " kembali Elves mengedarkan pandangannya mengelilingi hutan.


"Hutan ini penyebabnya, makan ini," Elves memberikan sebutir ramuan yang Agrabella berikan padanya. Dan ia memakan sebutir juga.


Ruve mengunyah dengan mata yang awas. Ia masih tidak mengerti tapi, tadi ia melihat bayangan Gen berlari.


Dan bagaimana ia menyakinkan Golum, jika Satu temannya menghilang dan satu lagi terserang pengaruh hutan ini.


***


Srrrtttt …


Srrrttttt …


Srrrtttt …


Lumut itu bergerak, menjalar pada tubuh yang tak sadarkan diri. Lumut itu menyeret tubuh tak sadarkan diri itu ke pojokan dan mulai merambat cepat dari kaki hingga kepala menutupinya tubuh itu dengan lumut tebal.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2