Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 101. Kisah Yara Alejandro 8


__ADS_3

Yara bersiap. Ia bisa melihat Razor tersenyum miring padanya.


"Aku sangat menantikan satu arena denganmu" kembali aroma familiar itu tercium hidung Yara. Razor mendekat.


"Mari kita bersenang-senang" Razor menepuk bahu Yara. Senyuman miring menghiasi wajahnya. Lalu kembali ke kursinya.


Opal yang berada di samping Yara, berbisik. "Kau harus berhati-hati. Dia adalah ketua Tanduk hitam" ucap Opal. Mata Yara fokus pada Razor.


Yara mendengarkan lonceng pertandingan akan dimulai. Ia masuk dalam area, ia memperhatikan sorak-sorai penonton.


Opal dalam hati banyak mengatakan kata maaf pada Yara. Ia tahu seberapa ketua Tanduk Hitam itu. Dulu ia sempat melihatnya. Saat dengan sekali hentakan semua lawannya tewas.


Dan Opal sebagai pengecut hanya sembunyi dibalik pohon. Kakinya gemetar dengan keringat dingin menjalari pelipisnya.


Meringkuk pada pohon besar agar tak terlihat, bahkan Opal menahan nafasnya. Tapi ternyata lelaki itu berdiri di depannya. Gerakan yang tak terlihat.


Lelaki itu menempelkan telunjuknya diwajah. Kemudian menyeringai menakutkan. Opal yang tak kuasa atas rasa takutnya pucat pasi. Lalu kehilangan kesadarannya.


Ingatan yang membuat Opal trauma. Dan seperti saat ini keringat dingin mengucur di pelipis. Ia masih merasakan ketakutan itu walau peristiwa yang ia alami masih menyisakan ketakutan.


Kembali ia meminta beribu maaf pada Yara. Wanita itu sudah melangkah masuk ke arena berhadapan dengan Razor.


Dengan senyuman miringnya ia menanti wanita mungil di depannya menyerangnya, tapi tak ada tanda-tandanya.


Razor melayangkan kepalan tangannya. Memancing balasan dari Yara. Namun Yara hanya menghindari. Begitu saja yang mereka lakukan membuat penonton bersorak. 


Mereka menantikan pertarungan kedua nya. Bahkan tiket untuk pertandingan kedua nya sudah habis beberapa jam saat dibuka.


Dan harga tiket tidaklah murah. Pertarungan mereka membuat banyak orang penasaran. Juga berani membeli dengan harga mahal.


Yara tak lagi menghindar dan diam. Ia mulai menyerang Razor.


Ia melukai wajah lelaki itu. Bibirnya robek. Ia seka darah yang menetes keluar. Dengan seringaian, akhirnya wanita mungil itu bergerak.


Razor mengetahui bahwa Ulat adalah sosok wanita terlihat dari tulang rahangnya. Ia mendapatkan serangan bertubi dari Yara. Banyak lebam pada wajah.


Kembali serangan Yara tujukan pada ulu hatinya. Namun tangkisan cepat dari Razor membuat Yara mundur.


Tawa Razor meledak. Ia tak akan lagi mengalah. Wanita ini lumayan kuat. Ia menyerang dengan memperhatikan lawannya dengan teliti.


Membuat para penonton penasaran apa yang membuat Razor terbahak. Kemudian serangan dengan tangan kosong, tidak ada aturan pada arena Urban Latan.


Razor ingin mengikuti wanita Ulat ini. Melawannya dengan tangan kosong. Tendangan Yara serangkan pada tubuh samping Razor. 

__ADS_1


Razor menghindar. Ia berguling. Beranjak lalu mendorong tubuhnya maju, dengan cepat menyerang Yara. Yara tentu tak mau kalah. Ia menangkis puluhan serangan Razor.


"Harg!" Pekik Yara yang membuatnya memuntahkan darah. Di sudut gelap Ale memperhatikan pertarungan itu.


Ia sangat kesal dengan Yara yang menyanggupi pertarungan dengan Razor. Melawan dirinya saja wanita itu kewalahan apalagi dengan Razor.


"Maaf Ulat apa itu menyakitkan" ucap Razor dengan senyuman di wajahnya. Dan kesempatan itu dipergunakan Yara untuk menyerang bertubi tubuh Razor.


Tubuh Razor mundur dengan serangan Yara yang tak ia sangka. Namun tawa terbahak yang Razor lakukan.


"Ayo terus sayang" ucapnya. Semangat Yara semakin terpacu. Kembali ia melancarkan serangan.


Ia tak akan kalah. "Sakit!" umpat Yara yang terus saja menghantam tubuh Razor.


Tangan Yara ditangkap oleh Razor. Ia membalikkan tubuhnya dan menguncinya. Razor memeluknya dari belakang. Membuat Yara tak bisa bergerak.


"Sepertinya kita serasi" ucap Razor.


Tangan Ale mengepal keras. Ia tak suka dengan itu. Namun Yara tak bodoh dengan dengan menyentak tubuh Razor terangkat dan Yara berhasil membanting tubuh  besar itu.


Tercium aroma familiar itu lagi. Ingatan mencari "Sepertinya kita serasi" perkataan yang Yara pernah dengar.


Ia berjalan ke samping. Pertarungan terjeda, Yara duduk di kursinya. Opal menanyakan keadaannya. Tapi Yara sibuk dengan pikirannya yang mencari kata Razor pernah begitu padanya.


Lantas ingatannya tak mungkin salah, seseorang pernah berkata demikian pada Yara. "Sepertinya kita serasi" kepalanya masih berpikir saat matanya menemukan Ale didepannya.


Lalu Aroma familiar menyapanya, dan sekelibatan kejadian, kata yang Yara ingat, "Mereka sangat serasi" , tiga orang wanita yang bergosip, ia yang melihat Ale dan Magnolia, dan petarungannya dengan Magnolia.


Potongan-potongan gambar itu kembali terulang, Yara yang bertarung dengan Magnolia, Magnolia dan Ale yang serasi, tiga wanita penggosip, aroma yang masuk ke penciumannya, dan "Mereka sangat serasi" 


Mata Yara melihat senyuman miring Razor. Kilasan rahang yang pernah ia lihat. "Gama" gumannya yang mendapat seringaian dari seberangnya.


Suara lonceng pertarungan Yara kembali dimulai. Yara kembali masuk dalam Arena Urban Latan.


Yara maju begitupun dengan Razor. Senyuman itu. Benar ia tak salah. "Ulat kau mengingatku? Aku tak menyangka kita bertemu disini? Perkenalkan lagi, Aku Razor Gamaliel. Sampai jumpa Ulat Yara" Sosok itu berlari keluar bersamaan dengan semua yang ingin keluar Arena Urban Latan.


Suara kebakaran terdengar kencang bersamaan dengan tinjuan kencang Razor pada Yara. Tinjuan yang membuat tubuh Yara melayang. Dan menghantam lantai. Goggels Ulat terlepas.


Diiringi teriakan penonton juga derapan panik meninggalkan arena.


Opal berlari mendekati Yara yang tergeletak. Kesadaran Yara sangat tipis dan air keluar dari alat pereda kebakaran.


Opal terus saja memanggil namanya berlomba dengan suara ramai orang berlarian. Hingga semua suara menjadi dengingan menyakitkan telinga.

__ADS_1


"Ulat! Kau jangan mati!" Pekik Opal yang menggendong Yara di punggungnya.


"Aku tak tahu kau siapa sebenarnya Ulat! Tapi tolong jangan mati, karena aku berhutang nyawa padamu"


Opal terus berlari mencari rumah tabib-tabib yamg masih buka tapi Opal tak menemukannya. Dan ia tak tahu dimana Ulat ini tinggal.


Akhirnya ia membawanya kerumah salah seorang temannya. "Juan! Buka!" Teriak Opal kencang. Ketukan pintu Opal meliar.


"Brengs3k! Buka pintumu!"


"Juan aku tahu kau didalam! Aku tak akan menagih hutangmu! Cepat Buka Br3n gsek!" Serunya kencang.


"JUANNA!" 


"APA LAGI YANG KAU—" Opal merangsek masuk. Saat seorang wanita cepak mendampratnya. Wanita itu mundur beberapa langkah.


"Opal siapa yang kau letakkan pada ranjangku!" Dengan nada tinggi. Ia menatap Opal ngeri  bagaimana jika si Opal membunuh.


"Kau … siapa … keluar! Aku tak ingin terlibat!" Usir Juanna. 


"Beri aku ramuan!" ucapan Opal menandakan jika seseorang yang Opal bawa bikan mayat. Juan maju, ia memeriksa denyut nadi ditangan Yara. Dan merasa lega. Denyutnya ada, dan terasa. Namun suhu tubuhnya sangat panas.


"Kau dari mana? Setauku tidak hujan hari ini! Keluar!"


"Aku dari Arena"


"Keluar aku bilang!" Juan mendorong tubuh Opal. Opal menolak. 


"Temanmu itu demam! Aku akan mengganti bajunya!" Kembali Juan mendorong Opal keluar kamarnya. Ia tahu saat menyentuh tangan teman Opal itu adalah wanita.


Setelah mengganti semua pakaian Yara. Wajahnya agak terkejut dengan apa yang ia temukan, Juan mengambil botol ramuannya. Ia menyelipkan sebutir obat masuk ke mulut Yara.


Pintu terbuka Juan muncul ia melempar kain pada Opal yang juga basa kuyub. 


"Bagaimana? Terima kasih"


"Ia demam tapi aku sudah memberikannya ramuanku, tunggu demamnya turun dan ia bangun"


"Mengapa wanita itu berada di arena?" Tanya Juan. Tak mungkin wanita dengan banyak lebam di sekujur tubuhnya hanya menonton pertarungan. Opal menyisir rambut basahnya. 


"Dia Ulat"


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2