Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 124. Kisah Yara Alejandro 31


__ADS_3

Yara mempersiapkan diri. Ia menggerakkan kakinya. Pemanasan.


Yara mendegus. Ia menatap tajam kearah tempat Juan. 


"Opal kemana lelaki itu! Menjaga satu wanita hamil saja tak bisa!" Omelnya.


Yara pemanasan dengan mengomel. Tak lama Opal mendatanginya.


"Kau siap?"


"Kau kemana saja, mending kau menjaga Juan, ia suda ber— "


Yara menatap Opal yang tak selesai berbicara. Lelaki itu memandang kearah lain, Yara mengikuti pandangan Opal.


Di layar lebar itu Hugo tersorot berciuman dengan Juan. Mc acara menjadi heboh. Begitu pun dengan para penonton yang menyoraki sepasang kekasih yang mereka katakan sangat serasi.


"Sialaan!" Ucap Opal ia ingin menuju tempat Juan. Tapi Yara menghentikannya.


"Biarkan kau tak lihat, si wanita genit itu pun membalas tak kalah nafsunya!"


Yara melihat ke layar lebar yang menayangkan pergulatan bibir pasangan mengesalkan itu.


Si penantang mendekati Yara. Ia berada di belakang wanita itu. Lalu berbisik.


"Kau semakin manis jika marah" bisik lelaki itu melewati Yara. Senyuman menyeringai terpatri pada bibir lelaki itu.


Yara berdiri kaku. Ia mengenal suara itu. Suara yang membuatnya ketakutan.


Opal melihat ada yang tak beres dengan Yara setelah penantang itu melewati Yara juga dirinya.


"Ulat kau tak apa?" Opal memegang bahu Yara. Ia melihat mata Yara yang kosong, ia menggoyang tubuhnya.


"ULAT?"


"Apa?" Yara kembali ke kesadarannya. Tangannya bergetar hebat. Ia menangkupkan tangannya. Menyembunyikannya dari Opal.


"Kau … ada apa?" Ia melihat ke arah penantang Yara. Begitu pun Yara menatap sang penantang. Senyuman penantang itu perlihatkan pada Yara.


Yara mundur selangkah. Benar. Lelaki itu adalah lelaki dalam mimpinya. Lelaki yang membuatnya ketakutan tanpa tahu alasan dibaliknya.


Dari tempatnya Otis dan Ale melihat semuanya. Otis menyadari ketakutan Yara. Namun ia tak tahu mengapa tubuh wanita itu bergetar. Ale merasa ada yang tidak beres pada Yara. Namun dari tempatnya ia sudah siap bergerak jika sesuatu terjadi.

__ADS_1


Musik pembukaan pertarungan bergemuruh. Mc siap dengan mikrofonnya.


"LADIES AND GENTLEMAN! SELAMAT DATANG DI ARENA URBAN LATAN!"


"ARENA PETARUNG HEBAT!"


MC Memulai pembukaannya, ia berceloteh tentang banyak hal. Hingga akhirnya si MC mulai mengabsen para petarung yang telah berada di lingkar arena pertarungan.


"PETARUNG YANG PALING DINANTIKAN! TUAAAANNN ULAAAAATT"


Gemuruh pendukung Yara bersorak. Suara sorak sorai menggelegar saat sorot lampu menyorot ke arah Yara yang sedang melakukan gerakan pemanasan.


"LALU SANG PENANTANG KITA, TUAAANNN MANTEL" 


Sorak sorai tak sehebat saat sorot lampu menyoroti penantang Yara. Yara dan penantangnya saling berhadapan.


Yara sudah bersiap dengan ancang-ancangnya. Yara masih tak bisa melihat wajah sang penantang.


Dan ia pun merasa itu tak perlu. Yang ada ia hanya ingin menyelesaikan  semua dengan cepat.


Ia mencoba melempar belatinya dan dengan sigap penantangnya itu menghindar. Kembali Yara menyerang dengan lebih banyak belatinya.


Namun dengan cepat belati milik Yara menyerang kembali pada dirinya. Si penantang hanya menggerakkan sedikit gerakan jarinya.


Ditambah dengan serangan kepalan tangannya ia mulai meninju, sang penantang menggeser tubuhnya dengan cepat seakan ia bisa melihat serangan Yara.


Kembali Yara menyerang ulu hati tangannya bergerak cepat. Juga tendangan yang siap menghantam tubuh penantang.


Tendangan Yara ditangkap oleh si penantang. Yara panik. Ia menarik kakinya namun sang penantang mencengkram erat kaki wanita itu.


Yara menumpu kekuatannya pada kaki yang ada di cengkraman si penantang. Lalu kaki yang bebas menghantam samping kepala si penantang.


Seruan penonton pendukung Yara bersorak sorai, melihat aksi idola mereka.


Kepala si penantang bermantel itu terhempas kencang. Ia melepas kaki Yara dan mundur. Lalu kembali menatap kearah Yara. Wajahnya tak terlihat jelas. Tertutup oleh penutup kepala.


Ia kembali manatap Yara namun saat ini hanya bagian mulutnya saja yang terlihat. Disana Yara bisa melihat robekan pada sudut bibirnya akibat tendangannya.


Bibir si penantang menyeringai. Yara ingat senyuman itu. Ia membatu ditempat. Kesempatan itu digunakan oleh sang penantang jalan mendekati Yara.


Otis dan Ale menonton dari tempat mereka. Melihat gelagat itu. Otis menjadi cemas, dalam hati, semoga apa yang ia duga tidak terjadi.

__ADS_1


Ale melihat kebekuan Yara. Wanita itu tidak mundur saat sang lawan mendekat. Ada yang tidak beres. Ale bisa melihatnya. Ia memecahkan kaca tempatnya berada. Tubuhnya melompat ke bawah.


Sekilas semua keriuhan yang ada di seklitarnya tak lagi tertangkap oleh telinga Yara. Ia seperti masuk dalam dimensi lain. Kupingnya berdengung.


Ia berlari menuju Yara. Ia bisa menangkap getaran pada tubuh Yara. Rahang Ale mengeras. Ia memacu kecepatannya. Agar ia bisa menjauhkan Yara dari si penantang berbahaya itu.


Si penantang mendekat di depan wajah Yara. Semakin dekat si penantang itu, tubuh Yara seakan semakin terpaku pada lantai.


Ia tak bisa menggerakkannya. Matanya menatap lurus pada wajah si penantang yang semakin dekat Yara bisa melihat kilatan mata si penantang.


Mata mengerikan itu. Tubuh Yara bergetar. Ale lebih memacu kakinya. Netrannya bertubrukan dengan sang penantang. Melihat seringaian itu. Ale mengeram.


Ia semakin mendekat dan sebentar lagi ia bisa meraih Yara. Tangannya mengulur ia mencoba meraih Yara.


"YARA!" 


"YARA!!" Hardik Ale. Ia masuk ke dalam Arena, Teriak penonton yang tidak suka pertarungan antara idola dan lawannya di ganggu menjadi brutal.


"Wanitaku sangat hebat" bisik si penantang. Lalu mengibaskan mantelnya.


BLASH!


Ketiganya menghilang.


Ribuan mata yang melihat ketiganya menghilang seketika menjadi diam. Suasana sunyi. Lalu kehebohan kembali bergemuruh.


Otis dengan cepat beranjak dari tempatnya. Ini tidak bagus. Ia perlu Hugo.


"Kemana Tuan Hugo?"


"Di ruang VVIP, Tuan" Greya mengikuti Otis ke ruang VVIP. Ia pun melihat ketiga orang itu menghilang dan saat ini Hugo. Mereka mencari Hugo.


Hugo di ruangannya dengan bergegas mengenakan pakaiannya. Ia menghampiri ranjang dimana Juan tertidur pulas.


"Aku akan kembali, istirahatlah"


Hugo mengelus rambut Juan dan mengecup pelipis wanita itu. Ia telah rapi dan terdengar  ketukan dari luar.


Hugo beranjak. Ia menuju ke arah pintu. Membukannya. Otis dan Greya masuk.


"Kita harus memanggil yang lainnya" ucap Otis. 

__ADS_1


Maksud Otis dengan 'yang lainnya' ini adalah anggota markas khusus tersembunyi milik Hugo.


Tbc.


__ADS_2