Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 47. Korban Pemaksaan


__ADS_3

Gedoran keras pada pintunya membuat berbagai makian keluar dari mulutnya. Ia dipaksa membuka netranya yang masih lengket tak ingin terbuka.


"Siaal, bahkan matahari pun belum keluar!" Setelah mengintip jendela. Ia perlahan menuju pintu yang hampir jebol itu.


"Kau gila!" Makian langsung tertuju pada Ruve ketika wajah sumringah dan cengiran tanpa bersalah itu mendorongnya masuk kekamar.


"Gen tanyakan pada Elves benda apa yang sekarang ia inginkan" Ruve sudah duduk diatas ranjangnya.


"Minggir!" Gen mengusir Ruve. Ia ingin tidur. Ia sangat mengantuk.


"Gen, bantu aku, aku mohon!"


"Kau tanyakan, Ya, ya, ya" Euve menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Minggir!" Usirnya lagi.


"Tidak mau! Kau janji membantuku dulu" Ruve mengulurkan kelingkingnya. "Janji?" Gen memutar matanya malas, ia benar. Amat. Sangat. Mengantuk.


"Janji, hmmm, hmmm, hhmm" Ruve masih mengacungkan jari kelingkingnya. Dan dibalas dengan jari tengah oleh Gen


Dan Gen membanting tubuhnya ke ranjang disebelah Ruve.


"GEN!" Jeritnya. Ia kesal. Namun ia menarik jari kelingking Gen dan memaksa menautkannya.


"Janji" ucap Ruve.


"Okey besok pagi kai harus beritahu aku" perintah mutlak Ruve. Wanita itu turun dari ranjang Gen dan kembali ke kamarnya dengan bersenandung.


"Gila!" Maki Gen.


***


"Gen bangun!" Gedoran pintu lagi-lagi mengganggu tidurnya. Gen menenggelamkan kepalanya di bawah bantal, semua hanya sia-sia belaka.


BRAK!


"Gen ingat janjimu! Bangun" Ruve menggoyangkan tubuh Gen,


"Ayo bangun!" Ruve menarik bantal yang menutupi kepalanya.


"Jangan salahkan aku jika menggunakan cara ini" bisik Ruve yang membuat matanya segar. Terdengar kerincingan rantai. Benda dingin itu merambat cepat mengikat tubuhnya.


"Ruve jangan bercanda!" Tubuh Gen sudah melayang. Ruve membawanya ke belakang penginapan dimana sungai mengalir jernih.


"Ruve please, ini masih pagi" Gen memohon, tapi Ruve tak peduli.


"Oke,oke! Siall kau wanita!" Ruve sudah siap melempar Elves ke sungai, ia berhenti, Gen bernafas lega.

__ADS_1


Ruve menurunkan tubuh Gen dan melepas semua rantainya.


"Cepat ganti pakaianmu dan temui Elves tanya apa yang sedang ia inginkan!" Perintah Ruve.


"Ck!" Gen berdecak. Kembali ke kamarnya. Di kamar Ruve mengikuti. Padahal rencananya ia akan tidur beberapa menit dan pergi setelahnya.


"Cepat! Malah melamun!"


"Hish! kau tahu tidak aku sedang memgumpulkan nyawaku yang tercecer saat tidur!"


"Halah! Alasan! Cepat!" Ruve masih memelototi Gen yang menggunakan pakaiannya dengan malas.


"Kau macam nenek sihir hitam kejam, memiliki wajah jelek, peot, hidung panjang, runcing penuh benjolan, suaranya serak, giginya berlubang, rambut putih acak dan bau!" Gerutu Gen, ia mengenakan pakaian memunggungi Ruve.


Ruve perlahan maju, ia menegokkan tubuhnya pada Gen yang sibuk dengan kancing baju  "Seperti ini kah anak muda?"


"AAARKH" Gen terlonjak, ia melompat mundur dan jatuh terduduk saking terkejutnya. Ruve berubah menjadi seperti yang Gen deskripsikan.


Bahkan cara Ruve tertawa, sangat sama seperti yang Gen bayangkan. "Kau membuat jantungku jatuh ke perut!" Hardik Gen. Memegangi dadanya.


"Awas saja kau"


"Makanya cepat anak muda!" Kekehannya. Gem berdiri dan kembali memakai pakaiannya. Wajahnya masam, ia kesal pada si derik.


"Sudah menyuruh, menakuti! Harusnya ia membaik-baiki diriku" gerutu Gen sepanjang jalan ke rumah ceret teh itu.


"Pagiiii" Sapa semangatnya membuat Regulas yang tertidur menjadi terkejut dan kepalanya terantuk meja.


"Kau terlihat mengantuk, kau tidak tidur semalam?" Tanya Gen.


"Iya masalah penyusup dan pembunuhan belum terpecahkan, malah semakin menjadi," ia meneguk cairan pada cangkir itu.


"Aku mendengarnya, terakhir korbannya anak kecil ya?" Salah satu pengunjung mendekati mereka, ia berkata sangat lirih. Dan Regulas pun membalas dengan bisikan.


"Mengapa kalian saling berbisik?" Gen merasa aneh mengapa mereka bercerita  harus dengan berbisik.


"Ssssttt … Tuan Gen, jangan sampai si penyusup mendengar kita membicarakannya, nanti kita bisa menjadi korban selanjutnya" Regulas berkata dengan sangat pelan dan lirih.


"Hah, maksudnya?" Regulas dan pengunjung itu melihat Gen seperti orang yang datang dari antah berantah. Rumor yang beredar begitu santer. Tapi lelaki didepan mereka tak mengetahuinya.


"Tuan kau tak tahu tentang penyusup yang masuk ke Cahaya ilusi?" Pengunjung itu bertanya.


"Tahu, aku berada di sini saat Regulas menyampaikan pada GranpaD tentang penyusupan, tapi hanya itu" Gen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau tahukan korban mereka ada empat saat ini?" Mata Gen melebar, ia tak menyangka penyusup itu membunuh banyak orang.


"Aku tebak kau tidak tahu, dan korban terakhir mereka adalah ibu dan anak, dan mereka dibunuh dengan keji." Ucap pelanggan,

__ADS_1


"Dan kenapa kalian berbisik sedari tadi?" Gen merasa tak nyaman, dengan  terus saja berbisik apalagi ketika ada pengunjung lain mereka akan diam


"Tentu saja kita tidak mau menjadi korban selanjutnya!" Si pelanggan itu berbisik. Sudahlah, Gen masih memiliki tugas dari si nenek sihir hitam itu.


"Oke, aku kedalam dulu, permisi" Gen meninggalkan lobby menuju ke tempat Elves berada. 


Ia melihat sosok Elves yang sedang bercengkrama dengan seorang wanita. Gen mendekat, ia berdeham, Elves dan wanita itu noleh kearahnya.


"Jadi kau tambah saja sedikit lagi" ucap Elves kemudian wanita itu pamit keluar. 


"Siapa?" Mata Gen mengikuti punggung si wanita. 


"Murid Gilberto" ucap singkat Elves yang kembali fokus pada ramuannya.


"Namanya?" Elves tidak menanggapi. Tak adanya tanggapan membuat Gen menuduh Elves.


"Kau selingkuh!"


TAK!


Elves meletakkan dengan keras sendok pada meja, lalu ia menatap marah pada Gen, ia sangat kesal, kemarin tanpa alasan Ruve menuduhnya selingkuh dan sekarang Gen pun ikut menuduhnya.


"Woah jangan marah, aku hanya bertanya" ucap Gen yang ngeri melihat tatapan kemarahan Elves. 


Memang pasangan yang cocok, nenek sihir hitam bertemu dengan kakek monster iblis, cibir Gen dalam hati.


Elves kembali mengambil sendoknya. "Elves benda apa yang kau inginkan saat ini? Ya seperti tanaman langkah atau bahan ramuan yang tidak kau punya?" Ia ingin cepat menyelesaikan misi dari si nenek sihir itu.


Elves masih kesal, ia berkata tanpa berpikir. "Akar Bulkie" ia juga tidak penasaran mengapa Gen tiba-tiba menanyakan tentang hal itu secara acak.


"Oke, aku permisi," Gen pun berlalu begitu saja.


***


Findel merenggangkan tubuhnya. Ia ingin berolahraga pagi. Menatap pemandangan hutan luas dari jendelanya.


Ia mendengar suara yang familiar. Juga suara percakapan di bawah sana. Tertutup dedaunan pohon rimbun.


Sekilas ia melihat rantai-rantai yang meliuk, rantai yang terlihat akrab. Rantai milik Mateo.


"Oke,oke! Siall kau wanita!" Pekik keras yang Findel dengar. Suara tawa memecah hening pagi hari.


Findel memfokuskan matanya pada si pemilik rantai dari sela-sela dedaunan, ia melihat bayangannya tapi terlalu gelap. Samar.


Rantai itu khusus hanya milik klan derik. Dan yang ia mendengar suara wanita. Findel berlari ke bawah ia ingin tahu siapa wanita pemilik rantai yang sama dengan milik Mateo.


Pasti wanita ini yang mereka cari. Findel berlari kencang, menuju tempat wanita rantai. Namun ia tidak mendapati siapapun di sana. Ia terlambat. Ia mendongak keatas, ia melihat jendela kamarnya dari sela-sela dedaunan.

__ADS_1


Ia masih berdiri di tempatnya dengan gemericik aliran sungai, setidaknya ia tahu, wanita incaran mereka berada dekat.


Tbc.


__ADS_2