Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 44. Meminjam Tubuh


__ADS_3

Elves mendayung perahu di tepi sungai, bertepatan adanya festival lilin, Golum.yang berada di dalam.tubuh Ruve ingin mengikutinya.


"Ayo kita ke pinggir, aku ingin ikut melarung lilin" perahu Elves membelah lilin-lilin yang mengitari mereka, lilin dengan bunga diatasnya, dengan sebuah lilin kecil.


Tak lupa mereka membuat sebuah permohonan di sebuah kertas dan dilipat lalu diselipkan di bawah bunga-bunga.


Golum ingin ikut melakukannya. Ia menarik tangan Gen dan Elves bersamaan,


"Disana" penjual yang menyediakan segala perlengkapan melarung lilin.


"Ayo! Jangan lamban!" Golum menarik tangan Gen dan Elves yang berjalan malas-malasan.


"Cepat Elves! Cepat!" Golum mendorong tubuh Elves agar membeli dan membayar dengan cepat.


Elves mendekat dan membeli tiga paket. Tadinya ia hanya membeli satu paket dan itu untuk wanita yang sedari tadi merengek itu. Tapi lagi, rengekan Golum membuat Elves membeli dua paket lagi.


"Ini kertasnya dan tulis" Golum membagikan kertas kepada kedua lelaki itu. "Isi apa ya? Ah aku tahu," Ruve menulis kertasnya.


Dan lagi kecipakan terdengar mereka masuk ke sungai. Membawanya. "Ini" Golum meminta Gen menyalakan api lilinya. Ia meletakkan di atas lelehan lilin agar tidak terjatuh.


"Ayo sama-sama" mereka melarung lilinnya masing-masing. "Daaaa … selamat tinggal," Ruve melambai pada perahu kecil melarung lilinnya.


"Sudah? Ayo pulang"


"Hm" Ruve mengangguk. Mereka berjalan di bawah langit malam bertabur bintang, bulan sangat besar benderang.


"Kau senang?" Gen yang sudah kelelahan, ternyata tak mudah berjalan seharian mengikuti keinginan Golum


"Iya sangat!" Senyum manis mengembang. Elves melirik,


"Terima kasih pada kalian berdua" Ruve berdiri didepan Gen dan Elves ia memeraih kedua tangan lelaki iti dna menetapnya dengan binaran kegembiraan.


"Terima kasih untukmu Gen" ia mengecup pipi lelaki itu. Gen terpaku. Elves pun melihat Gen dengan mata membola.


"Dan Terima kasih Elves" ia mendekatkan wajahnya pada Elves, ingin mengecup pipi lelaki itu. Namun gesit ditahannya wajah Ruve dengan telapak tangannya.


"Ini bukan tubuhmu! Kau tidak bisa seperti itu!" Peringatan Elves pada Golum.

__ADS_1


"Oups maaf" Golum menjauhkan wajahnya. Tapi dengan cepat memeluk Elves. Lalu dengan cepat juga menjauh. Dengan cengiran diwajah Ruve, Elves yang tadinya akan mengomel melihat itu pun terdiam.


Ia terpesona pada wajah Ruve yang menawan. Cengiran dengan pipi merona. Kekehannya.


"Untuk kalian terima kasih untuk malam yang menyenangkan seumur hidupku ini" tubuh Ruve jatuh. Elves dengan sigap menangkap dan mengurung dalam pelukannya.


"Dia pergi?" Tanya Gen.


"Sepertinya" bisik Elves.


"Hoaaammm … aku kembali ke penginapan kau bisakan membawanya ke tempat Agrabella?"  Gen berkata sambil meninggalkan Ruve pada Elves. Ia tidak menunggu jawaban Elves.


"Hmmm … " Ruve mengeratkan pelukannya pada leher Elves. Elves ingin protes pada Gen tapi tidak jadi, Elves lebih mengeratkan tangannya di pinggang Ruve takut wanita itu jatuh.


Dalam mimpi Ruve berhadapan dengan Golum, ternyata selama ia tak sadarkan diri, ia disekap oleh Golum.yang meminta janji Ruve.


Awalnya mereka saling bergelut hingga mereka kelelahan dan berakhir dengan mereka saling curhat. Ruve bersimpati pada Golum.


Dahulu Golum adalah seorang wanita cantik dengan banyak lelaki menyukai nya. Dan diantara mereka tidak ada yang bisa membuat Golum tertarik. Hingga ia bertemu dengan lelaki pujaanya. Sayang lelaki pujaannya itu sudah memiliki istri.


Golum yang yang egois denagn kejam memisahkan lelaki pujaannya dengan membunuh sang istri, Golum masuk dalam kehidupan sang lelaki pujaan, mereka menikah, namun Golum mendapatkan karmanya dari sang istri.


Ia bisa kembali jika ia bisa mengumpulkan lumut dan menjaganya hingga 1000 tahun maka ia bisa pergi dengan tenang.


Jantung kristal itu adalah jantungnya untuk sang suami. Jika ada yang menghancurkan maka ikatan kutukan pada sang suami dan mendiang istrinya bisa terlepas.


Pertemuannya dengan Ruve dan elves adalah takdir. Mereka bisa melepaskan Golum dari kutukan orang yang dicintainya.


Golum dibuat lupa ingatan dan terus hidup sebagai monster lumut, tapi setelah kristal jantung di atas kotak itu dirusak dan ia ingat semua nya. Tapi ia masih menagih janji Ruve, untuk menjadi seperti mereka lagi. Dan diperlakukan bagai ratu dalam semalam.


Ruve percaya, jika Golum tak akan ingkar, Ruve pun mengiyakannya, juga Golum akan menyembuhkan tubuh Ruve. Dari racun yang wanita monster itu berikan.


Dan berkata jika sebelumnya ia menginginkan tubuh Ruve dan tidak berniat mengembalikannya pada Ruve tapi ia mengingat semua kejadian lampau yang membuatnya menjelma menjadi monster.


Ia pun tak lagi berminat ingin memiliki tubuh Ruve.


"Benar! kau pantas mendapatkan hukuman ini, tapi apa sekarang kau senang?" setelah seharian Golum meminjam tubuhnya. Ia kembali menemui Ruve.

__ADS_1


"Sangat, mereka memperlakukanku layaknya ratu" Golum terkekeh. Dan sesaat tubuh Golum berubah menjadi sosok cantik dengan gaun hijau muda menjuntai cantik, wajahnya mungil dengan rambut panjang hitamnya menjuntai indah.


"Sudah saatnya, aku harus pergi" Golum menatap ke langit. Ia kembali menatap Ruve.


"Terima kasih Ruve, jangan menyerah, sebentar lagi kau mendapatkannya, ia juga memiliki rasa padamu, ini hadiahku, berbahagialah! Terima kasih atas segalanya" Tubuh Golum terangkat, ia terbang menuju langit, dan tubuhnya semakin samar.


"Tunggu, siapa namamu?" Seruan Ruve. Namun Golum telah menghilang membaur dengan awan dilangit.


"Annabeth," Ruve mendengar suara angin yang menyebut nama Annabeth.


"Annabeth ya?" Guman Ruve.


"Senang mengenalmu, Annabeth" Ruve berteriak pada langit, ia tersenyum manis pada bibirnya. Senang bertemu teman baru, walau sesaat, Mendengarkan cerita mereka sangat menyenangkan.


"Hnnnm … " Ruve mencari kenyamanan, ia menemukan aroma yang ia sukai, Ruve mencari dimana aroma itu berasal.


Kepalanya mendekat pada curuk leher Elves. "Sudah bangun kau putri molor!" Ucap Elves. Ia merasakan pergerakan kepala Ruve pada lehernya. Geli yang membuatnya merinding.


Mata Ruve terbuka. Pandangan didepannya adalah rambut hitam berkilau terkena cahaya bulan, ia tahu milik siapa. Ruve mengeratkan pelukannya.


"Dingin" seraknya.


Elves menggendong Ruve di punggungnya. 


Jalan perlahan menuju tempat Agrabella. 


"Kangen?" Ruve menyandarkan kepalanya pada punggung lebar Elves.


"Apa kabar?" Ucap Ruve lagi. Namun Elves tak menjawab. Ruve menggoda lelaki itu. Ia meniup-niup belakang leher Elves. Membuat Elves berdehem, tak nyaman.


Sudut-sudut bibir Ruve tertarik ke atas. "Berapa lama aku tak sadarkan diri?" Ruve bertanya. 


"Lama" terdengar jawab lirih dari Elves.


Ruve mendengar semuanya dari Golum yang sempat mendengar dari Agrabella.


"Terima kasih" Ruve semakin mengeratkan pelukannya. Menyalurkan perasaannya melalui dekapannya. Mereka menyusuri jalan dalam diam.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedang mengintai keduanya dalam gelap. Mata tajam menusuk. Yang mengikuti sedari mereka dipasar.


Tbc.


__ADS_2