
Yara berjalan perlahan mendekati Ale. Lalu ia dengan berani duduk dipangkuan Ale yang sibuk di mejanya.
Tangannya meraih wajah Ale. Agar lelaki itu menatapnya. Degupan jantungnya meliar dan ia suka.
Matanya bersimborok dengan bola mata sehitam jelaga. Masuk kedalam. Yara seperti tenggelam didalamnya.
Yara mendekatkan wajahnya. Mengelus hidung mancung si Elf tampan itu dengan hidungnya. Ale memejamkan matanya. Merasakan kehangatan hembusan nafas mereka.
Dewi J4 langnya membuat Yara memangut bibir yang sedari tadi ia elus dengan jarinya. Bibir tebal itu empuk dan hangat. Kecupan menjadi luma tan.
Ale menyusupkan tangannya kedalam pakaian Yara. Dingin telapak tangan lelaki itu mengusap punggungnya yang tak terhalangi.
"Alee … " de sahnya pangutan mereka terlepas. Ale menatap dengan mata berkabut. Ielaki itu mengusap bibir bawah Yara yang bengkak.
Kembali mereka mendekatkan wajahnya. Perlahan Yata mendongak untuk menyatukan kembali bibirnya.
Dok! Dok! Dok!
Gedoran pintu membuat mata Yara terbuka. Matanya menatap langsung pada Mata jelaga itu. Kembali Yara terhanyut, kedua nya memejam lagi.
Dok! Dok! Dok!
Gedoran yang tak kalah kencang kembali menganggunya.
"Tak usah didengarkan!" Yara menutup telinga Ale, ia menggeleng. Ale menurut.
DOK! DOK! DOK!
Yara berdecak! Ia menengok ke arah pintu. Dalam hati ia mengumpati si penggedor menganggu itu.
Yara biarkan si penggedor, ini saat yang dinantikan olehnya, ia dan Ale akan memandu kasih, Yara tersenyum malu-malu,
Saat ia kembali akan menatap Ale. Sosok lelaki itu hilang.
"Ale!" Panggilnya.
"Ale! Kau dimana?" Yara menatap sekeliling ia tak mendapati keberadaan Ale. Yara memutari kamarnya, masuk kekamar mandi tapi sosok itu tak ada.
"Ale!" Panggilnya.
DOK! DOK! DOK!
"YARA!"
"ALEE!"
Yara membuka matanya dan terduduk diranjang Juan. Kedua tangannya menjulur kedepan.
Ia menatap Juan yang mengernyitkan dahi menatap kelakuannya.
"Kau bermimpi apa?"
"Mengapa kau memanggil lelaki itu?" Juan kembali kemejanya dan meracik sesuatu. Wajah Yara bersemu merah.
"Bagaimana mimpimu itu?" Juan memutari meja dan memberikan cangkir berisi ramuan penenang untuk Yara.
Mimpinya tentang gadis hitam tak pernah lagi muncul. Tapi ia memimpikan hal aneh seperti yang baru saja ia mimpikan. Mimpi me sumnya bersama Ale, tidak mungkin ia ceritakan pada Juan.
"Ya tak sesering dulu, tapi aku merasa setiap bangun tubuhku sangat lelah." Ucap Yara. Ia memijat tengkuknya. Lalu menyesap ramuan yang Juan beri untuknya.
"Juan aku mendengar Hugo sedang mencari seorang peracik ramuan, kau mau jika kau mengenalkan kepada Hugo."
__ADS_1
Jauan yang sedang mengaduk ramuan lainnya. Gerakkan tangannya terhenti. Ia tak seperti dulu. Impulsif. Ia akan langsung menolak apapun yang bersangkutan dengan Hugo.
Juan berubah. Juan mengenal Hugo. Sangat mengenal lelaki yang ia cintai tapi tidak mencintainya kembali.
Ia kalah dengan cinta pertama lelaki itu. Mereka pernah memiliki hubungan. Tapi dengan tega Hugo mencampakkannya. Dan memilih bersama dengan cinta pertamanya.
Rasa sakit jika mendengar nama lelaki itu masih terasa hingga kini. Tapi mengapa ia tetap saja peduli.
Cinta yang Juan anggap hilang tak tersisa ternyata ia hanya bersembunyi di sudut gelap ruang hati Juana.
"Bagaimana? Kau mau?" Yara tak memaksa. Tapi terlihat dari mata wanita itu berharap Juan ikut dengannya.
"Okey"
"Hah! Kau mau"
Juan mengangguk.
"Yash! Aku akan segera menemui Hugo."
"Yah jika ia tidak menolak"
"Tak mungkin menolak kau salah satu peramu terbaik saat ini"
Yara tidak bohong. Juan sama levelnya dengan Elves. Bahkan ia sudah lama menjadi Pasukan elit Phoenix Way sebelum Elves.
Namun ia termasuk pasukan Off Duty. Ia sedang memiliki misi khusus mengembangkan ramuan.
***
"Tuan Hugo, Tuan Ulat menghadap" Greya dengan rok pensilnya hitamnya yang khas. Menghampiri Hugo. Di belakangnya Yara ikut masuk dalam ruangan Hugo.
"Silahkan masuk, Greya siapkan minum" Greya keluar dengan wajah datarnya.
"Tuan Ulat, bagaimana kabarmu? Kita bertemu terakhir saat ke desa Combo beberapa bulan lalu kan?"
Mata Yara meliar di salah satu meja telihat sebuah potret. Hugo dengan seorang wanita dengan rambut panjang hitam. Yara seperti pernah melihatnya, tapi ia tak ingat dimana.
"Tentu baik, tuan?"
"Tidak seluar biasa ini, Tuan Ulat yang datang menemuiku, ada keperluan apa Tuan Ulat yang sibuk ini bertandang ke ruanganku" senyuman terlihat dari wajah sarkas Hugo.
"Bagus, langsung saja kalau begitu. Aku dengar Tuan Hugo mencari peracik ramuan, aku memiliki teman"
"Apakah ia dari Phoenix Way?" Pertanyaan Hugo.
Membuat Yara terbelalak. Darimana Hugo tahu, jika Juan anggota pasukan elit Phoenix Way. Pasti si pangeran Elves yang Yara maksud pikirnya.
"Benar, apa anda keberatan jika aku membawanya kemari?"
"Bawa kemari dan dengan senang hati, aku akan terima"
"Baiklah, secepatnya, anda tidak akan kecewa" ucap Yara optimis.
"Aku tunggu"
***
Yara kembali ke tempat Juan dengan tampang senang.
"Ada apa kau terlihat senang?" Opal ada disana.
__ADS_1
"Mana Juan?" Yara mencari keberadaan Juan. Ia melihat Juan yang keluar dari ruangan peracikan miliknya.
"Juan kau harus ikut denganku ke markas, Hugo ingin bertemu denganmu"
PRANK!
Pecahan botol berhamburan. Bukan dari Juan tetapi dari Opal.
"Apa maksudmu dengan kalian akan bertemu Hugo?"
Terlihat kecemasan pada wajah Opal. Juan mengerti kecemasan Opal, ia menghela nafas dan mendekat pada Opal membersihkan pecahan kaca yang berceceran di bawah kaki Opal.
"Hugo mencari peracik ramuan dan aku mengajak Juan dan Hugo menyuruhku untuk membawa Juan." Jelas Yara membantu mengambil sapu.
"Apa-apa benar yang dikatakannya?" Opal melihat menelisik Juan. Mata wanita itu menatap Opal. Lalu bangunnmengambil sapu ditangan Yara.
"Jawab Juana! Apa benar yang Yara katakan?" Opal menarik kasar lengan Juan.
"Iya aku akan bergabung dengan Hugo"
"KAU GILA HAH!" Ucap Opal dengan nada tinggi.
"Kau lupa bagaimana ia memperlakukanmu dulu!" Opal meremas rambutnya. Ia tak habis pikir dengan Juan yang masih ingin berhubungan dengan Hugo setelah apa yang wanita itu alami.
"Aku akan baik-baik saja!"
"Omong kosong! Aku tak ingin ada Fili lain Juan! Tolong!"
"Ulat, Juan tak akan ikut bergabung!" Putus Opal sepihak.
"Aku tahu kau akan menentang, tapi maaf aku akan menghadapinya. Aku akan tetap bergabung"
Terlihat kernyitan tak suka dari wajah Opal.
"Aku ingin menghadapinya aku tak ingin terus menghindar, biarkan aku bergabung ya, aku tak ingin terus berlari dan mengharapkan Opal."
"Aku janji ini terakhir dan jika terjadi apa yang ada di otakmu saat ini aku akan mundur dan kau boleh hilangkan ingatanku!" Janji Juan.
Wajah Opal mengeras. Ia yakin akan ada peristiwa besar menyakitkan jika berhubungan dengan Hugo Green. Berputar kembali kejadian masa lalunya yang kelam.
Yara masih dibuat bingung dengan perdebatan yang alot dan berat. Karena melibatkan masa lalu yang tak Yara ketahui.
***
Pintu terbuka.
"Kau sudah lama Tuan Ulat?" Hugo masuk ke dalam ruangannya.
"Tidak begitu Tuan Hugo. Aku kemati dengan peracik ramuan yang aku janjikan."
"Tuan Hugo perkenalkan ini Juana, peracik ramuan yang akan aku kenalkan padamu"
Juan tersenyum ia mengulurkan tangan. Terlihat mata Hugo melebar. Tatapannya berubah nyalang.
"Juana!" Desis Hugo.
"Apa kabar Hugo Green?" Yara menatapi bergantian antara Hugo dan Juan.
"MENGAPA ADA PEMBUNUH DI RUANGANKU!" Hardik Hugo.
Tbc.
__ADS_1