
Araria sudah duduk di kursinya dengan Lisica yang menyiapkan sarapan. Ia merasa sangat kekanakan menimpakan kesalahan pada Elves.
Padahal Elves pun pasti tak akan tahu kejadian itu pun tidak berada di kerajaan Elf melainkan di cahaya ilusi.
"Selamat Pagi" Ruve yang diikuti Elves masuk ke ruang makan milik Lisica. "Pagi sarapan" Lisica menawarkan.
"Boleh, aku bantu" Ruve kembali berdiri mengambil adonan pancake dan menuangkan kewajannya,
"Telur?" Lisica menawarkan.
"Boleh, aku mau setengah matang" ucap Ruve.
"Elves kau mau telur?" Ruve menatap lelaki itu yang terlihat canggung di meja makan karena Araria ada disana dengan sarapannya.
"Ya"
"Setengah matang?"
"Tidak, orak-arik" ucap Elves. Ia berdehem melonggarkan tenggorokan. Untuk menghalau kecanggungan.
"Elves bisa setelah sarapan aku meminta waktumu sebentar?" Araria berinisiatif, ia merasa bersalah telah dengan impulsif menyalahkan kematian Gilberto pada Elves padahal lelaki itu juga seorang korban disini.
Melihat dari seberapa rasa bersalah yang tercetak pada wajah Elves. Rasa keterkejutan lelaki itu.
"Ya" pelan.
Ruve dan Lisica saling melirik, semoga semua bisa baik seperti sebelumnya sebelum.mereka kembali mengejar Hudson dan mencari keberadaan Lavender juga Gen.
"Pancake dengan telur orak-arik siap" Seruan Ruve membuat suasana menghangat.
__ADS_1
"Terima kasih" Elves tersenyum.
***
"Elves, aku meminta maaf" Araria membungkuk dalam dihadapan Elves. Elves menatap tak mengerti mengapa Araria harus meminta maaf.
"Hah, kenapa?" Elves mundur satu langkah.
"Atas tindakanku menyalahkan dan menyudutkan mu kemarin" Araria mesih membungkuk.
"Maaf! Aku minta maaf!" Araria menunduk berkali-kali. Elves memegang bahu wanita itu. Untuk menghentikannya meminta maaf.
"Tak apa, kau tidak salah, kalau itu aku, aku pun akan melakukan hal yang sama sepertimu" Araria, mata wanita itu berkaca. Ia sangat amat kekanakan.
Araria menunduk. Ia terisak. Mengingat Gilberto yang disiksa. "Aku telah mengejar dan mencari tahu keberadaan Hudson belakangan ini"
"Juga orang yang bersama mereka, adalah klan burung bangkai juga klan Hyena. Itu mengapa aku ingin ikut mengejar mereka kemarin" Elves melepaskan tangannya dari bahu Araria. Mereka berjalan di tepian sungai.
Selain juga untuk mengawasi sang lelaki, dari jeratan wanita perayu. Semoga saja Araria tidak sama dengan perayu diluaran sana. Yang tak Ruve sukai.
***
Mereka kembali. Ruve berpura-pura menunggu mereka di rumah Lisica. Mereka kedatangan tamu. Berus juga Orso.
Keduannha memberitahu keberadaan Bidaon di salh satu desa dekat dengan Phoenix Way. Tanpa banyak berdiskusi. Elves akan mengejar Hudson esok hari.
Namun Ruve dan Lisica melarang, karena mereka memerlukan suatu strategi dan persiapan. Elves menurut.
Dan Araria ikut bergabung. Orso mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya. Ruve sangat senang dengan ajakan makan malam itu.
__ADS_1
Makan malam berjalan sangat seru. Anak Orso berkumpul. Yang paling imut adalah anak terakhir Orso yang menempel sekali pada Ruve.
Anak dua tahun yang tak mau melepaskan gendongan Ruve. "Kau sudah cocok menjadi ibu" ucap Kania Istri Orso.
Tentu membuat semburat merah muncul pada pipi wanita derik itu. Ruve melirik Elves. Melempar kodean itu pada Elves yang hanya menatapnya malas.
Kekehan terdengar dari mereka yang sadar decakan kasar Ruve. Berus mengadakan makan malam di belakang halamannya. Disana ada juga Leonard juga Simba yang turut diundang.
Simba sudah bersikap biasa pada Ruve dan Ruve mencoba cuek. Araria memberitahu tentang penemuan portal yang dimasuki oleh Gen. Dan mereka memutuskan untuk mencari Gen dan memasuk dalam portal itu.
Untuk memulai kembali menemukan Hudson. Awalnya Ruve tidak setuju. Ia harus mencari Hudson dulu. Tapi Elves berbicara juka Gen juga penting.
Ruve tak berkata. Ia sangat berterima kasih dengan Elves. Sebenarnya ia juga ingin mencari Gen lebih dulu. Namun ia tak ingin egois.
***
"Kalian siap?" Araria dan Ruve mengangguk. Mereka masuk dalam portal itu. Dan terkejut mereka masuk ke dalam sebuah ruangan gelap tanpa cahaya sedikit pun.
Ruve membuat bola-bola api untuk menerangi mereka. Dan ia melihat tak adanya pintu ataupun jendela, namun ia bisa menemukan cermin besar disana.
"Cermin portal" ucap Araria. Ruve pun tahu cermin ini. Cermin portal yang akan mengantar mereka kemana saja, kita tinggal sebut suatu lokasi dan cermin akan mengantar dengan cepat. Dan itu berarti mereka tidak akan bertemu dengan Gen, karena tak tahu kemana Gen dibawa.
"Jadi sekarang kita akan kemana?" Araria menatap kedua timnya itu. "Kita akan ke tempat Hudson saja. Setidaknya kita telah tahu dimana keberadaannya"
"Bawa kami pada Desa Lamerda" ucap Ruve dan kemudian Cermin portal bereaksi. Kaca yang berada di tengah bergelombang, cerminnya seakan menjadi benda cair yang dapat ditembus.
Dan Ruve memasuki cermin portal, disusul oleh Elves yang lalu Araria. Mereka keluar di antara hutan pinus, dengan percik air terdengar di dekat sana.
Suasana terik memasuki sela-sela dedaunan pinus. Angin sepoi sejuk. Tempat yang membuat mereka merasa terbuai dengan kenyamanan yang diberikan.
__ADS_1
Tbc.