
Agrabella masuk kedalam kamar yang digunakan merawat Ruve. Ia mendekat melihat keadaannya. Meraih tangannya dan melihat warna kehijauannya memudar, ia menempelkan telapak tangan pada kening Ruve.
Suhu tubuhnya turun. Tahapan ini mereka harus menjaga agar suhu tubuh Ruve tidak terlalu turun.
"Agrabella?" Elves terbangun, ia membetulkan posisi duduknya. Ia ketiduran.
"Kau beristirahatlah, minta kamar pada Regulas, aku akan menjaganya" wanita itu menepuk bahu Elves. "Bagaimana keadaannya?" Gen masuk keruangan.
"Semua stabil, tapi masa kritis keduanya nanti malam" Agrabella berada di depan lemari dengan cat hitam. Elves memeriksa suhu tubuh juga denyut nadi Ruve.
Warna kehijauannya telah memudar. Tapi ini belum bisa dikatakan aman. Ruve harus melewati satu malam kritis. Itu yang tertulis di buku Gilberto.
"Kau istirahatlah, aku juga akan menjaganya" Gen menepuk bahu Elves. Elves mengangguk.
"Aku istirahat dulu,"
"Elves mana lumut 1000 tahunnya? Aku memerlukan untuk membuat ramuan untuk Ruve minum juga untuk ramuan milik Gilberto." Wanita tua itu akan meramu dan meminumkannya siang nanti.
Elves mengeluarkan kotak dengan kristal hancur di tengahnya. Agrabella menerimanya. Ia memperhatikan pecahan kristal di tengah kotak.
Agrabella merasa mengenal kristal itu. "Ini Kristal Abadi" gumamnya. "Elves kalian pernah cerita Ruve mencari batu Kristal kan?" Tanya wanita itu.
Ia mencungkil sisa kristal itu dengan kukunya. Ia mengangkat ke arah cahaya dan kilauan pedar dari kristal itu membuat Agrabela yakin. "Iya, Batu Kristal kata Ruve" Gen menyambung.
"Tapi sampai sekarang kami sendiri pun tidak mengetahui bentuk atau seperti apa batu kristal yang Ruve cari" lanjutnya lagi.
"Di buku Gilberto juga menyebutkan jika perkiraannya bisa saja meleset. Bagaimanapun apa yang ia tulis dalam buku mengenai racun Golum hanya perkiraannya saja" Agrabella masih memperhatikan kristal itu.
"Aku akan mencampurkannya." Putus Agrabella. Elves hendak memprotes wanita itu. Karena mereka tidak tahu efek yang akan ditimbulkan pada tubuh Ruve.
Tapi Elves juga mendengar dari Gilberto tentang kekuatan yang terkandung pada Kristal Abadi yang luar biasa.
Elves akan menyerahkan semua pada Agrabella. Ia percaya. "Aku istirahat" pamit Elves. Yang diangguki Agrabella juga Gen.
***
"GrandpaD!"
"GrandpaD!"
"Teman kami yang hilang telah ditemukan," seseorang masuk tergesa ke Teapot House.
"Syukurlah, lalu mengapa wajahmu tampak tak senang?" Raut wajah lelaki di depannya itu, pucat pasi dan menegang.
"Robin tewas, Kau perlu ikut denganku" katanya lagi. Lelaki itu adalah rekan dari Robin. Mereka bekerja menjaga perbatasan Timur Cahaya Ilusi.
__ADS_1
"Benar dia temanmu? Kau tak salah?" Lelaki itu hanya mengangguk. "Apa … ini masih ada hubungannya dengan penyusup yang masuk dari perbatasan utara?" Bisik takut lelaki itu pada Dylan.
Dylan tak suka dengan prasangka dan menerka. "REGULAS!" teriaknya mengagetkan lelaki disampingnya.
"Ya GranpaD" Regulas datang ia membawa tas tempat perlengkapan milik Dylan. Ia tahu, gosip menyebar dengan cepat. Ia pun mendengar. Banyak yang mengatakan jika penyusup itu yang membunuh Robin.
Karena hari sebelumnya Robin membicarakan para penyusup. Dan lelaki yang datang pada Dylan ini juga ikut membicarakannya. Makanya ia merasa tidak aman sekarang.
"Bawa aku ketempat kau menemukan Robin" lelaki itu berjalan mendahului Dylan juga Regulas.
***
"Sluuurppp … Hmm … "
"Sluurp,Sluurp,Sluurp … Ah … terima kasih atas makanannya"
Mateo menangkup kedua tangan di dadanya. Ia menghabiskan satu mangkok mie kaldu sapi. Sarapannya kali ini. Senyumnya mengembang, ia puas.
Filden menikmati tumpukan daging setengah matang, Los dengan kelinci asapnya. Para pelayan kedai hanya menatap takjub.
Piring-piring mereka kosong dan pemilik kedai menerima dua kantong besar koin emas. Ia tersenyum sumringah. Ketiga orang itu membayar lebih.
"Kita kesana" Mateo menunjuk salah satu bar yang sudah banyak orang yang datang padahal masih pagi.
Mereka bertiga masuk dan mengambil duduk didekat jendela. "Pesan apa tuan?" Tanya pelayan.
"Ramai sekali ya" ucap Mateo memancing.
"Iya Tuan, Orang-orang sedang membicarakan penemuan mayat dari penjaga perbatasan Timur" pelayan itu menjawab.
"Rumornya ia dibunuh penyusup pembobol perbatasan utara yang juga membunuh pemilik bar Nelson" bisik pelayan itu pada Mateo.
"Mengapa ia dibunuh?" Tanya Los ingin tahu sejauh apa rumor beredar di masyarakat.
"Katanya, karena mereka membicarakan para penyusup itu. Dan teman-temannya yang ikut membicarakan penyusup itu sekarang merasa tidak aman dan ketakutan" bisik lirih pelayan yang juga tak ingin ketahuan membicarakan para penyusup.
"Bandit Bren gsek!" Seruan seseorang yang mabuk. Dan ia adalah salah satu teman Robin yang ketakutan, ia lebih memilih minum hingga mabuk untuk menghilangkan rasa cemas dan ketakutan pada dirinya.
"SINI KALAU BERANI! HADAPI AKU SEKARANG!" teriaknya dengan sempoyongan dan mengacungkan botol minumannya.
Filden akan berdiri namun tangan Mateo menahannya, senyuman jenaka masih lelaki itu perlihatkan.
"Tuan, tenang! jangan melakukan keributan disini!" Pemilik bar memperingatinya.
"Siapa kau? berani sekali kau! Rakyat rendahan, beraninya mengancamku!" Bentaknya, lelaki itu mengacungkan botol pada pemilik bar.
__ADS_1
"Tuan tenang! Tuan!" Ucap pemilik bar berusaha menenangkan pelanggannya.
"BANDIT BA JINGAN!"
"KEMANA KALIAN?"
"BERSEMBUNYI? HAH! MEMALUKAN!"
tawanya kencang, ia berdiri dan menggebrak meja.
"DASAR BANDIT SIALAAAN!" Lelaki itu meracau.
"SINI KALIAN HADAPI AKU!"
"MAJU! KALIAN KAUM RENDAHAN!"
"MEMANG KUMPULAN PENJAHAT TAK BERGUNA! AAHAHAHAA … " Ia melepas para pelayan yang berusaha menghentikannya. Mateo berdiri dari kursinya, ia berdiri di belakang si pemabuk.
"KALIAN AKAN MATI DI—"
BRUGH!
Lelaki itu jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
"Dia berisik sekali! Jika bandit itu dengar bagaimana, mati semua kita disini?" Ucap Mateo yang menepuk-nepuk kedua tangannya. Setelah melumpuhkan pemabuk itu. Para tamu terdiam. Sekaligus lega. Membenarkan perkataan Mateo.
"Terima kasih tuan" ucap pemilik bar atas bantuan Mateo yang membuat pengacau itu pingsan.
"Kalian, bawa keluar dia" perintah sang pemilik bar pada pelayannya.
Los melirik ketua mereka yang kembali menyesap bir dinginnya. Tangannya sibuk memainkan bola-bola ditangannya.
Filden mengeraskan rahangnya mencoba untuk menahan emosinya. "Banyak orang dan masih pagi, tunggu gelap!" bisik sang ketua tadi sebelum Mateo melumpuhkan si pemabuk.
***
Dylan melihat sisa abu ditempat itu, disana tergeletak name tag Robin. Penyusup itu meresahkan warganya.
"Regulas" peri itu mendekat dengan memberikan tas pada Dylan. Lelaki tua itu merogoh tasnya dan menggunakan goggles khusus.
Ia kembali mengaduk tasnya. Mencari pouch berisi ramuan yang ia buat. Ia mengambi botol kecil berisi bubukl dan menaburkan di atas abu.
Goggles nya bekerja, abu berubah kembali menjadi gumpalan daging dan kembali ia bisa melihat tubuh siapa yang terbakar itu. Dan Robin dan seseorang lain.
__ADS_1
Dua orang.
Tbc.