
Juan melamun. Seminggu lagi ia menikah dengan Hugo. Kegilaan macam apa ini? Juan dibawa ke dua hari lalu. Dimana ia tak sadarkan diri dan mendapat kabar ia hamil.
"Mengapa kalian disini?" tanya Juan setelah tersadar ada beberapa makhluk memperhatikannya.
"Katakan anak siapa yang sedang kau kandung?" Tanya Hugo tanpa basa-basi. Lelaki itu menatap tajam Juana.
Juan yang mendengar pertanyaan itu tak percaya pada pendengarannya.
"Hah?!"
"Kau hamil, anak siapa itu? Pacarmu?" Tanya Hugo. Dalam diamnya Yara memperhatikan keduanya.
"Hamil? Siapa?" Bukan menjawab Juan malah bertanya, wanita itu tampak linglung.
"Kau! Juana! Kau!" Hardik Hugo, Yara yang geram ikut maju, namun Opal lebih sulu maju dan menghantam wajah Hugo.
"Jangan bilang kau ayah dari anak yang Juan kandung" Opal menatap sengit Hugo yang tersungkur dengan sudut bibir pecah.
"Aku tak yakin jika hanya aku yang pernah tidur dengannya, makanya aku tanya anak siapa itu?!"
Dengusan dengan senyuman miring Hugo perlihatkan.
Juan mencengkram kedua tangannya. Ia meneguk salivanya, ia hamil, anak Hugo. Bilang kalau ini hanya mimpi! Matanya layaknya tanggul yang sebentar lagi jebol.
Bahkan lelaki itu mempertanyakannya. Rasa sakit mencubit hatinya. Ia menghela nafas panjang. Ia sudah menduga. Tapi setelah dugaannya benar. Penolakan Hugo juga kebenaran.
"Tidak!" Maafkan mami sayang, batin Juan.
"Tidak!"
Rancu Juana ia mengacak rambutnya.
"Tidak mungkin!"
"Aku … aku … Tidak!" Juan terus saja menggeleng. Opal mendekat.
"Juan tenang, ada aku" Opal mendekap Juana erat. Ia menganggap Juana sebagai adik sendiri.
"Juan, ada aku"
"Lepas!" Juana mendorong Opal.
"Kita besarkan bersama"
"Lepas Opal! Aku tidak menginginkan anak ini! Tidak ingin" geram Juan dengan dalam hati ia meminta maaf pada calon anaknya.
Ucapan Juan membuat nafas Hugo memburu. Rasa perih Hugo rasakan saat wanita itu menolak anaknya. Anaknya? Hugo tidak akan melepaskan Juan jika benar wanita itu mengandung benihnya. Rahangnya mengeras.
"Aku … tidak menginginkan ini Opal!" Pekiknya dengan mencengkram bahu Opal. Ia memukul perutnya.
"JANGAN GILA!" Yara ikut tak terima. Ia menarik tangan Juan menjauhkan dari perutnya.
"Anak itu tak salah!" Matanya nyalang.
"Lahirkan, jika ayahnya yang pengecut itu tak mau, masih ada kita berdua!" Ucap Yara yang membuat Juan terharu. Hugo mengepalkan tangannya dan keluar dari kamar Yara.
"Bagaimana jika aku yang tak mau?" Tanya Juan.
"Kau yang aku bunuh!"
__ADS_1
Yara menatapnya penuh peringatan. Ia sama sekali tidak ada niat untuk menghilangkan anaknya. Ia tak segila itu. Hanya sedikit sakit saja.
Ia hanya tidak ingin terikat bersama Hugo hanya karena anak. Tangis Juan pecah. Raungan keras. Ia memukul tubuh Opal.
"Sekarang berkemaslah lebih baik kau kembali ke kediamanmu"
Yara menarik tas koper Juan. Ia mulai mengemas pakaiannya. Juan akan semakin stres jika ia tetap tinggal dekat dengan Hugo pikir Yara.
"Benar lebih baik kau pulang denganku,"
Opal menanggapi. Ia mengelus kepala Juan. Lelaki itu kembali mengingat perseteruannya dengan Hugo tentang Fili.
Hugo mendengarkan semua perbincangan mereka, ia tidak pergi, menunggu di dekat pintu kamar Yara.
Rahangnya mengatup keras. Tangannya mengepal. Tidak ada yang bisa memisahkan dirinya dengan calon anaknya. Lagipula Juan tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan tentang dirinya. Karena seluruh hidup Juan adalah milik Hugo.
Yara mengantar Juan kembali ke kediamannya. Namun di depan markas, mereka ditahan oleh Hugo.
"Mau kau bawa kemana anakku?" Suara dingin berat menyapa keheningan. Opal ingin maju tapi lengannya ditahan oleh Yara.
Dengusan Yara, ia kecewa dengan bosnya itu. "Kau berbicara dengan siapa?" Tanya menantang Yara.
"Dengannya yang ingin membawa kabur anakku?"
"Tuan Hugo Green kau ini lucu, dan plin plan" ejek Yara.
Wajah Hugo menjadi jelek. Sedari tadi matanya tajam menatap lurus pada Juana. Tidak lepas.
"Ingat kau tidak berhak mengambil keputusan untuk dirimu, karena kau milikku!"
"Baji ngan egois!" Maki Yara.
"Aku tahu kau tak suka dengan Juan, tapi bisa kau kau pakai nuranimu, jangan bunuh bayi suci yang tidak memiliki dosa dengan membuat sang ibu tertekan!" Yara menyerang pukulan pada wajah Hugo.
"Membuat sang ibu tertekan untuk membunuh calon janin tak berdosa, itu tujuanmu!" Yara terus menyudutkan Hugo dengan pemikirannya.
Juan memeluk perut ratanya. Ia mundur seakan melindungi perutnya dari tatapan Hugo padanya.
Tawa tergelak. Hugo memegangi perutnya. "Aduh … hahahahaaa … kau yang lucu Yara! Drama apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ini bukan sebuah cerita romansa, aku hanya bertanggung jawab pada janin di perut perempuan itu!"
Hugo mendesis, tatapannya tak sekalipun lepas dari Juan.
"Kau terlalu banyak bermimpi! Mungkin Ratu Mimpi sedang mengambil alih tubuhmu!"
"HUGO!"
"Hugo!!" Hardik kedua teman Yara.
"Ratu Mimpi?" Yara menatap dengan kening mengkerut dalam.
"Ayo kita keluar dari sini, aku lelah"
Ajak Juana. Ia menarik tangan Yara yang melihat ke arahnya. Melupakan sejenak perkataan Hugo.
"BERANI KAU MELANGKAH KELUAR! KAU TAHU AKU!" Ancam Hugo.
Wajahnya mengeras amarah mengelayutinya. Juan, wanita itu, sudah berani mengabaikannya.
__ADS_1
Opal akan maju, kali ini Juan yang menariknya. Juana maju perlahan. Wanita setinggi bahu Hugo itu. Menatap nyalang pada Hugo.
Tidak terlihat ketakutan disana. Ia telah muak dengan segala intimidasi dan ancaman yang Hugo lakukan padanya. Keberanian yang ia yakini diberikan oleh jabang bayinya.
Ia mengelus perlahan perutnya dalam hati Juana mengucapkan segala terima kasih pada jabang bayi yang telah tumbuh dalam rahimnya.
"Apa? Apa yang akan kau lakukan padaku Hugo? Apa? Membunuhku? Atau membunuh bayi ini? APA HAH!"
Nafas Juan memburu. Degupan jantungnya meliar. Kemarahan dan rasa benci menyeruak.
Tangannya menarik kerah pakaian Hugo. Ia mencengkram erat dan menarik semakin dekat. Wajah mereka hanya berjarak sejengkal.
"Aku diam bukan berarti aku mau terus di salahkan! Aku menunggu kau untuk berhenti mengkambing hitamkan aku!"
"Kau menyalahkanku untuk pelarian dari rasa penyesalanmu!"
"Aku diam bukan berarti aku bodoh!"
"Kematian Fili adalah salahmu!" Ia menarik Hugo semakin dekat. Bibirnya berada di dekat telinga Hugo.
"Kematiannya karena keegoisanmu!"
"Fili tertekan, ia tak ingin bersamamu dan memilih mengakhiri hidupnya. Dari pada tidak bisa bersama dengan kekasihnya." Bisikan Juana membuat mata Hugo melebar.
"Kasihan sekali dirimu itu!"
"Fili sengaja tidak meminum ramuan buatanku, karena apa?" Juana menjauhkan dirinya. Hugo terpaku ditempatnya.
"Karena ia ingin bebas darimu"
Uluran tangan Juan menepuk perlahan pipi Higo yang dibuat terkejut dengan kenyataan yang baru ia ketahui.
"Bohong!"
"Kau Pembohong!"
"Jangan kira kau akan percaya ucapan pembohong sepertimu dasar J4 lang!"
Nadanya meninggi, Mata Hugo memerah, juga bergetar terlihat gumpalan air mata disana.
Senyuman miring juga dengausan meremehkan Juan perlihatkan. Tangan Hugo pun bergetar.
"Beraninya kau berbohong padaku!"
"Terus saja berkelit, Tuan Hugo, kalau kau tak percaya tanyakan pada asistenmu itu Greya, walaupun ia akan berkelit, karena yang patut disalahkan adalah Greya yang selalu menindas Fili"
"Omong kosong!"
"Terserah, kau mau tetap jadi bodoh atau jadi sedikit pintar, tinggal kau pilih"
"Jika kau tidak percaya padaku, minimal kau selidiki sendiri apa yang Greya lakukan di belakangmu!"
"Ah, aku pernah dicelakai oleh nya saat ia tahu aku menjalin hubungan denganmu"
"Aku juga pernah. Aku pikir saat itu kau ingin mengujiku melalui asistenmu itu" Yara maju.
"Opal ayo kita kembali" Juan meninggalkan Hugo. Opal mengikuti.
"Lebih baik kau selidiki asistenmu itu, aku pikir ia terobsesi denganmu" Yara pun berbalik menyusul Juan dan Opal.
__ADS_1
Dada Hugo turun naik, perasaannya menjadi tidak karuan. Tatapan lurus menatap dimana bayangan juan menghilang.
Tbc.