Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 108. Kisah Yara Alejandro 15


__ADS_3

Yara membalik tubuhnya,


"Jendral Alejandro? Anda juga latihan?" Sapa Yara dengan formal. Decakan terdengar dari mulut si Jendral.


Sejak kapan Yara menjadi seformal ini dengannya. Ale tak suka.


Yara menghela nafasnya. Ia tak ingin ribut, ia sangat lelah. Wanita itu membereskan bawaannya. Ia akan kembali ke kamarnya.


Ale menangkap lengan Yara. Menghentikan wanita itu. "Ada apa jendral?" Ucap Yara malas.


Kenapa dengan lelaki ini? Dirinya sudah menjauh. Tak lagi terlihat didepannya. Sekarang malah seperti mengejarnya. Ah tidak mengejar tapi entahlah.


"Kau belum menjawab pertanyaanku?" Desis Ale. Ia marah dengan Yara. Wanita itu berlagak asing untuknya, matanya lelaki itu menatap nyalang. Disambut oleh tatapan Yara yang dingin.


"Pertanyaan yang mana ya Jendral?" Geraman Ale, kesabaran lelaki itu m7lai mengikis.


Yara menepis tangan Ale. Ia ingin menggunakan gogglesnya. Ale tahu Yara mendengarkan ucapannya tapi kenapa masih saja wanita itu bertanya. Apa wanita selalu suka mengulur sesuatu?


"Kau menghindariku!" Suara Ale meninggi. Alis Yara terangkat. Wajahnya dibuat sepolos mungkin.


"Tentu tidak, kita baru bertemu kemarin dan atas dasar apa saya menghindar?" Kembali decakan terdengar.


"Sudahlah jangan lagi berakting! Hugo pun tahu jika kau lemari bersamaku" ucap Ale. Genggaman tangan Ale mengeras.


Yara bernafas kasar. Ia menghempaskan pegangan Ale. Yara menatap Ale tajam.


"Lalu? Mengapa jika aku menghindar? Bukannya kau yang ingin seperti itu. Harusnya kau tak sekalipun bertanya?!" Ucap ketus Yara.


Nafasnya memburu. Kesal dan amarah membumbung dalam dirinya. 


Yara meraih kerah Ale dan menariknya ia berbisik ketus.


"Kita tak saling mengenal! Dan jangan sekalipun untuk mendekat, karena aku juga tidak akan sekalipun mendekatimu lagi! Kau dengar!"

__ADS_1


Yara menghempaskan dorongannya kasar tapi tidak berefek apapun pada Ale.


"Kembali pada kekasihmu! Jangan pernah mengusikku! Karena aku pun tak akan mengu—"


BRUK!


Omongan Yara terputus. Ia terdorong kencang ke sisi tembok dengan kungkungan Ale. Bibir Ale mengunci bibir cerewet Yara.


"Hgn … "


Yara sekuat tenaga mendorong tubuh Ale tapi tak bisa. Ale memperdalam ciumannya. 


Bugh! Bugh!


"Apphnng … " Yara memukul-mukul punggung Ale. Mendapat cela ia memberontak tapi kembali dengan cepat Ale mengetahui Yara akan kabur dan merengkuh tengkuknya, Lelaki itu terus mencumbu bibir Yara.


Oksigen menipis Ale melepaskan pagutannya. Mendapatkan kesempatan Yara menghantam dada Ale. Ia kesal. Sangat kesal.


Nafas Yara memburu. Pipinya bersemu merah, rasa kesal dan murka terlihat oleh lelaki itu. 


"Bagaimana rasa bibir seorang yang tak pantas untukmu!" Ucap Yara lirih. Pandangan murka itu berganti dengan kecewa mendalam. 


"Hambar kan?" 


Sudut bibir terangkat, seringaian menyedihkan ia perlihatkan. Mata Ale melebar. Ini pertama kalinya Ale melihat Yara yang seperti itu.


Yara memasang tudung kepala, ia berlari keluar tempat latihan. Ale mengepalkan tangan di tempatnya.


Disana bukan hanya ada Ale tapi seorang wanita juga mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.


***


Setiap Yara bertemu Ale hanya ada tatapan datar dan dingon yang Yara berikan pada Ale. Bahkan Yara tak ingin melihat wajah lelaki itu.

__ADS_1


"Ulat kau ikut denganku!" Ucap Hugo. Yara langsung mengangguk. Mereka menaiki kudanya masing-masing. 


"Mungkin orang yang akan kita temui agak eksentrik juga, terlalu ramah, kau ikuti saja, dan juga ini tugasmu, tarik ia masuk pada kelompok kita." Ucap Hugo panjang lebar.


Mereka memacu kudanya kencang. Mereka memasuki desa Combo, Yara pernah ke desa ini.


Mereka memasuki gerbang desa, disana mengular antrian untuk masuk dalam desa, penjagaannya ketat. Tak seperti yang Yara tahu. Pintu gerbang desa Combo selalu terbuka untuk umum dan tak seketat saat ini.


"Ulat! Tuan Ulat!" Pekikan melengking terdengar dari kejauhan. 


Yara memiringkan tubuhnya melihat ke arah sumber pekikan, terlihat dua sosok yang berlari ke arahnya. Seorang Elf dengan rambut putih panjang, dengan pakaian juga panjang berwarna pastel. Seorang lagi, dengan armor menyusul dibelakangnya.


"Apa benar anda Si legendaris Ulat?!"


Sosok itu sudah berdiri di samping kudanya. Ia meraih tangan Yara dan menepuknya, wajah sosok itu tersenyum kegirangan.


"Otis" Hugo yang sudah tueun dari kudanya menghampiri sosok yang ia panggil itu. Yara ikut turun dari kudanya.


"Hugo, kau benar membawa Ulat?" Tawa girang terdengar.


"Kau tahu, aku tidak pernah mengungkapkan omong kosong padamu?"


"Iya aku percaya"


"Tuan Otis sebaiknya lanjutkan didalam" seorang prajurit mendekat dan berbisik pada Otis.


"Baiklah, ayo Tuan Ulat ikut denganku" Otis memegang tangan Yara sedati tadi. Ia menariknya. Yara beegerak peelahan menatap Hugo. Ia meminta persetujuan.


"Kita tidak mengantri?" Tanya Yara perlahan melihat kearah barisan antrian.


"Tidak perlu, kau tamu istimewa, sudah ayo cepat" ucap Otis sudah berada di belakang tubuh Yara dan mendorongnya. Hugo mengikuti mereka dari belakang.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2