
"Yang Mulia? Raja Marzon?" Ucap linglung Ruve.
"Y,YANG MULIA? RAJA? RAJA MARZON! AKU PENGGEMARMU!" Pekik Ruve kegirangan.
Ruve juga tidak pernah melihat penampakan Marzon, ia hanya mendengar betapa hebat Sang Raja dunia bawah itu.
"RAJA! BENAR KAU RAJA MARZON?"
"YANG SOPAN PADA YANG MULIA RAJA!" Rooth memperingati, Bentakan kerasnya membuat tubuh Ruve mengkerut. Kesenangannya seketika meluruh.
"Maaf kan hamba Yang Mulia" Ruve bersimpuh.
"Tak apa Rooth, kau selalu kaku seperti rantingmu itu" Kekehan Marzon.
"Yang Mulia!" Rooth menhela nafas. Sedari awal bertemu Rajanya ini memang unik. Juga sama dengan Ratu yang tidak ada sekalipun menjaga dirinya.
Banyak yang meremehkan keduanya. Tapi mereka bisa menghempas orang-orang itu. Dirinya adalah salah satu yang meremehkan Raja dan Ratu baru mereka.
"Kau bilang ada dua wanita? Ini hanya ada Ruve, benar itu namamu"
"IYA YANG MULIA" Pekik Ruve tanpa sadar Rajanya menyebut namanya. Ruve terkekeh salah tingkah.
Rooth yang melihat kelakuan Ruve hanya bisa menarik nafas lelah.
"Yang satu, masih ada di pinggir hutan dan juga ada tiga orang lelaki disana"
"Ah aku melihatnya, Ruve kau harus lebih berhati-hati" Marzon menasehatinya.
"Baik Yang Mulia" Walau Ruve tidak mengerti maksud dari Marzon.
"Ambillah satu" Marzon berkata dengan enteng, dan di tempatnya Rooth memiringkan kepalanya cepat melihat ke arah Rajanya.
"Baik Yang, Tunggu,Maksudnya ambil apa?" Ruve tidak salah dengarkan makanya ia ingin memestikan lagi.
"Bawalah satu Akar Bulkie" Marzon mendapatkan tatapan tajam Rooth yang tak setuju.
"RAJA KAU MEMANG TERBAIK!"
"RAJA AKU SELAMANYA PENGGEMAR SEJATIMU!" Ruve girang, ia melompat-lompat layaknya anak kecil.
"JAGA PERILAKUMU, PADA YANG MULIA!" Rooth kembali mengaumkan amukannya. Membuat Ruve berhenti, melompat.
"Aku tahu kau meloloskannya kan Rooth"
Rooth berdehem, senyuman Marzon semakin melebar. Tidak mungkin Rooth membiarkan seorang pun masuk dalam taman jiwa ini. Dan Ruve berhasil meyakinkan si bawahan.
"ROOTH KAU LUAR BIASA!"
Kembali Ruve menyalurkan kegirangan. Ia tinggal para Akar Bulkie menerima sinar bulan dan akan ia petik satu yang paling terbaik.
__ADS_1
"Rooth kapan malam?" Setelah ia kelelahan akibat terlalu bahagia. Ia duduk bersilah, ia memainkan tanah, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
"Kau menanyakan pertanyaan yang sama setiap beberapa detik!" Omel Rooth padanya.
"Aku tidak sabar juga bosan, Rooth!"
"Ya sudah keluarlah dan pulang" Wajah Ruve yang masam semakin ditekuk,
"Enak saja, aku berjuang keras agar masuk ke dalam sini!" Gerutu Ruve. Tak terima pengusiran halus yang Rooth lakukan.
"Yang mulia masih disana?"
"Tidak Yang Mulai sibuk!" Jawaban ketus Rooth membuat Ruve terkekeh.
DOOM! BOOM!
"ASTAGA! APA ITU! Rooth jangan menakutiku!" Ruve mundur dari tempatnya berdiri. Ia merasakan getaran dari ledakkan yang ia dengar.
Trank! Trank!
BRAK!
"ROOTH KAU MASIH MENJAGAKU KAN!" Teriakan yang terdengar seperti jeritan.
DRUAK!
DOOM!
Ledakan terus terjadi Ruve sudah menjauh, ia menutup kupingnya melangkah cepat ke tengah ladang, dibawah pohon. Beberapa kali ia melihat dinding bergerak karena ledakkan.
"Rooth kau sedang berjibaku dengan siapa?" Ruve tidak bisa diam. Ia harus menyiap diri jika pertahanan tembok taman jiwa ini runtuh.
"Wah tahan banting!" Suara Rooth. Ia melihat serangguh apa wanita yang juga ingin memaksa masuk ke taman jiwa ini.
"Jangan bilang wanita itu, yang Raja tanyakan tadi sudah berada di jembatan, kau dapatkan tandinganmu Rooth" ejek Ruve. Melihat betapa pantang menyerahnya ia ingin masuk. Sama seperti dirinya.
Hening!
Ruve berdiri dan mendekat pada tembok yang sedari tadi bergoyang itu, ia menempelkan kupingnya, mencari suara, namun sunyi.
"Rooth aku tak menyangka kau membunuhnya" Ruve menutup bibirnya, Dengan menggelengkan kepala. Sungguh drama queen.
"Jaga bicaramu!" Geram Rooth yang akhirnya menimpali ucapan Ruve. Ruve otomatis melipat bibirnya.
"Lalu kemana dia? Apa akan masuk kesini!" Ruve masih menempelkan kupingnya pada tembok.
"Dia tak sadarkan diri! Tidak akan aku biarkan, dia masuk?!" Ucapnya murka.
"Ambisinya melenceng" Rooth bisa membaca hati seseorang, Dan alasan Ruve lolos ya hatinya memang baik. Ruve dibuat tidak mengerti dari maksud perkataan Rooth.
__ADS_1
"Kau tak perlu mengerti! Terlihat jelas kau susah untuk memahami perkataan ini" Wajah Ruve berubah masam. Ia merapikan rambut sebahunya.
"Jadi secara tidak langsung kau mengataiku bodoh?!" Hardik Ruve. Dengan bersedekap dada, menantang Rooth berani.
"Aku tidak mengatakan itu, tapi dirimu sendiri" Rooth tak mau kalah.
"Rooth apa wanita itu akan baik-baik saja? Di luar sangat dingin" Ruve mengiba, ia telah merasakannya tadi. Dan Rooth tidak menjawab.
***
Dylan berada di rumah Berus. Lelaki macan itu telah mendengar rumor penyusup di Cahaya ilusi,
"Berikan semua yang kau cari padaku, aku akan mempelajarinya dengan Orso."
"Mereka semakin kejam" Dylan memberikan kasus terakhirnya. "Kita harus segera menemukannya."
"Siapa yang kau curigai?"
Selembar foto Dylan keluarkan dari saku pakaiannya. "Mereka" selembar dengan foto buram.
"Aku telah menyelidikinya, mereka memang bandit kelas atas."
"Bandit kelas atas mengapa mereka harus ke Cahaya ilusi?" Pertanyaan Berus. Semua bandit memiliki portal mereka sendiri.
Portal ilegal tapi Berus tak bisa menindaknya. Peraturan lama yang tidak bisa dirubah.
Tapi mereka bisa mendisiplinkan jika para bandit kelas atas melanggar dan ketahuan. Jika tidak ya tentu saja Berus susah untuk menindak.
"Perintahkan para warga untuk tidak keluar malam-malam, jangan bikin kerumunan, dan kita lihat apa akan ada korban selanjutnya"
"Tidak bisa kita menunggu korban selanjutnya. Aku ingin tidak ada lagi korban yang berjatuhan"
"Mereka tak memiliki hati. Wanita dan anak kecil" Dylan mengusap rambutnya. Ia merasa bersalah kalau tak cepat menemukan para bandit.
"Mereka memang sengaja menyusup dan mereka suruhan dan target mereka ada di dalam Cahaya ilusi.
"Ini sudah tak termaafkan! Para Bia dap!" Orso melihat foto yang Dylan sodorkan, tangannya gemetar melihat bagaimana kondisi si anak.
Orso memiliki 12 anak dan tentu saja ia merasa sangat sedih melihat kasus ini, kejam, korbannya masih kecil.
Amarah memuncak, saat melihat gambar orang yang Dylan curigai. "Klan Hyena?" Celetuk Orso melihat leher salah satu dari mereka memiliki tato khusus.
"Mengapa jauh-jauh Klan Hyena berurusan dengan Cahaya Ilusi." Celetuk Berus setelah membaca laporan Dylan. Dimana jantungnya di hilangkan, dibakar. Ciri khas klan Hyena menghabisi korbanya.
Para korban kehilangan jantung. Tapi setelah diteliti memang pelaku lebih dari satu orang. Karena cara menghabisi korban sangat berbeda. Dari apa yang terlihat jelas mereka.
Sangat jelas, jantung yang tidak hilang, tapi penyiksaan yang mereka dapatkan sangat mengerikan, dan menimbulkan trauma jika korbannya masih hidup juga mereka yang menjadi saksi, kebia dapan si penyusup.
Tbc.
__ADS_1