Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 123. Kisah Yara Alejandro 30


__ADS_3

Tak sampai sehari Juan kembali ke kediamannya. Hugo datang padanya dengan tampang angkuh juga dingin menyatakan akan menikahinya.


Sedari pagi Juan merasakan mual yang amat sangat, mulutnya tidak bisa menelan apapun itu. Otis telah memberinya vitamin namun tetap saja Juan memuntahkannya.


Otis datang karena perintah Hugo.walau lelaki itu masih menyangkal benih yang ada dirahim Juan adalah miliknya. Tapi entah mengapa ia tak bisa membiarkan Juana begitu saja menghadapi kehamilannya sendirian.


Sebagai teman tentu Otis tanpa diminta akan memantau wanita hamil itu. Melihat kekerasan hati Hugo. Ingin rasanya Otis menyentil lambung lelaki itu.


Sudah terlihat jika ia mencintai Juan tapi tetap saja menyangkal. Tidak hanya Hugo tapi ia juga melihat hal yang sama dari rekannya dalam kelompok ini.


Alejandro.


Mereka menyangkal apa yang ada di hati mereka dan mereka tersiksa sendiri. Cinta memang rumit dan Otis telah lama tidak membolehkan cinta masuk dalam hidupnya yang sudah nyaman.


Dan dengan kehamilan Juan yang rentan. Hugo tak ingin ambil keputusan salah. Juan harus kembali ke markas khusus. Dan akan ia nikahi.


Tentu saja Juan menolak tanpa berpikir. Tapi dengan kehamilannya yang lemah ini, Mau tak mau ia harus menuruti Hugo.


Dan Jika ia kembali ke markas akan ada Otis yang dua empat jam bisa dihubungi semisal terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.


Yara pun menolak, ia bersikeras bisa menjaga Juan berdua dengan Opal.


Namun Ale mendukung ucapan Hugo. Di markas, Otis akan lebih cepat merespon dari pada harus ke tempat Juan. Opal pun mendukung ucapan Ale.


Akhirnya Yara menyetujui. Juan dan Yara kembali ke markas khusus.


Ketukan terdengar dari pintu kamar Yara, saat pintu dibuka, tampak wajah dingin Greya yang memberitahukan tentang jadwal pernikahan Juana dan Hugo.


Mendengar kabar itu perut Juan kebas. Ia terlalu terkejut. Ia pikir Hugo tidak akan memikirkan lagi tentang pernikahan, tapi  kabar apa ini?


Hugo menjebaknya dengan kembali ke markas dengan alasan kesehatan janinnya.


Tertekan. Namun Yara selalu mengingatkan jika Juana harus menampik segala pikiran negatif yang akan berpengaruh pada janinnya.


Yara mengajak Juan ke Arena Urban Latan untuk melepaskan stresnya. Sebenarnya ini keinginan sang ibu hamil, Juan meminta Yara turun arena menjadi Ulat.


"Ayolah onti, ponakanmu ini ingin melihat kehebatan Onti Ulatnya" Rayu Juan pada Yara.


Opal pun sudah berada lebih dulu disana. Tentu lelaki itu mengomel panjang lebar. Bagaimana Juan meminta sesuatu yang berbahaya. Apalagi kandungannya masih rentan.


Berada di Arena yang penuh asap rokok juga aroma minuman keras. Juga pemberitaan Ulat yang akan kembali masuk arena. Urban Latan dipenuhi oleh para penonton yang penasaran dengan petarunagan Ulat.


Dan penantang Ulat adalah seorang lelaki berjubah hitam.


"Apa tak apa jika ia turun dan bertarung?" Ale mendekat Otis yang juga berada di ruang vip dan menatap ke arena yang ada di bawah sana.


Terlihat Juan yang sedang dibujuk oleh Opal untuk naik keruangan VIP. Tapi wanita hamil itu tak peduli. Ia ingin ikut keseruan penonton.


"Tak apa, ia hanya demam kemarin" ucap Otis.


"Kau juga harus menegaskan perasaanmu jangan seperti dia, ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara salah" lanjut Otis dengan matanya melirik Hugo.


"Diam kau!" Hugo menyambar umpan Otis. Tatapan Hugo lurus tertuju pada Juana dibawah sana. Wanita itu tampak senang di bawah sana. Berjubel dengan penonton lain.


Gumanan terdengar dari mulut Hugo. Ia beranjak dari kursinya.


"Mau kemana kau?" Tanya Otis dengan senyum menyeringai. Menggoda Hugo yang tak peduli keluar ruangan VIP.


"Kalian itu sama jangan sampai kalian kehilangan dan menyesal seumur hidup kalian"


Otis berjalan pada kursinya. Ia menjatuhkan tubuhnya dan menantikan pertandingan yang menjadi sorotan itu.


Mata Otis menatap penasaran dengan penantang berjubah Ulat. Mereka sama berjubahnya. Ia terus mengamati tindakan si penantang yang mencurigakan.

__ADS_1


Karena terlalu tenang. Seruan penonton memanggil nama Ulat menggema di seluruh ruangan pertarungan Arena Urban Latan.


Hugo telah duduk di sebelah Juan. Wanita itu tidak sadar jika Hugo disampingnya. Ia fokus pada bocah lelaki yang sedang menikmati roti sosisnya.


Ia menenggak liurnya yang banjir karena ia merasa perutnya lapar.


"Ini" bisik suara berat mengagetkannya. 


Seketika ia menengok ke arah Hugo dengan tampang dinginnya. Menyodorkan roti sosis meletakkannya di atas pangkuan Juan.


Mata Juan berbinar melihat roti sosis itu. Sebenarnya ia telah menyuruh Opal untuk mencarikan untuknya. Tapi hingga kini Opal tak kunjung datang.


Netra Juan bersimborok dengan netra Hugo. Bergantian menatap Roti lalu ke Hugo. Roti ke Hugo.


"Makanlah" perintah Hugo.


"Boleh?" Kembali mata berbinar itu, membuat Hugo gemas.


"Ya" Jawab singkat Hugo yang melemparkan pandangannya pada keranjang yang berisi banyak roti didalamnya, juga beberapa minuman.


Juan tanpa malu melahap cepat roti sosis yang terlampau enak itu. Hugo membuka satu botol. Susu. Dan menyodorkannya pada Juana.


Juan menerimanya. Wanita itu meneguk habis susunya. Bunyi perut Juan masih terdengar. Walau penonton lain tak mendengarnya, tertutup dengan suara kehebohan di sekitarnya.


Ia melirik Hugo yang mendengar bunyi perutnya, ia masih lapar.


"Kau mau roti lagi?" Juan mengangguk cepat. Hugo mengangkat keranjang disebelahnya. Untuk diletakkan di pangkuannya.


Ia membuka keranjang dengan banyak macam roti disana. Netra Juan membola. Ia tak menyangka Hugo menyiapkan untuknya. Dan lelaki itu tahu apa yang ia inginkan.


Tanpa sadar Juan mengelus pelan perut ratanya. Ini ayahmu nak, ucap Juan dalam hati.


Roti sosis dan susu itu dari ayahmu nak, makanya kamu suka dan lahap, lanjut ucap batin Juan.


Gelengan cepat Juan perlihatkan.


"Lalu?"


Terlihat kecemasan di mata lelaki itu. Walau hanya sekilas.


"Lapar"


"Ck! Kau tinggal pilih mana yang mau kau makan?"


"Semua!" Ucap Juan senang. Cengiran terlihat pada wajahnya.


"Jangan berlebihan!"


Hugo mengambil dua buah roti dengan rasa coklat dan vanila, juga satu botol susu full krim. Hugo merobek bungkus roti dan memberikan pada Juan.


Wanita itu menatap takjub pada roti coklat yang menggiurkan. Dan Juan melahapnya cepat.


"Pelan-pelan! Tidak ada yang akan mengambil roti itu!" Tangan Hugo menghampiri kepala Juan dan mengelusnya pelan.


Membuat kunyahan Juan melambat. Rona merah menjalar dari pipi Juan hingga ke kuping.


Juan menelesakkan semua roti dalam mulutnya tanpa sadar. Ia tersedak dan terbatuk.


"Aku bilang tadi pelan tidak ada yang akan mengambil rotimu!" Hugo memberikan botol susu pada Juan dan mengelus punggung pelan wanita itu.


Dengan rakus Juan meminum susunya meredakan sesak pada tenggorokannya.


"Juan kau tak apa? Apa yang kau lakukan pada Juan!" 

__ADS_1


Opal menarik tangan Hugo yang mengelus punggung Juan. Opal mengernyit, marah.


"Pal … Opal!" Teriak Juan. Opal mengalihkan tatapan tajamnya pada Juan.


"Kau tak apa?"


Cemas Opal menangkup wajah Juan dan memeriksanya kekiri dan kanan.


"Sudah aku tak apa" 


Juan melirik tak enak pada Hugo. Ia melihat kemarahan Hugo. Juan melepas tangkupan tangan Opal. Opal masih menatap dengan Hugo. Yang ditatap hanya diam dingin dengan wajahnya mengeras.


"Oh iya ini aku—"


"Kau lama, aku sudah mendapatkannya!" 


Juan mengangkat roti coklatnya dna sebotol susunya. Opal melihat lirikan Juan pada Hugo.


Suara musik bergemuruh, menandakan pertarungan akan segera dimulai.


"Aku ketempat Ulat dulu"


Opal mengatakan itu masih dengan melirik sengit Hugo.


"Y-ya sana … sana!" Usirnya pada Opal. Sepeninggal Opal suasana kembali canggung diantara Juan dan Hugo.


Ia melirik Hugo.


"Maaf soal Opal yang … Opal hanya menjagaku, Opal baik, Tidak biasanya dia bertind— "


Tarikan kuat Juan terima. Tangan besar Hugo menahan belakang kepalanya. Bibir dingin lelaki itu menempel dan bergerak kasar.


Menelesak masuk dalam mulut Juan. Juan tak siap, tangannya mencengkram depan pakaian Hugo.


Juana terhanyut, ia memejamkan matanya. Merasakan hawa panas yang Hugo tinggalkan padanya. Ciuman Hugo perlahan menjadi melembut. Seakan Hugo memerintahkan Juan untuk membalas Luma tannya.


Dan Juan membalas tak kalah rakus dan dalam. Sorakan bukan hanya untuk Ulat namun juga untuk Hugo petinggi Arena Urban Latan.


Hugo melepas ciumannya. Ia menempelkan dahinya pada dahi Juan. Nafasnya memburu. Ia masih memiliki logika. Tak ingin memberikan lebih banyak tontonan lain pada pertarungan ini.


"Jangan biarkan lelaki lain menyentuhmu!" Desis Hugo.


"Kau milikku! Tak akan seujung rambut pun kubiarkan lelaki lain menyentuhnya." Tegas Hugo tentang kepemilikannya pada Juan.


"Kita pergi dari sini" Hugo menggandeng Juan keluar dari keramain. Hugo akan membawa Juan ke kamarnya.


"Pertarungannya" protes Juan.


"Kita bisa menonton di tempat lain." Hugo merubah rencananya.


"Siapkan ruangan VVIP untukku" ucap Hugo pada pelayan disana.


Pelayan itu mengangguk. Dengan cepat memproses keinginan Hugo.


"Silahkan ikuti saya" Juan masih dalam gandengan Hugo yang mengikuti pelayan menuju ruangan yang Hugo mau.


"Dasar selalu berkelit. Padahal sangat kuatir!"


"Kau lihatkan adegan tadi. Kau sama sepertinya, dari pandanganku, utarakan sekarang, sebelum kesempatanmu menghilang"


Otis memperhatikan Hugo dan Juan dari tempatnya. Berbeda dengan Ale yang memperhatikan Yara yang sedang melakukan pemanasan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2