Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 67. Kenyataan


__ADS_3

Lisica menghampiri Araria. Ia memberikan satu gelas minuman hangat pada wanita siput itu.


"Aku tak tahu konflik apa yang kalian miliki namun minumlah, ini menghangatkan dirimu" ucap Lisica.


Araria menerima gelas itu, ia menyesap isinya, manis dan memang membuat tubuhnya menghangat.


Rahangnya masih mengeras, masih ada kemarahan, dan rasa menyalahkan orang lain untuk kematian gurunya.


Dan Elves. Yang sekarang juga menjadi gurunya yang menyebabkan Gilberto dibunuh!


"Mengapa mereka mencari Dragon Eye?" Guman lirih Araria. "Apa ini berhubungan dengan Hudson atau dengan Gen?" Banyak pertanyaan di dalam benaknya.


"Sepertinya dirimu sudah tenang, dan lebih baik kau kedalam dan bertanya langsung dengan mereka."


Ada rasa enggan dalam benak Araria. Bagaimana jika ia bertambah marah jika melihat Elves. Atau ia hanya merasa tak enak dan malu. Karena tindakan impulsifnya tadi.


"Tak apa, gunakan waktumu, tapi jangan terlalu lama diluar, udara begitu dingin, aku akan masuk lebih dulu" Lisica masuk setelah melihat anggukan dari Araria.


Tak lama dari Lisica masuk, Araria memutuskan masuk kedalam. Ia menuju dapur ada Elves disana. Araria menghentikan langkahnya.


Elves mendongak mata mereka bertemu. Canggung. Ia berencana meminta maaf pada Elves dan Ruve esok hari.


Araria kira mereka telah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Mungkin ini saatnya ia meminta maaf.


Araria maju, ia menggeser kursi dihadapan Elves. "Guru" panggil Araria.


"Aku minta maaf dengan sikapku siang tadi" Elves diam, ia menunggu kelanjutan dari ucapan muridnya itu. Mengapa ia begitu impulsif siang tadi.


Araria akan menceritakan kebenaran dirinya. "Aku marah mendengar kalau kau adalah Pangeran dari kerajaan Elf"

__ADS_1


Mata Elves menatap lurus dengan dahi mengernyit. Namun ia tetap diam, mempersilahkan muridnya itu untuk menjelaskan maksud dari perkataannya.


"Maaf terlalu kekanakan tadi siang, namun kemarahan itu muncul tiba-tiba," kembali Araria menjeda penjelasannya.


"Langsung pada inti, kau terlalu bertele-tele!" Ucap kesal Elves. Ia merasa Araria sedang mengulur waktu. Entah mengapa.


"Kau penyebab kematian Gilberto" ucap lantang Araria. Kemarahannya tersulut. Saat tersadar ia telah menyalahkan Elves untuk terbunuhnya Gilberto, ia berusaha untuk meredam amarah dan menenagkan diri.


Mata Elves menyala, garis dahinya menyembul. Mengapa muridnya menuduh dirinya penyebab kematian sang guru yang sangat ia hormati itu.


"Apa maksudmu?" Desisnya pelan.


Araria menelan salivanya susah payah seperti menelan bongkahan batu. "Tidak, lupakan saja, perkataan absurd ku" Araria akan beranjak namun dengan cepat Elves menahan lengan wanita siput itu.


"Apa maksudmu" bentakan terdengar. Elves sudah menduga Araria tahu sesuatu mengenai kematian sang Guru.


"Jelaskan! Kau mengetahui sesuatu tentang kematian Gilberto bukan?"


"Lepaskan cengkramanmu pada lenganku!" Ucap wanita siput itu dingin.


Elves melepaskan genggamannya. Araria menghela nafasnya. "Aku saksi kematian Gilberto" jeda.


"Aku ada disana saat Gilberto meregang nyawa" Araria mengusap wajahnya gusar. Ia menutupinya dengan telapak tangan dan terdengar isakan lirih.


Matanya melebar dengan kedua alisnya menyentak bersamaan. Ia dibuat terkejut dengan perkataan Araria.


"Aku melihat mereka menyiksanya" ucapnya sepata, membuat rasa penasaran Elves membumbung tinggi, ia ingin tahu segalanya dengan cepat, tak suka dengan penjelasan Araria yang hanya sepotong-sepotong.


"Mereka? Siapa?" Jeda, Elves mengepal kencang.

__ADS_1


"Bisa kau jangan menjelaskan sepotong-sepotong!" Elves menarik bahu Araria kencang.


Araria memandang wajah Elves lalu menunduk cepat. Ia tak suka jika harus mengingat saat kejadian itu.


"Mereka Hudson dan entah dua orang lagi itu"


"Hudson?" Araria mengangguk.


"Iya Hudson saat muda, dan dua orang, entah masalah apa, namun namamu ikut terseret didalamnya. Lalu aku melihat Gilberto mulai mereka siksa, memaksa Gilberto menyetujui sesuatu, tapi lelaki tua itu tidak mengiyakan"


"Ia melindungimu!"


"Kau, melindungi dirimu dengan mengorbankan nyawanya" isakan Arafia menjadi tangisan. Linangan air mata telah membasahi pipi wanita itu.


Rasa bersalahnya menyeruak. Ia kembali menangis kencang, dadanya sesak. "Harusnya aku menolongnya kala itu!"


"Harusnya aku keluar dan tak membiarkannya disiksa" tangis tanpa suara yang menyakitkan.


Wajah Elves tak kalah pias. Ia adalah penyebab sang guru dibunuh oleh Hudson. Lelaki itu! Amara dan kemurkaan terpancar dari sorot mata Elves.


"Ada apa ini?" Ruve mendengar perdebatan juga tangisan Araria pun keluar dari kamarnya. Begitu juga dengan Lisica. 


Melihat tangisan menyedihkan Araria dan kediaman Elves membuat keduannya membagi tugas menenangkan kedua orang yang tampak kacau itu. Ruve mendudukan kembali Elves yang berdiri kaku.


Elves memberontak, ia beranjak dan keluar dari rumah Lisica.


"Aku akan menyusul Elves." Lisica mengangguk. Ruve meraih mantelnya dan mantel pemuda Elf itu lalu mengejar Elves.


"Minum dulu" Lisica menyerahkan segelas air untuk Araria yang mulai tenang. "Aku antar kau ke kamar, kau istirahatlah" Lisica memapah tubuh Araria yang lesu.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2