Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 65. Sosok Derik


__ADS_3

"Bisa kita berbicara?" Elves menatap Berus, Ruve akan mengesampingkan Gen setelah mereka mendengar kabar apa yang Berus akan sampaikan pada mereka.


"Raja bawah, meminta kami untuk menelusuri keberadaan Hudson, juga adikmu, Lavender" Elves mendengar dengan seksama, ia mengepal erat tangannya menahan gejolak emosinya.


Ruve melihat dengan bangga. Senyum terukir. "Kami menemukannya namun terlihat samar"


"Kami bisa membantu kalian,"


"Tentu kami terima bantuan kalian," ucap Ruve.


"Tapi kami tidak bisa pergi dari Phoenix Way, untuk sementara, saat ini adalah waktu lemahnya kristal abadi, mereka akan melemah dan semua pelindung yang berada diluar dengan menggunakan kekuatan kristal abadi juga melemah."


"Maka kami dengan para tetua, Raja dan Ratu akan memusatkan kekuatan kami. Namun kami bisa mengirim radar untuk kalian keberadaan mereka."


"Baik terima kasih, kami terima apapun bantuan kalian." Ucap Elves.


"Dan mereka berkeliaran di sekitar Phoenix Way berkali dan mencurigakan,"


"Mereka mengincar kristal abadi, karena orang yang kita temui mengatakan jika Hudson akan ke Dragon Eye"


"Ini tak baik, ia benar-benar mengincar Kristal abadi, jika itu adanya, kalian bisa masuk dalam tim Simba" ucap Berus.


"Mereka mengejar penyusup yang menginginkan kristal abadi, saat lemah" ucapnya panjang lebar.


"Kami siap," Ruve yang mengucapkannya. 


"Baik aku akan memanggil Simba untuk membimbing kalian masuk dalam timnya, disana juga ada Leonard sebagai tim medis, kau bisa masuk dengan Leonard" Berus menatap Araria yang mengmengangguk.


"Berus kau memanggilku" Simba masih tak acuh pada Ruve.


"Mereka akan masuk dalam tim mu" Ruve menunggu respon Simba.


"Oke, aku ketua tim ini. Mohon kerja samanya"


"Kau melihat penyusup seperti ini, katanya ia mencari Dragon eye" Simba menerima dua lembar foto dan Simba berlama di salah satu gambar.


"Ini aku pernah melihatnya, jika yang wanita aku tak pernah melihatnya" Simba memberikan keterangannya.


"Aku akan mengajakmu ke tempatnya" mengajak Ruve dan Elves. Keduanya pun mengangguk.


***


Mereka mengikuti Simba menuju tempat Hudson. "Kita sampai" terlihat sebuah pondok namun telah kosong. Pondok yang ditinggalkan. Elves turun dari kudanya dan segera berlari masuk kedalam.


"Siaal! Kita terlambat." Ucapnya saat telah memeriksa tak ada tanda-tanda kehidupan disana.


"Tak apa mungkin ia belum jauh, mereka mencari tempat masuk Dragon Eye bukan?" Elves mengangguk.


"Bukan orang sembarangan yang bisa memasuki tempat itu." Ucapnya dengan menarik kekang kuda miliknya.


"Kalian aku tinggal, aku masih ada kerjaan lainnya sore nanti" Ia memacu kudanya untuk pergi dari tempat itu.


Simba memperlakukan Ruve seperti biasa namun Ruve selalu menghindar dari Lelaki itu. Ruve malu karena apa yang Simba katakan memang benar adanya. Ia tak ada muka. 


"Ayo" Ruve turun dari kudanya, ia masuk dan mulai menyelidiki siapa tahu ada sebuah petunjuk yang tertinggal.


Krcak!


Elves menemukan guci bunga mopia. Juga serbuk berkilau seperti saat waktu mereka di hutan gatal.


"Ruve kemari lah ini bukannya bunga Mopia? Dan serbuk in—"


SSSRRTT…

__ADS_1


Bubuk berkilau itu terbang menuju Ruve dan masuk kedalam tubuhnya dengan gerakan cepat. Lalu hilang.


Bubuk itu terserap dalam tubuh Ruve. Ruve hanya bisa terdiam untuk beberapa saat. Namun rasa puding menyerang kepalanya.


"Aaark!" Ia membungkuk dan memegangi kepalanya yang nyeri.


"Ruve kau tak apa" Elves panik. Ia merangkul tubuh Ruve dan memapahnya ke sebuah kursi.


"Hhahh … hhh … tenang saja Elves aku hhh tak apa" jawabnya menahan rasa nyeri yang tak sesakit awal.


"Aku akan mengambil air, kau tunggu disini" Ucap Ruve bergegas ke kudanya


Ruve merasakan tubuhnya meringan lalu ia tak sadarkan diri.


Blazt!


Plok!


Seekor ular berwarna coklat meliuk di lantai rumah, ia berjalan mengitari rumah itu. Meliuk tak tentu arah.


"Ruve ini minumlah!" Elves tak melihat adanya Ruve di kursi tadi.


"Ruve!"


"Ruve!"


Elves berlari mencari ke semua ruangan, ia tak berhenti meneriakkan nama Ruve. Ular derik itu bersembunyi di daerah bawah lemari yang gelap dan berdebu.


Ia menggoyangkan ekornya, melihat kaki Elves yang berlari kesana-kemari mencari keberadaan Ruve.


Suara deriknya semakin keras. Menggema. Elves mencari suara ribut apa itu. Ia menuju ruangan paling ujung. Ia memasuki ruangan itu. Dan melihat lemari dengan suara berisik.


Elves tak menyadari di bawah lemari sana ular derik sedang bersiap menggigitnya. Elves membuka lemari itu. Namun kosong. Ia menjongkokkan tubuhnya. Ia mengintip bawah lemari yang gelap.


"Ruve?"


ZZZEEZDT …


Ular itu menyerangnya, untung saja refleks Elves sangat bagus ia berguling menyamping. Menghindari Ular derik itu.


Ular itu meliuk keatas memasang peringatan pada Elves. Mata itu, mata kehijauan milik Ruve? Apa benar ia Ruve?


"Ruve?" Mata itu mengerling. Elves mencoba peruntungannya  ia mendekat perlahan. Derik sang ular menggema di ruangan kosong.


Ssssshh …


Desisnya masih bertahan dengan peringatan, Ular itu terus meliuk.


HAP!


Elves memegang leher ular yang menganga siap melahapnya. Ular itu melilit tangan Elves erat. Elves menjauhkan kepala Ular itu dari dirinya. Lilitan ular itu mengencang di lengannya.


"Hegrn!" Elves menahan kepala Ular itu agar menjauh, ia mencoba mengurai lilitannya. Namun tak bisa. Elves bergelung, hanya satu cara, membuat ular itu pingsan.


Elves menjauhkan tangannya, ia merogoh kantong bajunya mencari ramuan apapun. Ia menemukan dua botol. Semoga membantunya.


Duk!


Duk!


Ramuan itu tergelincir dari tanganya dan jatuh menjauh. Decakan terdengar.


SSSSSSHHH …

__ADS_1


Desisan ular itu terdengar dekat. Ia melirik mata ular itu berkilat, "Ruve kau ingat ak—" Ucapan bodohnya. Ia menganggap ular itu memang Ruve.


"Hargh!" Pekiknya perih.


Ular derik itu berusaha menyerang wajahnya, dengan semburan racun, Elves mengelak, racun itu mengenai bahunya, kain yang terkena racun ular itu meleleh hingga kulitnya ikut terkelupas. Perih.


Elves berusaha merangkak dan tangannya menggapai botol-botol ramuannya yang terjatuh.


Ia melihat cepat ramuan apa yang ia bawa, Ramuan pereda sakit, bagus! Ia meraih botol itu dan mulai membuka dan menelan sebagian dan menyemburkannya tepat ke mulut Ular yang sudah mengangakan siap menyerang Elves lagi.


Rasa pahit dan pedas membuat ular itu melonggarkan lilitannya dan jatuh menggelinjat di lantai.


Kesempatan untuk Elves menjauh. Ia melihat reaksi yang ular itu dapat. Tak lama ular itu mulai merasakan efek ramuan yang Elves semburkan. Ular itu tak bergerak.


Blazt!


Pedaran menyilaukan keluar dari tubuh ular derik yang tak berdaya itu dan berubah menjadi sosok yang Elves kenal, Ruve. 


"RUVE!" Kejutan untuk Elves. Ruve bisa berubah menjadi ular. Ia menepuk pipi wanita itu perlahan. 


"Ruve, bangun Ruve!"


"Buka matamu!" Ia memeriksa denyut nadi Ruve, normal, ia membopong dan meletakkannya diatas ranjang ruang sebelah.


"Hnmm … " gumam yang membuat Elves yang sibuk meramu obat menghampiri Ruve.


"Kau bangun Ruve?"


"Haus"


Elves memberikan nya kantong air miliknya. Ruve menenggak tak sabaran, ia sangat haus dan tenggorokannya kering dan sakit.


Air menetes dari bibirnya juga bajunya. "Pelan-pelan" ucap Elves dengan membasuh sudut bibirnya.


"Ah!" Lega. Ia mengembalikan kantong air Elves. "Kita dimana?" Ia baru tersadar, ia mengamati sekitar tempat asing.


"Pondok Hudson, Kau ingat kau kenapa?" Ruve mengingat yang terakhir ia lakukan masuk ke dalam pondok.


"Masuk kedalam pondok ini" ucapnya


"Lalu?"


Ruve menggeleng, Elves menghela nafas panjang. "Memang apa yang terjadi" Ruve kembali bertanya.


"Nanti aku ceritakan, ini minumlah dulu, setelah itu kita kembali"


"Uhugh" Ruve memuntahkan minumannya, 


"Pahit!" Pekiknya mengernyit.


"Apa ini?aku tak mau!" Ia menjauhkan gelasnya dan beranjak, tubuhnya terasa pegal-pegal.


"Memang apa yang aku lakukan? Rasanya sangat lelah" bisiknya pada dirinya sendiri.


"Kau sudah tak apa? Ayo kembali ke Phoenix Way" Ruve hanya mengangguk dan mengikuti Elves.


Ia menaiki Horsi. Elves memacu kudanya menembus hutan, Ruve mengejarnya. Hembusan angin mengibarkan anak-anak rambut Ruve yang berantakan, Sesat ia mengingat sekelebat gambar. Wajah Elves yang memanggilnya dengan raut khawatir.


Ruve menggelengkan kepala, denyutan terasa, ia ingat, setelah masuk pondok Hudson, ia juga merasakan sakit kepala.


Ada apa dengan dirinya. Ia ingin segera mendengar cerita dari Elves. Ruve memacu kudanya lebih kencang, menyusul Elves yang jauh didepannya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2