
Bukannya menghilang lingkaran hitam di matanya bertambah hitam. Salahkan Elves yang membuat Ruve semakin susah tidur.
Ruve tidak tahu harus bersikap bagaimana jika nanti ia bertemu dengan Elves. Sedari tadi, hanya senyum malu-malunya yang menghiasi wajahnya.
Dan dari berapa lama Ruve memandang cermin sibuk juga bingung ingin menghias rambutnya. Ia ingin tampil cantik. Walau tak bisa menutupi lingkaran hitam sialaan di matanya.
Ruve menyiapkan dirinya, ia tak menampik jika dirinya gugup. Sangat gugup. Takut bertemu Elves, rasa takut yang lebih mengarah ke salah tingkah atau malu.
Astaga memikirkan Elves membuatnya teringat kecupan lelaki itu semalam, pipinya memanas. Ia mengipasi wajahnya dengan telapak tangan. Menghembuskan nafas. Mengelus dada untuk menormalkan degup jantungnya.
Ruve ayo! Ucap wanita itu dalam hati.
Pintunya terbuka bersamaan dengan pintu Elves. Dan dalam netranya Elve semakin nampak rupawan. Tidak secepat ini juga, Ya Ratu Medusa! Pekiknya dalam hati. Jantungnya semakin melonjak liar.
Ruve berdiri kaku, ia berjalan seperti robot. "Pagi" sapa Elves dengan tampang bingung melihat keanehan Wanita derik di depannya ini.
"Pa,pagi" balas lirih Ruve dengan menunduk salah tingkah, Ruve sibuk menyampirkan rambutnya di telinga juga berkali merapikan rambutnya.
"Pagiiii" Sapaan bersemangat dari belakang, tangan kekar lelaki menyandar di bahunya dan Elves, Gen merangkul keduanya.
"Cari sarapan di pasar depan, kemarin aku menemukan roti isi sangat lezat, juga ada … " Gen mengoceh, yang sesekali ditanggapi oleh Elves, Sedangkan Ruve terlena, ia memandangi Elves lekat, rangkulan Gen mendekatkan dirinya dengan Elves.
Elves meliriknya, tentu semburat kemerahan menjalar di pipinya. "Kau demam?" Elves meletakkan telapak tangannya pada dahi Ruve. Tak lupa dengan wajah Elves yang ikut mendekat pada wajahnya. Dan dengan cepat kemerahan di pipi Ruve menyebar ke seluruh wajah juga telinganya.
"Ak, aku lapar!"
Ruve cepat melepas kasar rangkulan Gen dan berlari mendahului kedua lelaki yang dibuatnya bingung. Ruve menarik nafasnya lalu membuangnya, berkali-kali. Mengipasi wajahnya yang panas.
"Ruve tunggu … kita makan bubur kerbau diujung sana dulu, untuk pembukaan" Ucap Gen bersemangat. Ia mengejar Ruve, dan kembali merangkul wanita itu. Elves mengikuti keduanya dibelakang.
__ADS_1
Mereka telah berada di kedai bubur kerbau pilihan Gen, Ruve melirik Elves yang tenang membaca buku, Gen akhirnya peka ada yang tak beres dengan si derik, "Kau kenapa dari tadi aneh sekali?" Ruve menggeleng,
"Kau tidak bisa diam, mirip cacing kepanasan, benar kan Elves?" Ejek Gen, mendengar namanya disebut Elves hanya mengangguk tanpa melepas pandangannya dari buku yang ia baca, dan itu menyadarkan Ruve, mengapa hanya dirinya yang salah tingkah disini?
Dan setelah mengambil ciuman pertamanya lelaki itu bersikap biasa, seperti tidak ada kejadian apapun sebelumnya. Dan membuat Ruve berpikir apa ia bermimpi malam itu.
Tidak tahu mengapa rasanya mengesalkan, ia kesal dan memilih -mencoba- berlaku biasa juga seperti si pencuri ciumannya itu lakukan padanya. Ia menarik mangkok super besar bubur kerbau pesanan Gen dan melahapnya.
"Hey, itu milikku!" Gen ingin menarik mangkuknya, tapi lirikan sadis Ruve menghentikannya.
Mau tak mau, Gen menarik makanan pesanan Ruve, semangkuk kecil bubur kerbau, dengan sekali teguk bubur itupun habis. Gen kembali memesan bubur super besarnya. Dengan tatapan tajam mengarah ke Ruve yang masih melahap bubur kerbaunya.
"Hrhgg … " Ruve mengangkat mangkok dan meneguk tetesan terakhir dari bubur kerbaunya lalu ia bersendawa kencang. Senyuman kembali menghiasi wajahnya. Makanan memang ampuh untuk meluruhkan kekesalannya.
Ruve meletakkan kasar mangkok kosong itu lalu dengan bersemangat "Ayo kita ke tempat roti isi yang kau bilang enak tadi" Ruve menarik tangan Gen.
"Tunggu Nona! Kalian belum membayar! Nona! Nona!" Seorang pelayan mengejar Ruve.
"Ini" Elves menangkap lengan pelayan itu dan memberikan kantong koin di tangan pelayan itu. Lalu ia keluar mengejar Ruve dan Gen yang masih mengerutu.
***
"Agrabella, kau bisa membantuku dengan ramuan yang ada dalam buku ini?" Agrabella menurunkan kacamatanya menatap buku kecil diatas meja resepsionis.
"Kau menemukannya?" Wanita tua itu menaikkan kacamatanya dan menyangkutkan pada rambutnya. Kemudian ia meraih buku seukuran telapkangan itu dan membaca isinya.
Sebenarnya ia sudah tahu apa yang ada didalamnya. Karena Gilberto sudah pernah menunjukkan padanya.
Gilberto menyerahkan pada Agrabella untuk meracik untuknya. Dan bersama mencari satu bahan yang sangat langkah juga ditemukan. Lumut 1000 tahun. Hanya ada di Cahaya ilusi. Lebih tepatnya berada di kantong Makhluk yang bernama Golum. Si monster lumut.
__ADS_1
Belum sempat mereka mencari bahan terakhir ramuannya Gilberto tewas dan Agrabella tidak meneruskannya.
Ia akan menunggu kehadiran murid atau anak dari Gilberto untuk mengambil bukunya, dan jika mereka ingin meneruskan penelitian Gilberto maka dengan senang hati Agrabella akan membantu.
"Hanya orang yang Gilberto tunjuk yang bisa melepaskan buku kecil ini dari buku besarnya ia memantrai buku itu." Ujar Agrabella, ia mengelus buku kecil itu. Lalu menghela nafasnya panjang.
"Aku membantumu, tentang ramuan sempurna itu kan? Dylan!" Seruan keras Agrabella. Dan dari dalam sosok lelaki tua keluar, "Ada apa sayang?" Sosok itu menatap apa yang istrinya itu berikan padanya.
Elves melihat keterkejutan pada wajah peri tua itu. "Buku ini?" Mata Dylan bergantian menatap antara buku dengan Elves.
"Jadi Anda!" Lagi Elves dibuat bingung.
"Gilberto pernah bercerita ia sangat bersalah melibatkan Anda dalam penelitiannya. Melibatkan sosok penting bagi kerajaan Elf. Ia merasa menyesal tidak bisa cepat mendapatkan ramuan yang sempurna. Dan saat merasa ramuan ciptaannya ini sempurna ia tewas" cerita panjang mengungkapkan kedekatan peri tua itu pada gurunya. Dylan bercerita dengan formal dengannya.
"Dan Anda lah murid kesayangannya, ya walaupun ia memiliki banyak murid dan pesan terakhirnya mengatakan akan ada yang mengambil buku ini, jika bukan anaknya berarti muridnya, saya tidak menyangka Anda akan datang juga, Pangeran" Elves yang dipanggil pangeran oleh Dylan juga dengan sikap hormat lelaki itu, membuatnya canggung.
"Pangeran?" Agrabella mendongak, Elves merasa tidak enak. "Tak perlu bersikap formal, sekarang aku hanya rakyat biasa di Cahaya ilusi ini" ia tak ingin kenyamanan yang selama ini ia dapatkan dari sekitarnya berubah.
"Baik pangeran" Dylan, lelaki tua itu tersenyum.
"Panggil seperti biasa saja," Ucap Elves tak begitu menyukai panggilannya itu.
"GranpaD!" Seruan terdengar dari luar,
"GranpaD! GranpaD!" Regulas tersuruk ke lantai, peri lelaki itu terburu dan menghampiri lelaki tua itu.
"Hhh, hhh … Ada yang … menjebol barier Cahaya Ilusi!"
Tbc.
__ADS_1