Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 128 Kisah Yara Alejandro 35


__ADS_3

"Selamat datang di tempatku!"


Bocah lelaki menampakkan wajahnya. Ia tersenyum menyeringai menatap kedua wajah di depannya. Rambutnya berwarna keemasan. Sosoknya mirip dengan Dantau namun sosok ini lebih kecil.


Tubuh Yara bergetar, ia tak bisa menggerakkannya. Ada rasa menyenangkan dalam tubuhnya saat bocah itu muncul. Seperti dirinya telah menunggu saat-saat seperti ini.


Wajah Yara pucat pasi, kebingungannya mengambil seluruh pikirannya. 


"Menyingkir" gumam Yara lirih.


"Tempatmu? Yang benar saja ini adalah alam bawah sadar milik Dantau, siapa kalian ini?"


"Menyingkir" gumanan Yara mendesis.


"Ah kau tak tahu siapa kami, tapi sangat arogan sekali. Jika kau ingin tahu ikuti saja kami!"


Bocah itu menyengir dengan tampang yang anehnya. Juga aura di sekitarnya hitam namun Ale merasa harus mengikutinya.


"jangan bilang kau yang mempengaru—"


"TIDAK!"


"JANGAN MENGIKUTINYA ALE!!"


"Yara? Ada apa?"


"Jangan mendekat padanya!!"


"Kau kenal mereka?"


"Tidak aku tidak tahu mereka!"


Yara menggigil. Wajahnya ketakutan. Matanya kosong. Pucat. Nafasnya tidak teratur. Ia mengulurkan tangannya yang bergetar. Memegangi pakaian Ale.


"Ak-aku tak mengenalnya tap-tapi tubuhku … tubuhku ini ia merasakan reaksi … "


Yara menengadahkan kedua tangannya yang bergetar hebat. Ia mengepal telapak tanganya.


"Ada apa denganku?"


"Ale aku kenapa?"


Yara mencengkram pakaian Ale. Matanya melebar dan memerah. Air matanya bergulir berjatuhan.


"Ck! Kenapa harus sekarang aku belum selesai bermain!" Ucapan bocah itu tenang. Wajah Ale mengkerut melihat Yara yang tidak terkendali.


Apa efek dari bocah itu pada Yara sebesar ini. Dalam rengkuhannya tubuh wanitanya ini menggigil hebat.


"Kalau begitu kita mulai saja."


"Aaaark … "


"YARA!"


"HAARG!"


Tumbuhan rambat mengikat kaki Yara. Sangat cepat hingga Ale tak bisa menolong bocah itu menyerangnya dengan panah.


Yara tergantung dengan tumbuhan rambat itu mengikat seluruh tubuhnya.


"TUNGGU YARA!"


TRANK! TRANK!


Ale berjibaku dengan panah-panah yang bocah kecil itu arahkan padanya. Melihat kesempatan Ale berlari ke arah Yara namun dengan cepat bocah itu menghadang langkahnya.


Dengan menggunakan pedang yang lebih besar dari tubuhnya. Itu membuktikan sekuat apa bocah kecil itu. Ale menahan menggunakan pedang miliknya.


Cepat sekali pikir Ale. Matanya menatap pada bocah yang tersenyum santai di depannya.


Greb!


Tangan dan kaki Ale pun di ikat tali dari tumbuhan rambat itu. Ia tersentak, terkejut sialaan! makinya dalam hati. Ia meronta. Tetapi ikatan tanaman rambat itu mengetat.


"Hargh!"


"ALE!!"


"Aaargh … "


"Kerja bagus Dorea! Terima kasih kau selalu membantuku"


Dari tanaman itu bergetar saat bocah kecil yang masih mereka tak ketahui namanya itu memujinya.


Wajah Yara semakin memucat ketakutannya merebak semakin menggerogoti dirinya.


"Aaaarrkk!" Jerit Yara.


"Hhh … hhh … aah"


Nafas Yara mulai tak teratur degupan jantungnya semakin kencang, kerisauan juga ketakutannya melingkupi wanita itu.


"YARA! BERTAHAN!" Seruan Ale. Ia pun kesusahan dengan jeratan pada tangan dan kakinya yang membuat kulitnya lecet.


Bocah itu mendekat pada Ale.


"Kau tak akan bisa melawanku! Apa kau tak mendengar dari gagak tua itu!"


"Kalian harus berhati-hati denganku!"

__ADS_1


"NAGA KALAJENGKING!"


Wajah bocah lelaki itu menjadi menggelap. Ratusan kalajengking merayapi tanaman rambat.


Kalajengking-kalajengking itu merayapi tubuh Yara juga Ale. Mereka memenuhi tubuh keduanya. Wajah Ale dan Yara kaku.


"Naga … Kalajengking?" Gumam Ale.


Mereka merasa ketakutannya mencapai batas. Tubuh besar Ale bergidik. Tatapannya mulai kosong. Begitupun dengan Yara yang terkulai menggatung.


"Tidak" gumam pasrah Yara.


"Tidak! Jangan mendekat!"


Yara mulai meracau dan memberontak.


Bocah itu sekarang mendekati Yara.


"Kenapa kau begitu takut padaku?"


Bocah itu menatap Yara prihatin ia mendekap tangannya di dada. Memperhatikan reaksi Yara padanya.


"Reaksi mana yang sedang kau tunjukan padaku ini, hei Calon Ratu?"


"Elf Hitam atau Elf Putih?"


Bocah itu mendekatkan wajahnya pada wajah Yara. Netra mereka bersimborok Yara yang ketakutan dipandang nyalang dengan senyuman miring si bocah naga kalajengking.


"Rasanya lelaki itu sungguh tak berguna lagi!"


Bocah itu mulai berbicara.


"Sia-sia aku menciptakannya."


"Maksudmu kau yang selama ini mengganggu Yara dengan menggunakan Dantau?"


Ale menatap nyalang bocah itu.


"Ya! Ternyata kau pintar juga"


"Aku menciptakannya untuk membangkitkan Ratu dalam tubuh wanita malang itu"


Kemurkaan Ale terpancar dari wajahnya yang meringis. Ia mengeluarkan belatinya dan ingin memotong tanaman rambat itu.


"Sebelum melakukan sesuatu pikirkan lebih dulu! Kau berada di dalam alam bawah sadar Dantau, apa kau tak berpikir jika tanaman rambat ini tak terhubung dengannya?"


"Kau mengacaukan semuanya juga nyawa wanita malang itu"


"Dan sebagai 'orang luar' lebih baik kau diam dan nikmati apa yang akan terjadi setelah ini"


Peringatan bocah lelaki itu saat matanya menangkap kilauan belati pada tangan Ale. Dengan wajah datar tanpa senyum.


Tanaman rambat itu mengendur Yara diturunkan, ia bersimpuh namun tanaman rambat masih mengikatnya kencang.


"Cih!" Yara berdecih.


Bocah itu menarik dagu Yara untuk melihat ekspresu yang wanita itu perlihatkan. Ketakutannya tak terlihat lagi.


"Oh keberanian mu muncul juga! Aku memang menunggu itu,"


Bocah itu menepuk pipi Yara.


"Baik! Kita akan mempercepat saja prosesnya, kalian tahu, Dantau ingin sekali Elf hitam yang ada di tubuhmu menjadi ratu"


"Balas dendam pada dunia yang selalu membuatnya sengsara!"


"Pikiran yang naif dan gampang sekali dikendalikan, bukan?"


Tawa menggema di lorong itu.


Wajah Yara mendengar dengan raut datar tanpa ekspresi. Ratusan kalajengking menumpuk di belakang bocah itu. Mereka berubah menjadi satu kalajengking dengan kepala naga.


"Dan sangat malang, kau akan menanggung semua penyesalan lelaki tak berguna itu!"


"Tidak … " gumam Yara.


"Jangan … tidak … "


Yara menggelengkan kepalanya, kalajengking pada tubuhnya bersiap mengangkat ekor mereka juga pada kalajengking raksasa yang juga mengangkat ekor dibelakang Yara.


Dan dalam sekejap kalajengking-kalajengking itu menancapkan ekor beracunnya pada  tubuh Yara. Kalajengking besar menancapkan ekornya pada punggung Yara.


"HAAAAARRRGGHHH … "


"AAAARRRKKK!!!"


"HHH … HAAA … "


"AAAAHHHH"


Menyembul urat pada pelipis Yara, rasa menyakitkan menjalar pada tubuhnya. Ia merangkak di lantai pelan. Tangannya mencakar permukaan lantai.


"Aaaaarrhhh … hhaahh … hhh … "


Ia merasakan aliran racun itu mengenai semua organ-organ tubuhnya yang berkedut menyakitkan. Racun menyebar terlihat dari nadinya. Aliran kehitaman itu menjalar di seluruh tubuh Yara.


Yara aku ingin keluar! Suara wanita menggema di otaknya.


Keluarkan aku Yara!

__ADS_1


"Jangan sekarang" lirih Yara.


Aku akan menolongmu!


"Tidak!"


Aku adalah kamu!


"Jangan!"


Mata Yara berubah menjadi merah. Tubuhnya bergidik.


"Oh kau menahan Elf Hitammu keluar!"


"Yah tak apa, tapi asal kau tahu apa yang hitam akan selalu jahat dan tak ternilai"


"Dan itu mengapa Elf Hitam selalu tertarik pada hal yang jahat"


Yara ingat bagaimana tangan rapuh bocah perempuan meraih tangannya. Ia ingin ditolong. Juga sama memelasnya seperti dirinya dulu yang selalu dikucilkan.


Tangisan bocah perempuan hitam itu layaknya tangisan anak yang lugu.


Mata merah Yara melebar. Elf Hitam saat ini menguasainya. Hanya satu bantuan jika ia ingin menolong Elf Hitam. Karena jika ia tak menolongnya. Elf Hitam dalam dirinya akan hancur lebur. Dan Yara tak ingin Elf Hitam itu hilang dalam keadaan dihancurkan.


"Tolong aku!"


"Tolong aku!"


"Tolong … dia!"


"ALE!"


"TOLONG DIA!"


"ALEEE, TOLONG DIA!"


Teriak kesakitan juga rasa kesedihan yang berkecamuk dalam dada Yara. Ia tak ingin Elf hitam ini lebur dengan rasa nelangsa dan kemalangan.


Hanya Ale yang bisa mengatur Elf Hitam dalam dirinya.


ZRRRAAAKKKK!!!


Ale melepaskan diri dari tanaman rambat itu. Dengan gesit menghampiri bocah lelaki itu. Ia melompat tinggi ke arah bocah itu. Bersiap menyabetkan pedangnya. Ke bocah yang membelakanginya itu. Wajah Ale menggelap datar.


TRANK!


Bocah itu hanya menengok sedikit. Ia menarik sudut bibirnya. Mendapati serangan Ale gagal. Bocah baji ngan itu dilindungi oleh barier.


Lalu adanya hembusan angin kencang menuju arah mereka dan berputar pada ketiga nya memenuhi lorong. Lalu angin itu menghilang masuk kedalam atap.


Bocah itu mengikuti hilangnya angin. Ia berdecih.


"Cih! Apa harus sekarang!" Kesal bocah itu.


"Sebenarnya permainan kita semakin seru tapi kita hentikan disini"


"Sampai jumpa lagi"


BLASH!


Seluruh penerangan yang ada di lorong itu padam. Suasana gelap dengan hembusan nafas Ale dan Yara yang terdengar kasar.


"Yara!"


"Yara!"


Dalam kegelapan Ale mencari keberadaan Yara. Ia melangkah ke tempat Yara berada.


"Bola api"


Bola api keluar dari tangan Ale dan berterbangan ke arah obor-obor yang kembali menyala. Bocah itu dengan tanaman rambat juga ribuan kalajengking juga kalajengking raksasanya menghilang.


Ia mencari keberadaan Yara. Wanita itu terkulai nafasnya memburu namun matanya terpejam.


"Yara!"


"YARA!"


"Al … le?"


Bola mata merah Yara terlihat. Karena Yara menahan Gilda untuk keluar, hanya wujudnya saja yang muncul tidak dengan Gilda. Saat ini Yara dengan wujud Gilda. Elf Hitam.


"Apa yang kaurasakan?"


Ale memeriksa punggung yang bolong akibat  juga tubuh Yara yang kebiruan, 


"Sa … kit"


"Minum ini" 


Ale menempelkan ujung botol pada bibir Yara yang kering dan pecah-pecah. Yara meneguk ramuan Otis itu. Ia menunggu.


"Aku tak apa, sakitnya diserap oleh Gilda sebagian, juga penawar ini sangat membantu"


Yara berusaha untuk mendudukan dirinya. Lebam kebiruan masih menghiasi kulitnya. Punggungnya pun masih terluka.


"Sss … " ringisan Yara.


"Lebih baik kita kembali."

__ADS_1


Ale mengibaskan tangannya portal hitam terbuka. Ia sudah mempelajarinya. Sebagai seorang penjaga, Ale telah dibekali oleh Mako dan beberapa anggota lainnya. Tentang Dantau. Nyatanya organisasi yang mereka kejar ternyata lebih kuat dari Tanduk hitam.


Tbc.


__ADS_2