
Benar Razor mencari gara-gara dengannya. Opal kembali kerumah Juan dengan keadaan yang memprihatinkan.
"Aku tak ingin melibatkanmu lagi dengan para bandit itu" Opal bersikeras agar Yara tidak lagi terhubung dengan Tanduk Hitam.
"Tak perlu mencemaskanku Opal. Kau tinggal bilang dimana dia ingin aku menemuinya."
"Tidak Opal, pilihanmu tepat jangan melibatkan banyak orang" Juan menyetujui pilihan Opal.
"Kalian tidak perlu cemas." Kembali Yara dengan keras kepalanya. "Kau akan terus ketua itu kejar hingga ia mendapatkan aku bukan?"
"Aku akan menghindar dan bersembunyi dalam rumah Juan"
"Kalau kau mau begitu sampai kapan?"
"Sampai tua bangka?"
"Sampai mereka tertangkap" Opal menjawab dengan mata yang tertuju pada Juan.
"Kau yakin jika mereka tertangkap, mereka tidak bisa mencarimu? Bagaimana dengan anggota yang tak tertangkap dan mencari dirimu?" Tanya Yara menakuti.
Opal terlihat pias. Apa dirinya sudah keterlaluan menakuti Opal.
"Sekarang mending kau beritahu dimana Razor ingin bertemu denganku? Aku tak ingin melibatkan Juan juga disini"
"Aku sudah menutupi rumah Juan dengan barier dan aku jamin aman, kau bisa tenang di rumah Juan" ucap Yara.
Pantas Juan merasa kenyamanan, juga udara disekitarnya lebih segar.
Akhirnya Yara mendatangi markas Tanduk Hitam. Penjagaan ketat. Setelah Yara mengucapkan namanya Ulat.
"Tuan Hugo, Ulat telah ada disini" ucap petugas dengan earpiece,
"Bawa padaku" ucap dari seberang.
"Baik Tuan" penjaga kekar dengan senapan api itu berjalan mendekati Yara.
"Silahkan ikuti saya" penjaga itu berjalan didepan Yara. Yara bisa merasakan adanya barier tipis tapi kuat. Saat Yara melewati penjagaan depan.
Kembali Yara dibuat terdiam, ia kembali merasakan barier tebal. Namun membuatnya sedikit sesak.
Yara mengenal barier penyiksa ini, ia menemukannya barier ini saat ia diundang ke tempat Raja Marzon, barier dunia bawah.
Dulu Yara sangat tertarik untuk mempelajarinya tapi dilarang oleh Raja Marzon. Ya Yara menuruti.
__ADS_1
Pantas saja, mereka dengan berani menyebarkan anggota di desa-desa yang lain dengan pertumbuhan cepat bahkan sudah masuk dalam daftar hitam Pasukan elit Phoenix Way.
Yara masuk dalam ruangan gelap. Lalu tak lama ia menemukan lorong panjang. Dan ia masuk dalam ruangan dengan desain mirip ruangan didalam gedung didunia manusia.
Yara seorang penjelajah, ia sangat penasaran dengan berbagai barier, ia pernah tinggal lama di Desa Arctos, bersama para serigala, juga Ratu pelindung.
Disana ia bertemu dengan manusia teman para serigala. Dan pernah juga ia ke Nokturnal dan diajak ke Walabi Corp. Bagunan disini mirip dengan gedung-gedung besar didenia manusia.
Penjaga berdiri didepan sebuah pintu besar. Ia mengetuk, dan kemudian masuk kedalam. Hawa dingin menguar menerpa tubuh Yara.
"Selamat datang di Black Deer, markas utama Tanduk Hitam" ucap seseorang yang duduk di mejanya. Ia berbeda dengan makhluk elf lainnya karena ada tanduk melingkar di kepalanya.
"Perkenalkan aku Hugo Green"
Makhluk itu berdiri. Rambutnya hitam. Bola mata hitam tajam, kuping runcingnya penuh tindik, Ia mengenakan pakaian kemeja putih dengan lengan digulung, terlihat penuh dengan tato dan rompi hitam. Ia berdiri. Tampak menawan.
Yara kau baru saja bertengkar dengan Ale dan kau bisa terpesona, dasar wanita! Ucapnya merutuki dirinya sendiri.
"Langsung saja" ucap Yara. Ia tak ingin berlama-lama. "Mengapa kalian ingin sekali menemuiku?"
"Aku suka wanita yang tak sabaran" Yara mengerutkan dahinya. Bagaimana dia tahu ia wanita? Razor?
"Apa kabar Agrabella dan Dylan? Kau pasti lupa denganku? Aku pernah ke desa Cahaya Ilusi," ucapnya,
"Tidak usah banyak omong! Langsung saja apa yang kau inginkan dariku?"
"Kau tetap seketus dulu, okay aku akan langsung saja." Ucap Hugo. Menarik dan berbahaya. Yara menahan dirinya untuk tidak salah berucap. Rasanya ia terburu-buru. Datang ke tempat musuh dirinya terlalu arogan.
"Aku ingin kau bergabung dengan Black Deer," ia menatap tajam Yara dengan senyuman miring.
"Kau pasti bisa merasakan tentang barier tempat ini kan? Barier yang aku kembangkan sangat sempurna, bagaimana menurutmu?" Lama disana Yara tak menjawab. Ia ingin menolak tapi ini kesempatannya untuk menyusup. Ia tak akan takut tentang resiko berkhianat.
Hugo memundurkan punggungnya, menyandar pada punggung kursi. Ia menunggu, "Aku memberimu waktu untuk berpikir."
***
Pertemuan yang singkat. Yara menimbang, apa ia bergabung, tapi melihat Hugo-hugo itu tahu ia tinggal, dan tahu tentang cahaya ilusi, ia tidak akan mengorbankan Cahaya Ilusi.
Cukup kasus Ruve dengan Mateo dan penjahat lainnya menghabisi penduduk tak bersalah. Ia tak bisa.
Tapi jika ia bisa membumi hanguskan kelompok Tanduk Hitam. Semua anggota pasti akan diringkus oleh Pasukan elit. Pasti.
Yara berada di persimpangan. Juan melihat kelakuan Yata menjadi sering diam dan melamun. Setelah kembali dari tempat bandit-bandit itu.
__ADS_1
Ia merasa takut jika Yara akan seperti Opal yang akan masuk ke lingkaran para bandit itu. Dan ia tak akan bisa lepas dengan mudah. Ia mengingat Fili, sahabatnya dengan Opal yang harus menanggung semuanya.
Ia harus mencegahnya, "Yara aku mohon jangan ikut masuk dalam lingkaran mereka" ucap Juan. Yara yang sibuk dengan pikirannya. Menatap ke arah teman barunya.
"Hah!"
"Pasti kau diajak bergabung dengan mereka kan? Kau sama seperti Fili! Ia mengorbankan dirinya untuk kami, aku dan Opal."
"Ia sepertimu Yara, memiliki keistimewaan, pandai bertarung, dan demi kami ia dijadikan senjata hidup oleh para bandit yang selalu mengancam akan membunuh kami agar Fili mau melakukan misi pembunuhannya" cerita sendu Juan.
"Tapi tak lama ia tewas dalam misinya, entah mengapa aku sangat bersyukur waktu itu. Karena ia tidak lagi harus membunuh banyak nyawa yang tak tahu bersalah atau tidak. Katakan kami jahat." Mata Juan berkaca, rasan sesak itu masih ada hingga kini.
"Dan setelahnya aku dan Opal harus melarikan diri dari desa satu ke desa lainnya, agar kelompok bandit itu tidak mengejar kami berdua" lanjutnya dengan sendu.
"Tolong jangan menjadi Fili ke dua bagi kami" mohon Juan. Yara mendekati wanita yang menunduk dengan nafas yang menahan tangisnya.
"Aku janji aku tidak akan menjadi Fili ke dua. Karena aku akan selamat dan menghancurkan kelompok bandit itu"
"Kau tenang saja aku memiliki tameng kuat" Juan hanya bisa menggeleng dalam tangisnya.
Derapan langkah kaki mendekati mereka berdua. "Benar kau bergabung dengan Tanduk Hitam?" Opal masuk dengan nafas yang tersendat, ia memberondong Yara.
"Belum." Yara menggeleng
"Syukurlah! Hah! Belum?" Nafas leganya hanya sekejap sesaat ia menyadari kata Yara itu.
"Aku masih memikirkannya, mungkin sebentar lagi" ucap Yara membuat jantung Opal jatuh ke perut.
"Apa semua karna aku?" Wajah Opal pias.
"Tidak aku ingin saja. Iseng" lelucon Yara. Wajah Opal yang pias lalu memerah. Ia marah.
"Tidak ada keisengan yang membunuhmu!" Bentaknya.
"Mereka bahkan mengumumkan bahwa Ulat telah masuk dalam kelompok Tanduk Hitam!"
"Mereka memasang pengumuman itu di Arena Urban Latan" Ucap Opal serius.
"Mereka gerak cepat rupanya. Tak ingin kehilangan Ulat."
Yara santai saja mendengar informasi dari Opal. Pengumuman itu berarti sebuah paksaan agar dirinya tidak menolak. Apalagi Hugo membawa nama keluarganya.
Ia tidak akan mundur. Tanduk Hitam kau salah memilih musuh. Yara tak akan mengusik jika ia tak diusik. Tanduk Hitam kita lihat bagaimana kau akan menghentikan ku, batin Yara. Mayanya berkilat.
__ADS_1
Tbc.