Ruvera Dan Pangeran Elves

Ruvera Dan Pangeran Elves
Bab 84. Babat Habis


__ADS_3

Elves mencari dimana keberadaan Ruve. Ia mendengarkan telepati yang dikirimkan ayah Ruve padanya.


"Aku bisa melihat ada seseorang di depanku namun tidak terlihat jelas sekelilingnya,"


"Teramaran, mungkin salah satu kamar di kastil itu,"


"Baik"


Elves terus berjalan membuka setiap kamar yang ia lihat. Derapan langkah kaki terdengar. Elves menyiapkan dirinya.


Ia melihat Lavender, yang keluar dari kamar dan berlari menjauh.


"Lav?" Elves mengejar Lavender.


"Lavender?"


Elves berlari kencang, benar itu Lavender tapi ia terus berlari menghindar dari Elves.


Ia pun berhasil menangkap lengan Lavender. Nafasnya putus-putus. Ia menarik adiknya dan memeluknya.


"Lav, kau tak apakan?" Ia kembali memeriksa tubuh adiknya. Saat menatap wajah sang adik, mata gadis itu terlihat kosong.


Sama seperti saat Ruve terkena ramuan penurut.


Lavender menyerang Elves. Ia menyabetkan pedangnya, refleks Elves sangat cepat ia menghindar dengan berguling di lantai. Serangan Lavender bertubi.


Elves masih bisa menepis dengan tangan kosong. Ia tak ingin melukai adiknya. Ia merampas pedang Lavender. Kemudian membuangnya jauh.


"Mati kau!" Suara berat bukan suara sang adik. Geraman terdengar mata kosong itu menyerang dengan menghantamkan kuat-kuat tangannya pada tubuh Elves.


Elves mundur, rasa sakit menyebar. Ia tak tahu jika adiknya bisa memiliki kekuatan yang besar.


"Elves itu bukan adikmu! Bukan jiwa adikmu itu" Ayah Ruve berbicara dengan telepati. 


"Jika kau memiliki ramuan yang mengandung bunga ploppy, bisa cepat menyadarkan mereka."


"Terima kasih Tosai," Elves merengkuh adiknya dan memasukan sebutir obat pada mulut adiknya. Membuat Lav menelan pil pahit itu.


Lavender memberontak lalu tak sadarkan diri. Ia meminta Tosai untuk mengambil tubuh adiknya. Namun sebelum itu terjadi.


Seseorang menyerangnya. Elves terpental jauh karena serangan itu.


Gen ada disana dengan dua buah pedang di tangannya. Ia memainkan pedangnya dan mulai menyerang kembali Elves.


Kekuatan Gen sangat besar. "Matilah!" Sama dengan Lavender. Kembali Elves harus bisa menangkap Gen dan membuatnya meminum pil miliknya.


Gen tak semudah itu dilumpuhkan. Ia terus menyerang dan tak sekalipun memberi kesempatan Elves untuk menyerang balik.


Tidak bisa, ia harus mau tak mau, ia harus melumpuhkan dengan pedangnya. Elves mengeluarkan pedangnya,

__ADS_1


Pedang berkilat-kilat itu keluar dari tangan Elves. Ia menunjuk pada tubuh Gen. Dan kilat listrik menjalar menuju ke arah Gen.


Listrik itu menyambar tubuh Gen. Dan membuat Gen tak sadarkan diri. Ia sengaja mengejutkan tubuh Gen, untuk membuatnya pingsan.


Ia meminta bantuan Tosai untuk membawa Gen juga adiknya. Setelah memasukan pil ke mulut Gen.


Tosai membuka portal dimensi Maddy keluar dengan Yara, mereka mengangkat tubuh Lav dan Gen masuk kembali dalam portal dimensi.


"Kau lurus saja, sepertinya lelaki itu telah menunggumu, bersama putriku"


Elves berlari menuju tempat yang Tosai maksudkan. Disana Mateo menyambutnya dengan Ruve yang mengenakan gaun menjuntai dengan rambut tergerai indah.


Ruve kembali menjadi Ruve yang tak ia kenali.


"Kau sampai juga kemari, aku sudah mengembalikan ketiga orang itu, pertukaran yang pantas bukan, tiga ditukar satu. Dan ini akan menjadi milikku" Mateo mengelus pipi Ruve.


"Jangan sentuh dia!" Teriak Elves.


"Ruve serang dia" Ruve mengangguk.


"MATI" Ruve mengeluarkan rantainya. Elves menangkis serangan rantai Ruve.


"Bagaimana rasanya diserang oleh orang yang berharga?"


"Lanjut kan sayang, bunuh dia" perintah Mateo.


"BUNUH!" Teriak Ruve kencang. Ia dengan gesit mengikat leher Elves. Rantai itu mengencang, mencekik Elves.


"Aku … mencintaimu" ucap Elves. Tawa tergelak terdengar di belakang tubuh Ruve disana Mateo mengejeknya.


"Ia tak mengingatmu! Hanya raga tanpa jiwa" gelak tawa Mateo menggema di ruangan itu.


"Ruvera aku Elves mencintaimu" ucapnya di sela-sela tarikan nafasnya. Elves mengelus pipi Ruve perlahan.


Air mata Ruve menetes. Elves berusaha berbicara. "Ja,jangan, me,menangis sayang" Elves merasakan rantai Ruve mengendur.


Dan kesempatan itu dimanfaatkan Elves, ia memasukan pil dengan cepat kedalam mulutnya, dan menyumpal bibir Ruve dengan bibirnya. Pil itu ia pindahkan kedalam mulut Ruve. Mateo hanya melihat mereka berciuman.


"Beraninya kau menodai milikku! Bed3bag siaalan!" Umpatnya marah. Ia akan menarik Ruve namun Elves lebih dulu menjauhkan Ruve dari Mateo.


"Uhugh" Ruve terbatuk,


"Elves" Ruve kembali tersadar. Pil yang diberikan Elves juga mengandung akar bulkie didalamnya. Bagi Ruve yang pernah diobati, jika terkena ramuan yang sama pemulihannya akan lebih cepat.


"Kau sudah kembali?"


"Ya, sayang, terima kasih."


"Aku urus dia, karena kita akan kedatangan lawan yang sebenarnya." Ucap Ruve. Mereka merencanakan ini semua. Dugaan Ruve tepat.

__ADS_1


Ruve menjulurkan rantainya. Gerakan nya lebih gesit dari sebelumnya, perubahan yang mengejutkan Mateo.


Ia mengikat lelaki itu dan dengan cepat pula ia menyayat leher Mateo hingga putus. Kepala Mateo menggelinding dan berhenti di kaki Rugert.


"Dasar tidak berguna!" Ia menendang kepala Mateo.


"Sepertinya kekuatanmu telah kembali bocah!" Ucap Rugert menatap Ruve dengan senyuman merendahkan. Ia menatap Ruve hanya anak kemarin sore yang berlagak melawannya.


"Kau ingin melawanku lagi? Masih berani?" Ejeknya.


Blash!


"Armor, kalian pasukan elit Phoenix Way, pantas kau berani datang lagi kehadapanku"


"Tapi aku tak takut dengan Armor kalian itu." Rugert menyerang Ruve dan Elves bersamaan.


Bola api menyerang keduannya dan meledak. Ruve menggunakan busur panah menghancurkan bola api milik Rugert.


"Ini akan semakin menyenangkan" seringaian mengembang. Lawannya semakin kuat, ia semakin senang. Karena ia yakin tidak ada yang bisa mengalahkannya.


Serangan bola api terus berdatangan. Elves meluncurkan tiga anak panah, dengan satu yang ia mantrai.


Jleb!


TRAK!


Satu anak panah Elves menembus dada Rugerts. Ia terjebak, Ruve menjadi umpan dan Rugerts hanya terfokus pada Ruve dan melupakan Elves yang diam-diam mencari kelemahannya.


Rugerts membungkuk, batu dalam dadanya pecah menjadi bulir dan menghilang. Dan saat Ruve akan kembali menyerang, dari belakangnya sosok lain menyergap tubuhnya.


"Argh!"


Bahu Ruve terkoyak. Elves meluncurkan busurnya. Sosok hitam besar bermata merah itu menangkap busur Elves dengan mulutnya.


Sosok itu maju dan memperlihatkan wujudnya. Hyena.


Ia siap menyerang Elves. Hyena itu melompat tinggi, dan sosoknya berubah menjadi sosok manusia. Tangan dengan kuku panjangnya siap menusuk dan mengambil jantung Elves.


Namun jerat tali listrik menjatuhkan dirinya ketanah.


"HAAARGH!" teriakan pilu memantul dari sudut ruangan.


"Maaf terlambat." Berus datang dengan Orso yang sudah berjibaku dengan Rugerts. Kedua bandit itu adalah penjahat yang masuk dalam daftar pencarian, penjahat kelas atas, Buruan para Prajurit elit Phoenix Way.


Itu mengapa saat Ruve dan Elves berhadapan dengan Rugerts, kekuatan Armor mereka aktif. Karena armor mereka bisa melacak penjahat macam apa yang mereka hadapi.


Orso dengan mudah melumpuhkan Rugerts dan Berus dengan cepat menangkap Urjit. Mereka para suhu dengan kekuatan tinggi dan bandit macam mereka berdua dengan gampang mereka tangkap.


"Sepertinya kalian harus mengikuti pelatihan di Phoenix Way" Berus melihat luka Ruve yang menganga di bahunya.

__ADS_1


Orso menggelandang kedua nya masuk ke dalam portal dimensi, mereka akan membawanya langsung ke dunia bawah dan akan bertemu dengan Raja Marzon.


Tbc.


__ADS_2