
"Dompetku seperti bawang merah, bila di kupas membuat air mata mengalir."
Ry tampak terdiam sambil memikirkan perkataan bibik.
"Lah, non diam saja. Jadi gimana non?"
"Mau, tapi bibik temanin aku ke kamar abang Bie ya." Akhirnya Ry memutuskan untuk membangun Bie sehingga dia meminta bibik untuk menemani ke kamar Bie.
"Ayo, non ikut saya." Bibik mengajak Ry untuk mengikuti dirinya yang berjalan terlebih dahulu.
Bibik berjalan terlebih dahulu lalu bibik berjalan menaiki tangga karena kamar Bie terletak di lantai. Ry yang berada di belakang bibik pun ikut menaiki tangga tersebut. Mereka sudah sampai di lantai atas lalu bibik berjalan ke arah kamar Bie.
Tok.......... Tok
"Aden Bie bangunan." Bibik yang sudah berdiri di depan pintu kamar Bie mengetuk pintu kamar Bie.
"Aden Bie ada yang cariin."
"Aden Bie bibik masuk ya." Setelah mengatakan itu bibik membuka pintu kamar Bie. Bie berjalan masuk ke dalam kamar Bie.
Bibik yang sudah berada di dalam kamar Bie segera berjalan ke arah jendela kamar Bie. Bibik membuka kain gorden jendela kamar tersebut. Setelah itu bibik menghampiri Bie yang masih berada di atas tempat tidur.
"Non, kok cuma berdiri depan pintu kamar aden Bie, Ayo masuk ke sini!" Bibik yang melihat Ry masih berdiri di depan pintu kamar Bie segera menyuruh Ry untuk masuk ke dalam kamar Bie.
"Baiklah bibik." Ry berjalan masuk ke dalam kamar Bie, Ry yang sudah berada di dalam kamar Bie melihat sekeliling kamar Bie yang berukuran dua kali lipat dari kosan Ry.
"Aduh non." Bibik yang merasa sakit pada bagian perutnya lalu dia memegang perutnya.
"Bibik kenapa?" Ry menghampiri bibik, Ry sudah berdiri di hadapan bibik. Wajah Ry berubah jadi panik saat melihat bibik memegang perut sambil mengelus ke sakitan.
"Non perut bibik sakit, bibik tinggal dulu kemar mandi." Setelah mengatakan itu bibik berjalan pergi meninggalkan Ry yang berada di kamar Bie.
"Tapi bibik." Ry hanya bisa melihat bibik yang sudah berjalan keluar dari kamar Bie.
"Abang Bie bangun." Ry mendekati pinggir tempat tidur sambil membangunkan Bie. Tetapi Bie juga belum bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Bie masih enggan bangun dari tidurnya malah menarik selimut untuk menutupi kepalanya sehingga seluruh bagian tubuh Bie tertutup selimut. Ry yang kesal melihat Bie menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ry pun menarik selimut yang menutupi seluruh bagian tubuh Bie.
"Awww." Ry berteriak saat melihat Kevin tertidur dengan bertelanjang dada hanya mengunakan celana boxer berwarna cokelat. Ry segera menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya. Ry membalikan badannya agar tidak melihat ke arah Kevin.
"Hei, kamu siapa? kenapa pagi berteriak di kamar aku." Bie yang mendengar suara teriakan seorang perempuan membuka kedua matanya. Bie melihat punggung seorang perempuan yang melihat ke arah pintu kamarnya.
"Akhirnya abang Abie bangun juga, Ry tunggu di bawah." Ry membuka kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya lalu Ry berjalan ke arah pintu.
"Eh tunggu, kamu kenapa berteriak tadi?" Bie beranjak turun dari tempat tidur, Bie segera berjalan menghampiri Ry. Bie sudah berada di belakang Ry lalu dia memegang tangan Ry.
"Itu karena____." Langkah kaki Ry terhenti saat Bie memegang tangan Ry. Ry terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan Bie.
"Apa ?" Bie berjalan selangkah dua langkah sehingga dia sudah berdiri di hadapan Ry.
"Roti sobek." Mata Ry membulat saat melihat Bie yang sudah berdiri di hadapan nya dengan bertelanjang dada sehingga memperlihatkan roti sobek di bagian perutnya.
"Ah, mana ada roti sobek di sini." Bie berpikir roti sobek itu roti yang biasa dia makan saat sarapan pagi.
"Ah, bukan roti itu yang Ry maksud."Lagi-lagi Ry menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Itu roti sobek." Ry melepaskan satu telapak tangan dari wajah lalu Ry menujuk bagian perut Bie.
"Astaga." Bie melihat jadi Ry yang menujuk ke arah bagian perutnya lalu dia baru menyadari bahwa dia bertelanjang dada sehingga terlihat roti sobeknya.
"Maka kalau tidur itu pakai baju." Ry berbicara dengan wajahnya masih tertutup telapak tangan.
Sementara di waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda yaitu di rumah Kevin.
"Pagi bunda." Asa yang sudah berada di dapur lalu dia duduk di atas kursi.
"Pagi juga, ternyata putri bunda sudah bangun." Bunda berada di depan kompor menoleh ke arah Asa.
"Kak Kevin mana Bun?"
"Di warung lagi beres-beres bentar lagi bunda jualan."
__ADS_1
"Emangnya bun lagi masak apa?"
"Gulai nangka buat lontong. Putri bunda mau sarapan apa?"
"Aku pengen makan bubur kacang hijau." Asa yang mendengar bunda masak gulai buat kuah lontong menjadi lesu, dia mau sarapan bubur kacang hijau.
"Ya sudah biar aku belikan bubur kacang hijau buat Ayang." Kevin yang berada di dapur, tetapi bunda dan Asa tidak menyadari kehadiran Kevin. Kevin angkat bicara agar bunda dan Asa mengetahui keberadaan dia.
"Gak usah, aku maunya bubur kacang hijau buatan bunda." Asa menolak Kevin yang ingin membeli bubur kacang hijau untuknya, Asa menginginkan bubur kacang hijau buatan bunda.
"Ya sudah bunda akan membuatkan bubur kacang hijau untuk putri kesayangan bunda."
"Tapi sebentar lagi bunda mau jualan, lagian warung sudah aku bukak." Kevin tidak setuju bunda mau memasak bubur kacang hijau untuk Asa karena Kevin sudah membuka warung sehingga sebentar lagi pasti pembeli akan berdatangan ke warung mereka.
"Lagian buat bubur kacang hijau itu sebentar. Sekarang lebih baik kamu beli kacang hijau1/4, gula merah 1/4 dan kelapa yang sudah di parut satu."Ibu menyuruh Kevin untuk membeli bahan untuk membuat bubur kacang hijau.
"Ah, kenapa gak beli aja si Ayang kan enak tinggal makan?"
"Gak mau, soalnya bubur kacang hijau buatan bunda paling senak sedunia." Asa memuji bubur kacang hijau buatan bunda sambil mengangkat kedua jempol nya.
"Udah sana pergi ke warung cepat." Bunda menyuruh Kevin untuk pergi kewarung secepatnya.
"Iya nih juga aku mau pergi.Sebenarnya yang anak bunda itu aku atau dia sih." Kevin membalikkan badannya sambil bergumam.
"Ya kamulah anak bunda."
"Tapi kok bunda kok lebih sayang ke istri aku dari pada aku."
"Ya jelas bunda sayang ke istri kamu soalnya dia putri kesayangan bunda selain itu seperti bunda akan segera memiliki cucu.
Sementara Ry sudah berada di dalam kelas sambil duduk di bangku kelas sambil mendengarkan pak dosen yang sedang mengajar materi mata kuliah. Pak dosen sedang sibuk menerangkan materi kuliah kepada seluruh mahasiswa yang berada di dalam kelas tersebut.
Tetapi dari tadi Ry sibuk menggelengkan kepalanya karena Ry sedang berusaha melupakan kejadian tadi pagi dimana Ry melihat roti sobek milik Bie sehingga membuat Ry tidak fokus mendengar materi kuliah yang pak dosen ajarin.
"Apa kalian semua sudah mengerti?" Pada dosen melihat ke arah seluruh mahasiswa.
"Sudah pak." Seluruh mahasiswa terkecuali meangagukan kepala sebagai tanda mengerti.
Sementara Ry tidak fokus dengan ucapan pak dosen masih menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mentary bagian mana yang tidak kamu mengerti?" Pak dosen yang melihat Ry terus menggelengkan kepalanya.
...~ Bersambung ~...