Ry Benci PakPol

Ry Benci PakPol
Selalu Salah


__ADS_3

"Berbicara buruk tentang Ry, seolah-olah kamu tidak pernah merasakan kebaikan Ry."


Ry memutuskan untuk pergi meninggalkan dapur setelah berpamitan kepada bunda walaupun Ry tidak mendapatkan respon yang baik dari bunda. Tetapi Ry sudah bersikap sebagai seorang menantu walaupun tidak di anggap oleh bunda.


"Apa mbak udah mau berangkat ke kampus?" Jojo melihat Ry yang sudah berada di ruangan keluarga.


"Iya Jojo," jawab Ry.


"Mbak mau naik apa ke kampus?" tanya Jojo.


"Naik bus way," jawab Ry.


"Terus kalau dari rumah ke simpang mbak naik apa? tanya Jojo.


"Jalan kaki," jawab Ry.


"Kenapa mbak gak minta antar ama mas?" Jojo merasa kasihan mendegar Ry berjalan kaki ke arah simpang tiga.


"Ry gak mau merepotkan mase. Jojo Ry pergi dulu ya." Ry berpamitan ama Jojo.


"Mbak hati-hati di jalan." Jojo menyalim punggung tangan Ry.


Ry berjalan kaki menuju ke arah persimpangan rumah tersebut. Sepanjang jalan menuju ke arah persimpangan rumah setiap Ry bertemu orang-orang yang Ry kenal di jalan maka Ry menyapa orang tersebut. Sedangkan untuk orang-orang yang tidak Ry kenal maka Ry hanya sekedar senyum saja.


Ry sudah sampai di simpang tiga lalu Ry berjalan ke halte bus way. Ry sudah berada di halte bus way, Ry duduk di bangku yang ada di bus way sambil menunggu bus way datang. Ry mengeluarkan ponsel yang berada di saku celana lalu Ry menghubungi nomor ponsel papa.


Tuuutt......... Tuuutt


"Assalamu'alaikum papa."


"Walaikumsalam, apa kabar adek?"


"Adek sehat, gimana kabar papa dan mama?"


"Kami sehat, adek lagi ngapain?"


"Ry mau berangkat ke kampus,"


"Adek berangkat naik apa?"

__ADS_1


"Naik bus way papa,"


"Lah, kenapa tidak di antar oleh nak Kevin adek?"


"Mase kerja papa jadi gak bisa ngantar Ry, "


"Adek bisa ke kampus naik bus way?" Papa khawatir Ry naik bus way, dari Tk sampai SMK Ry itu berangkat ke sekolah selalu di antar ama mamanya.


"Bisa, kenapa papa?"


"Papa khawatir adek, itu kota besar banyak kejahatan di sana."


"Papa gak usah khawatir kan papa udah ngajarin Ry ilmu bela diri buat jaga diri adek." Ry menyakinkan papa untuk tidak khawatir dengan Ry sebab Ry itu punya ilmu bela diri.


"Papa tahu adek punya ilmu bela diri tapi ingat jangan di pakai sembarangan hanya di pakai dalam keadaan terdesak." Papa menasehati Ry hanya boleh mempergunakan ilmu bela dirinya kalau keadaan sudah terdesak.


"Baiklah, papa udah dulu ya bus way udah datang."


"Iya, semoga selamat sampai kampus."


"Aamiin, Walaikumsalam papa." Ry mengakhiri pembicaraan di ponsel.


Bus way tesebut berhenti di halte bus way yang berada di depan kampus. Beberapa mahasiswa berbondong-bondong untuk membayar ongkos setelah itu mereka turun dari bus way. Ry melihat keadaan sudah sepi baru lah Ry berjalan ke arah supir bus way.


"Pak berapa ongkos nya?" Ry sudah berada di samping pak supir bus way.


"Lima ribu rupiah, apa baru ini nak naik bus way?" tanya pak. Supir.


"Ini pak." Ry mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari saku baju kemeja putihnya.


"Aduh, apa tidak ada uang pas nak?" Si pak supir yang melihat uang yang berada di tangan Ry.


"Gak ada pak." Ry menggelengkan kepalanya.


"Aduh kembali gak cukup nak," kata pak supir tersebut.


"Emang kembaliannya cuma ada berapa pak?" tanya Ry.


"Cuma 40 ribu, gimana nih nak?" tanya pak supir.

__ADS_1


"Udah ambil aja nih pak." Ry menyuruh pak supir mengambil uang yang berada di tangan Ry.


"Berarti bapak hutang ama nak 5 ribu lagi." Pak supir mengambil uang tersebut dari tangan Ry setelah itu pak supir memberikan uang kembaliannya yang masih kurang lima ribu lagi.


"Yang 5 ribu lagi itu buat pak saja, saya ikhlas memberikan kepada pak." Ry mengambil uang kembalian dari tangan si pak tersebut.


"Terimakasih banyak, semoga murah rezeki dan menjadi orang yang sukses ya nak." Sudah beberapa tahun menjadi supir bus way baru ini pak supir bertemu dengan seorang mahasiswi yang memiliki wajah yang cantik dan baik hati.


"Aamiin, kalau begitu saya turun dulu ya pak." Ry sudah berjalan menuju ke arah pintu bus way.


"Tunggu dulu nak," kata pak supir.


"Ada apa pak?" Ry berhenti melangkah kakinya lalu dia membalikkan badannya.


"Nama kamu siapa?" Pak supir yang ingin mengetahui nama si mahasiswi tersebut.


"Mentary pak." Setelah Ry menyebutkan namanya dia segera berjalan keluar dari bus way.


Setelah turun dari bus way Ry segera berjalan ke arah pintu gerbang kampus. Ry sudah berjalan melewati pintu gerbang kampus. Ry mendengar suara motor yang berada yang sengaja menaikan gas sehingga membuat telinga Ry sakit.


Brum.......... Brum


Suara motor tersebut yang semakin mendekati Ry. Ry tidak memperdulikan suara motor tersebut Ry makin mempercepat berjalan agar semakin dekat untuk sampai di halaman kampus. Motor tersebut sudah berada di samping Ry.


"Hai, boleh kenalan?" Si pengendara motor tersebut membukakan kaca helemnya sambil menoleh ke arah Ry.


Ry terus saja berjalan tanpa menoleh ke arah si pengendara motor tersebut. Ry tidak memperdulikan si pengendara motor tersebut. Si pengendara motor tersebut yang melihat Ry tidak menanggapi dirinya maka dia semakin penasaran.


"Kamu calon mahasiswi baru ya?" tanya si pengendara motor tersebut.


Jujur saat ini Ry benar-benar merasa muak dengan si pengendara motor tersebut yang dari tadi mengikuti Ry. Ry yang sadar diri bahwa di calon mahasiswi baru harus bersikap yang baik agar bisa menjadi mahasiswi di kampus ini. Bahkan demi bisa kuliah di kampus ini Ry harus menerima menikah sirih dengan Kevin.


Yang lebih menyakitkan itu di perlakukan seperti pembantu oleh bunda. Belum lagi setiap hari Ry harus mendapatkan kata-kata kasar yang melukai hati Ry. Kata-kata kasar yang selalu di lontarkan oleh bunda Kevin itu begitu melukai Ry. Beruntung Ry masih bisa bersikap sabar kepada bunda Kevin.


Tidak hanya kata-kata kasar yang Ry sering di lontarkan bunda Kevin terhadap Ry. Bunda Kevin juga akan marah walaupun Ry sudah melakukan semua perkerjaan rumah. Dimata bunda Kevin itu Ry akan selalu salah apapun yang Ry lakukan maka Ry akan tetap salah di mata bunda Kevin.


Ry tahu bahwa bunda Kevin tidak bisa menerima Ry sebagai menantunya. Bunda Kevin inginkan. menantu yang memiliki pangkat atau pekerjaan yang bagus. Bukan seperti Ry yang hanya seorang calon mahasiswi. Bunda Kevin juga pasti berpikir kalau Ry akan menjadi beban Kevin.


Bunda Kevin pasti berpikir biaya kuliah Ry akan di biaya oleh Kevin. Padahal itu tidak benar biaya kuliah Ry gratis karena Ry mendapatkan biaya siswa.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2