
"Jangan jadikan puasa untuk bermalas-malasan, tetap semangat menjalankan rutinitas sehari-hari."
Malam harinya setelah selesai melaksanakan shalat magrib berjamaah Kevin dan Ry berjalan bersamaan menuju ke arah dapur. Kevin dan Ry sudah berada di dapur, Kevin menarik kursi lalu dia mendudukkan pantatnya di atas kursi tersebut.
Sedangkan Ry berjalan ke arah piring mengambil peralatan makan. Ry meletakkan peralatan makan di atas meja makan. Ry memasukkan nasi ke dalam piring yang berada di tangan.
"Mase mau berapa telur nya?" tanya Ry.
"Aku gak mau telur," Kevin menggelengkan kepalanya.
"Lah, terus mase mau makan pakai apa?" Ry bingung dengan Kevin, Kevin yang memasak balado telur tapi dia tidak mau makan pakai telur.
"Aku mau makan kamu." Kevin berbicara sambil menatap Ry dengan wajah mensumnya.
"Emang mase itu Sumanto ya?"tanya Ry.
" Hah, apa kamu pikir aku kayak Sumanto si manusia kanibal itu?" tanya Kevin.
"Iya, soalnya tadi mase bilang mau makan Ry. Maka nya Ry pikir mase itu kayak Sumanto si manusia kanibal." Ry menatap Kevin dengan bergidik ngeri karena membayangkan Kevin seperti Sumanto yang membunuh Ry lalu setelah itu Kevin akan memakan daging Ry.
"Ah maksud aku bukan seperti itu." Kevin menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan pemikiran Ry seperti itu.
"Terus maksud mase makan Ry itu gimana?" tanya Ry.
"Ah gak usah di bahas kamu juga gak bakal ngerti. " Kevin menguyur rambutnya kebelakang .
"Jadi mase mau makan pakai apa?" tanya Ry.
Saat Kevin akan menjawab pertanyaan Ry tiba-tiba terdengar suara bunyi ponsel. Kevin yang mendengar suara ponsel berbunyi dia segera berjalan ke arah kamarnya. Saat Kevin sudah tiba di dalam kamarnya suara ponsel tersebut mati.
Kevin mengambil ponsel yang berada di atas tempat tidur. Kevin melihat ponsel ternyata ada panggil tak terjawab dari nomor Asa.Tiba-tiba ponsel Kevin berbunyi lagi lalu Kevin melihat panggil telpon dari Asa.
"Halo, Sa." Kevin mengangkat panggil telpon dari Asa.
__ADS_1
"Halo, juga Vin. Kamu pasti belum makan, gimana kalau kita makan malam di warung Anto?" Asa mengajak Kevin untuk makan malam di warung langganan mereka.
"Maaf aku gak bisa." Kevin langsung menolak ajakan Asa.
"Kenapa gak bisa?" tanya Asa.
"Aku lagi sibuk Sa," jawab Kevin.
"Sibuk apa?" tanya Asa.
"Ada lah, kamu gak perlu tahu. Ingat Sa kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi." Walaupun dengan berat hati akhirnya Kevin berbicara dengan tegas kepada Asa. Kevin mempertegas bahwa hubungan mereka sudah berakhir.
"Kamu jahat, habis manis sepah di buang." Asa merasa sakit hati mendengar ucapan Kevin, Asa masih belum menerima keputusan Kevin yang sudah memutuskan dirinya.
"Apa maksud ucapan kamu?" Kevin yang tidak suka mendengar ucapan dari Asa, Kevin bertanya dengan suara yang lantang kepada Asa.
"Kamu tega mutusin aku begitu aja setelah 6 tahun yang kita lalu bersama. Bahkan selama itu aku selalu ada di saat suka dan duka mu. Bahkan di saat kamu sedang mengalami keterpurukan karena kehilangan ayah akulah satu-satunya orang yang terus menyemangati kamu. Aku juga orang yang selalu memberikan suport kepada kamu, agar kamu bisa meraih mimpi menjadi seorang polisi. Sekarang setelah kamu berhasil menjadi seorang polisi lalu kamupun mencampakkan aku. Kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi maka nya kamu mencampakan aku seperti ini." Asa yang mengungkit semua yang telah dia lakukan selama 6 tahun bersama Kevin. Asa menginginkan Kevin sadar bahwa dia telah banyak berhutang budi kepada Asa.
"Asal kamu tahu, hanya demi bisa bersama kamu kembali aku sampai rela berpindah keyakinan. Padahal cukup berat bagi aku untuk berpindah keyakinan dengan keyakinan yang sudah aku anut sejak aku lahir."
"Dengarkan aku baik-baik, aku tidak pernah meminta kamu untuk berpindah agama. Kamu sendiri yang memutuskan untuk berpindah agama. Aku tidak suka kamu menjadikan aku sebagai alasan kamu menjadi mualaf," kata Kevin.
"Aku memutuskan kamu saat itu karena aku sadar kalau kita itu seperti bumi dan langit yang mustahil untuk bisa bersama karena perbedaan keyakinan itu." Kevin berbicara dengan tegas kepada Asa.
"Tapi sekarang aku sudah menjadi mualaf, maka tidak ada alasan lagi untuk kamu tidak bisa bersama aku," kata Asa.
"Aku tahu kamu sudah menjadi mualaf, tapi aku sudah mantap dengan keputusan untuk tetap putus dengan kamu," kata Kevin.
"Apa emang kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Asa.
"Aku masih mencinta kamu, tapi aku_____," jawab Kevin.
"Tapi apa?" tanya Asa.
__ADS_1
"Aku lebih mencintai Allah," jawab Kevin.
"Lah, terus apa hubungannya?" Asa yang belum mengerti maksud dari ucapan Kevin.
"Sekarang aku tanya, apa setelah menjadi mualaf kamu mempelajari ilmu agama Islam?" tanya Kevin.
"Gak, kenapa emangnya?" tanya Asa.
"Seharusnya kamu mempelajari ilmu agama Islam, supaya kamu mengerti dengan agama yang baru saja kamu anut." Kevin menasehati Asa untuk mempelajari ilmu agama islam.
"Baiklah aku akan mempelajari ilmu agama Islam, tapi aku mau kamu yang ngajarin aku. Bagaimana?" tanya Asa.
"Maaf aku gak bisa, kamu kalau mau belajar itu sama pak ustadz buka aku." Kevin menolak permintaan Asa untuk mengajarinya tentang ilmu agama Islam.
"Tapi aku gak ada kenalan pak ustadz, maka nya kamu aja yang ngajarin aku belajar ilmu agama islam," kata Asa.
"Kamu belajar aja ama pak ustadz yang kemarin bantu kamu jadi mualaf," kata Kevin.
"Ke jauhan kalau aku ke sana, maka nya kamu aja yang ngajarin aku," kata Asa.
"Aku gak bisa, Sa udah dulu ya." Setelah mengatakan itu Kevin mematikan panggil telponnya. Kevin menonaktifkan ponselnya.
Setelah selesai makan malam Ry menangkat semua peralatan makan yang kotor. Ry membawa semuanya ke westafel. Setelah itu Ry mencuci peralatan makan yang kotor tersebut. Kevin yang sedang duduk di kursi sambil melihat ke arah Ry yang sedang mencuci peralatan makan.
Kevin merasa risih saat melihat rambut Ry yang terurai. Kevin berdiri dari kursi lalu dia sudah berdiri di belakang Ry.
"Mase mau ngapain?" Ry merasakan rambutnya di pegang oleh Kevin.
"Nah kan kayak gini jadi lebih cantik." Kevin menyisir rambut Ry dengan menggunakan jari-jarinya setelah itu Kevin menyepol rambut Ry.
"Terimakasih mase." Ry merasa senang karena Kevin memuji dirinya.
"Sini aku bantu nyuci piring nya." Kevin memajukan langkah kakinya. Sehingga sekarang dia sedang berdiri di belakang Ry. Kevin semakin menempel badannya di tubuh Ry. Kevin menundukkan kepala sehingga bersandar di bahu Ry. Sambil tangan Kevin memegang piring yang berada di tangan Ry.
__ADS_1
"Gak usah mase, mendingan mase duduk aja di kursi." Ry merasa risih dengan posisi Kevin yang menempel pada tubuhnya.
...~ Bersambung ~...