
"Setelah Ry pikir-pikir mungkin menang bukan salah dirinya, tapi ekspetasi Ry terlalu tinggi, berharap lebih, yang berujung sangat pedih."
"Vin, kesini kok nggak ngajak aku sih." Seorang pria yang sudah berdiri di belakang Ry.
"Eh, ternyata kamu di sini juga."Kevin terkejut saat melihat pria yang sedang berdiri di hadapan nya.
"Iya." Si pria tersebut berjalan ke arah bangku Kevin, dia sudah berdiri di samping Kevin.
"Kamu." Ry melihat ke arah Pria yang berdiri di samping Kevin.
"Kamu." Si pria tersebut menoleh ke arah sumber suara tersebut, betapa terkejutnya dia saat melihat wanita yang sedang duduk di bangku yang berhadapan dengan Kevin tersebut ialah wanita yang pernah memelintir tangannya.
"Apa kalian berdua sudah saling kenal?" Kevin yang melirik ke arah Ry dan Arlan secara bergantian.
"Tidak," kata Arlan dan Ry setentak.
"Tunggu dulu, kamu kenal ama perempuan itu Vin?" Arlan duduk di bangku yang sama dengan Kevin.
"Kenal," jawab Kevin.
"Vin, jangan bilang kalau perempuan ini pacar kamu," kata Arlan.
"Dia bukan pacar aku," kata Kevin.
"Syukur lah kalau dia bukan pacar kamu, terus kenapa kamu bisa kenal dengan dia?" Arlan penasaran dengan Kevin yang kenal ama Ry.
"Waktu itu dia main kerumah Milah lalu kami pun berkenalan," kata Kevin.
"Kok bisa dia main kerumah mbah Milah?" tanya Arlan.
"Aku sama dia itu masih punya hubungan kekerabatan," jawab Kevin.
"Hubungan kekerabatan bagaimana?" tanya Arlan.
"Om aku nikah ama bibi dia," jawab Ry.
"Oo... begitu. Vin, apa kamu gak mau ngenalin aku ama dia?"tanya Arlan.
"Kamu kenalan dulu ama teman aku." Kevin menyuruh Ry untuk berkenalan dengan Arlan teman dari Kevin.
"Gak mau, lagian gak ada untungnya aku kenalan ama dia." Ry langsung menolak berkenalan dengan Arlan.
"Kamu jangan ngomong seperti itu," kata Kevin.
"Perkenalkan nama aku Arlan, nama kamu siapa?" Arlan mengulurkan tangannya ke arah Ry.
"Gak nanya tuh dan gak mau tahu juga nama kamu." Ry berbicara dengan nada ketus kepada Arlan.
"Maafin dia ya Arlan, nama dia Mentary."Kevin yang merasa tidak enak dengan sikap Ry meminta maaf setelah itu Kevin memberitahukan nama Ry kepada Arlan.
Dua Minggu Kemudian........
__ADS_1
Malam harinya Kevin dan Ry sudah berada di depan rumah bibi Kevin.
Tok............ Tok.
"Assalamu'alaikum." Ry mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam, eh ternyata mbak Ry." Seorang cewek yang berumur 8 tahun membuka pintu rumah, dia adek sepupu Ry yang bernama Ulfa.
"Om dan Bibi, apa ada di rumah tanya?" tanya Ry.
"Mama dan papa lagi pergi mbak, mbak kini dengan siapa?" Ulfa yang melihat ke sekeliling arah halaman rumah untuk mencari tahu Ry datang bersama siapa.
"Assalamu'alaikum dek." Kevin yang berjalan ke arah rumah bibi.
"Walaikumsalam mas." Ulfa yang melihat Kevin berjalan ke arah rumahnya, dia segera berlari ke arah Kevin.
"Jangan lari- lari adek." Kevin yang melihat Ulfa berlari ke arah memperingati Ulfa untuk tidak berlari soalnya Kevin takut Ulfa jatuh.
"Adek kangen ama mas." Ulfa yang sudah berada di hadapan Kevin segera memeluk badan Kevin.
"Maafin mas baru sempat main ke sini." Kevin membalas pelukan Ulfa.
"Aku gak mau maafin mas." Ulfa melepaskan pelukan, wajahnya berubah menjadi cemberut.
"Lah, kok adek Mas yang cantik ini begitu." Kevin yang menundukkan kepalanya melihat Ulfa yang wajahnya lagi cemberut terlihat lucu.
"Abis Mas jahat udah gak sayang lagi ama adek," kata Ulfa.
"Bohong, buktinya Mas udah jarang menemui adek," kata Ulfa.
"Mas sibuk kerja cari uang yang banyak buat Tary," kata Kevin.
"Kok Mas cari uang banyak buat mbak Ry?" Ulfa yang masih bingung dengan perkataan Kevin.
"Kan Mbak Ry udah jadi istri Mas sekarang," jawab Kevin.
"Ckckck, kok bawak-bawak Ry sih Mase." Ry tidak suka Kevin membawa-bawa namanya.
"Jadi Mas dan Mbak udah menikah." Ulfa menarik tangan Kevin lalu dia berjalan sambil mengandeng tangan Kevin. Saat Ulfa sudah sampai di dekat Ry lalu dia mengandeng tangan Ry. Sehingga mereka berjalan sambil bergandengan tangan bertiga.
Kevin dan Ry duduk di sofa yang berada di ruangan tamu bersama Ulfa. Mereka sedang membujuk Ulfa yang dari tadi masih merajuk dengan Kevin.
"Gimana kalau kita beli es krim?" tanya Kevin.
"Aku mau tapi_____," jawab Ulfa.
"Tapi apa dek?" tanya Kevin.
"Aku maunya pergi ama mbak Ry," jawab Ulfa.
"Ya udah kita pergi beli es krim bertiga, tapi kita pamit dulu ama mbah," kata Kevin.
__ADS_1
Mereka sudah berada di depan indomaret, Ulfa berjalan sambil mengandeng tangan Ry dan Kevin. Saat mereka sudah berada di depan pintu indomaret ponsel Kevin berbunyi. Kevin mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu dia melihat panggil telpon.
"Kamu sama Ulfa masuk duluan, aku mau angkat telpon dulu." Kevin melepaskan gandeng tangan Ulfa dari tangan, lalu dia pergi berjalan menjauh dari Ry dan Ulfa.
"Ayo kita masuk!" Ry mengajak Ulfa untuk masuk ke pintu indomaret.
"Baiklah mbak." Ulfa berjalan sambil mengandeng tangan Ry berjalan masuk ke dalam indomaret.
"Adek mau beli apa?" Ry dan Ulfa sudah berada di dalam indomaret.
"Ayo mbak ikut adek!" Ulfa menarik tangan untuk berjalan ke arah rak-rak yang berisi snack.
"Iya, adek pilih aja mau snack yang mana?" tanya Ry.
"Kalau coklat dan permen, boleh mbak?" tanya Ulfa.
"Boleh, tapi jangan banyak-banyak," jawab Ry.
"Hore, aku boleh beli coklat dan permen." Ulfa tampak gembira karena Ry memperbolehkan dia membeli coklat dan permen.
"Ambil saja coklat dan permen yang adek mau."Ry menyuruh Ulfa untuk mengambil coklat dan permen yang dia mau.
"Aduh adek bingung mau ngambil coklat yang mana?" Ulfa yang sudah berada di depan rak-rak coklat, dia terlihat bingung mau memili coklat yang mana.
"Ambil aja yang adek suka," kata Ry.
"Adek suka semua mbak, boleh adek ambil semuanya?" Ulfa menatap Ry dengan tatapan berbinar berharap Ry memperbolehkan dia mengambil semua coklat.
"Kalau adek ambil semua coklat itu maka adek gak boleh beli permen dan es krim lagi, bagaimana adek?" tanya Ry.
"Adek ambil satu aja." Mendengar hal itu Ulfa memutuskan untuk mengambil sebungkus coklat saja.
Ulfa Dan Ry sudah ada di lemari pendingin untuk mengambil es krim.
"Adek mau es krim yang mana?" tanya Ry.
"Adek bingung mau beli es krim yang mana," jawab Ulfa.
"Adek sukanya rasa apa?" tanya Ry.
"Coklat," jawab Ulfa.
"Adek ambil aja rasa coklat." Ry memberikan saran kepada Ulfa untuk mengambil rasa coklat.
"Tidak mau, mbak ambil kan adek es krim rasa oreo." Ulfa meminta Ry mengambilkan es krim corneto rasa oreo.
"Nih mbak ambilkan buat adek." Ry mengambilkan es krim corneto rasa oreo dari lemari pendingin. Ry memberikan es krim corneto rasa oreo kepada Ulfa.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1