Ry Benci PakPol

Ry Benci PakPol
Mama


__ADS_3

"Hidup itu perjalanan bukan pelarian gak usah di kejar, rezeki sudah tertakar dan jodoh udah pasti tidak tertukar."


"Apa calon menantu papi mau maafkan mereka?"papi yang menoleh ke arah Ry.


"Allah saja maha pemaaf, lantas tidak ada alasan untuk Ry tidak memaafkan kalian. Kalian tidak perlu berlutut seperti ini Ry sudah memaafkan kalian tapi jangan di ulangi lagi. Mari berdiri, tidak sepantasnya kalian berlutut kepada Ry." Ry menyuruh mereka berdiri lalu Ry membatu si resepsionis untuk berdiri.


"Terimakasih nona sudah mau memaafkan kami. Kami berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi terhadap nona."Mereka sudah berdiri lalu berbicara dengan wajah yang menyesal kepada Ry.


"Sama-sama." Ry tersenyum melihat ke arah mereka.


"Mari papi antar keruangan Bie." Papi yang berjalan terlebih dahulu ke arah lift.


"Kalau begitu Ry permisi dulu." Ry berpamitan kepada mereka lalu dia segera berjalan menyusul papi yang sudah berada di dekat lift.


Ting...... Tong


Pintu lift terbuka papi berjalan keluar dari lift di susul oleh Ry yang berjalan di belakang nya.


"Ini ruangan Bie." Papi sudah berdiri di depan pintu ruangan Bie, papi sengaja mengantarkan Ry di depan pintu ruangan Bie.


"Terimakasih papi repot-repot ngantar Ry kedepan pintu ruangan Bie." Ry sudah berdiri di samping papi.


"Tidak merepotkan lagian papi juga mau kembali ke ruangan papi karena masih banyak pekerjaan yang belum papi selesaikan. Papi pamit dulu ya Mentary, kalau Bie nakal jangan sungkan buat menghajar dia." Setelah mengatakan itu papi berjalan pergi meninggalkan Ry.


Tok.......... Tok


"Assalamu'alaikum." Ry berdiri di depan pintu ruangan Bie sambil mengetuk pintu.


"Walaikumsalam, masuk aja."


"Abang Bie.." Ry membuka pintu ruangan kantor Bie, Ry berjalan masuk kedalam ruangan tersebut. Saat Ry sudah berada di dalam ruangan tersebut Ry sudah berdiri di depan meja kerja bie.Dia melihat Bie yang sedang sibuk melihat ke arah laptop yang berada di atas meja.


"Maaf kalau kedatangan Ry menganggu abang Bie." Ry yang merasa di abaikan oleh Bie berbalik badan, Ry hendak melangkah ke arah pintu ruangan tersebut.


"Dedek gak ganggu abang sama sekali." Bie segera mengangkat wajah melihat Ry yang sudah berbarik badan, Bie segera berdiri dari tempat duduknya.


"Maafin abang ya dedek." Bie menghampiri Ry, dia sudah berada di belakang Ry lalu dia memeluk tubuh Ry dari belakang. Bie meletakan kepalanya di bahu Ry.


"Iya Ry maafin abang." Ry mencoba melepaskan pelukan Bie.


"Abang kangen jadi biarkan seperti ini." Bie sengaja membenamkan wajahnya di ceruk leher Ry, Bie menghirup aroma wangi parfum Ry.

__ADS_1


"Sama Ry juga kangen sama abang, tapi kenapa abang gak datang kerumah Ry?"


"Maaf abang belum sempat kesana masih sibuk kerja." Bie melepaskan pelukan lalu dia membalikkan badan Ry sehingga posisi Ry dan Bie sudah berdiri berhadapan. Bie memegang tangan Ry, dia mengecup punggung tangan Ry.


Cup


"Iya Ry ngerti abang sibuk kerja." Ry merasa tersipu malu saat Bie mengecup punggung tangannya.


"Terimakasih dedek udah ngerti abang, dedek kenapa bisa ada di sini?" Bie menggandeng tangan Ry untuk duduk di sofa.


"Ry tadi ngambil ijazah setelah itu Ry kesini mau ngasih kejutan buat abang."


"Silahkan duduk dulu, dedek udah makan?" Bie duduk di sofa yang panjang lalu dia menarik tangan Ry agar duduk di sofa yang sama dengan Ry.


"Udah, kalau abang udah makan?" Ry duduk di samping Bie.


"Belum." Bie mengelengkan kepala nya.


"Kenapa abang belum makan?"


"Masih sibuk memeriksa laporan, abang ambil laptop dulu ya. Abang mau lanjut periksa laporan. " Setelah berbicara Bie melepaskan tangannya dari Ry lalu dia berdiri dari sofa, Bie berjalan ke arah meja kerjanya.


Bie sudah kembali duduk di sofa yang sama dengan Ry. Bie sibuk memandangi laptop yang berada di dalam pangkuannya.


"Abang juga maunya mandangin wajah dedek, dari bangun tidur sampai mau tidur tapi kan belum bisa jadi harus sabar." Bie berbicara tanpa menoleh ke arah Ry.


Ceklek........... Ceklek


"Bie ini pesanan nya." Setelah pintu ruangan Bie terbuka masuklah seorang laki-laki yang seumuran Bie, dia bernama Junlio yaitu sahabat Bie dari di kampus sampai sekarang. Dia bekerja sebagai asisten dan sekertaris Bie, Bie yang tidak menginginkan sekertaris seorang perempuan selain itu dia lebih percaya dengan Jun maka dia menjadikan Jun sebagai asisten dan sekertaris.


"Bawa aja ke sini."


"Eh ada Ry." Jun segera menghampiri Bie dan Ry yang berada di sofa. Jun duduk di sofa yang berada di hadapan Bie dan Ry.


"Hai, kak Jun. Apa kabar?"


"Hai juga, baik.Ry kok makin cantik aja." Jun menatap wajahRy yang terlihat makin cantik.


"Siapa yang nyuruh kamu duduk di situ? sana kembali bekerja." Bie melirik sekilas ke arah Jun yang sudah duduk di sofa yang berada di hadapan nya. Bie merasa cemburu mendengar Jun memuji calon istrinya.


"Ckckckck galak banget sih, Ry kok mau sih tunangan sama bos galak kayak dia?"

__ADS_1


"Sekarang kamu kembali bekerja atau gaji kamu saya potong 50%." Bie berbicara dengan suara yang lantang.


"Iya Pak bos saya kembali bekerja, makanan jangan lupa di makan. Ry kak pamit dulu ya mau balik kerja." Jun berdiri dari sofa lalu dia berjalan pergi meninggalkan ruangan Bie.


"Dedek suapin abang." Bie meminta Ry menyuapi dia.



"Aaaaak." Ry membuka makanan yang dibawa Jun lalu Ry menyuapi Bie.


"Nyam nyam." Bie membuka mulutnya setelah makanan yang Ry suap berada dalam mulutnya, dia mengunyah makanan tersebut.


Dua minggu kemudian Ry sedang berada di sebuah mall yang berada di kota D. Ry membawa sebuah keranjang yang berwarna biru di tangannya, Ry sedang berjalan sambil melihat rak-rak yang berada di mall tersebut. Ry sedang berjalan ke arah rak-rak snack, Ry sudah sampai di rak-rak snack.



Ry mengambil sebungkus snack yang berwarna hijau yang terbuat dari kentang. Ry masukan sebungkus snack kentang tersebut kedalam ke ranjang. Setelah itu Ry berbarik ke rak yang berada di sebelah nya.


Hiks Hiks Hiks


Ry mendengar suara tangis seorang lalu Ry menoleh ke kanan ke kiri untuk mencari tahu sumber suara tersebut. Ry melihat seorang anak balita sedang duduk di pojokan rak sambil menangis Ry menghampiri anak balita tersebut.


"Cup cup jangan nangis sayang." Ry berjongkok di hadapan si balita tersebut lalu Ry mengelus kepala si balita yang memakai jilbab.



"Hiks hiks hiks, mama." Si balita tersebut mengangkat wajahnya lalu dia melihat wajah Ry. Si balita tersebut langsung menghambur pelukan kepada Ry.


"Sudah jangan nangis ya sayang di sini ada tante Ry." Ry membalas pelukan si balita tersebut sambil mengelus punggung si balita tersebut.


Hiks hiks hiks


"Sudah sudah jangan nangis. Ayo kita beli es krim." Ry mengendong si balita tersebut lalu dia membujuk si balita tersebut untuk membeli es krim.


"Mau mau es krim mama." Si balita tersebut berhenti menangis.


"Anak pintar."


Ry sudah berjalan sambil mengendong balita tersebut.


"Tary."

__ADS_1


Terdengar suara bariton seorang yang memanggil nama Tary.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2