Ry Benci PakPol

Ry Benci PakPol
Noda Merah


__ADS_3

"Ry unik, Ry spesial, Ry sederhana dan aku beruntung bisa memilikinya."


"Awww sakit." Ry meringis kesakitan.


"Hei, aku belum ngapain-ngapain kamu. Tapi kok kamu udah ke sakitan." Kevin bangun dari tidur lalu dia turun dari tempat tidurnya. Kevin berjalan ke arah skalar lampu kamarnya. Kevin menekan tombol skalar lampu yang berada dinding.


Lampu kamar menyala sehingga kamar terlihat terang. Kevin melihat ke arah Ry berbaring di atas tempat tidur sambil meringis ke sakitan.


"Kamu kenapa?" Kevin segera menghampiri Ry, wajah Kevin terlihat cemas melihat Ry yang meringis ke sakitan.


"Awww sakit." Ry memegang perutnya yang terasa begitu sakit.


"Perut kamu kenapa bisa sakit?" Kevin naik ke atas tempat tidur, dia sesudah berada di samping Ry.


"Aduh gak usah banyak tanya, sekarang cepatan belikan aku obat sakit perut ke apotik." Ry merasa kesal terhadap Kevin yang malah bertanya penyebab Ry sakit perut, padahal yang Ry perlu sekarang itu obat.


"Apa nama obat sakit perutnya?" Kevin yang tidak tega melihat Ry sedang meringis ke sakitan sambil memegang.


Kevin mengendarai motornya di jalan raya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari apotek yang masih buka. Akhirnya Kevin melihat apotek yang masih buka tetapi apotek itu berlawanan arah dengan posisi Kevin saat ini. Sehingga Kevin harus membelokan motornya di persimpangan jalan raya.


Kevin sudah sampai di depan apotek tersebut lalu dia memikirkan motornya di depan apotek. Kevin berjalan masuk ke dalam apotek tersebut.


"Selamat malam, mau cari apa abang?" Seorang perempuan yang berdiri di belakang etalase, si perempuan ialah apoteker.


"Saya mau mencari obat sakit perut." Kevin sudah berdiri di hadapan apoteker tersebut hanya di batasi oleh etalase yang berisi obat-obatan.


"Apa merek obat sakit perut yang abang cari?" tanya apoteker tersebut.


"Kiranti dan Charm," jawab Kevin.


"Pasti buat istri abang, wah suami sayang istri." Si apoteker tersebut tersenyum-senyum mendengarkan Kevin menyebut nama kedua itu sebagai obat sakit perut.


"Kok kamu tahu itu buat istri saya?" Kevin keningnya berkerut saat mendengar perkataan si apoteker tersebut yang mengetahui bahwa obat yang dia beli untuk istrinya.

__ADS_1


"Charm mau yang pakai sayap atau tidak?" tanya si apoteker.


"Pakai sayap atau tidak?" Kevin bingung dengan pertanyaan apoteker tersebut, Kevin juga makin penasaran dengan bentuk obat sakit perut yang punya dua pilihan ada yang pakai sayap dan ada yang tidak pakai sayap.


"Istri abang mau yang mana?" tanya si apoteker.


"Dia tadi tidak bilang mau sayap atau tidak syap." Kevin yang masih kebingungan mengenai pakai sayap dan tidak pakai sayap.


"Jadi abang mau beli yang pakai sayap atau tidak pakai sayap?" tanya si apoteker tersebut.


"Aku beli keduanya, dari pada natik dia suruh aku balik ke sini lagi," jawab Kevin.


"Ya sudah kalau gitu saya ambil dulu." Apoteker tersebut berjalan meninggalkan tempat tersebut, dia sudah berada di rak mengambil 2 bungkus charm. Dia mengambil cham yang ada sayapnya dan charm tidak ada sayapnya. Si apoteker tersebut meletakan 2 bungkus charm di atas meja kasirnya.


"Kiranti mau berapa botol?" tanya si apoteker tersebut.


"12 buah," jawab Kevin.


"Gak, kenapa emangnya?" tanya Kevin.


"Biasanya minum satu botol aja udah sembuh, jadi aku sarankan abang beli satu botol aja dari pada natik mubazir kalau beli sampai 1 lusin." Si apokter memberikan saran kepada Kevin untuk membeli satu botol Kiranti saja.


"Kalau gitu aku beli 3 botol saja," jawab Kevin.


Setelah membayar semuanya Kevin berjalan sambil membawa kantong plastik yang berukuran sedang. Kevin mengendarai motornya ke arah jalan menuju rumah mbah Millah. Kevin sudah sampai di depan rumah mbah Millah.


Tok....... Tok


"Assalamu'alaikum." Kevin yang sudah berdiri di depan pintu rumah mbah Millah, dia mengetuk pintu rumah mbah Millah.


"Walaikumsalam, Mase obatnya mana?" Ry yang dari tadi sudah menunggu kedatangan Kevin, mendengar suara Kevin maka Ry segera membuka pintu rumah mbah Millah.


"Ini obatnya." Kevin mengulurkan kantong plastik kepada Ry.

__ADS_1


"Iya Mase." Ry segera mengambil kantong plastik dari tangan Kevin, setelah itu Ry membalikkan badan hendak berjalan meninggalkan ruangan tamu rumah mbah Millah.


"Tunggu dulu." Kevin yang melihat ada noda merah di celana yang Ry pakai.


"Ada apa lagi Mase?" Ry membalikkan badan menoleh ke arah Kevin.


"Itu di celana kamu ada noda merah, itu noda apa?" tanya Kevin.


"Apa? di celana Ry ada noda merah." Ry terkejut mendengar perkataan Kevin bahwa ada noda merah di celana Ry,


"Iya, itu noda apa?" tanya Kevin.


Seteleh mendengar perkataan Kevin Ry segera berlari meninggalkan Kevin yang masih berdiri di depan pintu rumah Mbah Millah. Kevin bingung melihat sikap Ry yang tiba-tiba saja lari. Kevin memasukkan motornya kedalam rumah mbah Millah. Setelah itu Kevin menutup dan mengunci pintu rumah mbah Millah.


Ry berlari dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat, Ry merasa malu dengan Kevin yang melihat noda merah di celana Ry. Ry segera masuk ke dalam kamar Ry berjalan ke arah lemari pakaian. Ry membuka lemari pakaian lalu Ry mengambil celana dan dalaman. Ry berjalan keluar sambil membawa celana dan dalaman.


Saat Ry mau berjalan keluar dari kamar Kevin sudah ada di depan pintu kamar sambil melihat Ry yang sedang memegan celana dan dalaman di tangan kanan sedangkan di tangan Ry yang sebelah kiri memegang kantong plastik yang Kevin berikan.


"Kamu mau kemana?" tanya Kevin.


"Ke kamar mandi," jawab Ry.


"Kamu mau ngapain ke kamar mandi?" tanya Kevin.


"Aku mau ganti celana yang kena noda merah." Ry berbicara sambil menundukkan kepalanya, dia tidak berani melihat wajah Kevin. Ry malu kalau bisa dia ingin sekali menghilang dari muka bumi karena Kevin melihat noda darah di celana Ry.


"Kamu gak perlu ganti celana cuma noda darah aja, mendingan sekarang kamu minum obat." Kevin memegang tangan Ry, Kevin berjalan sambil megang tangan Ry. Kevin membawa Ry masuk ke dalam kamarnya.


"Mase biarkan aku ganti celana dulu nantik baru minum obat." Ry mencoba melepaskan tangannya yang di gandeng oleh Kevin.


"Gak, sini plastiknya." Kevin mengambil kantong plastik dari tangan Ry, Kevin membuka kantong plastik tersebut. Dia melihat 3 botol Kiranti dan dua bungkus charm yang berbeda. Sebungkus charm memiliki sayap dan sebungkus lagi tidak memiliki sayap.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2