Ry Benci PakPol

Ry Benci PakPol
Kayak Perangko


__ADS_3

"Ratukan dirimu dengan caramu sendiri, jangan menunggu di jadikan ratu oleh seorang raja. Takutnya nanti yang datang itu raja Fir'aun."


Kevin tidak menghiraukan ucapan Ry, justru Kevin semakin menempel badan ke badan Ry seperti perangko. Kevin melepaskan tangannya yang memegang piring yang sama dengan Ry. Setelah itu Kevin meletakkan tangannya di pinggang Ry sambil memeluk Ry dari belakang.


"Cup." Kevin menoleh ke arah pipi Ry yang terlihat begitu mengemaskan sehingga Kevin pun mengecup pipi Ry.


"Mase kok cium pipi Ry?" Ry yang tiba-tiba saja mendapat kecupan di pipinya dari Kevin, piring yang berada dari tangan Ry pun terlepas.


"Hampir saja jatuh." Kevin menoleh ke arah piring yang berada di tangan Ry. Melihat piring itu terlepas dari tangan Ry dengan spontan Kevin melepaskan tangannya dari pinggang Ry. Kevin segera menangkap piring tersebut sehingga piring tersebut tidak jatuh.


"Untung saja gak jatuh." Ry merasa legah melihat Kevin berhasil menangkap piring tersebut.


"Maka nya kalau nyuci piring itu fokus." Kevin mencuci piring yang berada di tangannya.


"Lagian Ry salfok juga gara-gara mase," kata Ry.


"Lah, kok gara-gara aku sih?" Kevin sudah selesai mencuci piring mengunakan sabun lalu Kevin membilas piring tersebut mengunakan air kran. Setelah piring tersebut bersih Kevin meletakkan piring tersebut ke dalam baskom berukuran sedang.


"Habis mase main nyosor aja kayak soang kan Ry jadi salfok," jawab Ry.


"Tapi kamu sukakan aku sosor kayak gitu?"Kevin yang bertanya kepada Ry sambil mengoda Ry.


"Gak." Ry menangguk kepalanya.


"Lah katanya gak tapi kok kepala kamu mengangguk sih. Jadi yang benar mana Iya atau Nggak?" Kevin melihat Ry yang ucapan tidak sesuai dengan gerak badannya.


"Iya." Lagi-lagi ucapan Ry berbeda dengan gerakan badan Ry. Badan Ry bergerak menggelengkan kepala sedangkan ucapan Ry itu iya.


"Hahahaha, kamu benar lucu aku jadi gemes lihatnya." Kevin tertawa melihat tingkah Ry lalu Kevin yang melihat itu merasa gemas sehingga Kevin mencubit pipi Ry.


Ry sudah selesai mencuci peralatan makan yang kotor. Kevin menggeser badan sehingga Ry bisa membalikan badannya.


"Mase geser Ry mau lewat." Ry meminta Kevin menggeserkan badannya karena Ry mau berjalan.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Kevin.


"Kamar," jawab Ry.


"Ayo kita ke kamar!" Kevin yang mendengar ucapan Ry langsung saja menjadi bersemangat. Kevin menarik tangan Ry untuk berjalan ke kamar.


Kevin dan Ry berjalan menuju ke arah kamar sambil bergandengan tangan. Ry merasa bahagia berjalan sambil bergandengan tangan dengan Kevin. Mereka sudah berada di dalam kamar, Kevin membaringkan badan Ry di atas tempat tidur.


Kevin juga ikut membaringkan badannya, Kevin berada di atas badan Ry.


"M... ase mau apa?" Ry merasa gugup karena Kevin sudah berada di atas badannya.


"Nantik kamu juga akan tahu." Kevin memajukan wajahnya ke arah wajah Ry, sekarang wajah mereka sudah dekat sehingga mereka bisa merasakan deru nafas satu sama lain saat berada di posisi yang begitu dekat seperti itu.


Kevin memiringkan wajahnya lalu dia memajukan bibirnya agar bisa menempel dengan bibir Ry. Saat bibir mereka akan menempel tiba-tiba saja lampu kamar mati.


"Ah sial kenapa pakai mati lampu segala?" Suasana kamar yang terlihat gelap gulita, sehingga Kevin tidak dapat melanjutkan niatnya untuk mencium Ry. Kevin menjadi kesal lalu tangannya berusaha mencari ponsel yang berada di atas tempat tidur.


Kevin meraba-raba di samping bantal untuk mencari keberadaan ponselnya. Kevin menemukan ponselnya lalu dia segera menyalakan senter pada ponsel tersebut. Sehingga di dalam kamar tersebut ada cahaya, Kevin membaringkan badan di samping Ry.


Tik........... Tik


"Hujan." Kevin yang mendengarkan suara rintikan hujan yang mengenai atap rumahnya.


"Kayak makin deras." Ry mendengar suara hujan yang semakin deras.


"Kalau begini pasti lama listriknya hidup," kata Kevin.


"Terus kita bagaimana?" tanya Ry.


"Kamu aku tinggal sendirian berani kan di sini?" tanya Kevin.


"Berani," jawab Ry.

__ADS_1


-


"Kamu di sini dulu ya." Kevin turun dari atas tempat tidur.


"Emang mase mau kemana?" tanya Ry.


"Aku mau ke dapur dulu cari lilin, semoga aja lilinnya masih ada di lemari dapur." Setelah mengatakan itu Kevin berjalan sambil memegang ponselnya untuk menerangi jalannya menuju ke arah dapur.


Kevin sudah berada di dapur lalu dia membuka lemari yang berada di bawah kompor untuk mencari lilin. Kevin menyenter lemari tersebut lalu dia melihat ke arah dalam lemari tersebut dia menemukan tiga buah lilin. Dia mengambil tiga buah lilin tersebut dari dalam lemari. Setelah itu Kevin menutup lemari tersebut.


Kevin mencari korek untuk menyalahkan lilin tersebut tetapi Kevin tidak menemukan korek akhirnya Kevin mengunakan api dari kompor untuk menyalakan lilin tersebut. Setelah lilin menyala Kevin mematikan senter dari ponselnya. Kevin memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


Kevin berjalan sambil memegang lilin di kedua tangannya. Saat Kevin sedang berjalan ke arah kamar tiba-tiba saja terdengar suara petir yang mengelegar membuat Kevin terkejut. Sementara Ry yang berada dalam kamar mendengar suara petir tersebut merasakan ketakutan lalu Ry segera menarik selimut.


Ry bersembunyi di bawah selimut sangking takutnya mendengar suara petir tersebut. Kevin terus berjalan sambil membawa lilin di kedua tangannya menuju ke arah kamar. Kevin yang sudah berada di dalam kamar berjalan ke arah meja belajar yang berada di kamar tersebut.


Kevin meletakkan lilin tersebut di atas meja belajar tersebut. Setelah lilin tersebut berada di atas meja belajar, cahaya dari lilin tersebut menerangi kamar tersebut.



"Kamu kenapa?" Kevin berjalan ke arah tempat tidur, Kevin yang sudah berada di samping tempat tidur melihat ke arah tempat tidur. Kevin melihat seluruh badan Ry tertutup oleh selimut.


"Ry takut." Ry berbicara dari dalam selimut.


"Kamu gak perlu takut ada aku." Kevin naik ke atas tempat tidur lalu Kevin masuk kedalam selimut tersebut.


Mereka sudah berada dalam selimut yang sama, Kevin yang merasa badan Ry gemetar langsung saja Kevin menghamburkan pelukan pada Ry. Ry yang mendapatkan pelukan dari Kevin merasa nyaman sehingga berlahan-lahan rasa takut Ry mulai menghilang sehingga badan Ry tidak gemetar lagi.


"Gimana kamu masih takut?" Kevin yang mempererat pelukan nya kepada badan Ry.


"Gak." Ry menggelengkan kepalanya, Ry membalas pelukan Kevin. Sehingga mereka saling berpelukan.


"Syukur lah kalau begitu." Kevin menyibak selimut di bagian kepala. Agar kepala mereka keluar dari selimut.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2