
"Panjang umur buat laki-laki yang mampu bertahan dengan satu perempuan dan tidak ada niatan untuk mendua."
Hari-hari terus saja berganti sehingga tak terasa sudah satu bulan berlalu. Pagi harinya Ry masih tertidur dengan lelap di atas tempat tidur. Terdengar bunyi ponsel yang berdering tetapi Ry tak kunjung bangun juga sehingga bunyi deringan ponsel tersebut berhenti dengan sendirinya.
Beberapa kali ponsel tersebut kembali berdering tetapi Ry belum juga terbangun dari tidurnya.
Tok.......... Tok
"Adek bangun." Mama yang berdiri di depan pintu kamar Ry berteriak membangunkan Ry.
"Bangun sudah siang."
Ry mendengar suara teriakan mama mulai membuka kedua matanya secara berlahan-lahan. Ry sudah terbangun dari tidurnya lalu dia turun dari tempat tidurnya. Ry sudah berada di depan pintu kamar lalu dia membuka pintu kamarnya.
"Akhirnya adek bangun juga."
"Mama pagi-pagi kenapa udah bangunin Ry?"
"Mama mau minta anterin adek ke pasar. Sekarang adek mandi dulu mama tunggu di ruangan tamu." Mama menyuruh Ry untuk mandi.
Mereka sudah sampai di pasar, Ry memakirkan motornya di parkir pasar. Setelah itu mama dan Ry berjalan masuk ke dalam pasar Ry menggandeng lengan mama.
"Mama mau beli apa kepasar?"
"Mau beli bahan bakal baju."
"Buat apa mama?"
"Buat baju seragam untuk acara resepsi pernikahan adek."
"Berarti sekarang kita langsung ke toko tekstil."
"Iya dek."
Mereka sudah keluar masuk beberapa toko tekstil untuk mencari bahan bakal baju yang harga terjangkau dan bahan nyaman di pakai tetapi mereka belum juga menemukan nya.
"Mama mendingan beli yang udah jadi aja lah." Ry memberikan usul kepada mama untuk membeli baju yang sudah jadi saja.
"Iya juga ya, kenapa adek gak dari tadi ngasih ide?"
"Ry baru kepikiran sekarang mama."
Mereka keluar dari toko pakaian dengan sebuah kantong plastik besar berada di tangan Ry.
"Mama mau beli apa lagi?"
"Mama mau belanja cabe dan bawang dulu."
"Kalau gitu Ry tunggu mama di parkiran motor."
__ADS_1
Ry sudah tiba di parkiran motor lalu dia meletakkan kantong plastik berukuran besar di atas motornya.
Copet........ Copet
Ry mendengar suara teriakan seorang wanita, Ry melihat seorang laki-laki berlari di depannya. Ry segera mengerja si laki-laki tersebut. Ry merasa yakin bahwa si laki-laki tersebut merupakan copet.
"Hei tunggu."
Si laki-laki tersebut terus berlari tanpa memperdulikan Ry. Ry berlari ke arah lain agar bisa menyusul si laki-laki itu.
"Mau kemana kamu?" Ry sudah berdiri di hadapan si laki-laki tersebut.
"Minggir kamu." Si laki-laki berhenti berlari dia sudah berdiri di hadapan Ry.
"Kesiniin dulu dompet ibuk tadi yang kamu copet itu." Ry mengulurkan tangan kepada si laki-laki pe copet.
"Kalau mau ambil sendiri." Si laki-laki pe copet menantang Ry.
Bough.......... Bough
Ry tidak segan-segan melayang kan pukulan dan tendang kepada si laki-laki tersebut. Si laki-laki tersebut terus menangkis serangan dari Ry. Si laki-laki tersebut membalas dengan menyerang balik Ry tapi serangan dari si laki-laki tersebut berhasil di patahkan oleh Ry sehingga dia terkena tendangan Ry.
"Aduh." Si laki-laki tersebut jatuh tersungkur di atas tanah.
Ry mendekati si laki-laki tersebut lalu dia mengambil dompet yang berada di saku jaket si laki-laki tersebut.
"Ini dia copet di pasar ini." Beberapa orang memegang si laki-laki pecopet tersebut.
"Ini dompet ibuk." Ry memberikan dompet tersebut kepada si ibuk.
"Iya, terimakasih Mentary." Si ibuk mengambil dompet dari tangan Ry lalu dia mengucapkan terimakasih sambil menyebut nama Ry.
"Tante." Ry mengangkat wajahnya lalu dia menatap wajah si ibuk tersebut, mata Ry membulat saat menatap wajah si ibuk tersebut ternyata manta bunda mertuanya.
"Untung saja ada Mentary tadi, kalau tidak pasti uang di dompet bunda di ambil oleh si pencopet itu."
"Coba tante periksa dulu dompet apa uangnya masih utuh."
"Alhamdulillah masih utuh." Bunda membuka dompetnya ternyata uangnya masih utuh.
"Kalau begitu Ry pergi dulu." Ry hendak berjalan pergi.
"Tunggu."
"Apa tante?"
"Bunda minta maaf karena telah menyuruh Kevin menceraikan Mentary." Bunda memegang tangan Ry, dia berbicara dengan wajah yang memelas.
"Ry sudah memaafkan tante sebelum tante meminta maaf."
__ADS_1
"Terima kasih Mentary memang anak yang baik." Bunda Kevin segera memeluk tubuh Ry.
"Sama-sama tante." Ry membalas pelukan bunda Kevin, sebenarnya Ry sudah lama menginginkan pelukan seperti ini dari bunda Kevin saat dia masih berstatus jadi menantu.
"Apakah Mentary mau menikah dengan Kevin? bunda merestui kalian berdua menikah. Bunda ingin Tary kecil memiliki keluarga yang lengkap.
"Maaf tante, dua bulan lagi Ry akan menikah." Ry melepaskan pelukan dari tubuh bunda Kevin.
"Selamat kalau begitu, jangan lupa undangan kirim ke rumah tante." Bunda Kevin merasa sedih saat mengetahui bahwa Ry akan menikah.
Dua bulan kemudian.........
Di sebuah ballroom hotel terbesar di kota D, ballroom tersebut sudah di dekorasi untuk manjadi tempat akat nikah dan resepsi pernikahan Mentary dan Habie. Pagi ini Bie sudah duduk di kursi di depan penghulu untuk melangsungkan akat nikah.
Pintu ballroom terbuka Ry berjalan dengan mengenai baju kebaya berwarna gold senada dengan high heels yang Ry pakai. Ry berjalan bergandengan tangan dengan Tary kecil. Semua orang menoleh ke arah Ry yang sedang berjalan bergandengan tangan.
Kalian berdua perempuan yang paling cantik di hidup aku setelah bunda dan Asa.Cinta tak harus memiliki itu yang saat ini aku lakukan, aku begitu mencintai mu Mentary tapi aku sadar bahwa aku sudah pernah menyakiti kamu sehingga membuat luka di hati kamu. Aku memutuskan tidak masalah kalau aku tidak bisa memiliki kamu yang terpenting aku bisa melihat kamu bahagia itu sudah cukup. Saat ini aku akan mengantarkan kamu pada kebahagiaan kamu yaitu menikah dengan laki-laki yang kamu cintai yaitu Habie *batin Kevin.
Aku tak percaya akhirnya setelah penatian panjang aku dalam memperjuangkan cinta aku kepada gadis yang bernama Mentary akhirnya kami akan segera melangsungkan pernikahan. Aku berterimakasih karena Kevin Adhitama laki-laki yang bodoh itu menyiakan wanita sebaik Mentary sehingga akhirnya aku bisa bersama dengan Mentary batin Habie.
Ry sudah duduk di bangku yang berada di samping Bie. Acara akat nikah mereka pun akan segera di laksanakan. Papa Ry yang akan menikah kan Ry dengan Bie.
"Ananda Habie Aprilio Saputra, aku nikahkan dan kawin engkau dengan putri aku yang bernama Mentary Tri Putri dengan emas kawin logam mulia seberat 50 gram di bayar tunai." Papa mengulurkan tangannya ke arah Bie.
"Aku terima nikah dan kawinnya Mentary Tri putri binti Dikin dengan mas kawin tersebut di bayar _____." Bie menjabat tangan Papa Ry.
Saat Bie hendak mengucapkan kata Tunai tiba-tiba saja terdengar suara.
"Adek bangun, kita sudah sampai." Mama membangunkan Ry yang sedang tertidur dengan posisi duduk di bangku mobil.
"Mama, kenapa kita berada disini? bukankah Ry mau akat nikah." Ry membuka kedua matanya lalu di terkejut saat mendapati dirinya sedang berada di mobil.
"Memangnya kamu mau nikah sama siapa? Sapi atau Kambing."
"Sama abang Habie Aprilio Saputra anak teman papa yang di jodohkan sama Ry lah."
"Hahahaha, kamu pasti bermimpi tadi. Anak teman papa itu tidak ada yang bernama Habie Aprilio Saputra." Mama tertawa mendengar ucapan Ry.
"Jadi semua itu hanya mimpi." Ry merasa tidak percaya dengan semua yang dia alami itu hanya mimpi.
"Ayo cepat keluar dari mobil!" Mama terlebih dahulu keluar dari mobil.
"Iya mama." Dengan lesu Ry pun keluar dari mobilnya.
Saat Ry sudah keluar dari mobil, dia melihat kedua orang tuanya sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang tubuhnya membelakangi Ry. Sehingga Ry hanya bisa melihat punggung si laki-laki tersebut.
__ADS_1
...~ TAMAT ~...