Ry Benci PakPol

Ry Benci PakPol
Sakitnya Tuh Disini


__ADS_3

"Uang lebarannya sudah habis, mari kembali bekerja, sambil sesekali menangis."


"Tante gak salah ngomong tuh Ry menantu durhaka yang ada tante mertua durhaka, tante tega memperlakukan Ry seperti pembantu selama ini." Ry berbicara sambil menatap ke arah bunda yang sudah berdiri di hadapan Ry.


"Hiks hiks hiks, tega kamu bicara seperti itu kepada saya." Bunda tiba-tiba saja menagis tersedu-sedu.


"Apa yang kamu lakukan pada bunda?" Kevin sudah berada di dapur segera berjalan menghampiri Ry dan bunda.


"Vin, dia mengatakan bunda mertua durhaka, selain itu dia menyumpahi bunda meninggal dunia." Bunda menghampiri Kevin sambil menangis.


"Tega sekali kamu mengatakan itu kepada bunda aku." Kevin segera memeluk tubuh bunda, Kevin berbicara sambil menatap Ry dengan tajam.


"Gak kayak gitu mase." Ry menggelengkan kepala mencoba menjelaskan kepada Kevin bahwa yang bunda ucapan itu tidak semuanya benar.


"Mana ada maling ngaku, kalau ngaku sudah penuh penjara Vin." Bunda mencoba memprovokasi keadaan, agar Kevin lebih percaya kepada dia dari pada Ry.


"Yang bunda katakan itu memang benar, Aku tanya sekali lagi apa yang kamu katakan kepada bunda bicara yang jujur?" Kevin berbicara sambil membentak kepada Ry.


"Baiklah Ry akan menceritakan semuanya tapi mase jangan potong dulu cerita Ry. Dengerin semua yang Ry ceritakan sampai selesa." Setelah mengatakan itu Ry menceritakan kepada Kevin bahwa dia ke dapur untuk minum karena haus, saat dia sampai di dapur melihat bunda yang sedang berada di depan kompor. Ry menyapa bunda setelah itu bunda membalikkan badan melihat ke arah Ry. Bunda yang melihat ke Ry berjalan dengan kaki terpincang-pincang lalu dia bertanya kepada Ry kenapa berjalan dengan terpincang-pincang. Ry menjawab bahwa Ry mencium aspal maka bunda menyatakan kenapa Ry tidak meninggal dunia sekalian biar Kevin menjadi sudah lalu bisa menikah dengan Asa. Bunda juga mengatakan bahwa tidak dia tidak akan pernah bisa menerima Ry sebagai mantunya.

__ADS_1


"Bohong, itu tidak benar Vin. Pandai sekali kamu mengarang cerita seperti itu kepada anak aku." Bunda melepaskan peluk lalu dia melihat ke arah Ry dengan tatapan yang tajam dia tidak Terima dengan yang Ry ucapkan kepadanya.


"Ry gak bohong mase, tadi tante ngomong seperti itu kepada Ry." Ry menatap mata Kevin sambil mencoba menyakinkan kepada Kevin bahwa yang semua yang dia ucapkan itu benar.


Kevin bisa melihat dari tatapan mata Ry bahwa semua yang Ry katakan kepada Kevin tersebut benar lalu Kevin menoleh ke arah bunda, bunda menatap Kevin dengan tatapan yang memelas hal itu dia lakukan agar Kevin bersimpati kepada dia.


Kevin terdiam sambil melihat ke arah Ry dan bunda secara bergantian, dia merasa bingung harus mempercayai istri sirih yang sudah mulai di cintai atau bunda yang telah melahirkannya lalu membesarkannya. Kevin berada di dalam dilema dia tidak tahu harus mempercayai ucapan istri sirih yang mulai di cintainya atau bunda yang merupakan cinta pertama bagi anak laki-laki yaitu Kevin.


"Asal kamu tahu Vin, kenapa bunda sampai sakit itu karena ulah dia. Bunda mengerjakan semua pekerjaan rumah dari masak, nyuci piring, nyuci pakaian, nyerterika pakaian, nyapu rumah, berjualan dan belanja. Semua bunda lakukan seorang diri tampak di bantu oleh dia, dia itu cuma tahunya makan, tidur, main ponsel dan tidak mau membantu bekerja rumah. Kalau bunda suruh dia buat mengerjakan pekerjaan rumah maka dia cuma menjawab iya tapi dia tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah sehingga bunda yang mengerjakan semuanya sendiri kadang-kadang Jojo membantu. Dia menganggap bunda itu seperti babu selama ini Vin." Bunda berbicara sambil air matanya terus mengalir membasahi pipinya.


"Itu gak benar mase, setiap hari Ry selalu mengerjakan pekerjaan rumah kecuali masak. Ry gak pernah menanggap tante itu babu, yang ada tante selalu menanggap Ry itu babu bukan menantu." Ry tidak mau kalau sampai Kevin termakan omongan bunda, sehingga dia angkat bicara mengatakan yang sebenarnya.


"Pokoknya ya Ry ucapkan itu benar, mase harus percaya kepada Ry." Setelah mengatakan itu Ry berjalan pergi dengan kaki terpincang-pincang.


"Tidak Vin, semua yang dia katakan itu bohong. Kamu itu anak bunda jadi kamu harus mempercayai ucapan bunda." Bunda masih berusaha menyakinkan Kevin.


"Ah, aku tidak tahu siapa yang harus aku percaya." Kevin terlihat gusar lalu dia menjambak rambutnya.


"Aku ini bunda kamu maka kamu harus percaya dengan bunda." Bunda berbicara dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Ntlah." Setelah mengatakan itu Kevin berjalan pergi meninggalkan bunda yang masih berada di dapur.


Sementara Ry yang sudah berada di atas tempat tidur menangis tersedu-sedu sambil memeluk bantal guling. Sudah badan Ry masih terasa sakit karena di tabrak oleh mobil tapi sekarang hati Ry juga bertambah sakit mendengarkan ucapan bunda yang membalikkan semua fakta.


"Hiks hiks hiks."


"Sebenarnya apa sih salah Ry?"


"Kok nasib Ry seperti ini."


"Mana badan Ry sakit semua karena di tabrak mobil."


"Mana sakitnya tuh disini." Ry memegang bagian dadanya karena merasa sakit mengingat ucapan bunda yang begitu menyakitkan.


"Hiks hiks hiks."


"Mama papa." Ry menangis sambil memanggil kedua orang tuanya.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2