Ry Benci PakPol

Ry Benci PakPol
Nunggak Bayar Kos-Kosan


__ADS_3

"Dipatahkan oleh satu orang lalu berhenti percaya pada semua orang."


"Sudah jangn pelukan belum muhrim." Mami berusaha melepaskan pelukan Bie dengan Ry.


"Ah aku jadi gak sabar nih buat menghalalkan kamu." Pelukan Bie dengan Ry terlepas juga.


"Maka udah lulus kuliah, kerja di perusahaan papi biar bisa cari ngumpulin uang modal buat menghalalkan dia." Papi memegang pundak baju Bie.


"Itu udah pasti Pi, aku pengen cepat lulus kuliah biar bisa kerja buat modal nikah."


"Apakah Mentary ada acara hari ini?" tanya mami.


"Gak ada mami."


"Ah, sejak kapan kamu panggil mami sama mami aku?" Bie yang terkejut saat mendengar Ry memanggil mami nya dengan sebutan mami.


"Sejak tadi di dalam aula, mami menyuruh Mentary memanggil mami. Kan dia calon istri putra kesayangan mami."


"Berarti mami papi sudah di merestui hubungan kita?" Bie menatap ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Di restui gak restui kamu juga bakal ngebet mau nikah sama dia," kata mami.


"Hahahaha, mami tahu aja sih." Bie tertawa lalu memeluk mami nya.


"Sebaiknya sekarang kita pergi dari sini." Papi mengajak mereka pergi dari kampus tersebut.


"Kamu ikut sama kami." Mami memegang lengan Ry lalu Mami menggandeng lengan Ry sambil berjalan. Papi pun ikut berjalan di belakang mami.


"Ah, kok aku di tinggal sih. Kita mau kemana pi?" Bie yang di tinggal sendiri segera berjalan menyusul papinya. Bie sudah berada di samping papi.


"Mau makan siang." Papi yang terus berjalan berdampingan dengan Bie.


"Aku kesananya naik motor sama calon menantu papi."


"Kamu naik motornya sendirian saja, biar calon menantu naik mobil sama mami dan papi."


"Lah,kenapa calon istri aku ikut papi mami naik sih? Bie wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Coba kamu lihat panas terik kayak gini masak kamu tega ngajakin calon istri kamu naik motor."


"Benar juga ya papa katakan, kita makan di restauran mana?" tanya Bie.


"Restauran favorit kamu, udah papi boking room vip."

__ADS_1


"Kalau begitu aku duluan. Sampai ketemu di sana papi." Setelah berpamitan Bie pergi berjalan ke arah parkir motor nya.


Sebulan kemudian, Ry sedang duduk di depan pintu kos-kosan sambil termenung. Ada sebuah motor sport yang berhenti tepat di depan kos-kosan Ry. Si pengendara motor tersebut memikirkan motornya lalu dia berjalan turun dari motornya.


"Selamat malam Ry." Si pengendara motor tersebut sudah berdiri di depan pintu kos-kosan.


"Eh, abang Bie. Selamat malam juga." Ry tersadar dari lamunannya lalu dia mengangkat wajahnya melihat ke arah si laki-laki tersebut ternyata Bie.


"Apa kamu udah makan?" Bie menundukkan kepalanya melihat wajah Ry.


"Belum." Ry mengelengkan kepalanya.


"Sama aku juga belum makan. Ayo kita cari makan."Bie mengulurkan tangan ke arah Ry.


"Iya." Ry menerima ulur tangan Bie.


Bie dan Ry sudah duduk di atas kursi cafe, mereka duduk di kursi yang berhadapan. Makanan dan minuman yang sudah di pesanan sudah berada di atas meja, Bie yang sudah merasa lapar segera memakan makanan yang dia pesan.


"Ry kenapa gak makan?" Bie melihat sekilas ke arah Ry yang sama sekali tidak menyentuh makanan yang dia pesan di atas meja.


"Gak lapar."


"Sebenarnya kamu itu kenapa? dari tadi aku perhatian wajah kamu terlihat lesu." Bie meletakkan sendok di atas piringnya, Bie menatap wajah Ry yang terlihat. lesu dan tidak bersemangat.


"Ry gak kenapa-kenapa abang Bie." Ry memasang wajahnya yang di buat tersenyum walaupun dengan di paksa.


"Ry gak punya masalah abang Bie."


"Bohong, aku yakin kamu pasti punya masalah. Kamu mau cerita atau aku yang akan mencari tahu masalah nya?"


Ry masih terlihat ragu untuk menceritakan masalahnya kepada Bie. Bie yang mengerti akan hal itu lalu dia menarik nafas nya.


"Mentary."


"Iya iya Ry ceritain."


"Kamu harus cerita kepada aku. Biar aku bisa bantu kamu, jadi cepat ceritakan."Bie mendesak Ry untuk menceritakan masalahnya kepada dirinya.


"Maaf sebelumnya. Apa abang Bie bisa pinjamin Ry uang?" Ry menundukkan kepalanya sambil menahan malu kepada Bie.


"Untuk apa?"


"Bayar kos-kosan."

__ADS_1


"Memangnya kamu belum bayar berapa bulan kos-kosanya?"


"Ry udah nunggak 2 bulan gak bayar kos-kosan jadi besok pagi udah jatuh tempo terakhir buat bayar kos-kosan kalau gak bisa bayar Ry bakal di usir dari kos-kosan."


"Memang sebulanya berapa?"


"Lima ratus ribu."


"Ya sudah sekarang kamu makan dulu." Bie menyuruh Ry untuk makan terlebih dahulu.


"Abang Bie gak bisa pinjamin Ry uang buat bayar kosan." Ry mengangkat wajah lalu dia berbicara dengan wajah memelas kepada Bie.


"Buka mulutnya, aaaak." Bie memegang sendok yang berisi nasgor lalu dia hendak menyuapi nasgor ke arah Ry.


Ry pun membuka mulut lalu dia memakan nasgor yang di suap oleh Bie. Bie kembali menyuapi Ry dengan nasgor miliknya.


"Abang Bie gak usah Ry bisa makan sendiri." Ry menolak Bie menyuapi nya.


"Baiklah, cepat habis makanan kamu." Bie menyuapi nasgor ke dalam mulutnya.


Bie memberhentikan motornya di depan rumah ibuk Kos-kosan Ry.


"Kenapa kita berhenti di sini abang?"


"Nanti kamu juga tahu, ayo kita turun dulu!" Setelah mengatakan itu Bie turun dari motor di susul oleh Ry yang juga turun dari motor.


Bie dan Ry sudah berada di depan pintu rumah ibuk kos-kosan.


"Lah, kok kamu kok diam aja. Ketuk pintu rumah nya." Bie melihat Ry yang diam saja lalu dia menyuruh Ry mengetuk pintu rumah ibuk kos-kosan.


Tok................. Tok


"Assalamu'alaikum ibuk." Ry mengetuk pintu rumah ibuk pemilik kos-kosan.


"Walaikumsalam, bagus lah kamu datang. Mana uang kos yang udah nunggak dua bulan?" Ibuk kos membuka pintu rumahnya, ibuk kos yang melihat Ry sedang berdiri di depan pintu rumah.


"Maaf ibuk kos uangnya belum ada, Ry minta tempo waktu seminggu lagi ya." Ry berusaha membujuk ibuk kos agar memberi waktu seminggu untuk membayar uang kos.


"Tidak bisa, kalau kamu tidak bisa bayar kosan maka mulai besok pagi kamu harus pergi dari kos-kosan saya." Ibuk kosan berdecak pinggang mendengarkan ucapan Ry.


"Buk jangan begitu saya mau tinggal dimana?"


"Itu bukan urusan saya."

__ADS_1


"Buk kasihani saya, saya di sini tidak punya keluarga." Ry dengan wajah memelas memohon kepada ibuk pemilik kos-kosan agar tidak mengusir dirinya dari kos-kosan tersebut.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2