
"Kebohongan itu seperti tumpukan sampah yang sangat berbau, meskipun di tutupi dengan sangat rapat, lalu di beri wewangian aroma parfum yang menyengat, tetapi bauknya tetap saja bisa tercium."
Ry yang baru saja selesai melaksanakan shalat maghrib. Tiba-tiba saja terdengar suara seorang mengetuk pintu kamar.
"Mbak Ry." Jojo yang berdiri di depan pintu kamar Kevin.
"Iya sebentar." Ry berdiri dari sajadah, Ry berjalan ke arah pintu kamar. Ry yang sudah di berada di depan pintu kamar lalu dia membuka pintu kamarnya.
"Mbak Ry baru siapa shalat maghrib ya?" Jojo melihat Ry yang masih mengenakan mukenah.
"Iya, ada apa Jojo?" Ry melihat ke arah Jojo.
"Aku di suruh bunda panggil mbak Ry," jawab Jojo.
"Kenapa tante manggil Ry?"tanya Ry.
"Mbak sudah di tunggu ama bunda di dapur, " jawab Jojo.
"Sebentar lagi Ry kesana," kata Ry.
"Aku tunggu mbak di dapur." Setelah mengatakan itu Jojo berjalan pergi dari depan pintu kamar Kevin.
Jojo yang baru saja sampai di dapur lalu dia berjalan ke arah meja makan.
"Dia mana Jojo?" Bunda melihat Jojo yang cuma datang seorang diri ke dapur.
"Sebentar lagi mbak Ry nyusul bunda." Jojo duduk di kursi yang berada di samping Bunda.
"Ya sudah kalau begitu kita makan duluan." Bunda mengambil nasi lalu dia meletakkan ke atas piring nya.
"Bunda sebaiknya kita nunggu mbak Ry, sebentar lagi dia juga ke sini," kata Jojo.
"Bunda makan duluan soalnya udah lapar." Bunda membaca doa sebelum makan terlebih dahulu setelah itu dia mulai menyuapi nasi berserta lauk ke dalam mulutnya mengunakan tangan.
"Jojo kok belum makan?" Ry yang baru datang menghampiri Jojo dan Bund di depan meja makan.
"Nunggu mbak Ry," jawab Jojo.
"Sini biar Ry ambilkan nasi dan lauknya." Ry sudah berdiri di depan meja makan yang berharap dengan Jojo.
Seminggu kemudian sikap Kevin terhadap Ry berubah. Kevin bersikap cuek dan bicara hanya seperlunya saja kepada Ry. Hal itu membuat Ry menjadi bingung, seharusnya Ry yang marah dan kecewa kepada Kevin karena sudah janji mengajak Ry jalan-jalan keliling kota P.
__ADS_1
Tapi sudah sampai satu minggu Kevin juga tidak menepati janjinya mengajak Ry jalan-jalan keliling kota P. Bahkan Ry merasa yakin kalau Kevin sudah melupakan janjinya kepada Ry. Ry pun tidak pernah mengungkit masalah janji tersebut kepada Kevin.
Ry membuka pintu kamar lalu Ry berjalan masuk kedalam kamar. Saat Ry sudah berada di dalam kamar, Ry melihat ke arah Kevin yang sedang berdiri di depan lemari pakaian yang ada cerminnya. Kevin sedang bercermin sambil menyisir rambutnya.
"Mase mau kemana?" Ry yang penasaran akhirnya bertanya kepada Kevin.
"Mau pergi." Kevin yang sudah selesai menyisir rambutnya lalu dia menyemprot parfum ke seluruh pakaian nya.
"Pantas aja udah rapi, emang mase mau pergi kemana?" tanya Ry.
"Kerumah teman," jawab Kevin.
"Teman atau Demen?" tanya Ry.
"Teman." Kevin menoleh ke arah Ry lalu dia berbicara dengan suara yang lantang.
"Oo.... teman." Ry menatap Kevin dengan tatapan yang tidak percaya.
"Iya, ada apa memangnya?" Kevin berjalan mendekati ke arah Ry.
"Gak ada apa-apa," jawab Ry.
"Aku pergi dulu." Kevin berjalan melewati Ry.
"Apa lagi?" Kevin menghentikan langkah kakinya.
Ry mundur selangkah lalu dia mengatakan sesuatu kepada Kevin. Kevin yang mendengar perkataan Ry merasa kata-kata yang Ry ucapkan itu begitu menusuk ke hatinya. Tiba-tiba saja ponsel Kevin berdering sehingga Kevin memutuskan untuk berjalan keluar dari kamar.
Setelah Kevin pergi dari kamar, Ry menjatuhkan badan Ry di atas tempat tidur. Ry membaringkan badan ke atas tempat tidur dengan posisi badan yang tengkurap.
Drrrtt............... Drrrtt
"Assalamu'alaikum adek," kata papa.
"Walaikumsalam, papa apa kabar?" Ry mengambil ponsel yang berada di samping bantal lalu Ry mengangkat panggil telpon yang berasal dari papa.
"Papa sehat, gimana kabar kalian di sana?" tanya papa.
"Kami semua baik papa," jawab Ry.
"Alhamdulillah kalau begitu, adek kenapa tidak pernah nelpon papa?" tanya papa.
__ADS_1
"Maaf ya papa, Ry sibuk bantu bunda jualan dan mengerjakan pekerjaan rumah." Ry terpaksa berbohong kepada papa, Ry itu jarang menghubungi papanya karena Ry tidak mau saat ber telpon dengan papa batik papa pasti akan ingin bicara dengan Kevin. Sedang hubungan Ry dan Kevin saat ini menjauh.
"Wah, ternyata anak papa rajin membantu mertuanya. Apa ibu mertua adek memperlakukan adek dengan baik?" tanya papa.
"Bunda kan tidak punya anak perempuan jadi dia memperlakukan Ry seperti anak perempuan nya." Lagi-lagi Ry terpaksa berbohong kepada papa, mengatakan bahwa bunda memperlakukan Ry seperti anak perempuan nya padahal bunda memperlakukan Ry itu seperti pembantu. Ry juga membayangkan seandainya bunda memperlakukan Ry seperti anak perempuannya makanya Ry akan merasa begitu bahagia. Sayangnya yang Ry katakan kepada papa hanyalah sebuah kebohongan untuk menutupi keadaan sebenarnya. Ry melakukan itu semua agar papa tidak kepikiran dengan keadaan Ry saat ini.
"Alhamdulillah, adek punya mertua yang memperlakukan adek seperti anak perempuannya. Papa merasa bahagia mendengarkan semua itu. Nak Kevin mana adek?" tanya papa.
"Mase lagi pergi, ada apa papa?" Hal yang paling Ry hindari menelpon papa ialah agar papa tidak bertanya tentang Kevin tetapi akhirnya papa tetap bertanya mengenai Kevin kepada Ry.
"Papa pengen ngobrol sama menantu papa," jawab papa.
"Jadi papa udah gak mau ngomong ama Ry lagi?" Ry berbicara dengan nada kesal kepada papa.
"Bukan begitu dek, papa itu mau ngomong dengan kalian berdua." Papa yang mengetahui kalau Ry lagi kesal itu terdengar dari suara Ry saat berbicara di ponsel.
"Emang ngomong harus ama kita berdua gitu, apa gak bisa kalau papa ngomong ama Ry aja gitu?" tanya Ry.
"Bisa, ya sudah kita ngomong berdua saja," jawab papa.
"Papa, mama mana?" tanya Ry.
"Ada, adek mau ngomong ama mama?" tanya papa.
"Iya papa," jawab Ry.
"Tunggu sebentar papa kasih ponselnya ama mama." Papa memberikan ponselnya kepada mama.
"Assalamu'alaikum mama," kata Ry.
"Walaikumsalam, adek lagi ngapain?" tanya mama.
"Ry lagi rebahan di atas tempat tidur," jawab Ry.
"Bagaimana rasanya tinggal di sana?" tanya mama.
"Sama saja serasa tinggal kayak di sana." Kalau boleh Ry berbicara jujur maka Ry akan mengatakan lebih enak tinggal ikut orang tua sendiri dari pada tinggal serumah dengan mertua.
"Apa adek betah tinggal di sana?" Sebenarnya Mama merasa tidak yakin bahwa Ry akan betah tinggal di sana. Maklumin saja Ry itu dari kecil tidak pernah hidup susah berbeda dengan kedua mbaknya yang pernah mengalami hidup susah. Saat Ry sudah lahir perekonomian papa Ry cukup stabil untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Makanya dari itu Ry sangat di manja oleh papa bagi papa Ry anak pembawa rezeki.
"Insyallah Ry betah mama, kenapa mama bertanya seperti itu?" tanya Ry.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...