
"Disaat uangku merah-merah, disitulah senyumku mulai indah."
"Nunu cepat pinggir motornya." Ambar dan Ry membalikkan wajah lalu Ambar dan Ry menyuruh Nunu untuk meminggirkan motornya.
"Emangnya ada apa?" Nunu terus saja mengendari motornya.
"Coba aja kamu lihat di kaca spion motor," jawab Ambar.
Motor patroli yang di kendarai oleh pakpol menyalip motor Nunu yang tadi berada di depan motor patroli tersebut. Setelah menyalip motor Nunu, pakpol membelokan motornya lalu dia memakirkan motornya di jalan raya depan posisi menghalangi jalan motor Nunu.
Nunu melihat di depannya ada motor patroli yang menghalangi jalannya motornya segera dia menarik rem tangan motornya. Motor yang Nunu kendarai pun berhenti tepat di depan motor patroli tersebut.
"Tunjukkan SIM dan STNK motor kamu?" Pakpol sudah berdiri di depan motor.
"Tunggu sebentar pakpol, eh kalian turun dulu." Nunu memakirkan motornya lalu dia menyuruh Ambar dan Ry turun dari motor.
"Iya kita turun." Ambar turun terlebih dahulu dari motor lalu Ry ikut turun.
"Eh kok gak ada sih." Nunu membuka tas ransel lalu dia mengambil dompet yang berada di tas. Dia membuka dompet tapi tidak menemukan SIM dan STNK motor.
"Sini aku bantu cari di dalam tas." Ambar mengambil tas Nunu lalu dia mencari SIM dan STNK di dalam tas tersebut.
"Tidak usah banyak alasan bilang aja kalau kamu tidak punya SIM dan STNK," kata pakpol.
"Eh pakpol benaran kalau saya itu punya SIM dan STNK hanya saja saya lupa taruk dimana." Nunu tidak terima dengan ucapan pakpol yang mengatakan dia tidak punya SIM dan STNK.
"Saya butuh bukti sini cepatan bawa SIM dan STNK." Pakpol berbicara dengan suara yang lantang dan tegas.
"Kalian geser dulu." Ry menyuruh Nunu dan Ambar untuk bergeser dari motor Nunu.
"Baiklah." Nunu dan Ambar bergeser dari motor.
"Nih kan SIM dan STNK kamu." Ry membuka jok motor Nunu lalu Ry melihat ada SIM dan STNK di bawah jok motor tersebut. Ry mengambil SIM dan STNK motor di jok motor.
"Ini SIM dan STNK pakpol." Nunu mengambil SIM dan STNK dari tangan Ry lalu Nunu segera memberikan SIM dan STNK kepada pakpol.
__ADS_1
"Apa kamu tahu pelanggan yang kamu lakukan?" Pakpol mengambil SIM dan STNK dari tangan Nunu. Pakpol memeriksa SIM dan STNK Nunu.
"Surat saya lengkap, saya juga sudah memakai helem, kaca spion juga udah mirip kayak orang berdoa. Jadi pelanggaran apa yang saya lakukan?" Nunu yang bingung dengan pelanggaran yang dia lakukan.
"Berapa orang yang di bonceng saat naik kendaraan roda?" tanya Pakpol.
"Berapa saja yang penting muat," jawab Nunu.
"Ah, kamu ya. Saya kasih tahu cuma dua orang yang bisa di bonceng naik kendaraan roda dua," kata pakpol.
"Ooo begitu pakpol." Nunu sambil mengangukan kepalanya.
"Kamu tadi bonceng berapa orang?" tanya pakpol.
"Satu dua, berarti saya pas dong pakpol soalnya juga bonceng dua orang." Nunu menghitung sambil menunjukkan jari ke arah Ambar lalu setelah itu ke arah Ry.
"Salah bukan dua melainkan tiga, kamu juga harus di hitung," kata pakpol.
"Kan saya bawa motor jadi saya gak perlu di hitung pakpol udah benar dua." Nunu yang masih ngotot dengan pakpol bawa dia membonceng dua orang di motornya.
"Berarti saya kelebihan penumpang tadi pakpol," kata Nunu.
"Jadi kami udah tahu pelanggaran yang kamu lakukan?" tanya pakpol.
"Sudah pakpol," jawab Nunu.
"Kalau begitu SIM dan STNK kamu akan saya tahan." Pakpol memasukkan SIM dan STNK milik Nunu ke dalam saku bajunya.
"Aduh jangan dong pakpol, gimana kalau kita damai saja?" tanya Nunu.
"Tidak bisa, kamu melanggar peraturan harus mendapatkan hukuman." Pakpol tidak ingin berdamai dia harus memberi hukum kepada Nunu.
Selama satu jam mereka mencoba membujuk pakpol dengan berbagai macam cara agar pakpol tidak jadi menahan SIM dan STNK milik Nunu. Mereka memasang wajah yang memelas kepada pakpol tersebut agar pakpol tersebut merasa kasihan tidak jadi menyita SIM dan STNK motor Nunu.
"Sudah sudah hari ini saya lagi baik hati jadi tidak jadi menahan SIM dan STNK kamu." Pakpol yang merasa tidak tega melihat wajah mereka yang memelas akhirnya tidak jadi menahan SIM dan STNK Nunu.
__ADS_1
"Terimakasih pakpol yang baik hati dan tampan." Mereka merasa senang lalu berterima kasih kepada pakpol tersebut sambil memuji pakpol tersebut.
"Saya akan memberikan SIM dan STNK ini tapi. kalian tidak boleh bonceng tiga naik motornya lagi," kata pakpol.
"Baiklah pakpol kami tidak akan bonceng tiga lagi," kata Nunu.
"Kamu harus ninggalin salah satu teman kamu di sini," kata pakpol.
"Aku saja," kata Ambar.
"Ry aja," kata Ry.
"Apa kamu gak apa-apa aku tinggalkan di sini?" Nunu melihat ke arah Ry.
"Iya gak apa-apa." Ry menyakinkan Nunu bahwa dirinya tidak apa-apa di tinggalkan di situ.
"Ini SIM dan STNK kamu." Pakpol memberikan SIM dan STNK kepada Nunu.
"Terimakasih pakpol.Sebaiknya telpon pacar kamu biar dia jemput kamu, kita balik dulu." Nunu mengambil SIM dan STNK dari tangan pakpol lau dia mengucapkan terimakasih setelah itu Nunu dan Ambar naik ke atas motor lalu Nunu mengendarai motornya melewati motor patroli yang terpakir di jalan raya.
"Iya nih Ry mau telpon dia, bye bye Nunu bawa motornya." Ry melambaikan tangan ke arah Nunu dan Ambar.
Pakpol berjalan ke arah motor patroli, Pakpol hendak naik ke atas motornya.
"Ternyata kamu disini, tadi aku nyusulin kekampus ternyata kamu gak ada terus aku cariin kamu untung aja aku ketemu dengan kamu di sini." Sebuah motor berhenti di sampai Ry lalu si pengendara motor tersebut berbicara kepada Ry.
"Begitu lah orang Indonesia tidak pernah rugi untuk melulu." Ry melihat ke arah si pengendara motor yang berada di samping Ry dengan tatap kesal.
"Kamu sedang ngapain di sini?" tanya si pengendara motor tersebut.
"Kamu nanya bertanya-tanya." Ry berbicara sambil menirukan Dilan kw.
"Ah, aku serius nih nanya nih jangan bawa bercanda-canda kayak gitu dong." Si pengendara motor tersebut tidak suka melihat Ry yang berbicara seperti Dilan Kw.
Pakpol yang hendak naik ke atas motor tidak jadi menaiki motornya saat dia mendengar suara seorang yang begitu familier di telinga. Pakpol tersebut membalikkan badannya, lalu dia melihat ke arah Ry dan si pengendara motor yang berada di atas motor nya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...