
"Hidup mah mengejar cita-cita, bukannya mengajar yang gak cinta."
"Bunda tidak selera makan." Bunda berbicara dengan suara yang lemah.
"Bunda mau makan apa? biar aku belikan," tanya Kevin.
"Tidak ada," jawab bunda.
"Kalau bunda tidak mau makan, sebaiknya kita pergi ke RS biar bunda berobat," kata Kevin.
"Tidak mau." Bunda menolak pergi ke RS untuk berobat.
"Kalau bunda gak mau makan dan berobat, bagaimana bunda bisa sembuh?" Kevin menatap bunda dengan wajah khawatir, Kevin merasa khawatir dengan bunda yang tidak mau makanan dan berobat.
"Nantik juga bunda sembuh kalau di bawa tidur," kata Bunda.
"Mana bisa seperti itu, sebaiknya kita berobat ke RS ya bunda." Kevin memegang tangan bunda sambil membujuk bunda agar mau berobat ke RS.
"Tidak," kata bunda.
"Aku mohon bunda berobat ya, aku tidak mau bunda sampai kenapa-kenapa. Aku hanya mempunyai bunda dan Jojo sebagai keluarga," kata Kevin.
"Rasanya bunda lelah hidup di dunia ini, lebih baik bunda menyusul ayah saja." Bunda berbicara sambil melihat langit-langit kamarnya.
"Astagfirullah, jangan ngomong seperti itu bunda. Apa bunda mau lihat aku dan Jojo menjadi anak yatim piatu tidak punya kedua orang tua?"Mata Kevin berkaca-kaca saat mendengarkan ucapan bunda.
"Bukannya kamu akan merasa senang kalau bunda sudah tidak ada, kamu bisa menikah secara resmi dengan istri sirih mu. Karena sudah tidak ada yang melarang kamu menikah dengan dia secara resmi."
"Tidak, itu tidak benar bunda," kata Kevin.
"Bunda tahu kalau kamu mau menikahi dia secara resmi," kata Bunda.
"Apa bunda sudah menerima amplop coklat dari om Dika?" tanya Kevin.
"Sudah."Bunda wajahnya terlihat sedih setelah mengatakan itu.
"Bunda pasti sudah melihat isi amplop tersebut, sehingga bunda bisa mengetahui rencana aku menikahi Tary secara resmi," kata Kevin.
"Kamu benar," kata Bunda.
"Aku mohon bunda biarkan aku menikahi Tary secara resmi karena aku begitu mencintainya." Kevin wajahnya berubah menjadi memohon kepada Kevin.
"Lebih bunda mati dari pada memberikan izin kamu menikahi perempuan itu secara resmi." Bunda menolak memberikan izin kepada Kevin untuk menikahi Ry.
__ADS_1
"Bunda aku mohon jangan berbicara seperti itu," kata Kevin.
"Kamu harus memilih bunda yang melahirkan kamu atau perempuan yang kamu cintai?" Bunda menyuruh Kevin untuk memilih bunda atau Ry.
Kevin terdiam mendengar ucapan bunda yang menyuruh memilih di antara bunda dan Ry. Kevin sudah pasti tidak bisa memilih salah satu di antara perempuan tersebut. Kedua perempuan yang berbeda generasi memiliki arti tersendiri di dalam kehidupan Kevin. Sehingga Kevin merasa sulit untuk memilih salah satu di antara salah satu dari kedua perempuan tersebut.
Setelah Kevin kembali bekerja, Jojo mencoba membujuk bunda untuk makan tetapi bunda tetap menolak untuk makanan. Jojo yang melihat keadaan bunda begitu mengkhawatirkan akhirnya mengambil ponsel bunda yang berada di atas tempat tidur.
Tuuutt.......... Tuuutt
π"Assalamu'alaikum bunda."
π"Walaikumsalam, kak ini aku Jojo bukan bunda."
π"Lah, tumben Jojo nelpon kak ada apa?" Asa merasa heran Jojo menghubungi dia mengunakan nomor ponsel bunda.
π"Apa kak lagi sibuk?"
π"Tidak, emangnya kenapa Jojo?"
π"Apa kak sedang kerja sekarang?"
π"Kak lagi istirahat, sebenarnya ada apa Jojo?"
π"Jojo mau minta tolong apa?"
π"Bunda sedang sakit, apa kak bisa datang ke rumah buat memeriksa keadaan bunda?"
π"Bisa, kak Otw ke sana."
π"Baiklah, aku tunggu kedatangan kak." Setelah mengatakan itu Jojo mematikan panggil telpon
Sore harinya Kevin sudah tiba di depan rumah, Kevin berjalan sambil membawa sebuah kantong plastik yang berada di tangannya.
"Assalamu'alaikum." Kevin membuka pintu rumah lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam, mas udah pulang." Jojo yang mendengar suara Kevin segera keluar dari kamar bunda. Saat Jojo sudah berada di depan pintu kamar dia melihat Kevin yang sedang berjalan ke arahnya.
"Iya, bagaimana kondisi bunda?"Kevin sudah berada samping Jojo.
"Alhamdulillah bunda sudah agak lebih baikan," jawab Jojo.
"Kalau gitu mas mau lihat bunda dulu." Kevin berjalan masuk ke dalam kamar bunda.
__ADS_1
"Kevin." Bunda melihat Kevin yang sudah berada di dalam kamar nya.
"Siapa yang infus bunda?" Kevin Melihat ke arah bunda yang berbaring di atas tempat tidur dengan tangan yang sudah terpasang infus.
"Dokter mas." Jojo yang berada di belakang Kevin.
"Dokter siapa yang kamu panggil buat infus bunda?" Kevin membalikkan badan melihat ke arah Jojo yang berdiri dengan menundukkan kepalanya.
"Asa, bunda yang menyuruh Jojo menghubungi Asa. Apa kamu tidak suka kalau bunda di infus dengan Asa?" Bunda yang melihat Jojo seperti ketakutan segera angkat berbicara.
"Bukan begitu bunda, kenapa harus Asa? kan masih banyak dokter lain." Kevin kembali membalikan badan melihat ke arah bunda.
"Karena bunda cuma dekat dengan Asa yang berprofesi sebagai dokter," jawab Bunda.
"Harusnya bunda tadi bicara dengan aku biar aku suruh dokter yang lain datang buat memeriksa keadan bunda," kata Kevin.
"Mas sudahlah yang penting keadaan bunda sudah membaik." Jojo yang tidak ingin mendengar perdebatan Kevin dan bunda yang akan berlanjut hingga panjang akhirnya dia memegang bahu Kevin agar Kevin menghentikan perdebatan dengan bunda.
"Kamu kan sedang bekerja jadi bunda tidak ingin menganggu kamu." Bunda yang beralasan kalau Kevin sedang bekerja sehingga dia tidak ingin menganggu Kevin yang sedang bekerja.
"Sama sekali tidak menganggu kalau untuk bunda dan Jojo," kata Kevin.
"Mas bawak apa itu?" Jojo yang melirik ke arah kantong plastik yang berada di tangan Kevin.
"Soto ayam, apa bunda mau makan pakai soto ayam?" Kevin mengangkat kantong plastik menujukan kepada Bunda.
"Mau," jawab bunda.
"Kalau begitu biar aku siap kan soto ayam buat bunda." Kevin membalikkan badan hendak berjalan.
"Tidak usah biar aku saja, sebaiknya mas mandi." Jojo mengambil kantong plastik dari tangan Kevin.
Suara adzan magrib sudah berkumandang Kevin yang berdiri di depan teras rumah sambil menunggu Ry belum pulang dari kuliah. Kevin sudah beberapa kali menghubungi nomor ponsel Ry tetapi tidak aktif, sehingga Kevin berdiri sambil mondar mandir seperti setrikaan menunggu Ry.
Kevin merasa khwatir takut terjadi sesuatu dengan Ry karena tidak seperti biasanya Ry belum pulang. Ditambah lagi nomor ponsel Ry tidak bisa di hubungi sehingga membuat Kevin bertambah khawatir.
"Ah, kemana tuh anak udah magrib belum juga pulang?" Kevin menguyur rambutnya kebelakang sambil berjalan mondar-mandir.
"Awas aja nantik kalau pulang kerumah, aku kurung di kamar biar gak bisa kemana-mana," kata Kevin.
Tak........... Tak
Terdengar langkah kaki seorang yang berjalan memakai flatshoes.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...