Ry Benci PakPol

Ry Benci PakPol
Mbah Milah


__ADS_3

"Wajah yang kotor tidak akan menyakitkan hati seorang, lidah yang kotor pasti akan menyakiti hati seorang."


Tak............. Tak


Terdengar suara langkah kaki seorang memasuki ruangan tamu tersebut.


"Embem." Seorang wanita paruh baya sudah berada di ruangan tamu.


"Mbah Milah." Ry menoleh ke arah sumber suara yang familiar Ry dengar, ternyata suara tersebut berasal dari mbah Milah. Ry segera berdiri dari tempat duduknya lalu Ry berjalan menghampiri mbah Milah.


"Mbah kangen."Mbah Milah segera menghamburkan pelukan ke arah Ry.


" Ry juga kangen ama mbah Milah." Ry membalas pelukan mbah Milah.


"Embem kok sedikit kurus?" Mbah Milah melepaskan pelukan lalu dia melihat memperhatikan badan Ry yang terlihat sedikit. kurus.


"Iya berat badan Ry Sedikit turun." Ry membenarkan ucapan mbah Milah bawah berat badannya agak sedikit turun.


"Kenapa?" Wajah mbah Milah berubah menjadi khawatir setelah mendengarkan ucapan Ry.


"Kebanyakan tugas kampus jadi buat Ry sering telat makan mbah Milah," jawab Ry.


"Apa benar begitu embem?" Mbah Milah yang meragukan ucapan Ry.


"Iya mbah Milah, ingat waktu kelas 1 SMK Ry kurus karena banyak mikirin pelajaran." Ry mencoba menyakinkan mbah Milah agar mbah Milah percaya.


"Kalau itu kamu kurus bukan karena mikirin pelajaran tapi mikir di tinggal nikah oleh Leo," kata mbah Milah.


Setelah mendengarkan ucapan mbah Milah Ry hanya bisa terdiam. Semua yang di ucapkan oleh mbah Milah itu benar, maka nya Ry tidak bisa berkata-kata apalagi.


"Lah, kok adek diam. Berarti benar yang mbah Milah ucapkan itu?" tanya mama.


"Sudah lah mama gak usah di bahas lagi itu cuma bagian masa lalu Ry." Ry menundukkan kepala karena teringat kembali dengan sang mantan pacar yang menikah dengan perempuan lain saat mereka masih berstatus pacaran.

__ADS_1


Satu jam kemudian mereka masih berada di ruangan tamu sambil mengobrol dan menikmati minuman dan cemilan yang di sajikan oleh bunda. Ry begitu tampak bahagia saat ngobrol dengan papa, mama, mbah Milah dan bunda. Sementara wajah bunda tampak gelisah karena Kevin belum juga pulang ke rumah.


"Papa, ayo kita pulang!" Mama mengajak papa pulang.


"Lah, kok sudah mau pulang mbak. Padahal kan mbak juga baru sampai, sebaiknya mbak menginap di sini saja dulu." Bunda yang menawarkan mama Ry untuk menginap.


"Maaf besok saya sudah harus bekerja jadi tidak bisa menginap di sini," kata papa.


"Kalau begitu mama aja yang nginap, Ry masih kangen ama mama." Ry membujuk mamanya untuk mau menginap di rumah Kevin.


"Mama juga gak bisa nginap soalnya harus mengurus papa di sana, lagian kalau adek kangen ama mama tinggal video call aja,"kata mama.


" Karena Dikin dan Eli tidak bisa menginap di sini maka mbah yang akan menggantikan mereka untuk menginap di sini." Mbah Milah memutuskan untuk menginap di rumah Kevin.


"Apa benar mbah mau menginap di sini?" Ry menoleh ke arah mbah Milah.


"Apa mbah pernah berbohong ama embem?" Mbah Milah menatap ke arah Ry.


"Gak pernah sih." Ry menggelengkan kepalanya.


"Iya, apa aku tidak boleh menginap di sini?" tanya mbah Milah.


"Tentu saja boleh, aku malah senang ibu mau menginap di sini." Bunda yang dengan terpaksa membentuk senyuman. Bunda sebenarnya merasa keberatan mbah Milah menginap di rumahnya. Namun bunda tidak mungkin mengatakan keberadaan di hadapan kedua orang tua Ry.


"Kalau aku ikut tinggal di sini bagaimana?" Mbah Milah segaja mengatakan itu untuk melihat reaksi bunda.


"Tentu saja boleh, ini kan juga rumah ibu," jawab bunda.


"Baiklah aku akan tinggal di sini bersama kalian." Mbah Milah tersenyum.


" Hore mbah Milah tinggal disini." Ry begitu bahagia mendegar ucapan mbah Milah yang mau tinggal di rumah Kevin sehingga Ry berdiri dari tempat duduk sambil melompat kegirangan.


"Adek jangan lompat seperti itu malu di lihat bunda Kevin." Mama menggelengkan kepala melihat tingkah Ry seperti bocil, mama segera menegur Ry karena merasa tidak enak melihat tingkah Ry seperti itu di hadapan bunda.

__ADS_1


"Iya ini juga Ry udah gak lompat lagi."Setelah mendengar ucapan mama, Ry segera berhenti melompat.


"Maafin tingkah putri kami yang terlihat kekanak-kanakan di hadapan besan." Mama berdiri dari tempat duduk lalu dia meminta maaf kepada bunda karena tingkah Ry yang terlihat kekanak-kanakan.


Mereka sudah berdiri di teras rumah Kevin, untuk mengatakan papa mama menuju ke mobil. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di samping mobil yang terpakir di halaman rumah Kevin.


"Assalamu'alaikum." Si pengendara motor memakirkan motor nya lalu dia turun dari motor sambil melepaskan helem dari kepalanya.


"Walaikumsalam," jawab mereka serentak.


"Kamu dari mana saja? baru pulang." Mbah Milah melihat ke arah si pengendara motor yang membuka helemnya, ternyata itu Kevin.


"Maaf semaunya saya tadi di panggil ama komandan ke rumahnya." Kevin menghampiri mereka,Kevin sudah berada di hadapan mereka. Kevin segera menyalim punggung mereka satu persatu kecuali Ry. Kevin mengulurkan tangan ke arah Ry lalu Ry yang menyalim punggung tangan Kevin.


"Iya tidak apa-apa nak Kevin. Kami mengerti bahwa nak Kevin itu sibuk." Papa yang menerima alasan Kevin.


"Papa dan mama mau kemana?" Kevin melihat ke arah kedua mertuanya.


"Pulang," jawab papa dan mama serentak.


"Lah, kok sudah mau pulang," kata Kevin.


"Perjalanan papa dan mama buat sampai kerumah masih jauh, maka nya papa harus pulang sekarang biar tidak kemalaman sampai rumah," kata papa.


"Sekali lagi saya minta maaf papa, mama dan mbah Milah." Kevin merasa tidak enak saat baru tiba di rumahnya kedua mertuanya hendak pulang.


"Sudahlah nak Kevin tidak perlu minta maaf. Papa dan mama titip Mentary kalau dia tidak nurut dengan nak Kevin, maka telpon saja papa." Papa menitipkan Ry kepada Kevin.


"Papa dan mama gak usah khawatir, saya akan menjaga dan mengayomi Tary itu sudah tugas saya sebagai suami." Kevin menyakinkan kedua mertuanya untuk tidak usah khawatir kepada Ry.


"Baiklah, papa mempercayai nak Kevin akan menjalankan tugas sebagai seorang suami. Kalau begitu papa dan mama pamit pulang." Papa berpamitan kepada mereka yang berada di teras rumah.


Papa dan mama sudah berada di dalam mobil kijang inova berwarna putih. Papa menyalakan mobilnya lalu papa membunyikan klaskon mobilnya. Papa mengendarai mobilnya sementara mama membuka kaca jendela mobil sambil melambaikan tangan ke arah mereka yang berdiri di teras rumah.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2