
"Selamat lebaran, semoga orang tua kita jadi besan. "
"Gak mau mendingan uang itu kak pakai buat ke tukang urut." Si bocil menolak uang yang Ry berikan, malah si bocil menyuruh Ry ke tukang urut.
"Ry gak mau ke tukang urut, mau pulang aja," kata Ry.
"Yakin kak bisa pulang dengan kondisi seperti ini?" Si bocil melihat ke arah Ry, kedua lutut serta kedua lengan terdapat luka-luka tapi sudah di obati oleh Asa bahkan sudah di bungkus oleh kain kasa.
"Aduh sakit." Ry baru saja berjalan selangkah sudah merintis ke sakitan.
"Nah baru saja selangkah berjalan udah sakit, seharusnya kak minta antar ama yang nabrak tadi. " Si bocil berjalan menghampiri Ry.
"Aduh sakit, terus gimana Ry mau pulang?" Ry melihat ke arah si boci.
"Kak tinggal di mana?" tanya si bocil.
"Tante Nasira yang jualan sarapan pagi itu," jawab Ry.
"Kak tunggu di sini dulu." Setelah mengatakan itu si bocil berjalan pergi meninggalkan Ry.
"Kamu mau kemana? aww sakit." Melihat si bocil berjalan Ry pun ikut berjalan selangkah, dia pun meringis ke sakit.
"Hiks hiks hiks." Ry merasakan sakit pun akhirnya menangis.
"Mama papa." Ry menagis sambil menyebut kedua orang tua.
Ry melangkah kakinya ke arah pinggir jalan, Ry sudah berdiri di pinggir jalan sambil menangis. Untung saja kondisi jalan malam itu terlihat sepi sehingga tidak ada seorang pun yang melihat Ry berdiri sambil menangis di pinggir jalan.
Sebuah motor melaju ke arah Ry, kedua orang yang berada di atas motor tersebut mendengarkan suara tangis seorang perempuan.
"Abang dengar suara perempuan nangis?"
"Dengar Cil."
"Kira-kira itu suara siapa ya abang?"
__ADS_1
"Mungkin mbak Kunti."
"Ah, abang jangan ngomong kayak gitu bulu kuduk aku jadi merinding."
"Abang kalau mbak Kunti kan ketawa lah itu kok nangis."
"Berarti hantu."
"Abang coba dengar suara makin dekat."
"Iya."
"Abang berhenti."
Ciiitt........... Ciiitt
"Cil kenapa nyuruh berhenti mendadak sih?"
"Tuh lihat di samping abang."
"Mase." Ry berhenti menagis mendengar suara si laki-laki yang terdengar familiar di telinga Ry. Ry menoleh ke arah si pengendara motor yang motornya sudah terpakir di depan Ry.
"Lah ternyata si kak yang nangis." Bocil turu dari motor tersebut.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Kevin.
"Mase lihat saja sendiri, kenapa Ry menangis?" Ry menyuruh Kevin melihat ke arah dirinya.
"Lutut kamu kenapa di perban?" Kevin melihat kedua lutut Ry di perban.
"Tadi Ry cium aspal." Ry yang asal menjawab saja.
"Lah, kok bisa," kata Kevin.
"Kak dari pada cium aspal mendingan cium abang Kevin," kata Bocil.
__ADS_1
Esokan paginya Ry terbangun karena merasakan sakit pada bagian lututnya. Ry melihat ke arah lutut ternyata kaki Kevin sudah menimpa lulut Ry yang terluka.Ry segera menyikirkan kaki Kevin dari lutut Ry, setelah kaki Kevin berhasil Ry singkirkan dari lutut. Ry turun dari tempat tidur secara berlahan dengan menahan rasa sakit.
Ry sudah berada di dapur melihat bunda yang sudah berdiri di depan kompor.
"Tante sudah sembuh?" Ry berjalan ke arah meja makan.
"Sudah, kaki kamu kenapa?" Bunda membalikkan badan melihat ke arah Ry, bunda melihat Ry berjalan terpincang-pincang dengan lutut yang di padang perban.
"Ry cium aspal tadi malam tante." Ry menuangkan air dari dalam teko ke gelas yang ada di atas meja, setelah itu Ry meminum air dari dalam gelas tersebut.
"Kenapa gak sekalian aja kamu di tabrak sama mobil? mertua sakit bukannya di urusin malah pergi kelayapan makanya kamu itu terkena azab dari Allah karena sudah durhaka kepada mertua," tanya bunda.
"Astagfirullah tante, kok tega bener ngomong seperti itu kepada Ry." Ry merasa sedih mendengar ucapan bunda yang secara terus terang menginginkan Ry di tabrak oleh mobil, di tambah lagi yang bunda ucapankan pun terjadi Ry di tabrak mobil. Ry mulai berpikir bahwa dia di tabrak oleh mobil merupakan doa dari bunda, kalau Ry durhaka dengan bunda seperti itu tidak benar selama ini bunda yang selalu menjadikan Ry sebagai babu.
"Kalau kamu di tabrak mobil sampai mampus maka Kevin akan menjadi duda. Kevin bisa kembali bersama mantan pacarnya lalu mereka akan menikah. Seharusnya mereka itu sudah menikah tetapi semua itu gara-gara kamu mereka malah jadi putus." Bunda berdecak pinggang sambil menujukkan jarinya ke arah Ry.
"Tante omongan itu do'a berarti tante do'ain Ry biar mampus. Ry gak tahu kalau mase itu punya pacar seandainya Ry tahu mase itu sudah memiliki pacar maka Ry akan menolak menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki pacar. Kalau mereka gak jadi menikah itu bukan salah Ry melainkan berarti mereka itu tidak berjodoh tante." Ry merasa sakit hati setelah mendengarkan ucapan bunda yang menginginkan Ry meninggal dunia. Batas kesabaran Ry selama ini sudah habis semut saja kalau di injak pasti akan marah begitu juga Ry. Ry menatap mata bunda Kevin dengan tangan Ry yang sudah mengepal.
"Aku memang selalu mendoakan supaya kamu mampus atau kamu pergi menjauh dari kehidupan Kevin karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menerima kehadiran kamu sebagai menantu aku," kata Bunda.
"Astagfirullah tega sekali tante berdo'a seperti itu kepada Ry. Kalau tante gak bisa menerima Ry sebagai menantu, kenapa tidak dari awal tante gagalkan pernikahan kami?" tanya Ry.
"Karena pernikahan kalian hanya pernikahan sirih maka nya aku tidak mengagalkan pernikahan pernikahan tersebut, tetapi aku akan pastikan bahwa Kevin tidak akan menikahi kamu secara resmi. Kamu hanya pantas menjadi istri sirih nya," kata bunda.
"Bagaimana tante bisa begitu yakin bahwa Kevin tidak akan pernah menikahi Ry secara resmi?" Ry melihat bunda yang berbicara dengan begitu percaya diri sehingga Ry menjadi penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu." Bunda berbicara sambil tersenyum licik ke arah Ry.
"Tante jodoh itu di tangan Allah bukan di tangan tante, walaupun tante berusaha dengan keras supaya kami tidak bisa menikah secara resmi. Kalau Allah mentakdirkan kami menikah secara resmi maka Allah akan mempermudah segala urusan kami untuk menikah secara resmi," kata Ry.
"Ah kamu benar benar ya." Bunda yang mendengar ucapan Ry merasa marah bahkan bunda menjadi naik darah.
"Tante jangan marah-marah, natik sakitnya kambuh lagi soalnya kan tante baru sembuh," kata Ry.
"Sudah berani kamu bicara seperti itu kepada saya, dasar menantu durhaka." Bunda berjalan menghampiri Ry yang masih berdiri di depan meja makan.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...