Sandiwara Cinta

Sandiwara Cinta
Celup-celup


__ADS_3

Kenan melangkah masuk kerumah dan mengikuti Bella duduk di meja makan karena sangat lapat. Makan makanan rumah sakit tidak memuaskan dirinya.


Ia lebih menyukai makan masakan tangannya sendiri. Dan beruntungnya Bella, Mama Rani dan Kezia sudah siap memasak disaat keduanya pulang dari rumah sakit.


"Kakak makan ya Ma? Lapar banget ini!" katanya pada Mama Rani


"Silahkan Nak. Mama sengaja memasak semua ini cuma untuk kamu dan kita semua. Rencananya besok kami akan segera balik lagi ke Medan. Untuk itu, Papa sama Mama sudah mencarikan seseorang untuk membantu mu membereskan rumah." Ucap Mama Rani yang membuat Kenan menoleh sekwtika pada Mama nya itu.


Tangan itu langsung terhenti saat sedang menyendok nasi kepiringnya. Seakan tau, Mama Rani tersenyum.


"Tenaglah Nak. Bukan gadis ataupun janda kok. Beliau istri nya Mang Udin. Tukang kebun kamu Bang. Beliau sedang butuh pekerjaan saat ini. Tadi mereka kesini sebelum kalian pulang. Dan juga rumahnya tidak jauh dari sini."


Kenana mengangguk, "Kalau Bik Inah taka apa Ma. Asalkan jangan yanh gadis atauoun janda. Itu yang Abang nggak mau. Lebih baik Abang kerjakan senditi daripada harus menerima mereka." Tegas Kenan dan diangguki oleh Kenta.


"Betul itu Bang! Bahaya! Tidak boleh membawa masuk sembarang wanita ke dalam rumah tangga kita jika tidak ingin rumah itu hancur menjadi abu!" timpal Kenta

__ADS_1


Kezia terkekeh, "Mana mungkin jadi abu sih Bang? Yang ada tuh ya, hancur berkeping-keping!"


"Ye.. Emangnya hati yang hancur berkeping-keping?" balas Kenta lagi yang membuat semuanya tertawa.


Suasana rumah di pagi itu sungguh tenang tanpa ada pengganggu sama sekali. Semoha saja pengganggu itu tidak datang untuk mengganggu mereka.


Malam harinya.


Kenan baru saja pulang dari rumah sakit saat Bela sedang kepayahan mengganti bajunya. Pintu itu terbuka perlahan dan terlihatlah Bella yang kini sedang mengganti pakaian tidurnya.


Kenana terkekeh saat melihat kebiasaan Bella yang selalu tidur tanpa menggenakan cd dan juga kaca mata kudanya.


Kenan tersenyum saat melihat sesuatu yang tersembunyi itu menggeliat kecil saat melihat tubuh polos Bella walau tidak semuanya.


Cuma terlihat melonnya saja yang menggantung, adik kecilnya sudah gelisah. Kenan terkekeh lagi. Ia semakin mendekati Bella yang kini sedang melumuri tubuhnya dengan skin care malam.

__ADS_1


Kenan memeluk tubuh itu hingga membuat Bella terlonjak kaget karena melon miliknay di pegang oleh Kenan.


"Astaghfirullah, Abang! Adek kirain siapa tadi?" ucapnya terkejut.


Jantung itu begitu cepat berdegup. Kenan bisa mersakannya. "Hemm.. Pingin cepat-cepat celup kamu! Kapan Abang bisa celup?" tanya Kenan semakin sibuk di tengkuk leher Bella yang terbuka


"Apanya yang di celup? Abang mau minum teh celup??" goda Bella pada Kenan yang kini melepaskan pelukannya.


Bella terkekeh, tetapi tangan itu terus bergerak menyapukan skin care itu ke seluruh tubuhnya. Wangi yang menenangkan. Kenan sangat menyukainya.


"Abang serius sayang. Kapan bisa bobol tanggul dan celup-celup palung surga milikmu? Abang udah nggak tahan ini!" keluhnya begitu manja pada Bella.


Ia kembali memeluk tubuh Bella dari depan. Bella tertawa. "Tunggu sampai luka ini kering. Baru setelahnya kita bisa bertemu dan bersatu."


"Iyakah?"

__ADS_1


"Iya Abang. Untuk menyempurnakan cinta kita menag harus bersatu. Tanpa itu rumah tangga kita tidak akan lengkap dan sempurna." Ucap Bella dan diangguki oleh Kenan.


__ADS_2