
Keesokan hari nya Bella dan Kenan sudah kembali pada tugas masing-masing. Jika Bella dengan koasnya. Sedang Kenan saat ini sedang bekerja di salah satu rumah sakit untuk biaya hidupnya sehari-hari.
Bukan Papa Reza tidak mengirimkan uang untuknya. Tetapi ia sedang memiliki peruntungan nasib yang tiba-tiba saja memanggilnya untuk bergabung disana menjadi salah satu dokter kandungan dirumah sakit itu.
Yang sangat sesui dengn gelar yang ambil saat ini. Peru tungna nasib yang sangat membuatnya bersyukur.
Disaat dirinya sedang bingung mencari pekerjaan, ia malah dipanggil kerumah sakit itu untuk bekerja.
Bahkan ia diberikan satu buah rumah unyuk bernaung selama ia bekerja dirumah sakit itu.
Sedari sampai, Kenan tidak lagi pulang ke rumahnya. Rumah dinas yang pihak rumah sakit berikan untuknya.
Aneh sebenarnya. Jika ia hanya seorang dokter kandungan biasa yang belum lagi mendapatkan gelar spesialisnya seharusnya tidak perlu di perlakukan se istimewa itu kan? Apakah ada sesuatu yang ia tidak tau?
Kenan berulang kali mencari jawaban dari setiap pertanyaan itu. Namun, tidak kunjung mendapatkan jawaban.
__ADS_1
Ia terpaksa tinggal dirumah pemberian direktur rumah sakit yang ia tidak kenal sama sekali. Tetapi Kenan bersyukur, jadi ia tidak bersusah payah mencari tempat untuk ia tinggali.
Ia bersyukur mendapatkan rumah itu, ia pun bisa membawa Bella, istrinya nanti bersamanya tiga bulan lagi.
Kenan terus tersenyum saat memikirkan Bella yang saat ini sedang memenuhi pikiran dan hatinya.
Berbeda dengan Bella. Saat ini gadis dingin dan jutek tetapi memiliki paras ayu mirip Bunda Zizi dan ayah Emil itu saat ini sedang bertugas.
Tetapi sial sekali nasibnya hari ini. Saat ia berniat ingin memberikan obat untuk salah satu pasienya, dirinya malah dicaci dan hina yang entah karena apa.
Pasien itu melemparkan bitiran obat serta gelas ke lantai hingga pecah tidak berbentuk. Bella menghela nafasnya.
Bella tetap diam. Ia terus menyapu pecahan kaca yang berserakan di lantai itu. Setelah selesai, ia berdiri dihadapan pasiennya yang sangat angkuh itu.
"Akan saya ambilkan obat yang baru," katanya sambil berlalu meninggal wnita paruh baya yang dirumah sakit itu sudah sangat terkenal karena tingkahnya yang selalu ingin mencari masalah di rumah sakit itu setiap kali dirinya dipaksa untuk minum obat.
__ADS_1
Bella yang merupakan orang baru disana, mendapat tugas untuk bisa membujuk wanita tua yang angkuh itu. Semua yang ada disana merasa lelah dan jengah menghadapi sikap wanita tua yang selalu semena-mena itu.
Bella kembali lagi setelah menagmbil obat yang baru dan juga minuman yang baru untuk pasiennay itu.
"Minum dulu obat anda, Bu. Saya yang bertugas untuk merawat selama Anda dirawat disini. Saya tidak punya masalah dengan anda. Dan Anda pun tidak boleh mencari masalah dengan saya!" tegas Bella dengan wajah dingin datarnya.
Sengaj untuk membuat wanita tua itu menurutinya.
Wanita itu berdecih dan melengos. Bella menghela nafasnya lagi. Begini lah setiap harinya jika ia berhadapan dengan wanita tua yang sangat keras kepala itu.
"Minum-,"
"Saya tidak mau minum obat dari kamu! Saya mau direktur rumah sakit ini yang harus memberikan langsung obat untuk saya! Katakan padanya, saya sudah membayar mahal rumah sakit ini untuk mengobati penyakit saya, tetapi saya tidak juga sembuh! Saya muak harus minum obat terus setiap harinya! Saya ingin meminta ganti rugi! Katakan itu padanya! Panggilkan segera! Baru setelahnya saya akan minum obat murahan itu! Cih!" ucapnya sinis membuat Bella tersulut emosi.
Bukan sekali dua kali wanita tua ini mengatakan hal yang sama. Tetapi sudah berualng kali. Selam wanita tua itu dirawat dirumah sakit itu, ucapan itulah yang terus ia katakan pada setiap dokter dan perawat yang memaksanya untuk minum obat.
__ADS_1
Bella melangkah dua langkah menuju bangkar wanita tua itu. Ia menatap dingin pada wanita tua itu.
Wanita tua itu tersentak melihatnya. Namun, ia tetap berpura-pura tidak takut melihat wajah dingin dan datar Bella yang rasanya ingin menerkamnya saat itu juga.