
Fahri terkekeh, "Aku pemuda itu. Akulah yang telah membuatmu hamil anakku! Kamu itu masih suci saat pertama kali ku sentuh, Cella! Kenapa kamu membohongi semua orang dengan mengatakan jika kamu tidak suci lagi. Bisa kamu jelaskan Marcella?"
Deg!
Deg!
Tubuhnya membeku. Ternyata.. pemuda yang menggagahinya malam itu adalah suami nya sendiri. Al Fahri Narendra.
Cella semakin mundur dua langkah yang membuat Fahri terkekeh. "Kamu jangan terus mundur honey.. Kesini. Duduk dulu. Kita bicarakan hal ini baik-baik ya?" bujuknya pada Cella yang kini semakin berwajah pucat.
Kenan menatapnya saja tanpa tahu harus berbuat apa. "Sini. Duduk dulu. Mas tidak akan marah padamu Kok."Katanya lagi pada Cella yang kini masih berwajah pucat.
__ADS_1
Fahri menarik tangan sang istri dan membawa nya duduk bersama nya lagi seperti tadi. "Mas tidak akan tanya apa tujuan mu ingin menjebakku waktu dulu. Hanya saja.. Cara kamu itu salah Cella. Kamu ingin menjebak ku tetapi malah kamu sendiri yang terjebak. Dan ya. Kenapa kamu begitu liar diluar sana. Tidakkah kamu takut jika kamu akan di nodai secera paksa? Beruntungnya Mas, orang itu. Bagaimana kalau orang lain? Setelah ia menikmati tubuh mu lalu kamu dibuang dan dan di biarkan begitu saja? Kamu ingin menjebak Kenan waktu itu 'kan? Jujur aja. Kami tidak akan marah padamu," ucapnya pada Cella yang kini semakin berwajah pucat karena Kenan sedang menatap nya dengan dingin.
"Honey..." panggil Fahri pada Cella
Cella menunduk. Mata itu berkaca-kaca. "Maaf.. Aku salah karena pernah berniat ingin menjebak kalian berdua. Sebenarnya waktu itu aku hanya ingin menjebak kamu Mas Fahri. Bukan Kenan. Tetapi aku dibalas jebak oleh rekan ku itu, aku pernah berharap jika Kenan lah yang datang ke kemar ku waktu itu. Maaf.. Maafkan aku.." lirihnya dengan menangis.
Kenan menghela nafas kasar. Ia mendengus mendengar pengakuan Cella. Fahri menggenggam lembut tangan sang istri yang terasa sedingin es itu.
Kenan tertegun mendengar serentetan pengakuan dari Cella. "Lantas, kenapa kamu menuduhku yang telah menodai mu padahal kamu tau sendiri jika aku tidak lah menodai mu. Apa tujuan mu Cella?" tanya Kenan penuh selidik pada Cella.
Cella tertunduk. Ia tidak menjawab apa alasannya. Cukup dia saja yang tau. "Maafkan aku Kenan.. Maaf.." ucapnya dengan tertunduk.
__ADS_1
Sementara Kenan mendengus kesal. "Ya sudah. Tak apa. Yang penting aku jadi menikah denganmu. Aku akan berterima kasih padamu karena kamu, aku kabur. Dan akhirnya bertemu dengan seseorang yang kini sudah menjadi istriku sebelum aku berangkat Ke Jakarta. Mungkin inilah yang dinamakan takdir! Dan ya, selamat untuk pernikahan kalian berdua. Tunggu tiga bulan lgi. Aku akan mengenalkan istriku pada kalian berdua. Untuk sekarang sudah cukup. Aku memaafkan mu Cella."
"Untukmu Bro. Jaga dan bimbing istrimu menjadi wanita shalihah seperti keinginanmu itu. Selamat menempuh hidup baru untuk kalian berdua. Aku harus pergi. Tugasku sedang menunggu ku saat ini. Terimakasih karena sudah mau berbicara walau hanya sebentar sih. Nanti akan ada waktunya kita bisa berbicara dengan lebih leluasa setelah istri ku tiba kesini." Ucap Kenan dengan mata dan wajah yang begitu berbinar saat menyebut kata istri.
Fahri tau itu. Ia terkekeh-tekeh melihat tingkah Kenan yang mungkin sudah mulai bucin dan menyukai istrinya itu.
"Tentu Bro. Kita akan bertemu saat istrimu sudah datang kesini. Hubungi saja aku kapan pun kalian ingin berkunjung."
"Tentu, aku pamit. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam.. Hati-hati!"
__ADS_1
Kenan hanya mengangguk kecil saja. Ia pun segera keluar dari cafe itu dan menuju parkir dengan berlari-lari kecil untuk mencapai motornya itu.